Rabu, 06 Juni 2012

PEMBERONTAKAN IDEALIS RUH “SANG PENYAIR GILA”


Oleh : Awan Hadi Wismoko

Anak seorang polisi ini sangat diharapkan orang tuanya, meneruskan tradisi keluarga untuk menjadi seorang polisi. Dialah Arsyad Indradi sang penyair gila. Perjalanannya di bidang seni dan sastra sebenarnya dimulai sejak SMP, beberapa puisi tentang budaya banjar, alam kalimantan, religi, juga tentang kritik sosial telah diciptanya. Kesungguhannya untuk mencari jati diri dilakukannya saat beliau berani meninggalkan Asrama Pendidikan Kepolisian di hari pertamanya. Beruntung pelariannya tidak berujung di dunia yang penuh dengan kesesatan dan tipu daya tapi terseret masuk dalam dunia seni yang mungkin sudah ada dalam niatan kalbunya. Keberuntungannya bertambah saat orang tua akhirnya dengan berat hati namun sangat bijaksana memberikan ijin untuk mendalami dunia seni dengan syarat kesungguhan yang sebenarnya. Berpindah dari sanggar ke sanggar mengikuti pergerakan hatinya yang haus, beberapa dunia kesenian telah dipelajarinya mulai dari musik tradisional, tari tradisional, drama, puisi, dan menulis. Menurut saya petualangan beliau sesungguhnya bukanlah seni yang dipelajarinya tetapi proses bagaimana kedalaman pemikiran yang beliau peroleh melampaui tahap demi tahap yang dilakukanya dengan sangat unik dan penuh makna seperti saat untuk beberapa lama beliau membiarkan dirinya tidur di emperan toko, hanya dengan beralaskan koran dan berselimutkan angin malam. Tidak ada alasan tapi itulah yang beliau lakukan.
Keunikan lainnya adalah pada saat beliau menerima hibah dua setengah hektar tanah. Tanah itu ditanaminya ketela atau gumbili dalam bahasa Banjarnya. Beliau menjadikan ketela sebagai makanan pokok pengganti nasi. Luar biasanya, itu dilakukan selama kurang lebih dua tahun. Dalam kurun waktu itu beliau sempat diajari oleh orang jawa yang sempat terheran-heran dengan kelakuan beliau yang menjadikan ketela makanan sehari-harinya, padahal ada beras. Orang jawa itu mengajari bagaimana mengolah ketela menjadi gaplek (ketela yang dikeringkan dengan cara dijemur) lalu mengolahnya menjadi makanan seperti gatot (gaplek yang dikukus) dan tiwul (gaplek yang ditumbuk halus lalu dikukus). Pengalaman yang jelas menjadi bekas tapak kedalaman pemikiran berikutnya.
Perjalanannya dibidang sastra mencapai puncaknya ketika beliau menerbitkan buku pertamanya yaitu Antologi Puisi Penyair Nusantara 142 Penyair Menuju Bulan. Tidak mudah mengumpulkan antologi puisi penyair dari seluruh nusantara dalam keadaan beliau adalah orang yang gagap teknologi, tidak bisa komputer, tidak mengenal dunia maya, sehingga semua antologi yang terkumpul dikirim melalui kantor pos. Memang menjadi pertanyaan sebagian besar penyair nusantara tapi toh akhirnya bisa dimaklumi dan berhasil mengumpulkan materi untuk buku Antologi Puisi Penyair Nusantara yang digagasnya. Masalah selanjutnya adalah tidak adanya sponsor yang mau menerbitkan buku itu. Tidak putus asa, dan dengan keteguhan yang luar biasa di umurnya yang lebih dari setengah abad itu beliau mengawali rencananya dengan belajar komputer kepada muridnya di bidang sastra yang telah menganggap beliau sebagai ayahnya. Ya karena dedikasinya dalam perkembangan sastra di Indonesia khususnya di Kalimantan Selatan hampir semua muridnya memanggil beliau dengan sebutan “abah” yang berarti “ayah”. Berbagai aplikasi komputer berhasil dikuasainya, mulai dari belajar lay out penulisan sebuah buku berikut cara mendesain covernya. Masih dalam api semangat yang berkobar didalam dadanya, dengan tak kenal lelah akhirnya jadilah master sebuah buku yang digadangnya. Ujian masih terus berlanjut karena memang sangat jarang sponsor yang mau mensponsori sebuah karya sastra. Dengan mengumpulkan uang sedikit demi sedikit dari hasil mengajar seni dan tari, kertas bahan untuk mencetak buku lama-lama terkumpul hingga cukup untuk membuat buku yang diharapkannya. Dicetaklah buku itu hanya dengan printer kecil , dan tetap memperhatikan kualitas cetakan yang maksimal dengan printer laser yang dipakainya. Empat bulan berselang jadilah buku-buku itu dan segera mengirimkannya ke seluruh penyair di nusantara yang telah mengirimkan antologi puisinya. Sambutan luar biasa atas terbitnya buku Antologi Puisi Penyair Nusantara 142 Penyair Menuju Bulan oleh penyair nusantara ditandai dengan beberapa esai yang ditulis pengamat sastra dan para penyair ternama dibeberapa media nasional dan lokal hingga menyebut Arsyad Indradi sebagai seorang “Penyair Gila” . Yah itulah gelar yang melekat kepada beliau hingga kini, “Penyair Gila”. Beberapa buku lain yang telah ditulisnya antara lain, berjudul Nyanyian 1.000 Burung, Romansa Setangkai Bunga, Anggur Duka, Risalah Penyair Gila, Kalalatu, Burinik dan Narasi Musafir Gila. Kemudian 50-an lebih buku antologi puisi karya bersama.
Luapan-luapan perasaan yang dituangkan ke dalam puisi-puisinya adalah lubernya kedalaman perasaan yang diperoleh selama perjalanan hidupnya yang penuh raihan. Kalo boleh penulis menulis apa yang beliau lakukan dalam perjalananya menekuni bidang seni dan sastra juga usahanya untuk mewujudkan buku Antologi Puisi Penyair Nusantara 142 Penyair Menuju Bulan sebagai pemberontakan yang santun idialisme ruh beliau melalui dunia seni dan sastra. Namun beliau tetap menyadari kekurangannya sebagai manusia. Dengan keteguhan prinsip kebenaran yang diyakininya dalam kehidupannya sehar- hari beliau adalah sosok yang sederhana, ramah, murah senyum, pemberi motifasi orang-orang disekelilingnya untuk pantang menyerah dalam mendapatkan keinginan positif. Sorot matanya yang tajam seiring dengan pandangan beliau yang menganggap koruptor sebagai “pembunuh”, serta pendapat beliau mengenai segala permasalahan yang terjadi di masyarakat bahwasannya pembangunan yang baik dan kehidupan layak buat masyarakat mungkin terjadi apabila mempunyai pemimpin yang punya keberanian mengambil keputusan-keputusan yang membangun berdasarkan nurani bukannya kebijakan-kebijakan yang menguntungkan diri sendiri dan hanya sebagian orang. Harapan beliau yang ekstrim adalah apabila tidak ada pemimpin seperti itu lebih baik Indonesia ditenggelamkan saja seperti halnya ditenggelamkannya umat Nabi Nuh.
Pelajaran yang bisa dipetik dari sosok “penyair gila” adalah bahwa dalam hidup ini orang harus punya tujuan, niat yang kuat untuk meraih, pantang menyerah dalam menghadapi rintangan, menikmati proses sebagai sebuah pembelajaran, memperhatikan kualitas sebagai ukuran pencapaian, untuk selanjutnya membiarkannya mengalir menuju keputusan yang sejati, keputusan Sang Maha.

Banjarbaru, 12 Mei 2012
*** Penulis : Pengamat Seni Budaya, Sosial dan Desain Grafis’

Senin, 02 April 2012

Epilog : Pendaran dan Pengendapan nilai-nilai ”cinta” dalam teks puisi karya Rama Prabu.



Oleh: Dimas Arika Mihardja

….jantungku dari patahan biola
dan suaraku denting pesona para pencinta
simphoni pengukur ruah mantra dari sebuah orchestra ….

(“Mantra Bosanova”)

Penggalan larik puisi karya Rama Prabu bertajuk “Mantra Bosanova” ini tampaknya mewakili keseluruhan esensi estetis dan sekaligus tematis puisi-puisi yang terangkum dalam buku ini. Rama Prabu melakuka reinterpretasi maha karya Ramayana lalu merentangpanjangan jalan “cinta” hingga ke masa kini. Topik puisi yang digubah oleh Rama Prabu dapat diklasifikasikan dalam lima kategori berikut (1) tanggapan penyair terhadap masalah edukasi dalam pengertian luas, (2) tanggapan penyair terhadap masalah filosofi hidup dan kehidupan, (3) tanggapan penyair terhadap masalah moral masyarakat, (4) tanggapan penyair terhadap masalah keindahan, dan (5) tanggapan penyair terhadap masalah agama dan keyakinan. Rama Prabu sebagai bagian dari komunitas cendekiawan dan budayawan Indonesia menaruh perduli terhadap masalah edukatif, filosofis, etis, estetis, dan religius.

Persoalan-persoalan edukatif, filosofis, etis, estetis, dan religius itu pada gilirannya merupakan manifestasi dari kristalisasi nilai-nilai yang dijadikan penuntun, pemandu, pedoman, pengendali, rujukan, tolok ukur ucapan, tindakan, dan perilaku penyair sebagai makhluk pribadi, makhluk sosial, dan makhluk Tuhan. Lebih lanjut, nilai-nilai itu bagi penyair berfungsi mendasari, merangsang, mendinamiskan, mendorong, menggerakkan, dan mengarahkan tindakan penyair dalam berkarya sebagai makhluk pribadi, makhluk sosial, dan makhluk Tuhan. Hasil dari itu semua adalah dibuahkannya puisi yang mendedahkan nilai-nilai edukatif, filosofis, etis, estetis, dan religius.

Nilai-nilai ini secara samar dan tersirat meruak di dalam puisi-puisi karya Rama Prabu yang dimuat dalam buku ini. Realisasi pengendapan dan pendaran nilai-nilai “cinta” yang universal itu ditelisik dan ditelusuri oleh penyair seperti membaca peta perjalanan agung kisah Ramayana (yang klasik dan antik) ke kehidupan masa kini yang eksotis dan estetis di mata penyair. Banyak nama yang turut membesarkan dan mengasuh “cinta” sebagai referensi penyair, seperti Empu Walmiki, Pablo Neruda, Rumi hingga nama-nama karib penyair seperti Tulus Wijanarko, Suprabo Anggo, Heru Marwata, Lisa Febriyanti, Saut Situmorang, Iin Yunawinarti (istri penyair), Lintang Ayu Sastraningrum, Landung Simatupang, Arsyad Indradi, Mariska Lubis, Dimas Arika Mihardja, D Kemalawati, Kurniawan Junaedhie, dan sahabat hati lainnya yang turut meronai “wajah cinta” karya-karya Rama Prabu. Tata pergaulan antarpenyair, baik melalui interteks, maupun interaksi turut mematangkan puisi-puisi Rama Prabu. Nilai-nilai “cinta” dalam pengertian luas merujuk pada adanya simpati dan empati penyair Rama Prabu terhadap masalah edukatif, filosofis, etis, estetis, dan religius.
Semua nilai-nilai itu oleh Rama Prabu dikemas sebagai upaya penyampaian keindahan dan kebenaran melalui teks puisi. Nilai-nlai ini dijadikan prioritas bagi penyair dalam berkarya, meskipun jauh di lubuk hati penyair mungkin tidak dimaksudkan sebagai “petani yang sengaja menanam tanaman nilai-nilai”. Terkait dengan ini dapat dikemukakan bahwa setiap penyair, termasuk Rama Prabu, dalam menciptakan puisi selalu berorientasi pada penyampaian nilai-nilai ini. Penyampaian nilai-nilai ini realisasinya berupa usaha maksimal penyair dalam menata bahasa dalam bingkai konvensi sastra dan konvensi budaya untuk mewadahi gagasan yang akan disampaikan melalui teks puisi. Salah satu cara ungkap yang digunakan oleh Rama Prabu dalam penulisan kreatif puisi-puisinya ialah dengan cara “bilang begini, maksudnya begitu” atau meminjam ungkapan Riffaterre dalam Semiotic of Poetry (1978) “Says of thing and means another”.
Dalam konteks pendaran dan pengendapan nilai-nilai ini pembaca dapat menikmati puisi-puisi Rama Prabu yang secara umum dapat dicirikan sebagai puisi-puisi (1) remang-remang tetapi menawan, (2) puisi-puisi yang sarat dengan pemikiran filsafati, (3) puisi-puisi yang lincah mengolah kata-kata, (4) puisi-puisi yang sarat pemikiran kejawen, (5) puisi-puisi yang sederhana tetapi kuat dalam penyampaian pesan, dan (6) puisi-puisi yang mengolah ragam bahasa Jawa di beberapa puisinya (dalam beberapa puisinya, Rama Prabu membubuhkan notes yang saya anggap sebagai “catatan hati” yang identik dengan catatan kaki untuk karya ilmiah; selain itu, Rama prabu juga menggunakan referensi silang saat menulis puisi bagi seseorang).
Teks puisi yang diciptakan oleh penyair Rama Prabu secara umum memiliki ciri ketidaklangsungan pengungkapan yang menurut Riffatere (1978) timbul akibat adanya penggantian arti (displacing of meaning) oleh adanya pemakaian kias seperti metafora dan metonimi; penyimpangan arti (distorting of meaning) oleh adanya ambiguitas, kontradiksi, dan nonsense; terdapat juga penciptaan arti (creating of meaning) oleh adanya bentuk-bentuk visual seperti tipografi, enjamemen, dan persejajaran baris. Karakteristik ketidaklangsungan teks puisi tersebut dirangkum dalam paparan berikut ini.
Pertama, penggantian arti. Di dalam teks puisi-puisi yang diciptakan oleh penyair Rama Prabu pada umumnya kata-kata kiasan difungsikan untuk menggantikan arti sesuatu yang lain, lebih-lebih metafora dan metonimi (Riffaterre, 1978:2). Dalam penggantian arti ini suatu kata (kias) memiliki acuan makna sesuatu yang lain. Kedua, penyimpangan arti. Penyimpangan arti terjadi apabila di dalam puisi ada ambiguitas, kontradiksi, ataupun nonsense. Di dalam puisi yang digubah oleh Rama Prabu kata-kata, frase, dan kalimat sering mempunyai arti ganda, menimbulkan banyak tafsir atau ambigu. Di dalam teks puisi yang ditulis oleh Rama Prabu juga terdapat ironi, yaitu salah satu cara menyampaikan maksud secara berlawanan atau berbalikan. Ironi ini biasanya untuk mengejek sesuatu yang keterlaluan. Ironi ini menarik perhatian dengan cara membuat pembaca berpikir, sering juga untuk membuat orang tersenyum atau membuat orang berbelaskasihan terhadap sesuatu yang menyedihkan.
Ketiga, penciptaan arti. Menurut Riffaterre (1978:2) penciptaan arti terjadi bila ruang teks (spasi teks) berlaku sebagai prinsip pengorganisasian untuk membuat tanda-tanda keluar dari hal-hal ketatabahasaan yang sesungguhnya secara linguistik tidak ada artinya. Misalnya, simetri, rima, enjambemen atau ekuivalensi-ekuivalensi makna di antara persamaan-persamaan posisi dalam bait. Di dalam teks puisi sering terdapat keseimbangan berupa persejajaran arti antara bait-bait atau antara baris-baris dalam bait. Persamaan posisi (homologues) misalnya tampak dalam pantun atau yang sejenisnya. Semua tanda di luar kebahasaan itu menciptakan makna di luar arti kebahasaan. Misalnya makna yang mengeras (intensitas arti) dan kejelasan yang diciptakan oleh ulangan bunyi dan paralelisme.
Teks puisi termasuk ke dalam jenis teks transaksional, karena hal yang dipandang penting ialah “isi” komunikasi. Teks puisi yang telah dipublikasikan bersifat umum, karena teks puisi diciptakan oleh penyair tidak untuk dinikmati sendiri saja, melainkan untuk dibaca oleh masyarakat umum. Meskipun teks puisi diperuntukkan bagi masyarakat umum, teks puisi merupakan bentuk komunikasi yang khas. Dikatakan demikian karena “pesapa” dapat hadir, dapat juga tidak hadir, dan dapat berupa seorang atau lebih. Ciri khas yang lain adalah bahwa teks puisi dapat dibaca pada waktu dan tempat yang jauh jaraknya dari waktu dan tempat penciptaannya. Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa hubungan antara penyair dan pembaca karya sastra bersifat khas pula. Selain itu, teks puisi merupakan teks khas yang di dalam ekspresinya menggunakan bahasa dengan memanfaatkan segala kemungkinan yang tersedia.
Teks puisi berisi monolog, artinya ada satu instansi yang mengucapkan sesuatu di dalamnya. Dalam teks puisi instansi yang mengucapkan sesuatu itu disebut subjek lirik (aku lirik). Aku lirik ini di dalam teks puisi tidak selalu dapat ditunjuk dengan jelas. Kadang-kadang ia tinggal di latar belakang, seperti dalam pelukisan alam. Biasanya, aku lirik mengarahkan perhatian kepada dirinya sendiri dengan mempergunakan kata-kata seperti “aku” atau “-ku”. Kata-kata ini dapat menyertai pelukisan pengalaman atau perasaan yang sangat pribadi. Gambaran aku lirik dapat disimpulkan dari teks itu sendiri. Gambaran tersebut dapat terjadi dengan berbagai cara. Teks itu sendiri dapat menyajikan fakta mengenai jenis kelaminnya, usia, wajah, dan pekerjaannya. Gambaran mengenai aku lirik itu tampak dari kata-kata yang diucapkan dan cara bercerita. Aku lirik itu berupa pengemban pikiran dan perasaan, bukannya selaku seorang manusia yang memiliki pola jiwa tertentu.
Hakikat epilog ialah penyampaian “pemandangan akhir” dari keseluruhan corak puisi-puisi yang termuat di dalam sebuah buku. Prolog ini kiranya telah memberikan gambaran bagaimana seorang Rama Prabu “mengudar gagasan” dan “mengendapkannya” di dalam teks puisi. Upaya pengudaran gagasan, yang lalu ditindaklanjuti dengan pengendapan gagasan itu dikemas dengan karakteristik utama sebuah puisi yang pada prinsipnya: “Says of thing and means another”, bilang begini maksudnya begitu. Dengan prinsip ini, Rama Prabu berhasil mengungkapkan topik puisi yang diklasifikasikan dalam lima kategori: (1) tanggapan penyair terhadap masalah edukasi dalam pengertian luas, (2) tanggapan penyair terhadap masalah filosofi hidup dan kehidupan, (3) tanggapan penyair terhadap masalah moral masyarakat, (4) tanggapan penyair terhadap masalah keindahan, dan (5) tanggapan penyair terhadap masalah agama dan keyakinan. Secara ringkas dapat dikemukakan untuk mengakhiri epilog ini bahwa Rama Prabu sebagai bagian dari komunitas cendekiawan dan budayawan Indonesia menaruh perduli terhadap masalah edukatif, filosofis, etis, estetis, dan religius.
Puisi-puisi karya Rama Prabu yang termuat di dalam buku Ramayana, Jalan Cinta dapat dipandang sebagai sebuah upaya memaknai “cinta” (cinta dalam tanda kutip). Realisasi “cinta” penyair telah dicurahkan melalui teks-teks puisi yang memang sebaiknya dibaca, dimaknai, dan dihayati sendiri oleh pembaca. Di akhir pembacaan dan pemaknaan, pembaca akan berseru “o, begitu panjang dan berliku jalan cinta itu; sebuah jalan kehidupan yang harus ditelusuri oleh siapa pun yang ingin sebenar-benrnya hidup”. Begitulah, sebuah epilog yang sejatinya merupakan rangkuman hasil pembacaan telah didedahkan secara ringkas. Ya, sebuah epilog memang harus ringkas agar tidak terkesan nyinyir dan menggurui. Demikian, salam sastra.
Jambi, September 2011

Kamis, 15 Maret 2012

Penyair “ Gila “ dan Blogger Tertua

Kompas,Jumat, 17 Februari 2012

Arsyad Indradi
Penyair “ Gila “ dan Blogger Tertua

Pada usianya yang ke-63 tahun, Arsyad Indradi terus berkarya. Lebih dari 1.000 judul puisi telah ia hasilkan. Sejumlah rekan menjulukinya sebagai penyair “gila”. Baru-baru ini komunitas blogger di Tanah Air juga telah menobatkan dirinya sebagai blogger tertua di Indonesia.

Oleh : Defri Werdiono

Abah Arsyad, begitulah ia biasa dipanggil. Di kalangan sastrawan Kalimantan Selatan, sosok pensiunan pegawai negeri yang beken dengan rambut panjang ini sudah tidak asing lagi. Ia sudah malang melintangdi dunia sastra sejak puluhan tahun silam.
Ditemui di rumahnyadi Jalan Pramuka, Banjarbaru Kalimantan Selatan, Minggu (12/2), Abah Arsyad menunjukkan delapan buku hasil karyanya. Buku-buku yang ditulisnya itu antara lain, berjudul Nyanyian 1.000 Burung, Romansa Setangkai Bunga, Anggur Duka, dan Risalah Penyair Gila.
Selain itu, ada juga buku yang berjudul Kalalatu, Narasi Musafir Gila, dan tidak ketinggalan Buku Antologi Puisi Penyair Nusantara 142 Penyair Menuju Bulan. Buku-bukunya tersebut dicetak sejak tahun 2007. Abah Arsyad ternyata tidak buku-buku itu melalui penerbit atau percetakan buku yang umumnya mematok harga mahal. Dia menctak sendiri dengan cara manual.
Bisa dibayangkan bagaimana ribetnya. Ia harus menulis ulang di komputer, membuat tata wajah (lay out), dan mencetak isi buku itu halaman demi halaman. Setelah itu baru dirapikan dan dijilid dengan tangan. Padahal, tidak semua buku tergolong tipis. Buku Antologi Puisi Penyair Nusantara, misalnya, memiliki tebal 728 halaman.
Menurut Abah Arsyad, semua yang dilakukan ini semata-mata
lantaran dirinya ingin menerbitkan buku sastra.Sementara menerbitkan lewat jalur yang lazim melalui percetakan modern biayanya cukup tinggi.
“ Mencari sponsor untuk menerbitkan buku sastrajuga cukup sulit.”ujarnya.
Yang menjadi catatan, sebelum menerbitkan sendiri buku-bukunya itu, Abah Arsyad ternyata tidak menguasai komputer. Jangankan mengetik, mematikan dan menghidupkan peranti modern tersebut dirinya mengaku tak bisa.
“ Memang di rumah saya ada komputer milik anak, tapi saya sebelumnya tidak bisa menggunakannya.” ujarnya.

Gayung Bersambut

Buku pertama yang diterbitkan adalah Antologi Puisi Penyair Nusantara 142 Penyair Menuju Bulan, buku ituberisi puisi karya 142 dari 186 penyair di Indonesia. Mereka antara lain, Ahmadun Yosi Herfanda, D Zawawi Imron dan I Made Santha.
Sebelum membuat buku itu, Abah Arsyad terlebih dahulu mengumpulkan berbagai bahan. Bukan hal mudah, perlu upaya. Abah Arsyad memulai proses pengumpulan naskah dengan cara menghubungi teman secara beranting. Ia juga dibantu seorang kawan yang bekerja di salah satu media massa. Di media tersebutia mengumumkan bahwa Kelompok Studi Sastra Banjarbaru (Komunitas yang ia dirikan) hendak membukukan karya-karya puisi dari para penyair menjadi sebuah antologi.
Rupanya gayung bersambut. Selama dua bulan, lebih dari 100 penyair mengirimkan karya mereka. Bahkan, ada beberapa penyair yang mengirimkan karya di luar batas waktu yang telah ditentukan. Pengirimannya pun menggunakan cara tradisional, yakni melalui surat.
“ Karena tidak bisa komputer dan tidak memiliki e-mail, pengirimannya pun melalui surat,” ujarnya sambil tertawa.
Begitu bahan terkumpul, Abah Arsyad masih dibantu oleh kawannya menyalin karya dari wujud kertas surat menjadi dokumen di komputer untuk dibuat buku master.
Ia mengaku butuh waktu empat bulan untuk belajar mengoperasikan komputer. Caranya otodidak sembari kadang-kadang menanyakan kepada teman. Dia tidak hanya mempelajari mengetik dengan komputer, tetapi juga belajar membuat grafis dengan menggunakan perangkat lunak komputer.
Abah Arsyad berhasil mencetak buku pertamanya pada awal tahun 2007. Dari 350 eksemplar hasil cetakan, sebagian diberikan kepada penyair yang mengirimkan puisi. Sebagian buku lainnya disumbangkan ke perpustakaan, baik yang ada di daerahnya mau pun di beberapa perguruan tinggi, secara cuma-cuma. Keberhasilan mencetak buku pertama kemudian diikuti buku-buku selanjutnya.
Sebenarnya, sebelum membuat delapan buku, yang bersangkutan telah membuat sejumlah antologi karya bersama. Beberapa karya di antaranya berjudul Jejak Berlari, Edisi Puisi Bandarmasih, Tamu Malam, Jendela Tanah Air, Pedas Lada Pasir Kuarsa, dan Kenduri Puisi.
Lantas, bagaimana keterlibatan Abah Arsyad dalam dunia blog ? Menurut ayah tiga anak ini, keterlibatnnya dalam dunia blog dan menjadi blogger adalah tindak lanjut setelah dia mencetak buku. Ia ingin bisa mengenal lebih jauh tentang internetdan dunia maya.
Perlahan namun pasti, ia mulai bersinggungan dengan e-mail, blog, dan media jejaring sosial lainnya. Melalui media internet pula, ia menuangkan karya-karyanya, termasuk menawarkan dan menjual buku cetakannya kepada penikmat sastra di Tanah Air. Dari situlah kemudian buku dari sejumlah daerah terus berdatangan hingga sekarang.
Abah Arsyad mengaku saat ini memiliki 60 blog, mulai dari situs penyair Nusantara (penyairnusantara.blogspot.com) yang menghimpun para penyair di Nusantara dan beberapa negara lain hingga situs yang khusus memuat karyanya.
“ Saat ini adalah zaman teknologi. Jadi, tidak ada salahnya seorang pelaku sastra mengikuti perkembangan yang ada.” ujarnya.
Akibat aktivitasnya di dunia maya inilah, ia dikukuhkan menjadi blogger tertua dalam acara Kopi Darat Blogger Nusantara 2011 di Sidoarjo, Jawa Timur, beberapa waktu lalu.
Keterlibatan mantan Kepala SMK 1 Gambut ( salah satu sekolah di Kabupaten Banjar) ini terhadap dunia sastra sebenarnya sudah berlangsung sejak SMP. Saat itu ia sudah mulai menulis puisi. Tema puisinya beragam, mulai dari budaya banjar, kekayaan alamm Kalimantan,kritik sosial, hingga yang berbau religi.

ARSYAD INDRADI
* Lahir, Barabai,31 Desember 1949
* Isteri : Misrah (56)
* Anak :
- Indra Indradi (31)
- Rahfini Indradi (30)
- Aprina Indradi (27)
Pendidikan :
- SR 9 Barabai, Hulu Sungai Tengah (1963)
- SMP 2 Barabai (19670
- SMA 3 Banjarmasin (1970)
- PGSLP Banjarmasin (1973)
- S-1 Universitas Lambung Mangkurat Mangkurat (1989)
- S-1 STIKIP Banjarmasin (1989)
Penghargaan :
- Bidang Tari dari Majelis Bandaraya Melaka bersejarah pada pesta Gendang Nusantara VII Malaysia ( 2004 dan 2009 )
- Bidang Tari dari Wali Kota Banjarbaru (2009)
- Bidang sastra dari Wali Kota Banjarbaru (2010)
- Bidang sastra dari Gubernur Kalimantan Selatan (2010)

Dimuat di Harian : Kompas,Jumat, 17 Februari 2012

Rumahku, Ruang Inspirasiku

Media Kalimantan, Minggu 5 Februari 2012


Kata sebagian orang, rumahku adalah surgaku. Ada pula yang mengatakan , rumahku istanaku. Namun, lain lagi dengan rumah versi Si “ Penyair Gila “, Arsyad Indradi ini. Pria kelahiran 31 Desember 1949 ini mendefinisikan, rumah sebagai ruang inspirasinya untuk melahirkan berbagai macam puisi dan tulisan lainnya.
“ Rumahku, ruang inspirasiku” begitu Arsyad berkata ketika dikunjungi Tim Rumah Kita di kediamannya, Jalan Pramuka no.16 RT 03 RW 09 Banjarbaru.
“ Rumah juga sarang untuk mengistirahatkan badan. Dirumah kami menyusun rencana kehidupan , membawa dan menyelesaikan segala permasalahan. Serta tentunya, di rumah inilah tempat berkumpulnya sanak keluarga.” lanjut Arsyad.
Tinggal bersama isteri, tiga orang anak dan dua cucunya, keluarga sastrawan satu ini tampak begitu kompak. Seluruh dinding rumahnya dilapisi car berwarna ungu. Katanya, seisi rumah memang sangat menyukai warna ungu. “ Cocok, seisi rumah suka dengan warna ungu,” tuturnya.
Diceritakan Arsyad, rumahnya mulai dibangun pada 1984,. Awalnya, ia meletakkan meja kerja persis di ruang tamu. Namun seiring waktu berjalan dan semakin banyak orang yang berdatangan, ia pun memindahkannya ke kamar tidur pribadinya.
Rumah yang berukuran 10x15 meter ini mempunyai empat buah kamar tidur, satu buah dapur yang gabung dengan sumur, satu kamar mandi, dan sebuah toilet.
Bagi Arsyad, bagian dalam rumah yang paling disukainya adalah kamar tidur. Karena, di kamar tidurlah Arsyad banyak melahirkan berbagau tulisan dan puisi. Sudah ratusan puisi dituliskan dari tuangan yang satu ini. “ Kalau saya sudah masuk ke dalam kamar, maka tak boleh ada yang ganggu. He he he “ ucapnya seraya tertawa.
Yang paling menarik, Arsyad Indradi mempunyai perpustakaan pribadi di rumahnya. Baginya, perpustakaan adalah jiwa. Apa lagi sewaktu berprofesi sebagai pengajar dulu. Arsyad sempat menjadi pengelola perpustakaan.
“ Sekitar 300 buku lebih saya kumpulkan sejak saya masih bujangan. Pernah suatu waktu, saking banyaknya hingga tak muat lagi, sebanyak lima kardus saya sumbangkan buku-buku sastra keperpustakaan daerah Banjarbaru. Ya, semoga saja bisa memberikan manfaat untuk pembacanya.” terang Arsyad. Arsyad menceritakan, kebanyakan dari koleksi buku-bukunya adalah bertema sastra dan komputer. Karena, selain sebagai penyair, ia juga seorang blogger sejati. Terbukti dengan adanya 60 blog yang dikelolanya. Ia dinobatkan sebagai blogger tertua di Nusantara pada acara Blogger Nusantara 2011 lalu.
Disamping itu, terdapat ruang tamu yang selalu siap untuk menerima tamu dari Kalsel mau pun luar Kalsel.
“ Kita juga pernah didatangi oleh kru Trans 7 untuk wawancara “ Program Jejak Misteri,” kenang Arsyad.
Ya, di rumah inilah mereka wawancara, menanyakan berbagai macam hal-hal yang berbau kesenian serta kebudayaan di Kalimantan Selatan.
Tapi jangan kaget. Apabila seluruh anggota keluarga kumpul, rumah kami ini layaknya showroom motor. Karena, semua motor kumpul satu di rumah ini,” pangkasnya terawa terbahak. (ananda/sisy).

Dari Harian : Media Kalimantan, Minggu 5 Februari 2012/13 Rabiul Awal 1433 H

Jumat, 23 Desember 2011

MANINGAU NILAI SOSIAL BUDAYA DAN NILAI SENI BUDAYA BANJAR Oleh : Arsyad Indradi

Oleh : Arsyad Indradi

Sejak zaman Datu Nini baik Nilai – Nilai Sosial budaya dan Seni Budaya Banjar sudah tertanan dalam masyarakat Banjar.

I. Nilai Sosial Budaya
Nilai Sosial Budaya seperti keterampilan dan kerajinan yakni anyaman, masakan, batik, kamasan, ukir dan tatah. Anyaman dengan bahan tumbuhan purun yang menghasilkan tikar purun, bakul purun. Bahan paikat (rotan) yang menghasilkan bakul, lanjung, arangan gayak, bakul kayang ( tangkiding ), bakul pamasakan, butah, rambat, tangkitan bukit dan lain – lain. Daun nipah yang menghasilkan “tanggui“ ( tudung ), ketupat, kajang dan lain – lain. Atap rumbia yang bahannya dari daun rumbia. Dari bahan ijuk menghasilkan sapu ijuk dan tali ijuk. Demikan juga masakan berupa empat puluh satu macam kue, gangan asam, gangan balamak, gangan haliling, soto Banjar dan lain – lain. Batik Banjar berupa kain sasirangan, dinding airguci, tapih (sarung) wanita. Sasirangan adalah batik khas Kalimantan Selatan yang pada jaman dahulu digunakan untuk mengusir roh jahat dan hanya dipakai oleh kalangan orang-orang terdahulu seperti keturunan raja dan bangsawan. Proses pembuatan masih dikerjakan secara tradisional.
Masyarakat Banjar seperti masyarakat Banjarmasin, Nagara dan Martapura yang juga sebagai pengrajin kamasan ( tukang perhiasan ) bahan emas, suasa dan perak. Hasil kerajinan itu berupa : Giwang (anying-anting) seperti bonel ros barumbai, bonel air tetes, bonel air tetes barumbai dan lain-lain. Galang ( gelang ) tangan seperti galang baintan, galang rantai, galang rantai sulapit dan lain-lain. Galang batis ( kaki ) seperti galang batis buntut cacing, galang batis malati, galang wancuh.Utas (cincin) seperti utas balah paikat, utas mata satu asur wawaluhan, utas mata satu bagimus (polos), utas mata satu tusuk, utas ros parimata intan, utas rantai, utas baserong dan lain - lain. Kakalung seperti kakalung rantai sulapit, kakalung madaliun barumbai, madaliun ros, madaliun mata tiga, madalin mata satu dan lain-lain. Cucuk baju seperti cucuk baju seribu manis, cucuk baju paniti, cucuk baju daun basontek, cucuk baju daun baintan dan lain - lain. Cucuk konde seperti cucuk konde kulipak katu, cucuk konde daun talu, daun lima, cucuk konde daun seribu manis, cucuk konde ros, cucuk konde daun baintan dan lain-lain.

Ada hasil kerajinan dari bahan kuningan seperti pakucuran/peludahan, sasanggan panginangan, celengan dan lain-lain. Ada hasil kerajinan tembikar seperti dapur, kapit, tajau halus dan besar, cocot ( sejenis ciret/teko ) dan lain – lain.
Ukir dan tatah seperti dalam bentuk tatah surut (ukiran berupa relief); tatah babuku (ukiran dalam bentuk tiga dimensi), tatah baluang (ukiran “bakurawang”) dan lain – lain.

Nilai Sosial Budaya yang menjadi tempat – tempat objek wisata, di Tanah Banjar banyak jumlahnya di antaranya Pasar Terapung, pendulangan intan dan keindahan alam seperti Pulau Kambang, Gua Liang Hidangan, tempat keramat dan lain – lain.
Pasar Terapung adalah pasar tradisional yang sudah ada sejak dulu dan merupakan refleksi sosial budaya sungai orang Banjar. Pasar yang khas lagi unik ini tempat melakukan transaksi jual beli bahkan ada yang berupa barter di atas air dengan menggunakan jukung ( sampan ) yang berdatangan dari berbagai pelosok, membawa dagangan berupa lalapan ( sayur – sayuran ), buah – buahan, pancarakinan ( rempah masakan dan belah pecah ) juga makanan dan minuman. Pasar Terapung hanya berlangsung pada pagi hari sekitar jam 05.00 hingga 07.00 setiap hari. Pasar terapung ini ada dua lokasi yaitu di Kuin wilayah Banjarmasin dan Lok Baintan wilayah Kabupaten Banjar.

Seperti juga di daerah lain, Kalimantan Selatan memikili tradisi budaya dan seni budaya.
Tradisi Budaya yang kental dalam masyarakat Banjar seperti upacara kehamilan, kelahiran, khitanan, perkawinan, kematian, baayun anak, mamalas banua/manyanggar banua, aruh ganal, badudus dan lain – lain.
Di sini akan “ditingau sakilaran “ mengenai tradisi baayun anak dan badudus.

a. Baayun Anak
Yang lebih menarik adalah menidurkan anak ini sang ibu sambil bernyanyi dengan suara merdu berayun-ayun atau mendayu-dayu.
Isi lirik ini, puji-pujian pada anaknya yang ”bungas langkar ” dan doa agar anaknya kelak kuat imannya dalam agama sampai akhir hayatnya.
Kalau tidak berupa syair atau pantun, sang ibu membaca salawat rasul atau ayat – ayat suci Al Qur’an.

Ayun Bapukung adalah menidurkan anak dengan cara sang anak didudukan dalam ayunan dibalut dengan kain tapih sebatas leher.
Ayunan untuk ”guring bapukung” tak bedanya dengan ayunan dengan posisi dibaringkan yaitu terbuat dari tapih bahalai atau kain kuning dengan ujung –ujungnya diikat dengan tali haduk ( ijuk ). Ayunan ini biasanya digantungkan pada palang plapon di ruang tengah rumah. Pada tali tersebut biasanya diikatkan Yasin, daun jariangau, kacang parang, katupat guntur, dengan maksud dan tujuan sebagai penangkal hantu – hantu atau penyakit yang mengganggu bayi. Menidurkan anak dengan bapukung biasanya lebih cepat tertidur dari pada mengayun posisi berbaring.
Maayun anak ini terkadang diadakan pada acara Mauludan yakni tanggal 12 Rabiul Awwal. Dengan maksud agar mendapat berkah kelahiran Nabi Muhammad SAW
Pada perkembangannya, maayun anak ini menjadi sebuah tradisi budaya yang setiap tahun digelar dengan istilah “ Baayun Maulud” Baayun Maulud ini sungguh berisi pesan-pesan religiusitas, filosofis dan local wisdom ( kearifan local ).
Baayun Maulud ini setiap tanggal 12 Rabiul Awwal yakni menyambut dan memperingati Maulud Rasul, oleh masyarakat Desa Banua Halat Kecamatan Tapin Utara selalu mengadakan upacara Baayun Anak atau Baayun Maulud. Tradisi budaya ini mulai popular sejak tahun 1990-an.
Juga, Baayun Anak ini adalah salah satu agenda tahunan bagi Museum Lambung Mangkurat Banjarbaru Kalimantan Selatan. Yang lebih unik lagi pesta Baayun Anak ini bukan hanya baayun anak tetapi pesertanya juga baayun nenek dan kakek. Mereka sengaja ikut baayun karena nazar. Nazar ini karena sudah tercapai niat atau terkabul hajat seperti sudah naik haji, mendapat rejeki yang banyak atau untuk maksud agar penyakitnya hilang atau juga panjang umur.

2) Badudus
Setiap suku bangsa di Indonesia mempunyai adat budayanya masing- masing, ada yang berbeda dan ada juga hampir sama. Dalam kesempatan ini diperkenalkan adat yang ada di suku Banjar yang mendiami Tanah Borneo bagian selatan yakni Kalimantan Selatan, yaitu Acara Badudus.

Badudus adalah acara mandi – mandi.. Acara ini ada tiga jenis, yaitu Badudus Tian Mandaring, Badudus Pengantin Banjar, dan Badudus untuk Keselamatan.
a) Badudus Tian Mandarin
Acara Badudus Tian Mandaring adalah acara Mandi – Mandi perempuan hamil pertama kali yang usia hamilnya Tujuh Bulan. Sesaji yang diadakan berupa kue – kue yang jumlahnya 41 macam. Minyak Likat Buburih adalah sebagai bahan Tapung Tawar. Air yang dimandikan berupa air yang berendam beraneka bunga sehingga air ini beraroma harum.

b) Badusus Selamatan Tahunan
Acara Badudus merupakan tradisi masyarakat Banjar terutama sebagian masyarakat Amuntai Kabupaten Hulu Sungai Utara. Acara ini diadakan dua kali setahun yaitu acara Mandi-Mandi dilaksanakan pada pertengahan tahun Hijrah yaitu sekitar bulan Jamadil Akhir dan Selamatan Tahunan diadakan pada awal tahun Hijrah yaitu bulan Muharram . Masyarakat Amuntai sangat tebal kepercayaannya terhadap Legenda Lambung Mangkurat, bahwa raja-raja Negara Dipa seperti Empu Jalmika, Pangeran Suryanata, Pangeran Suryaganggawangsa dan lain-lainnya itu sampai sekarang masih hidup dan berada di alam gaib dan sewaktu-waktu mereka dapat diundang. Kepercayaan ini dianut secara turun temurun dan jika tidak dilaksanakan maka mengakibatkan malapetaka bagi keluarga mereka misalnya ada yang kurang waras atau kena penyakit.
Sesaji yang harus diadakan adalah 41 macam kue dan yang tidak boleh ketinggalan yaitu “ Bubur Habang Bubur Putih “, “ Kopi Pahit “, Cingkaruk Batu “, “ Rokok Jagung “, dan “ Minyak Likat Buburih “.

Serangkaian acara Badudus Selamatan Tahunan ini diadaakan lagu-lagu Badudus yang diiringi tetabuhan yang terdiri dari biola dan Tarbang Besar atau Tarbang Burdah. Ada beberapa repertoire dalam acara ini yang susunannya tidak boleh tertukar, yaitu :
Repertoire pembukaan adalah lagu Kur Sumangat, merupakan lagu mengundang roh – roh dari raja-raja yang gaib di tengah kepulan asap dupa dan kemenyan. Isi lagu adalah undangan dan ucapan maaf jika ada kesalahan dalam menyediakan sajian atau dalam pelaksanaan terdapat kekeliruan dan sebagainya.selesai lagu ini, diadakan acara Tapung
Tawar yang disebut Tatungkal dengan memercikkan minyak Likat Buburih d atas kepala pada yang dimandikan dan pada keluarga. Repertoire yang kedua Lagu Girang –
Girang, pernyataan kegembiraan. Repertoire yang ketiga adalah lagu Mandung Mas Mirah, lagu untuk menyambut puteri – puteri yang diundang. Repertoire yang keempat Lagu Dundang Sayang, berfungsi sebagai penghibur pada para undangan yang hadir. Repertoire yang kelima adalah Lagu Tarabang Burung, lagu menyambut atau menyongsong para roh – roh yang datang. Repertoire yang terakhir yaitu Lagu Burung Mantuk, l;agu untuk menghantarkan pulang para roh – roh yang telah menghadiri upacara tersebut.

Tidak jarang dalam upacara Badudus ini banyak orang – orang yang hadir kesurupan. Setelah selesai Lagu Burung Mantuk dinyanyikan yang kesurupan tersebut sadar kembali. Fungsi penyanyi terkadang adalah juga sebagai pawang dan berperan sebagai pemimpin acara.

c) Badudus Pengantin Banjar
Acara Badudus Pengantin Banjar adalah suatu acara adat masyarakat Banjar yang sampai sekarang ini masih tumbuh dan hidup dalam masyarakat Banjar. Tempo dulu Badudus merupakan acara penobatan seorang Raja. Acara ini hanya diselenggarakan oleh keturunan raja – raja saja yakni keturunan dari raja – raja Kerajaan Negara Dipa dan Kerajaan Daha, dan yang dapat menghadiri acara tersebut adalah hanya terbatas kepada seluruh keluarga saja. Setelah tidak ada lagi kerajaan di Tanah Banjar (tahun 1860 ) maka acara ini bergeser menjadi acara mandi – mandi Pengantin Banjar. Penyelenggaraan Badudus dilaksanakan oleh kedua pengantin. Dalam acara ini disediakan sesaji 41 macam kue dan minyak likat buburih yaitu bunga – bungaan yang dimasak dengan minyak kelapa dan lilin serta ditambah dengan minyak wangi. Acara badudus ini umumnya dimeriahkan dengan menyuguhkan lagu – lagu Banjar.
Sungguh, nilai – nilai Seni Budaya Nasional sangatlah “ Sugih (kaya) “ karena berakar dan bersumber dari nilai – nilai Seni Budaya Daerah. Salah satunya adalah dari Tanah Banjar.


II. Nilai Seni Budaya Tanah Banjar tersebut antara lain adalah musik, tari, sastra dan teater.

1) Seni Musik
Seni Musik Tanah Banjar terdiri dari gamelan Banjar dan musik tradisional Banjar.
a) Gamelan Banjar
Gamelan Banjar ini dahulunya hidup dan berkembang di keraton Banjar, namun sekarang ini tidak ada lagi keraton Banjar maka musik ini hidup di kalangan rakyat Banjar. Gamelan Banjar umumnya sebagai pengiring tarian seperti wayang gong, wayang kulit dan tarian klasik Banjar.
Perangkat gamelan Banjar yang paling tua adalah sepasang gamelan Banjar yang bernama “ Simanggu Kacil dan Simanggu Basar “. Gamelan Simanggu Kacil berada di Museum Nasional Jakarta sedang Simanggu Basar berada di Museum Lambung Mangkurat Banjarbaru Kalimantan Selatan.

b) Musik Trasional Banjar di antaranya adalah Musik Kentung dan Musik Panting.
Musik Kentung ( instrument bamboo) ini berasal dari daerah Kabupaten Banjar yaitu di desa Sungai Alat Kecamatan Astambul dan kampung Bincau Kecamatan Martapura. Masa dahulu alat musik ini dipertandingkan. Dalam pertandingan ini bukan saja pada bunyinya, tetapi juga hal-hal yang bersifat magis, seperti kalau dalam pertandingan itu alat musik ini bisa pecah atau tidak dapat berbunyi dari kepunyaan lawan bertanding.
Musik kentung termasuk alat musik pentatonis, boleh dikatakan pula sejenis alat musik perkusi. Karena cara membunyikannya dihentakkan pada sebuah potongan kayu yang bundar. Alat musik kentung ini berjumlah 7 buah dan masing-masing mempunyai nama, yaitu : Hintalu randah, hintalu tinggi, tinti pajak,tinti gorok,pindua randah, pindua tinggi dan gorok tuha.
Musik Panding adalah seperangkat alat musik yang terdiri dari : Babun (gendang), Gong, Biola, suling dan Panting. Panting ini bentuknya seperti gitar atau gambus tapi bentuknya agak kecil. Musik Panting umumnya untuk mengiringi lagu – lagu Banjar.


2) Seni Tari Banjar.
Seni Tari Banjar ada beberapa jenis yakni Tari Kelasik Banjar seperti Tari Baksa Kembang, Baksa Panah, Baksa Lilin, Baksa Dadap, Baksa Tameng, Radap Rahayu, Tari Topeng Panji, Tari Topeng Sekartaji, Tari Topeng Kelana dan lain – lain. Tari Tradisional (rakyat) seperti Tari Tirik kuala, Tirik Lalan, Tari Japin Kuala, Japin Sisit, Tari Kuda Gepang dan Tari Wayang Gong. Tari Kreasi Baru seperti Mandulang Intan,
Tari Semangat Ratu Zaleh, Maiwak, Ambung Gunung dan lain – lain. Tari Pedalaman adalah tarian yang ada di daerah pedalaman Kalimantan Selatan ( suku Bukit ) seperti Tari Giring-Giring, Tari Gelang Bawu, Tari Gintur dan lain – lain
3) Seni Sastra
Seni Sastra di Tanah Banjar ada dua bagian yaitu Sastra Tutur dan Sastra Non Tutur ( tertulis ).

1) Sastra Tutur seperti Bakisah, Lamut, Madihin dan Mantra.

A) Bakisah
Bakisah umumnya tidak memerlukan naskah. Baik pengantar kisah atau pun dialog-dialog dibawakan, mengandalkan keterampilan berimpropisasi. Tema-tema yang diangkat terkadang fiksi tetapi ada juga yang terjadi dalam masyarakat. Pangisahan manakala melakonkan tokoh-tokoh dalam kisah, penonton benar-benar larut dalam arus plot dan karakter sang tokoh. Bilamana adegan sedih, gembira, dendam, humor atau lainnya, penonton larut ke dalamnya.

Banyak sari toladan dari ”kisah” baik mengenai adat istiadat, etika estetika hidup, pendidikan, keagamaan, patriotisme yang terkandung dalam kisah. Kalau dibandingkan propertis ( hand dan setting ) dan lightingnya antara teater monolog, bakisah sangat sederhana dan bersahaja namun Pangisahan mampu menghidupkan suasana.
Bakisah ada beberapa macam yakni Bapandung, Dundam, Lamut, Andi-Andi, Madihin dan Mantra.

a)Bapandung
Bapandung lahir di Desa Muara Munign kabupaten Tapin. Tokoh-tokoh yang ada di dalam cerita, dimainkan dengan menirukan suara, tingkah laku seseorang, dan sebagainya.

b)Dundam
Bakisah dengan prosa lirik, berpantun-pantun. Lagunya lebih dekat dengan lagu mantra. Cerita adalah tokoh legenda orang Dayak (Bukit) dalam suatu kelompok. Ada hubungan cerita dengan etnis Banjar atau dengan kerajaan Banjar. Berdundam berada di suatu tempat yang berlampu remang-remang. Media untuk bercerita adalah sebuah gendang atau tarbang.yang dipukul berirama mengiring lagu pendundam bercerita.

c)Lamut
Ada yang mengatakan bahwa lamut diambil dari nama seorang tokoh cerita di dalamnya, yaitu Paman Lamut seorang tokoh yang menjadi panutan, sesepuh, baik dilingkungan kerajaan atau pun masyarakat seperti halnya Semar dalam cerita wayang.Cerita dalam Lamut menurut pakem yang ada walau tak tertulis. Cerita yang dikenal masyarakat Banjar yakni cerita tentang percintaan antara Kasan Mandi dengan Galuh Putri Jung Masari. Kasan Mandi adalah putera dari Maharajua Bungsu dari Kerajaan Palinggam Cahaya, sedangkan Galuh Putri Jung Masari adalah putri dari Indra Bayu, raja dari Mesir Keraton. Kasan Mandi kawin dengan Galuh Putri Jung Masari melahirkan seorang putra bernama Bujang Maluala dengan pengikut setianya paman Lamut bersama anak – anaknya yaitu Anglung, Anggasina dan Labai Buranta.
Lamut befungsi sebagai upacara pengobatan anak yang sakit, bisa juga berfungsi sebagai tontonan masyarakat. Pelamutan duduk berila dengan memegang sebuah gendang budar yang dikenal dengan nama tarbang. Pelamut berbaju Taluk balanga ( Koko ) memakai sarung palekat, berkopiah hitam. Penonton duduk santai lesehan.

d)Andi-Andi
Berkisah tentang legenda, dongeng dan sebagainya disaat orang brgotong royong, mengetam padi di sawah. Fungsinya menghibur orang bekerja. Ceritanya dari syair-syair, tutur candi,dan dongengan.

e) Madihin
Ada yang berpendapat bahwa madihin berasal dari kata madah, yaitu sejenis puisi lama dalam sastra Indonesia. Madah merupakan syair yang mempunyai rima yang sama pada suku akhir kalimat. Madah mengandung puji - pujian, nasehat atau petuah. Tetapi dalam perkembangannya humor atau lulucuan, sindiran yang sehat, tak ketinggalan
disuguhkan oleh Pamadihinan ( orang yang membawakan madihin ) sebagai bumbu. Hand Proferti yang digunakan adalah tarbang yang bentuknya lebih kecil dari Tarbang Lamut.

f) Mantra
Mantra adalah ujar-ujar yang merupakan sumber kekuatan spritual leluhur pusaka Banjar ( Kalimantan ). Pada hakikatnya adalah suatu permohonan kepada yang Maha Kuasa yang disampaikan dengan ujaran yang khas dan dengan gaya bahasa yang khas pula dengan keyakinan yang penuh bagi penggunanya.

2) Sastra Non Tutur ( Tertulis )
Sastra Tertulis ini ada yang dinamakan Syair, Gurindam, Pantun dan Puisi ( Sajak ).

A) Syair
Salah satu bentuk Sastra Banjar adalah “ Syair “. Seperti juga syair dikesastraan Indonsia Lama, Sastra Banjar Syair mempunyai bentuk empat baris setiap baitnya, persajakannya aa-aa dan isinya mengandung hikayat, sejarah, nasihat, pendidikan, percintaan, keagamaan dan dongeng, dan munculnya syair setelah adanya pengaruh agama Islam. Tetapi bedanya media yang digunakan Syair Kesastraan Indonesia Lama, Bahasa Indonesia sedangkan Sastra Banjar Syair, Bahasa Banjar. Disamping itu banyak syair – syair dalam Sastra Banjar ditulis oleh pengarangnya dengan menggunakan tulisan Arab. Sayangnya syair- syair yang ditulis dengan tulisan Arab ini sampai sekarang belum banyak ditulis dengan tulisan Latin. Akibatnya syair – syair Sastra Banjar ini hanya merupakan Koleksi Filologika Museum Negeri Kalsel di Banjarbaru.
Beberapa syair Banjar : Syair Sipatul Golam, Syair Ganda Kasuma, Syair Ringgit, Syair Tajul Muluk, Syair Surat Tarasul, Syair Siti Jabidah, Syair Indra Bumaya, Syair Khabar Kiamat, Syair Panji Kasmaran, Syair Brahma Sahdan, Syair Ratu Kuripan “ dan lain – lain.

B) Gurindam
Gurindam adalah syair yang terdiri dari seuntai yang isinya nasihat, petuah dan lain – lain.


C) Pantun
Masyarakat Banjar tempo dulu (bahari) sangat gemar berpantun sampai sekarang ini. Yang lebih menggembirakan bukan saja orang – orang tua tetapi juga kaula muda Tanah Banjar masih tetap menggemari pantun bahkan akan tetap melestarikannya.
Struktur pantun Banjar seperti halnya pantun Indonesia lama atau pantun Melayu yang bersetruktur : baris pertama dan kedua adalah sampiran, baris ketiga dan keempat adalah isi. Jumlah suku katanya baris pertama sama dengan baris ketiga dan baris kedua sama dengan baris keempat. Atau jika terjadi selisih suku katanya tidak lebih dari satu suku kata saja. Atau dari baris pertama, kedua, ketiga dan keempat sama jumlah suku katanya. Rima sajaknya (a),(a),(b),(b).

Terkadang pantun Banjar ada yang unik, mirip dengan syair yakni baris – barisnya hampir tidak dapat dibedakan sampiran dan isi dan rima sajaknya (a),(a),(a),(a). Yang lebih unik lagi apabila pantun ini merupakan lirik dari lagu atau nyanyian yakni terjadi pengulangan baris sehingga menimbulkan bunyi dan irama yang harmonis.
Pantun Banjar ada lima ragam : 1) Ragam Pantun Banjar Biasa : Seperti Pantun Agama, Pantun Adat Istiadat, Pantun Badatang, Baturai Pantun, Panglipur, Papujian, Balolocoan, Marista, Pantun Insyaf, Pantun Bacucupatian, Pantun Urang Anum. 2) Ragam Pantun Banjar Pantun Tarasul 3) Ragam Pantun Banjar Sebagai Lirik Lagu atau Nyanyian 4) Ragam Pantun Banjar Sebagai Pengiring Tarian 5) Ragam Pantun Wayahini.
D) Puisi ( Sajak )
Puisi ( Sajak ) termasuk kesastraan baru dan kesastraan modern.

4) Teater
Teater ada dua : Teater Modern dan Teater Tradisional.


1) Teater Modern : Teater dari daerah/negeri lain.

2) Teater Tradisional Banjar yaitu Teater yang khas daerah Banjar yakni :
Salah satu teater tradisional Kalsel yang masih bisa bertahan hidupnya adalah “ Mamanda “. Mengapa demikian ? Sebab cerita dari Mamanda memang mengasyikkan tak kalah dengan cerita sinetron atau film. Walau pun tokoh-tokoh dalam Mamanda “ baku “ namun dapat ditambah tokoh-tokoh lain dengan cerita yang lain, artinya cerita
mamanda dapat diciptakan sesuai dengan perkembangan jaman. Apa lagi durasi pertunjukkan mamanda jang semula semalam suntuk sekarang disesuaikan dengan permintaan, maksudnya bisa durasinya 3 jam atau 5 jam. Istemewanyanya Mamanda, bisa dimainkan dengan sebuah naskah yang utuh seperti terater modern atau hanya dengan mengatur cerita seperti garis besar cerita, babakan dan plot, sedangkan dialog dikenal dengan istilah impropisasi. Pemain – pemain Mamanda memang dikenal keahliannya berimpropisasi. Tokoh-tokoh mamanda yang baku itu adalah Raja, Mangkubumi, Wazir, Perdana Menteri,Panglima Perang, Harapan Pertama, Harapan kedua, Khadam, Permaisuri, Anak Raja ( bisa putri atau Pangeran ). Tokoh-tokoh lain sesuai cerita misalnya Raja dari Negeri lain, Anak Muda, Perampok,Jin, Belanda, atau nama dari daerah lain ( Jawa, Cina, Batak, Madura atau lainnya ). Seperti juga di teater modern, sebelum pertunjukkan dimulai akan dibacakan sinopsisnya, di mamanda dipaparkan lewat “ Baladon “. Baladon adalah tutur cerita dengan dibawakan berlagu dan gerak tari. Cerita mamanda bisa berkolaburasi dengan seni tari atau musik. Yakni setelah kerajaan selesai bersidang maka akan ditampilkan pertunjukkan tari dengan maksud menghibur raja dengan segenap aparat kerajaan atau ketika kerajaan menang perang diadakan pertunjukkan hiburan tari atau musik panting.

Asal mula Mamanda adalah Badamuluk ketika rombongan bangsawan Malaka ( Abdoel Moeloek atau Indra Bangsawan, 1897 M ) yang dipimpin oleh Encik Ibrahim dan isterinya Cik Hawa, menetap di Tanah Banjar beberapa bulan mengadakan pertunjukkan. Teater ini begitu cepat populer di tengah masyarakat Banjar. Setelah beradaptasi, teater ini melahirkan sebuah teater baru bernama “ Mamanda “. Mamanda mempunyai pengertian “sapaan” kepada orang yang dihormati dalam sistem kekerabatan atau kekeluargaan.

Mamanda mempunyai dua aliran. Pertama : Aliran Batang Banyu. Yang hidup di pesisir sungai daerah Hulu Sungai yaitu di Margasari. Sering juga disebut Mamanda Periuk. Kedua : Aliran Tubau bermula tahun 1937 M. Aliran ini hidup di daerah Tubau Rantau. Sering dipentaskan di daerah daratan. Aliran ini disebut juga Mamanda Batubau. Aliran ini yang berkembang di Tanah Banjar.


Pertunjukkan Mamanda mempunyai nilai budaya Yaitu pertunjukkan Mamanda disamping merupakan sebagai media hiburan juga berfungsi sebagai media pendidikan bagi masyarakat Banjar. Cerita yang disajikan baik tentang sejarah kehidupan, contoh toladan yang baik, kritik sosial atau sindiran yang bersifat membangun, demokratis, dan nilai-nilai budaya masyarakat Banjar.

Bermula, Mamanda mempunyai pengiring musik yaitu orkes melayu dengan mendendangkan lagu-lagu berirama melayu, sekarang beralih dengan iringan musik panting dengan mendendangkan Lagu Dua Harapan, Lagu Dua Raja, Lagu Tarima Kasih, Lagu Baladon, Lagu Mambujuk, Lagu Tirik, Lagu Japin, Lagu Gandut , Lagu Mandung-Mandng, dan Lagu Nasib.

Dari uraian singkat di atas, ada beberapa peninggalan leluhur ini satu per satu sudah mulai terlupakan dan tenggelam. Masyarakat Banjar banyak yang tidak mengenal atau tidak tahu lagi pusaka leluhurnya yang seharusnya perlu dijaga, dilestarikan bahkan dikembangkan. Seperti upacara Badudus, baturai pantun dalam upacara perkawinan ( Badatang ), Manyanggar Banua, Bakisah,Tari – tarian terutama tari – tari kelasik seperti tari topeng atau tarian - tarian yang kental dengan akar budayanya. dan lain – lain,
Meskipun peninggalan leluhur itu masih ada, namun hidupnya sangat memperihatinkan dan sangat dikhawatirkan bahwa derasnya arus Era globalisasi dan modernisasi akan mengikis habis pusaka leluhur ini maka perlu upaya – upaya agar pusaka leluhur itu dapat terus dipertahankan.

Tidak saja seminar, diskusi, kongres budaya, Aruh Sastra, pelatihan yang terus diselenggarakan tetapi juga Pemerintah daerah, seniman budayawan, Lembaga Budaya Banjar, Dewan Kesenian dan pihak – pihak yang terkait lainnya setiap tahun mengadakan festival dan pergelaran seperti atraksi adat Banjar, festival Pasar Terapung, musik tradisional, teater tradisional, tari – tarian Banjar, pameran bersejarah, pusaka bertuah, benda budaya serta berbagai kerajinan Banjar.
Upaya – upaya ini diharapkan dapat menumbuhkan suatu gerakan masyarakat Banjar pendukung pusaka leluhurnya agar gigih dalam menjaga, mengembangkan dan melestarikannya secara bertanggung jawab di Tanah Banjar. Semoga ***

Minggu, 29 Mei 2011

Bawa Tari Ke Belanda Tanpa Izin


* Drs. Sirajul Huda MH. Menurut Sirajul Huda, pihah Kesultanan Banjar tidak pernah meminta izin terlebih dahulu kepada dirinya selaku penata Tari Japin Rantauan. “ Disatu sisi aku bangga karena tari hasil tataanku mendapat kehormatan digelarkan di luar negeri, namun di sisi lain aku kecewa karena tidak pernah dihubungi dan diminta izin sebelumnya,” ucap pria yang kerap disapa Sirajul ini kepada Media Kalimantan Jumat (27/5) kemarin.
Sirajul menduga, pihak Kesultanan Banjar enggan meminta izin kepadanya kemungkinan disebabkan takut kalau-kalau dirinya sebagai pencipta karya Tari Japin Rantauan mendesak agar diikutsertakan dalam rombongan. Padaha,akunya, tidak ada sedikitpun terbesit niat untuk diikutsertakan dalam rombongan perjalanan Raja Muda Khairul Saleh ke negeri Kincir Angin. “ Bukan aku ingin diikut sertakan dalam tim, tapi wajar dari segi etika sangat wajar kan kalau timminta izin. Karena aku sebagai penata tari Japin Rantauan masih ada di dunia ini,”ujarnya.
Sirajul juga tak hendak dihormati, namun setidaknya ia ingin melihat hasil tataannya dibawakan oleh tim tari Kesultanan Banjar. “ Aku ingin melihat apakah tari tersebut sudah sempurna, karena ini menyangkut nama penata tari. Dan biasanya sebelum pentas tarian yang akan dipentaskan diberitahukan siapa penatanya. Nah,apakah saat pentas di Belanda itu juga disebutkan ?” ujar pria kelahiran Banjarmasin, 5 Januari 1952 itu.
Disinggung soal perjalanan kolosal sang Pangeran ke negeri Kincir Angin, seniman yang berdomisili di Banjarbaru ini tidak mau berkomentar. “Urusan perjalanan, urusan kesultanan. Baik buruknya perjalanan tersebut kita serahkan kepada masyarakat, biar mereka yang menilainya seperti apa,” pungkasnya.
Sementara itu, saat dimintai informasi seputar kegiatan Kesultanan Banjar ke Belanda, baik Raja Muda Kesultanan Banjar Pangeran Khairul Saleh maupun datu cendikiawan lainnya, tidak bisa memberi info kegiatan mereka disana.(Ediansyah)
Sumber : Media Kalimantan,Sabtu, 28 Mei 2011

Selasa, 03 Mei 2011

Membaca tulisan : Selamat Hari Kartini

Ketika aku mengunjungi http://dakwahit.blogspot.com sungguh blog ini aku suka sekali, penampilannya sederhana namun menarik. Ada beberapa tulisan juga meraik. Tidak ketinggalan aku membaca sebuah tulisan yang berisi kegiatan BEM Fakultas Dakwah IAIN Antasari Banjarmasin memperingati“Hari Kartini” 21 April 2011.

Tulisan itu seperti ini :
Tepat pada tanggal 21 April 2011 kita menjalani lagi hari kartini, tentunya kalian semua juga sudah tahu dengan siapa itu Kartini atau biasa kita panggil dengan Raden Ajeng Kartini, beliau adalah salah seorang pencetus perjuangan pendidikan di Indonesia, terutama untuk kamu wanita pada zamannya, beliau berhasil menyetarakan pendidikan untuk kaum wanita yang awalnya tidak di ijinkan untuk mendapatkan pendidikan yang cukup layak seperti halnya kaum pria pada zaman tersebut.

Untuk memperingati dan sekaligus menghargai hari tersebut kawan-kawan dari BEM Fakultas Dakwah IAIN Antasari Banjarmasin mengadakan acara bagi 1000 bunga kepada ibu-ibu di sekitar lingkungan IAIN Antasari dan selebaran + permen kepada kawan-kawan mahasiswa pada pagi hari, kemudian bagi bunga tersebut di lanjutkan pada sore hari di simpang tiga Gatot Subroto.

Adapun acara ini adalah program kerja BEM Fakultas Dakwah dari Departemen Kewanitaan yang di pegang oleh Rahmaniah sebagai Mentri. Menurutnya acara ini perlu dilaksanakan agar kita tidak lupa dengan perjuangan R.A Kartini yang sudah mengusahakan pendidikan hingga bisa seperti sekarang ini, selain itu juga menurutnya dengan acara ini dapat lebih mengenalkan BEM Fakultas Dakwah dan Fakultas Dakwah itu sendiri kepada dunia luar.

Di bawah tulisan ini ada ruang komentar. lalu aku menulis komentar . Seperti ini :
Sesungguhnya generasi muda Indonesia termasuk mahasiswa berpikiran kritis. Dia tidak akan merasa puas dan tidak begitu saja menerima sejarah yang terlanjur terpublikasikan itu. Mereka akan kembali membalik-balik lembaran fakta sejarah, apakah benar sejarah itu atau faktanya direkayasa oleh suatu kepentingan lain ? Sekarang kita berhadapan dengan apa yang dinamakan "Hari Kartini". Tentu kita bertanya siapa sesungguhnya RA Kartini itu ? Kemudian kita menelusuri fakta-fakta pahlawan perempuan lain sebelum RA Kartini dan sezaman dengan RA Kartini. Maka kita akan menemukan perempuan-perempuan pahlawan selain RA Kartini.Seperti nama-nama : Sultanah Seri Ratu Tajul Alam Safiatuddin Johan Berdaulat dari Aceh, Siti Aisyah We Tenriolle dari Sulawesi Selatan, Marta Christina tahun 1817 di Maluku, Nyi Ageng Serang (1752-1828) Jawa Tengah, Cut Nyak Dien (1850-1908) dan Cut Meutia (1870-1910) di Aceh., Dewi Sartika (1884-1947) di Bandung Jabar, Rohana Kudus (1884-1972) di Padang,Ratu Zaleha (1880-1953)di Kalimantan dan nama-nama pahlawan perempuan lainnya. Setelah melihat dan mempelajari fakta-fakta ini secara seksama, maka timbul pertanyaan,mengapa hari bersejarah perempuan itu "Hari Kartini"? Demikianlah,generasi muda Indonesia tidak akan bersikap pasif tetapi selalu berpikir dan bersikap dinamis dan kritis. Salam.