Kamis, 25 November 2010

PELAJARAN SENIBUDAYA SEKOLAH MENENGAH DI KALSEL MEMPERIHATINKAN.

Sejak dulu sampai sekarang sekolah menengah di Kalsel sangat sedikit memiliki guru mata pelajaran seni budaya, sehingga mata pelajaran Seni Budaya banyak diberikan kepada guru yang bukan faknya. Jadi wajar jika guru tersebut sering mendapat kesulitan untuk membimbing, memberi contoh dalam praktik mata pelajaran tersebut. Apa lagi jarang sekali ada penataran, workshop atau pelatihan.. Tetapi ada juga sekolah yang maju seni budayanya walau pun mata pelajarannya dipegang oleh guru mata pelajaran lainnya, karena guru tersebut.menyenangi seni dan selalu bergaul dengan pakar seni atau seniman, rajin mengikuti setiap perubahan kurikulum, aktif menyusun RPP. Kepala sekolah dan orang tua murid ikut membantu dan menunjang keperluan kemajuan seni budaya di sekolahnya.
Yang ironis sekali banyak sekolah yang mengabaikan dan berpandangan bahwa mata pelajaran seni budaya itu tidak penting. Tetapi yang dipentingkan adalah mata pelajaran yang ada di Ujian Nasional. Disamping itu masih banyak orang-orang yang belum mengikuti perubahan perkembangan kurukulum, yang tahunya hanya kurikulum 1994 yang komponen mata pelajaran Kerajinan Tangan dan Kesenian, yang sering disebut KTK atau Kertakes. Padahal sekarang ini digunakan kurikulum KTSP komponen mata pelajaran Seni Budaya (Seni Rupa, Seni Musik, Seni Tari dan Seni Drama). Untuk mengatasi kekurangan guru mata pelajaran Seni Budaya ini, setidak-tidaknya memadai, diharapkan pemerintah setiap tahun mengangkat guru mata pelajaran seni budaya. seperti dalam Perda Prov.Kalsel No.6 Th.2009 Tentang Pemeliharaan Kesenian Daerah.BAB IV pasal (1) ayat (a),(b) dan (c).
Pada tahun 2010 ini, formasi guru mata pelajaran untuk penerimaan CPNS sangat sedikit sekali. Dari 13 Kabupaten/Kota di Kalsel hanya HSU; 4 formasi S1 Pend. Kesenian Jur.Seni Musik/S1 Kesenian Jur.Seni Musik dan A-IV, 2 formasi untuk S1 Pend.Jur.Seni Tari/S1 Kesenian Jur.Seni Tari dan A-IV. HSS; 8 formasi untuk S1 Pend.Seni, BJB;12 formasi untuk S1 Pend.Seni Kerajinan dan BJM ; 9 formasi untuk S1 Pend.Seni/S1 Seni dan A-IV (B.Post,6/11/2010).
Disini akan kami kemukakan tentang kurikulum dan KTSP dengan harapan bahwa kita semua mengetahui dan memahami kurikulum yang digunakan di sekolah menengah. sekarang ini.
Apakah Kurikulum dan KTSP itu ?
Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu (UU No. 20 Th. 2003 tentang Sisdiknas). KTSP (kurikulum tingkat satuan pendidikan) adalah kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidinkan. KTSP terdiri dari tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan, struktur dan muatan kurikulum tingkat satuan pendidikan, kalender pendidikan, dan silabus.

Kebijakan KTSP berlandaskan UU RI No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional yang mengatur KTSP, pasal 1,18,32, 35, 36 ,37,38 dan PPRI No.19 Tahun 2005 pasal 1,5,6,7,8,10,11,13,14,16,17,18 dan 20. Kebijakan Pengembangan Kurikulum ini berkaitan dengan Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan dalam Permen 22, Permen 23 dan Permen 24.

Komponen KTSP : (A) Tujuan Pendidikan Tingkat Satuan Pendidikan adalah meletakkan dasar kecerdasan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut, (B) Struktur dan Muatan KTSP : Mata pelajaran, Muatan lokal,Kegiatan Pengembangan Diri, Pengaturan Beban Belajar, Kenaikan Kelas, Penjurusan dan Kelulusan, Pendidikan Kecakapan Hidup, Pendidikan Berbasis Keunggulan Lokal dan Global, (C) Kalender Pendidikan Satuan pendidikan : dapat menyusun kalender pendidikan sesuai dengan kebutuhan daerah, karakteristik sekolah, kebutuhan peserta didik dan masyarakat, dengan memperhatikan kalender pendidikan sebagaimana tercantum dalam Standar Isi, (D) Silabus : adalah rencana pembelajaran pada suatu dan/atau kelompok mata pelajaran/tema tertentu yang mencakup standar kompetensi, kompetensi dasar, materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator, penilaian, alokasi waktu, dan sumber/bahan/alat belajar. Silabus merupakan penjabaran standar kompetensi dan kompetensi dasar ke dalam materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian. Sebagai Landasan Pengembangan Silabus ini pada PPRI No.19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan pasal 17 ayat (2) dan pasal 20. Di dalam silabus Mata Pelajaran Seni Budaya terdiri dari : Seni Rupa, Seni Musik, Seni Tari dan Seni Teater/Drama, dan (E) RPP ( Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ) : adalah rencana yang disusun menggambarkan prosedur dan pengorganisasian pembelajaran untuk mencapai satu kompetensi dasar yang ditetapkan dalam Standar Isi dan dijabarkan dalam silabus. Lingkup Rencana Pembelajaran paling luas mencakup 1 (satu) kompetensi dasar yang terdiri atas 1 (satu) indikator atau beberapa indikator untuk 1 (satu) kali pertemuan atau lebih.

Standar Isi (SI) Permendiknas No.22 Th.2006 yakni Struktur Kurikulum adalah sbb.:

Struktur Kurikulum SMP/MTs
Komponen : Mata Pelajaran Seni Budaya
Kelas dan Alokasi Waktu : VII, VIII dan IX, masing-masing 2 jam

Struktur Kurikulum SMA/MA Kelas X IPA
Komponen : Mata Pelajaran Seni budaya
Alokasi Waktu : SMT 1 dan SMT 2, masing-masing 2 jam

Struktur Kurikulum SMA/MA Kelas XI & XII IPS
Komponen : Mata Pelajaran Seni budaya
Kelas dan Alokasi Waktu : XI (Smt.1 dan 2), XII (Smt.1 dan 2), masing-masing Smt : 2 jam.

Struktur Kurikulum SMA/MA Kelas XI & XII IPS BAHASA
Komponen : Mata Pelajaran Seni budaya
Kelas dan Alokasi Waktu : XI (Smt.1 dan 2), XII (Smt.1 dan 2), masing-masing Smt : 2 jam.

Struktur Kurikulum SMA/MA Kelas XI & XII IPS AGAMA
Komponen : Mata Pelajaran Seni budaya
Kelas dan Alokasi Waktu : XI (Smt.1 dan 2), XII (Smt.1 dan 2), masing-masing Smt : 2 jam.

Struktur Kurikulum SMA/MA Kelas XI & XII SMK/MAK
Komponen : Mata Pelajaran Seni budaya
Kelas : X, XI, dan XII
Alokasi Waktu : Jam Pelajaran Per Minggu : 2 jam
Durasi Waktu : 192 jam

PERBANDINGAN STRUKTUR KURIKULUM SMP/MTs :
Kurikulum 1994 : Mata Pelajaran Kerajinan Tangan dan Kesenian : 2 jam
Kurikulum 2004 (KBK) : Mata Pelajaran Kesenian : 2 jam
Standar Isi (SI) : Mata Pelajaran Seni Budaya : 2 jam

PERBANDINGAN STRUKTUR KURIKULUM SMA :
Mata Pelajaran : Pendidikan Seni/ Seni Budaya
Kur 1994 : Kls 1 : 2 jam. Kur 1994 : Kls 2 : 0 jam. Kur 2004 : Kls X : 2 jam
Kur SNP : Kls X : 2 jam

Pemerintah daerah (kabupaten/kota) selayaknya memperhatikan formasi yang tepat dan sesuai dengan kebutuhan kurikulum terbaru dalam menentukan penerimaan guru mata pelajaran. Dalam hal ini, untuk tingkat sekolah menengah, yang dibutuhkan adalah formasi guru mata pelajaran seni budaya, yang sebenarnya sesuai dengan kurikulum terbaru. Seperti kabupaten HSU, HSS, dan BJM yang telah menentukan formasi seni budaya dalam penerimaan CPNS tahun ini. Sedangkan, mata pelajaran kerajinan tangan dan kesenian untuk sekolah menengah adalah berdasarkan kurikulum 1994, yang saat ini sudah tidak berlaku lagi sebagaimana perbandingan kurikulum di atas.

Sungguh, Mata Pelajaran Seni Budaya itu sama pentingnya dengan pelajaran akademis, eksakta atau pelajaran lainnya. Sebab Pendidikan seni budaya di sekolah bertujuan agar siswa mendapatkan pengalaman baik dalam berkarya, menciptakan konsep karya, berestetika, membentuk karakter menjadi manusia yang berbudi luhur, memiliki apresiasi dan rasa seni di dalam kehidupannya. Oleh karena itu, guru mata pelajaran seni budaya seharusnya adalah orang yang sesuai dengan jurusannya, dalam hal ini sarjana seni budaya (seni musik, seni tari, seni rupa, dan seni drama).

Kedepannya diharapkan Kalsel memiliki perguruan tinggi baik jurusan Seni Rupa,Seni Musik, Seni Tari, Drama, dan juga jurusan Seni Pedalangan/Karawitan Banjar, sehingga putra daerah yang minatnya besar terhadap seni tidak lagi bersusah-susah kuliahnya ke Jawa. Semoga ***

Banjarbaru,26 Nop.2010
Arsyad Indradi
(Mantan Pengawas Pelajaran Seni Budaya Disdik Kab.Banjar/Tim Pengembang Kurikulum Prov/nas, pengamat Seni dan Budaya,penyair.)

Jumat, 30 April 2010

Penerbitan Buku : Arsyad Indradi Melakoni Tradisi Ribuan Tahun

Esai: A.Kohar Ibrahim


FACE Book. Medio Oktober 2009, Batam, aku terima kiriman buku dari Banjarbaru Kalsel. Kongkretnya 5 buku hasil aktivitas-kreativitas seniman penulis penyair Arsyad Indradi, kelahiran Barabai 31 Desember 1949 dan yang mendapat julukan: Penyair Gila.

“Gila memang,” kesanku begitu, dalam makna memaknai ke-luar-biasa-annya. Aku amat terkesankan oleh fakta fenomenal. Bahwa dalam millennium ketiga ini, di Nusantara, ada seorang penulis yang sedemikian rupa idealismenya demi melestarikan bukti kepenulisan diri sendiri maupun orang lain. Demi membuktikan sumbangannya bagi kekayaan kesusastraan Indonesia dan Dunia.

Bukti pembuktian Arsyad Indradi dengan selain hasil tuliasan juga hasil pencetakannya berupa buku-buku. Hanya untuk menambah bukti kuat lagi akan kebenaran pepatah Perancis yang sering aku ulang bilang, bahwa ”la parole s’envole, l’ecrit reste”. Omongan mabur, tulisan tinggal.

Bukti pembuktian idealisme Arsyad Indradi yang melestari tradisi luhur kaum pembina peradaban manusiawiah sudah sejak beribu-ribu tahun lalu. Sejak zaman pahat-patrian-tulisan hieroglip, papirus dan lontar.

Bukti pembuktiannya yang kongkrit, istimewa sekali berwujud Sepuluh Buku dalam waktu satu tahun dua bulan.

Bagaimana? Salah seorang penulis, Harie Insani Putra, melukiskan kesaksiannya betapa Sang Penyair Gila itu beraktivitas-kreativitas di rumahnya. Kesaksian akan ”pemandangan buku-buku yang telah tersusun, alat pemotongan kertas, bungkusan buku siap kirim, dan lembar-lembar kertas yang belum selesai dilipat. Di rumah sekaligus tempatnya memproduksi buku, AI seperti sedang menyiapkan masa tua yang berencana.” Seusai masa tugasnya sebagai pegawai negeri, ”kepada bukulah ia akan mengabdi.”

Menurut Harie, sebenarnyalah julukan ’gila’ bagi Arsyad, ”tidak saja mengarah karena telah menerbitkan sepuluh buku, tetapi juga karena semua penerbitan buku yang sudah ada dibiayai dari isi dompetnya sendiri, termasuk antologi puisi nusantara yang dalam satu bukunya berjumlah 728 halaman.... Selama mengerjakan semua buku, tak sekali dua jari tangannya tersayat pisau cutter. Utamanya pada saat mata mulai terasa berat karena kurang tidur. Arsyad akan merasa puas jika buku yang diterbitkannya murni hasil kerja tangannya sendiri. Maka tahap demi tahap, mulai dari melayout, menyusun halaman, mencetak, melipat kertas. Sampai menjilid dilakukannya sendiri” jelas Harie, seperti tertera pada halaman 17 buku ”Risalah Penyair Gila”.

Gila. Memang. ”Dunia kepenyairan punya banyak ’orang gila’. Salah satunya Arsyad Indradi. Salah satu kegilaannya penyair senior Banjarbaru Kalsel ini adalah rela menjual tanahnya untuk membiayai penerbitan buku antologi puisi. Bukan buku sembarangan,” jelas Ahmadun Yosi Herfanda (hlm 23).

Sesungguhnyalah kisah penerbitan naskah tulisan seperti yang dilakoni Arsyad Indradi ini merupakan kisah historis kaum pencinta sekaligus pengabdi kesusastraan dari zaman ke zaman. Kisah perjuangan hidup kaum seniman dan budayawan yang universal. Perjuangan mewujudkan hak azasi untuk berekspresi, untuk eksistensi sekaligus melestari tradisi baik yang senantiasa berkesinambungan. Kesinambungan dari zaman penulisan ala hieroglip, papirus sampai lontar hingga zaman Revolusi teknik canggih komunikasi-publikasi dewasa ini.

Dan dalam ragam cara dan nuansa perjuanagan yang bervariasi, dalam perjuangan melawan rintangan kekuasaan, bukankah secara hakiki seorang pujangga macam Pramoedya Ananta Toer pun melakoni upaya penerbitan hasil kreasinya sendiri? Pun di mancanegara, dalam periode yang relatip panjang dari dulu hinggaq sekarang, terbukti adanya penerbitan hasil karya tulis-menulis yang dilakoni dengan cara mandiri yang serupa. Seperti, antara lain, hasil terbitan 100 judul berupa majalah Kreasi, Arena dan Mimbar serta buku dan brosur lainnya. Semuanya diproduksi dalam jangka waktu 1989-1999. Dengan biaya pada pokoknya oleh pengelola atau para penulis sendiri.

Benar. Iya benarlah demikian adanya. Medio Oktober lalu saya langsung menerima kiriman 5 dari sekian banyak buku-buku Arsyad Indradi. Yakni, masing-masing berjudul: Nyanyian Seribu Burung (Antologi Puisi, terbitan Kelompok Studi Sastra Banjarbaru, April 2006), Romansa Setangkai Bunga (Idem, Mei 2006), Narasi Musyafir Gila (Idem, Juni 2006), Puisi Bahasa Banjar dan Terjemahan Bahasa Indonesia (Idem, September 2006) dan Risalah Penyair Gila (Kumpulan Esai, idem, Agustus 2009).

Terima kasih yang tak terhingga, Arsyad! Hasil aktivitas-kreativitaslah yang menjadi ukuran utama orang seseorang, istimewa sekali seniman, budayawan, sastrawan atau penyair. Aku yakin ini. Dikaupun tak terkecualikan.***

Anggreksari, Batam Oktober 2009.

Catatan: Naskah disiar Facebook: Abdul Kohar Ibrahim.
www.sumbaranew.com

PUISI, ESTETIKA DAN MASYARAKAT

Abdul Hadi W. M.


Saya minta maaf sebesar-besarnya kepada panitia oleh karena tidak dapat menumpukan pembicaraan kepada antologi yang dikirim kepada saya untuk dibahas dalam pertemuan ini. Alasannya sederhana, antologi tersebut baru saya terima seminggu sebelum saya berangkat ke Banjarmasin. Sungguh tidak mungkin saya dapat membaca antologi yang berisi lebih dari 100 sajak itu dalam waktu singkat. Kesibukan mengajar yang padat dalam hari-hari menjelang akhir semester juga merupakan halangan tersendiri untuk membaca antologi tersebut dengan penuh perhatian. Sebagai gantinya saya pilih topik yang ligkup pembicaraannya lebih luas dan umum.Kendati demikian saya akan berusaha tidak melepaskan tanggung jawab saya meyinggung sajak-sajak dalam antologi yang diterbitkan panitia.
Estetika adalah satu hal, masyarakat pembaca puisi adalah lain hal. Tetapi keduanya bukannya tanpa kaitan dan tak saling berpengaruh. Perkembangan sastra sendiri pada umumnya, dan perpuisian pada umumnya, banyak dipengaruhi corak-corak wawasan estetik yang dominan pada suatu masa dan juga oleh tinggi rendahnya apresiasi masyarakat serta selera sastranya. Dalam masyarakat yang apresiasi sastranya tinggi, dan tradisi puitiknya mantap serta terpelihara, dunia penulisannya akan cenderung subur. Darinya tidak sukar mengharapkan lahirnya karya-karya yang bermutu dan berbobot. Contohnya bisa dilihat di beberapa negeri Asia yang tradisi sastranya sudah lama berkembang dan tetap terpelihara di dunia modern, ditambah lagi apresiasi masyarakatnya yang tinggi seperti Jepang, India, dan Iran, sebagaimana juga Jerman, Inggeris, Perancis, dan Mesir.
Dalam lingkait (konteks) pembicaraan ini, perlu saya jelaskan saya maksud dengan estetika. Ia tidak saya maksudkan sebagai falsafah keindahan atau teori keindahan, melainkan wawasan cipta atau wawasan yang mendasari lahirnya sebuah puisi dengan corak dan semangatnya tersendiri bila dibanding dengan puisi lain yang kelahirannya didasari wawasan cipta berbeda. Dalam sebuah puisi ia dapat ditelusuri melalui ciri estetik ungkapannya, serta untuk fungsi apa penyair menggunakan bahasa atau kata-kata. Sebagai suatu yang sifatnya intuitif, ia tidak dapat kita ketahui secara jelas kecuali membaca puisi seorang penyair dan membandingkannya dengan puisi penyair lain. Tetapi bagaimana pun juga ia selalu melatari penciptaan puisi, dan merupakan unsur utama dari apa yang disebut oleh Hagiwara sebagai shisheisin atau semangat puitik.
Agar tidak bertele-tele marilah saya beri contoh berupa perbandingan sajak Amir Hamzah “Berdiri Aku” dan Chairil Anwar “Senja Di Pelabuhan Kecil”. Saya bandingkan sajak dua penyair ini oleh karena sebenarnya mereka berangkat dari prinsip yang sama. Bagi mereka menulis puisi bukanlah sekadar menyampaikan nasehat atau kritik, juga bukan sekadar bermain dengan kata-kata indah, dan juga lebih dari sekadar mengekspresikan diri, yaitu pikiran dan perasaan. Puisi bagi mereka adalah juga merupakan sejenis renungan terhadap pengalaman batin dan obyek-obyek yang membangkitkan intuisi mereka sehingga terdorong untuk memberi tanggapan. Puisi, dengan demikian, adalah juga merupakan renungan dan sekaligus tanggapan terhadap kondisi eksistensial yang dialami penyair. Keduanya juga meyakini bahwa kekuatan sebuah puisi yang genuine terletak pada bangunan citra (image), baik citra lihatan maupun citra simboliknya, dan metafora. Yang membedakan dua penyair ini ialah pandangan hidup, gambaran dunia, dan erlebnis (pengalaman hidup) masing-masing. Dengan kata lain yang membedakan ialah shiseishin atau semangat puitiknya.
Dalam “Berdiri Aku” Amir Hamzah menulis, “Berdiri aku di senja senyap/Camar melayang menepis buih/Melayah bakau mengurai puncak/Berjulang datang ubur terkembang” (Bait 1) dan pada bait terakhir, “Dalam rupa maha sempurna/Rindu sendu mengharu kalbu/Ingin datang merasa sentosa/Mencecap hidup bertentu tuju”. Semangat puitik yang melatari puisi ini adalah religiusitas. Penyair merasa rumahnya yang sejati bukan di dunia ini, tetapi di alam metafisik. Inilah cirri penyair romantic atau neo-romantik, perasaannya melambung jauh ke lam tanzih (transcendental).
Shiseishin Chairil Anwar berbeda. Dalam “Senja Di Pelabuhan Kecil” setidak-tidaknya ia tidak memiliki kerinduan seperti Amir Hamzah. Ia bertahan di rumah eksistensialnya walaupun harus berhadapan dengan sepi dan hampa: “Ini kali tidak ada yang mencari cinta/ di antara gudang, rumah tua, pada cerita/ tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut/ menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut/” (bait 1) dan pada bait terakhir” “Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan…”
Contoh tersebut diberikan untuk menjelaskan bahwa wawasan estetik berbeda dengan semangat puitik atau kepenyairan. Secara sederhana apa yang disebut wawasan estetik di sini ialah cara-cara penyair memperlakukan bahasa atau kata-kata dan untuk fungsi apa ia memperlakukan menurut caranya. Kita tahu bahwa pengucapan puitik adalah pengucapan tidak langsung menggunakan apa yang disebut bahasa figurative. Uunsur utama bahasa figurative (majaz) ialah metafora, citra (image), simbol atau tamsil. Dengan itu puisi menjadi multi-tafsir, sebab ia adalah “makna yang menurunkan makna-makna”.
Oleh karena itu fungsi kata dalam puisi tidak hanya mengandung makna referensial atau denotative, tetapi lebih jauh memiliki makna konotatif dan sugestif. Dikaitkan dengan wawasan estetik yang berkembang dalam tradisi sastra di mana pun, pandangan yang berbeda tentang bahasa/kata dalam pengucapan puitik lantas muncul tiga pandangan, atau katakanlah teori, tentang sastra/puisi. Pertama, pandangan bahwa sastra merupakan tiruan kenyataan. Pandangan ini dianut oleh kaum naturalis. Kata-kata dalam pengucapan puitik ditafsirkan secara harfiah mengikut makna denotative atau referensialnya. Kedua, pandangan bahwa sastra/puisi adalah representasi dari obyek atau kenyataan dilihat dan dialami penulis. Kata-kata mulai dilihat mengandung makna knotatif. Ketiga, pandangan yang menyatakan bahwa sastra/puisi merupakan kias (sibolisasi) atas idea atau pengalaman estetik penyair. Dari pandangan ini lahir keyakinan bahwa kata-kata mengandung makna simbolik dan sugestif. Maka seperti itu berkaitan dengan pengalaman spiritual atau kenyataan transendental yang dialami penyair.
Pandangan yang dominan dalam masyarakat ialah pandangan pertama. Pada umumnya masyarakat kita melihat bahwa karya sastra merupakan tiruan atau representasi dari kenyataan. Karena itu dapat dimaklumi apabila mereka lebih mengapresiasi karya-karya yang tidak menuntut perenungan seperti sajak-sajak sosial. Kecenderungan ini tidak kecil pengaruhnya pada perkembangan puisi di Indonesia. Karena sajak-sajak sosial, baik yang mengandung pengajaran maupun yang mengandung kritik sosial lebih mudah dicerna dan memenuhi cita rasa estetik mereka, maka perkembangan sajak-sajak seperti sangat subur. Padahal untuk melahirkan sajak sosial yang bagus seperti sajk-sajak Rendra dan Taufiq Ismail, bukanlah suatu yang mudah.
Agar mudah dicerna marilah saya jelaskan sebagai berikut. Apabila dilihat dari sudut pandang wawasan estetik ada empat kecenderungan umum dalam melihat tujuan penulisan sastra atau puisi.
Pertama, kecenderungan yang memandang bahwa fungsi puisi memberikan pengajaran atau menyajikan tanggapan terhadap kenyataan, khususnya kenyataan sosial. Sajak-sajak yang sarat kritik sosial termasuk dalam klasifikasi ini. Penyair yang memandang fungsi puisi seperti cenderung menjadikan kata-kata sebagai sarana pengungkapan keadaan yang ada dalam masyarakat atau menjadikan kata-kata untuk menyampaikan pengajaran. Tetapi yang berhasil melahirkan karya-karya yang bermutu seperti Rendra, Taufiq Ismail, Emha Ainunnadjib, pada akhirnya berhasil disebabkan penguasaannya atas bahasa puitik, bukan oleh wawasan estetiknya. Hanya saja kebanyakan orang memandang bahwa menulis sajak seperti itu mudah disebabkan caranya memandang fungsi sastra seperto itu.
Kedua, kecenderungan yang memandang bahwa sastra meruakan ekspresi diri, baik ekspresi diri kolektif maupun diri individual. Penyair yang memilih cara pandang seperti itu akan memperlakukan kenyataan dan obyek-obyek dalam kehidupan dan alam sebagai sarana pernyataan pikiran dan perasaan pribadinya. Sastra tidak lagi dipandang sebagai tiruan (imatasi) atau representasi dari kenyataan, melainkan sebagai pernyataan pengalaman, gagasan dan pikiran subyektif penyair dalam menanggapi kehidupan dan kondisi kemanusiaan. Pada tahap yang tinggi seperti terlihat pada sajak-sajak Amir Hamzah, Chairil Anwar, Sitor Situmorang, Subagio Sasrowardojo, Goenawan Mohamad, Sapardi Djoko Damono dan Sutardji Calzoum Bachri, yang dicapai bukan semata-mata ekspresi diri melainkan juga renungan yang mengandung nilai universal. Saya kutip sajak pendek Sutardji Calzoum Bachri:

Hari ke hari
Bunuh diri perlahan-lahan

Hari ke hari
Luka bertimbun di badan

Maut menabungKu
Segobang segobang

Ketiga, pandangan yang menyatakan bahwa puisi sebenarnya hanya permainan kata-kata atau cara membuat indah pengucapan. Pandangan ini tampak dalam puisi yang mengandalkan kekuatannya pada ornamentasi (alamkara Sanskerta) atau kemahiran memainkan kata-kata, termasuk menguir kata-kata. Sajak-sajak panjang Taufiq Ismail banyak menggunakan prinsip ini. Dalam cara dan dengan semangat puitik lain prinsip ini tampak dalam sajak-sajak Amir Hamzah dan Sutardji Calzoum Bachri. Sajak-sajak dengan gaya seperti ini banyak ditemui di Indonesia.
Keempat, pandangan yang berpendirian bahwa sebenarnya puisi lebih dari sekadar permainan kata dan ekspresi diri. Ia juga adalah hasil renungan penyair terhadap pengalaman batin dan kondisi kemanusiaan yang dihayatinya dalam kehidupan sosialnya. Hampir semua penyair terkemuka di Indonesia melahirkan puisi semacam itu walaupun dalam kadar berbeda-beda. Amir Hamzah, Chairil Anwar, Subagio Sastrowardojo, Goenawan Mohamad, Sapardi Djoko Damono, dan Sutardji Calzoum Bachri, melahirkan banyak puisi seperti itu. Penyair seperti Rendra, Taufiq Ismail, Zawawi Imron, dan lain-lain tak begitu banyak melahirkan puisi seperti itu.
Karena masing-masing memerlukan cara pemahaman yang berbeda-beda, dalam mengapresiasi dan menilainya kita harus menggunakan landasan teori, metode, dan kaedah estetik yang berbeda.


Abdul Hadi W. M.

Abdul Hadi W. M. (Wiji Muthari) adalah gurubesar Universitas Paramadina Jakarta dalam bidang Falsafah dan Pewradaban. Lahir di Sumenep,
Madura pada 24 Juni 1946, dia memperoleh pendidikan di Fakultas Sastra dan Kebudayaan, Universitas Gajah Mada dan Fakultas Filsafat di universitas yang sama. Gelar Ph. D. diperoleh di Pusat Pengajian Ilmu Kemanusiaan, Universiti Sains Malaysia, P. Pinang. Tahun 1973-74 mengikuti International Writing Program di University of Iowa, Iowa City, Amerika Serikat. Selain mempelajari kesusastraan Melayu/Indonesia dan Falsafah Barat, dia juga mempelajari kebudayaan dan kesusastraan Timur. Sebagai penyair dia telah menhadiri berbagai pertemuan penyair dan sastrawan internasional di Inggeris, Nederland, Jerman, Perancis, Amerika Serikat, Korea Selatan, Jepang, Filipina, Iraq, Iran, Turki, Libya, Malaysia, Thailand dan lain-lain.
Dari tahun 1968 hingga 1990 berturut-turut dia menjadi redaktur tabloid Gema Mahasiwa (UGM) dan Mahasiswa Indonesia (Bandung), kemudian majalah dan jurnal Budaya Jaya, Dagang & Industri dan Ulumul Qur`an. Sejak tahun 1979 hingga 1990 menjadi pengasuh tetap lembaran “Dialog” Berita Buana, sebuah ruang kebudayaan yang sangat terkemuka di tanah air. Tahun 1982-1986 menjadi Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta dan 1987-1990 menjadi Ketua Dewan Kesenian Jakarta. Antara tahun 1991-1997 dia menjadi penulis tamu dan sekaligus pengajar di Universiti Sains Malaysia. Setelah kembali ke Indpnesia dia mernadi Ketua Dewan Kurator Bayt al-Qur’an dan Museum Istiqlal, serta anggota Lembaga Sensor Film. Sejak tahun 1998 dia mengajar di Universitas Paramadina, dan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia. Sejak tahun 2005 diminta mengajar di ICAS (Islamic College for Advanced Study) London cabang Jakarta.
Puisi dan esai-esainya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggeris, Perancis, Jerman, Belanda, Spanyol, Jepang, Korea, Cina, Arab, Urdu, Turki, Bengali, Thai dan lain-lain. Antologi puisinya yang telah diterbitkan antara lain ialah Riwayat, Laut Belum Pasang, Potret PanjangPengunjung Pantai Sanur, Cermin, Meditasi, Tergantung Pada Angin, Anak Laut Anak Angin, Pembawa Matahari dan Madura, Luang Prabhang, dan lain-lain. Dia banyak menerjemahkan karya para pengarang dunia seperti Goethe, William Blake, Iqbal, Hafiz, Rumi, Ibn `Arabi, TS Eliot, Octavio Paz, Li Po, dan lain-lain. Karya terjemahannya antara lain Kehancuran dan Kebangunan: Puisi Jepang Sesudah Perang; Ruba’iyat Omar Khayyam; Kumpulan sajak Iqbal: Pesan Kepada Bangsa-bangsa Timur; Faust I karya Goethe; Pesan Dari Timur karya Iqbal, dan lain-lain.
Di antara bukunya tentang sastra sufi dan estetika ialah Rumi, Sufi dan Penyair; Sastra Sufi, Sebuah Antologi; Hamzah Fansuri: Risalah Tasawuf dan Puisi-puisinya; Iqbal, Pemikir Sosial Islam dan Sajak-sajaknya (bersama Djohan Effendy); Islam: Cakrawala Estetik dan Budaya dan, Tasawuf Yang Tertindas: Kajian Hermeneutik terhadap Karya-karya Hamzah Fansuri (disertasi PH. D.); Hermeneutika, Estetika dan Religiusitas (2004); Adab dan Adat: Refleksi Sastra Nusantara (Bersama Edwar Djamaris dan Amran S. Tasai). Sebagai penyair dan penulis esai terkemuka Abdul Hadi W. M. Telah memperoleh beberapa penghargaan antara lain: Hadiah Buku Puisi Terbaik Dewan Kesenian Jakarta 1978; Anugerah Seni Pemerintah RI cq Departemen Pendidikan dan Kebudayaan 1979; SEA Write Award (Hadiah Sastra ASEAN) dari Kerajaan Thailand 1985; Hadiah Buku Terbaik Yayasan Buku Utama 2001; Hadiah MASTERA (Majlis Sastra Asia Tenggara) di Kuala Lumpur, 2003.







Selasa, 20 Januari 2009

MEMANFAATKAN INTERNET DI DUNIA SASTRA

: Arsyad Indradi ( Maungkai gagasan Sainul Hermawan ketika di Aruh Sastra Kalsel III
di Kotabaru )

Selama ini sastrawan telah memanfaatkan media cetak untuk menampilkan karya – karyanya seperti buku, koran atau pun majalah. Maka, di era globalisasi yang melaju pesatnya perkembangan teknologi ini, apa salahnya kalau kita juga ikut serta memanfaatkan teknologi ini sebagai salah satu media alternatif untuk menampilkan karya – karya sastra.

Kita dapat memprediksikan kedepannya, bahwa peranan komputer dan teknik multimedia yang saling mendukung ini akan terus meningkat dan akan menjadi alat yang paling dominan dalam kehidupan manusia. Lebih – lebih lagi munculnya internet yang menjadi alat yang penting dalam era globalisasi. Melalui internet arus informasi menyebar dengan pesat, lengkap dan mudah didapat.

Melihat perkembangan kesastraan di tanah air akhir – akhir ini yang memanfaatkan internet atau sering juga disebut dunia maya sangat menakjubkan. Dari penyair pemula sampai tokoh – tokoh sastrawan Indonesia telah memanfaatkan internet baik dalam bentuk fisik arena situs website, mailing-list mau pun spam emails.

Situs – situs yang bermunculan untuk mewadahi kreativitas para sastrawan, seperti www.cybesastra.net. Situs yang dibentuk oleh yayasan Multimedia mampu menjadi wadah yang memadai. Yayasan ini telah menerbitkan dua buku yang meterinya diambil dari karya – karya yang disumbangkan seniman pada situs tersebut, baik berupa cerita pendek, puisi maupun esai. Dan telah meluncurkan Graffiti Imaji kumpulan cerita pendek yang memuat 83 karya yang dipilih oleh Sapadi Djoko Damono, Yanusa Nugroho, dan Anna Siti Herdiyanti. Juga situs www.bumimanusia.or.id yang bergerak di bidang sastra, telah menghasilkan beberapa karya yang dicetak antara lain antologi cerpen Puthut E.A yang berjudul Sebuah Kitab yang Tak Suci, dan Beatniks, puisi – puisi Nurudin Asyhadie, dan Bumi Manusia 1: Ini …Siskus Senyum. Belum terhitung dengan terbitnya beberapa jurnal yang sebelumnya telah melewati sistem penyeleksian melalui editorial situs tersebut. Para sastrawan yang cukup dikenal dan setia di dalam berprosespun, banyak yang sudah terlibat di dalam pengukuhan karya – karya para sastrawan di dunia
internet. Tak kurang beberapa nama seniman yang cukup lama dikenal ikut mendukung fenomena sastra internet di media masa. Para penulis itu antara lain Eka Darma Putra, F.Rahardi, Sobron Aidit dan Medy Loekito.

Medy Loekito, penyair dan Ketua Yayasan Multimedia Sastra di situs www.cybersastra.net memaparkan bahwa manusia telah menciptakan dunia yang berlimpah informasi dibandingkan degan masa-masa sebelumnya. Filosofi baru, baik filosofi secara umum, maupun mengenai sastra dan nilai estetika, diperlukan untuk menyiasati perkembangan yang terus terjadi. Dalam hal ini, computer dan media internet memegang peran penting dalam membentuk opini global. Definisi suatu filosofi baru tidak perlu dikarang dan ditetapkan oleh seseorang atau kelompok orang saja, tetapi semua manusia dapat berperan menyusun filosofi bersama. Dengan menggunakan email atau hypertext program dalam internet, dan tentunya perangkat komputer, setiap manusia dapat menyumbangkan buah pikirannya. Buah - buah pikiran ini dapat diolah menjadi suatu keputusan yang sahih dan berlaku universal, tetapi dapat juga dibiarkan sebagaimana adanya dan boleh dibaca atau dihayati oleh pembaca lain sesuai dengan situasinya masing – masing. Penyumbang saran memiliki kebebasan untuk berpendapat. Pembaca memiliki kebebasan untuk memilih informasi atau opini sesuai kebutuhan. Dan semua pergerakan ini tidak lagi membutuhkan legalisasi usia, pendidikan, jabatan, domisili, maupun gender.

Evolusi teknologi dapat menjadi pendamping hidup yangt nyaman apabila manusia dapat mengerti sifat dan karakter teknologi tersebut. Komputer, multimedia,cyber serta internet, diciptakan untuk membantu manusia, bukan hanya dalam hal entertainment, tetaqpi juga dalam hal sastra. Insan sastra seyogyanya dapat mendayagunakan benda – benda tersebut untuk melestarikan sejarah masa lalu, tanpa perlu menutup diri bagi masa depan yang bagaimanapun juga tetap akan tiba. Segala kemudahan dan kemungkinan yang disediakan oleh teknologi, sebaiknya dapat diterima dengan sederhana tanpa menyederhanakan fungsi dan pemakaiannya.

Media internet dapat memberi ruang yang cukup leluasa bagi karya-karya sastra, baik puisi, esai maupun cerpen dari cerpen yang berbentuk sangat mini atau sangat panjang. Dapat menjadi wadah berekspresi dan wadah pendokumentasian karya sekaligus mempublikasikannya. Di media internet dapat ditambahkan berupa gambar – gambar ilustrasi, latar suara atau musik, gambar bergerak atau animasi, kreasi header atau banner dan lain – lain sehingga memberi daya tarik bagi pengunjungnya.

Promosi sastrawan lewat dunia maya ini sangatlah efektif dan murah, karena siapa saja bisa mengunjungi situs tersebut tanpa dikenai biaya. Para sastrawan tentu saja dapat lebih leluasa untuk mempublikasikan dan mensosialisasikan karya - karyanya.

Sebagai ilustrasi saya kemukakan pemanfaatan internet lainnya adalah kita ingin minta informasi ambil saja contoh ingin mengetahui biodata saya, kita tinggal menyelusuri www.google.com dengan menuliskan Biodata Arsyad Indradi maka tersedialah permintaan itu. Ini pernah dilakukan oleh sekelompok siswa SMA Telkom Banjarbaru sehubungan tugas yang diberikan sekolahnya untuk membuat makalah tentang penyair Banjarbaru. Juga ada beberapa teman saya yang kebetulan berada di luar negeri ingin mengetahui alamat saya bahkan nomor hp saya, tinggal menuliskan nama saya di www.google.com. Saya sering dihubungi baik langsung mau pun sms oleh guru – guru mata pelajaran Bahasa Indonesia untuk meminta informasi Penyair Indosesia dan Penyair Kalimantan Selatan, saya beritahukan klik saja http://penyairnusantara dan http://penyair-kalsel.blogspot.com Dan juga ada beberapa guru muatan local ingin mengetahi sastra daerah Banjar seperti Lamut, madihin dan mamanda, saya sarankan klik http://sastrabanjar.blogspot.com

Disamping sastra media cetak, sastra internet pun melejit dalam perkembangan kesastraan Indonesia. Beberapa karya Sapardi Djoko Damono, Goenawan Muhammad, Eka Budianta, Sutardji Calzoum Bachri, Rendra, Emha Ainun Nadjib, Dorothea Rosa Herlina, D.Zawawi Ibron, Agus R Sarjono, Jamal D Rahman, Sobron Aidit, Saut Situmorang, Afrizal Malna, Sitor Situmorang, Ahmadun Yosie Herfanda , Medy Loekito


serta banyak nama lagi dapat kita temui di sana. Karya – karya mereka tidak hanya dimuat oleh situs lembaga kesenenian tetapi juga seperti http://www.lontar.org, http://lallement.com, http://www.poetry.com, http://www.geocities.com, www.tripod.com, www.angelfire.com, www.theglobe.com, http://penyairnusantara.blogspot.com, www.bumimanusia.or.id pada mailinglist seperti penyair@groups.com, puisikita@egroups.com serta banyak lagi yang dapat kita temui situs – situs pribadi. Pembuatan situs individu ini banyak berkembang di tengah kemudahan yang ditawarkan oleh para industrialis internet, antara lain dengan memberikan penyimpanan gratis content situs – situs, seperti blogspot, wordpress, multiply dan lain – lain. Di mailinglist banyak menyajikan diskusi sastra dan penampilan karya sastra yang berlangsung duapuluhempat jam sehari.

Kecenderungan pengguna internet ini tentu saja karena kemudahan, kenyamanan dan hemat biaya. Kecenderungan para pengguna internet untuk mencari informasi dengan mudah dan biaya murah ini bersambut dengan kecenderungan para “ sastrawan internet “ yang tidak mengharapkan honor dari tulisannya di internet. Banyak penulis di internet yang menyuguhkan esai serta karya – karya sastra yang tak kalah bagus dengan artikel di media cetak. Seperti Maman S Mahayana, Deo Et Patria, Saut Situmorang, Sobron Aidit, Hersri Setiawan dan lain – lain. Banyak penulis Indonesia yang kebetulan berada di luar negeri dapat menjalin silaturahmi, saling berbagi karya melalui mailinglist dan situs dengan penulis di tanah air.

Melihat perkembangan sastra yang memanfaatkan internet terutama sastrawan di Pulau Jawa, Sumatera, Sulawesi, Bali dan pulau lainnya begitu pesat, sastrawan Kalimantan Selatan juga tak ketinggalan memanfaatkan media internet. Kita sebut saja Harie Insani Putra – http://hariesaja.wordpress.com, Sandi Firly-http://sfirly.wordpress.com, Hudan
Nur – http://hudannur.blogspot.com, Isuur Loeweng – http://loweng08.worpress.com, Fahruraji Asmuni – http://wwwkaryaraji.blogspot.com, Farah Hidayat – http://farah.multiply.com, Zulfaisal Putera – http://zulfaisalputera.wordpress.com,
, Aliansyah Jumbawuya – http://padepokanpena.wordprees.com, Hasbi Salim – http://hasbisalim.wodpress.com, Ratih Ayuningrum – http://ratihayuningrum.wordpress.com, Sainul Hermawan – http://blogsainulh.wordprees.com Lebih jauh Sainul memanfaatkan blognya untuk keperluan perkuliahan. Dan saya mempunyai situs http://penyairnusantara.blogspot.com, http://penyair-kalsel.blogspot.com, http://sastrabanjar.blogspot.com, dan http://arsyadindradi.blogspot.com. Pada situs penyair nusantara, saya buatkan blog untuk penyair tiap provinsi se Indonesia berjumlah 36 blog dan 400 penyair yang tergabung dan tiap minggu masih masuk ke email saya. Pada penyair Kalsel saya buatkan blog tiap kota dan kabupaten berjumlah 13 blog dan 75 penyair. Tetapi ada beberapa blog seperti Tanah Bumbu, Tanah Laut, HST dan Balangan masih kosong. Saya masih menunggu penyair – penyair kabupaten yang belum mengisi blog-blog yang kosong tersebut.

Kita menyadari kendala di daerah kemungkinan sulitnya masuk jaringan internet dan minimnya warnet. Dan disamping itu memasuki dunia maya ini memang diperlukan pengetahuan penguasaan teknis internet. Tetapi saya yakin ini ada solusinya yang pertama adalah memiliki minat dan kemauan keras. Yang kedua mengadakan work shop atau pelatihan internet yang bekerjasama dengan Speedy Telkom dan Blogger Kalsel “Kayuh Baimbai”. Sebaiknya Aruh Sastra Kalsel V di Balangan ini merekomendasikan yang kedua ini untuk tahun 2009. Mudah – mudahan kendala ini dapat diatasi. Sementara ini saya menawarkan kirimkan saja karya puisi - puisinya ke email saya merayusukma49@yahoo.co.id atau lewat post kealamat saya Jalan Pramuka No.16 RT 03 RW 07 Banjarbaru 70711 dan akan saya muat diblog dimasing – masing blog Kabupaten/Kota yang sudah saya sediakan yaitu pada http://penyair-kalsel.blogspot.com
Demikian tulisan singkat ini yang dapat saya sampaikan semoga ada manfaatnya. Salam Sastra. ( Tautan : http://infoperpus.8m.com, http://beritaseni.wordpress.com, http://www.cybersastra.net,http://nanangsuryadi.blogspot.com,http://pewarta.kabarindonesia.blogspot.com, http://yaya.com, http://www.mail.archive.com, http://www.titiknot.com )





Menghayati Peran Komunitas Sastra

Akhirnya pesta itu usai. Sebuah pesta sastra yang melibatkan sekitar 500 orang peserta. Mereka adalah sastrawan (penyair, esais, cerpenis, dan kritikus) bersama para penggemar sastra dan guru bahasa Indonesia. “Meningkatkan Peran Komunitas Sastra Sebagai Basis Perkembangan Sastra Indonesia”, demikian tema yang digelar. Sepanjang tiga hari kegiatan berlangsung demikian padat di gedung DPD Kudus. Sungguh sayang bila dilewatkan begitu saja.

Kongres yang diselenggarakan oleh Komunitas Sastra Indonesia (KSI) di hari pertama, 19 Januari 2008, memang untuk kepentingan internal. Acara itu merupakan suksesi tiga tahunan, namun baru kali ini diadakan secara besar-besaran. Terpilih sebagai Ketua KSI periode 2008-2011 adalah Ahmadun Yosi Herfanda yang sehari-hari bekerja sebagai redaksi budaya harian Republika di Jakarta. Ia menggantikan Iwan Gunadi, ketua yang telah memberikan sedikit warna pada model organisasi. Selanjutnya, KSI akan menyiapkan struktur yang terlepas dari yayasan agar dapat bergerak lebih leluasa dan berkembang secara profesional. Kongres telah menghasilkan rekomendasi yang berisi sikap kritis dan kreatif terhadap kondisi politik, sosial, dan budaya akhir-akhir ini. Rekomendasi tersebut dibacakan oleh Diah Hadaning pada malam berikutnya seusai serah terima jabatan.

Pada malam pertama, panggung diisi dengan penampilan Sujiwo Tejo, Sutardji Calzoum Bachri, dan Mustofa Bisri (Gus Mus). Peserta dari lokal begitu bahagia mendapatkan kesempatan menonton seniman yang selama ini mereka kagumi. Penampilan Fatin Hamama, anggota KSI yang membuka cabang di Kairo, sangat memukau Thomas Budi Santoso, penyair sekaligus pejabat di PT. Djarum. Perusahaan rokok itulah, melalui program Djarum Bakti Pendidikan, yang menjadi sponsor kegiatan.

Pada hari kedua, 20 Januari 2008, sejak pagi hingga menjelang maghrib, digelar 4 sesi seminar dengan tema yang berbeda. Kesempatan pertama digunakan untuk melirik sastra lokal yang berkembang di Indonesia. Dengan tema “{Perayaan Komunitas Sastra di Daerah”. menampilkan pembicara Idris Pasaribu untuk menyampaikan sastra yang tumbuh di Sumatera. Mukti Sutarman SP, sastrawan dari Kudus, membahas pertumbuhan sastra di Jawa Tengah. Untuk daerah Kalimantan, diwakili oleh Micky Hidayat. Seperti yang pernah dibahas dalam kongres cerpen di Pekanbaru tiga tahun silam, potensi sastra daerah patut dijaga dan dikembangkan sebagai aset budaya yang memperkaya khazanah kesastraan tradisional Indonesia.

Sesi kedua menyoroti komunitas sastra sebagai basis ideologi kesusastraan. Sebagai pembicara, Dendy Sugono dari Pusat Bahasa, Aji Suyitno dari Lemhanas, Ahmadun Yosi Herfanda, dan Shiho Sawai sebagai pengamat sastra komunitas. Shiho adalah mahasiswa dari Jepang yang sedang melakukan riset dan kuliah di tingkat doktoral Sastra Indonesia Universitas Gajah Mada Yogyakarta. Menurut Dendy, saat ini, sastrawan harus memiliki kemampuan yang kompetitif, selain cerdas dan kreatif. Ahmadun berpendapat, bahwa dalam sebuah komunitas, anggotanya tidak selalu berkarya dengan ideologi yang sama. Sangat menarik kesimpulan Shiho Sawai tentang komunitas. “Komunitas yang anggotanya menganut satu ideologi dan berkarya secara seragam hanyalah mitos.” Kenyataannnya memang demikian, bahwa para penyair ataupun cerpenis yang tergabung dalam satu komunitas tidak serta-merta memiliki pandangan yang sama dalam menulis.

Korrie Layun Rampan dan Maman Mahayana (semestinya bersama dengan Budi Darma, namun berhalangan) membicarakan tentang estetika dalam sastra komunitas. Masing-masing menyampaikan semacam kritik terhadap beberapa penghargaan sastra yang dianggap tidak mewakili kualitas. Dalam kesempatan itu, Maman Mahayana menyayangkan praktik pemilihan buku terbaik dalam anugerah sastra Khatulistiwa Literary Award karena proses penjuriannya sangat aneh. Korrie menyampaikan menyampaikan keprihatian adanya sejumlah sastrawan lokal dengan pencapaian karya yang baik secara makna maupun estetika, tapi tidak mendapat kesempatan untuk menonjol misalnya melalui kegiatan sastra yang berskala nasional. Mereka adalah mutiara tersembunyi yang harus dilibatkan agar potensinya muncul.

Pada sesi terakhir, bertema “Sastra sebagai Kebutuhan Pembaca”, menampilkan pembicara Habibirrahman El-Shirazy dan Saut Situmorang (sementara Arswendo Atmowiloto tak dapat hadir). Keduanya berangkat dari titik tolak yang berbeda. Kang Abik (panggilan Habiburrahman) menulis novel Ayat-Ayat Cinta dengan membayangkan dirinya sebagai pembaca yang harus menyukai bacaannya. Mungkin resep itulah yang membuat buku itu sampai naik cetak 29 kali dan kini telah beredar sebanyak 400.000 eksemplar. Best seller untuk Asia Tengga !

Saut Situmorang menganggap seseorang yang baru menulis sekali dan dimuat di media massa, tidak layak disebut sebagai penyair atau cerpenis. Tidak semudah itu menjadi sastrawan, apalagi jika tidak mendalami atau memahami teori sastra. Menanggapi pertanyaan peserta tentang masyarakat Indonesia yang malas membaca, Saut berpendapat bahwa ada perbedaan kultur yang melatarbelakangi hal itu. Perbandingan,menurutnya harus sesuai dengan konteks.

Malam kedua, sejumlah penyair membacakan puisi mereka. Fikar W. Eda, Wijang Warek, Arsyad Indradi, Gunoto Saparie, dan Jose Rizal Manua. Penyair Solo, Sosiawan Leak, memukau dengan puisi “Dunia Bogam Bola”. Malam itu Thomas Budi Santoso juga naik ke panggung. Para peserta acara mendapatkan 3 buku yang diluncurkan pada pesta sastra itu: (1) Tesaurus Bahasa Indonesia susunan Eko Endarmoko, (2) Komunitas Sastra Indonesia, Catatan Perjalanan, dan antologi puisi yang berbagi dua penyair:(3) Nyanyian Sepasang Daun Waru dan DuniaBogam Bola.

Di pengujung acara, pada hari ketiga, seluruh peserta diajak wisata budaya oleh panitia. Mula-mula seluruh rombongan dibawa ke pabrik rokok Djarum Kudus. Di sana, di depan buruh pabrik, beberapa penyair di antaranya Chavchay Syaifullah dan Saut Situmorang, membaca puisi. Setelah itu, rombongan dibawa ke Menara Kudus dan Museum Kretek. Menjelang tengah hari, rombongan mampir ke pusat jenang Kudus untuk memberi kesempatan membeli oleh – oleh.

Ya, akhirnya pesta sastra itu selesai. Pertemuan yang telah memberi kesempatan silaturahmi para sastrawan dari berbagai daerah. Acara yang dihadiri oleh para wartawan, penerbit, dan para wakil komunitas itu memberi kesan mendalam. Dalam pesta itu pula para peserta disuguhi menu khas Kudus, misalnya lenthok (sejenis kupat tahu dengan kuah bersantan ), asem – asem daging, juga soto Kudus tentu saja.

“Tunggu kegiatan kami berikutnya,” kata Wowok Hesti Prabowo sebagai Ketua Panitia. “Kami akan menyelenggarakan pertemuan penulis internasional dan KSI Award.” Sebagai komunitas yang telah berusia 11 tahun (sejak September 1996), sudah waktunya untuk memberikan sumbangan terhadap kemajuan sastra Indonesia juga dunia.

(Kurnia Effendi) --- Parle Online www.tabloid Parle.com

Sabtu, 14 Juni 2008

Mengapa Wayag Orang Banjar dinamakan Wayang Gung ?

Oleh : Arsyad Indradi

Kalau kita runut dari beberapa arti yang berkembang kata wayang berarti bayang – bayang.. Wayang Kulit, yang kita saksikan adalah bayang – bayang dari wayang itu dari balik kelir yang dihidupkan oleh blincong ( lampu ). Namun dalam perkembangannya lahir sebuah bentuk kesenian baru yaitu Wayang Orang. Wayang dilakonkan oleh orang. Di Jawa dikenal dengan Wayang Wong.

Mengapa wayang orang di Tanah Banjar dinamakan “ Wayang Gung “ ? Secara analogi mungkin Wayang Gung itu sebagai bentuk lain dari Wayang Gong di Jawa atau terjadi perubahan bunyi “ W “ ke “ G “ pada kata “ Wong “ dan “ Gung “. Tetapi berubahan bunyi tersebut kecil kemungkinannya sebab tidak ada peristiwa bahasa yang mirip seperti itu. Dan kedua kata “ Wong “ ( Jawa ) dan “ Gung “ ( Banjar ) tidak memiliki hubungan makna.sama sekali. Kata “ Gung “ dalam bahasa Banjar adalah salah satu instrumen gamelan Banjar yakni “ Agung “. Bunyi agung ini adalah sebagai penutup irama dari bunyi – bunyian instrumen gamelan tersebut. Ada kemungkinan, gerak igal ( tari ) dalam Wayang Gung sangat ditentukan oleh satuan bunyi pukulan agung, sehingga ada kecenderungan penyebutan Wayang Gung ini sebagai pengaruh gerakan pelakonnya yang mendasarkan gerakannya pada bunyi “ Gung “.

Gung ( Agung ) dalam budaya Banjar, dianggap keramat. Konon, Lambung Mangkurat pergi ke Kerajaan Majapahit meminta Putra Majapahit yang bernama Raden Putera, yang sebenarnya tidak berwujud manusia, yang akan dijadikan suami Putri Junjuung Buih di Kerajaan Negara Dipa. Sesampainya di Kerajaan Dipa, Raden Putera memasuki istana dengan “ bajajak “ ( berpijak ) di atas agung. Seketika itu Raden Putera berubah wujud menjadi manusia yang sempurna berwajah tampan, yang kemudian berganti nama yaitu Pangeran Surianata. Sejak saat itu “ Gung “ dipandang memiliki mitos sebagai alat menjelmakan Raden Putera yang tidak berwujud manusia hingga menjadi manusia yang sempurna.

Jadi kemungkinan besar sebutan Wayang Gung ini ada kaitan erat dengan pengaruh gerakan pelakon Wayang Gung yang berdasarkan gerarakannya pada bunyi “ Gung “ dan juga ada hubungan makna “ Gung “ pada peristiwa Raden Putera menjadi orang ( manusia ).di samping ada kemungkinan lain bahwa adanya pengejawantahan tokoh – tokoh dengan karakter yang “ Agung “ { besar ) pada Wayang Gung. Tokoh Agung ini sebagai simbol kebaikan yang dapat mengalahkan keangkaramurkaan. Dengan tiga tesa ini sebutan “ Wayang Gung “ populer di dalam masyarakat Banjar. *******

Sekilas Menjenguki Wayang Gung

Oleh : Arsyad Indradi

Diperkirakan munculnya kesenian Wayang Gung di Tanah Banjar pada abad ke XVIII atau sekitar tahun 1760 M. Raja Banjar mempunyai hubungan erat dengan raja – raja di Pulau Jawa terutama Demak dan Mataram, sekitar abad ke XV. Hubungan inilah kesenian dan kebudayaan Jawa masuk ke Kalimantan. Kesenian ini antara lain adalah Wayang Orang. Wayang Orang ( Wayang Wong – Jawa ) sangat berkenan di hati suku – suku Kalimantan khususnya masyarakat Banjar.

Bermula, kesenian wayang hidup hanya di Keraton Banjar saja, namun lama kelamaan wayang ini menyebar ke luar keraton yaitu ke masyarakat Banjar secara meluas. Menyebarnya Wayang Orang ini karena masyarakat Banjar memandang Wayang sebagai lambang hidup dan kehidupan manusia. Wayang mempunyai unsur – unsur filosofis hidup dan kehidupan, memiliki bahasa simbol yang bersifat kerohanian. Apalagi Wayang Purwa yang berkembang itu adalah memiliki mitos Sunan Kalijaga yang bermuatan ajaran filsafat Islam. Masyarakat Banjar umumnya masyarakat Melayu Banjar yang beragama Islam tak heran kesenian Wayang cepat berkembang di masyakarat Banjar ini.

Wayang Orang yang dikenal dalam masyarakat Banjar adalah Wayang Gung. Wayang Gung merupakan kreativitas kreator “ Dalang Banjar “ dari adaptasi Wayang Wong. Wayang Gung pada akhirnya mempunyai ciri khas atau versi Banjar, dari segi teknik garapan , gamelan, kostum, propertis, gerak igal ( tari ), bahasa pengantar dan struktur pergelaran, walapun masih ada idiom – idiom dari Wayang Wong ( Jawa ).

Wayang Gung mempunyai lima fungsi yaitu :

Pertama, sebagai hiburan. Wayang Gung dipergelarkan manakala acara hiburan peringatan
hari – hari besar baik nasional maupun daerah, acara perkawinan dan paska panen padi.

Kedua, fungsi Didaktis. Wayang Gung merupakan media strategis untuk menyampaikan pesan – pesan yang bersifat edukatif pada masyarakat Banjar.

Ketiga, berfungsi Filosofis. Wayang Gung banyak memiliki ajaran-ajaran mistis dalam kehidupan manusia. Mistis ini bersifat filosofis yakni berhubungan keduniaan ( lahiriah ) dan mental spritual ( batiniah ). Orang menyaksikan pertunjukan Lakon Wayang Gung sebagai refleksi diri. Banyak falsafah dan bahasa simbol hidup dan kehidupan yang dapat dipetik untuk kesadaran batin. Mitos ini diejawantahkan dalam hidup dan kehidupan sehari – hari.

Keempat, berfungsi Nazar. Pertunjukan Wayang Gung atas permintaan seseorang atas terkabulnya maksud atau rencana seseorang itu. Nazar ini harus dipenuhi, menurut kepercayaan masyakarat Banjar kalau tidak dipenuhi akan terjadi malapetaka bagi penazarnya.

Kelima, berfungsi ritual ( magis ). Wayang Gung diselenggarakan untuk maksud mengusir penyakit atau pun bencana.

Dalam pergelaran Wayang Gung mempunyai bentuk empat struktur babakan. Babakan ini merupan inti struktur alur. Struktur babakan ini yaitu :

Pertama, Mamucukani. Yaitu babakan tuturan permulaan kisah dalam bentuk sindin. dan dialog. Ada tiga dalang yang terdiri dari Dalang Sejati, Dalang Pangambar dan Dalang Utusan. Fungsi Dalang Pangambar dan Dalang Utusan adalah melengkapi tutur dari Dalang Sejati.

Kedua, Sidang Jajar. Adalah babakan sidang Kerajaan dari para satria kerajaan membahas suatu peristiwa yang berhubungan dengan masalah – masalah yang dihadapi kerajaan tersebut.

Ketiga, Konflik. Dalam babakan ketiga ini perang atau pertempuran antara tokoh baik dengan tokoh jahat.

Keempat, Bapacah. Adalah babakan antiklimak dari konflik. Biasanya dalam Wayang Gung selalu disajikan happy Ending atau kemenangan dipihat kebaikan.

Wayang Gung umumnya mengangkat cerita dari epos Ramayana tetapi ada juga menyajikan seperti tarian daerah atau dialog – dialog yang bersipat humor, dan memasukkan unsur pesan – pesan lain yang bersifat carangan yang disesuaikan dengan suasana penonton.

Umumnya pelakon dari Wayang Gung merupakan pelakon yang khusus artinya setiap tokoh dilakonkan oleh pelakon tertentu. Misalnya tokoh Hanoman dilakonkan oleh seseorang yang benar – benar menggeluti dan menghayati perilaku atau karakter tokoh Hanoman. Begitu juga tokoh Dasamuka ( Rahwana ) dilakonkan oleh pelakon tertentu dan seterusnya. Tak jarang kelompok Wayang Gung mengambil pelakon dari kelompok Wayang Gung yang lain karena pelakonnya berhalangan. Oleh karena itu kelompok Wayang Gung yang terkenal karena kelompok ini banyak mempunyai pelakon yang khusus atau pelakon yang profisional.

Kalau kita amati sejarah perjalanan Wayang Gung Banjar di Kalimantan khususnya Kalimantan Selatan, sudah dua abad umurnya. Dengan usia yang panjang ini Wayang Gung telah memperkaya khasanah seni tradisional di Kalimantan khususnya masyarakat Banjar Kalimantan Selatan. Maka Wayang Gung perlu diwariskan dengan generasi masa kini agar mereka tidak terserabut dari akar budaya nenek moyangnya. Tampaknya, di era globalisasi ini nasibnya tak berbeda dengan Wayang Kulit Banjar yang kian hari kian dilupakan orang, pada gilirannya tak mustahil akan musnah ditelan zaman. Siapa yang bertanggung jawab ? ***