<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-4648747481528843</id><updated>2011-12-23T21:49:34.549-08:00</updated><title type='text'>Aneka Selayang Pandang</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://ansepadang.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4648747481528843/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ansepadang.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Arsyad Indradi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03282526078807458772</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/SQsSbmw_naI/AAAAAAAABwA/pVTsWzbU-Gc/S220/aku+5.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>32</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4648747481528843.post-158035366311527675</id><published>2011-12-23T21:32:00.000-08:00</published><updated>2011-12-23T21:47:10.474-08:00</updated><title type='text'>MANINGAU NILAI SOSIAL BUDAYA DAN NILAI SENI BUDAYA BANJAR Oleh : Arsyad Indradi</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;Oleh : Arsyad Indradi&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sejak zaman Datu Nini baik Nilai – Nilai Sosial budaya dan Seni Budaya  Banjar sudah tertanan dalam masyarakat Banjar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I. Nilai Sosial Budaya&lt;br /&gt;Nilai Sosial Budaya seperti keterampilan dan kerajinan yakni anyaman, masakan, batik, kamasan, ukir dan tatah. Anyaman dengan bahan tumbuhan purun yang menghasilkan tikar purun, bakul purun. Bahan paikat (rotan) yang menghasilkan bakul, lanjung, arangan gayak, bakul kayang ( tangkiding ), bakul pamasakan, butah, rambat, tangkitan bukit dan lain – lain. Daun nipah yang menghasilkan “tanggui“ ( tudung ), ketupat, kajang dan lain – lain. Atap rumbia yang bahannya dari daun rumbia. Dari bahan ijuk menghasilkan sapu ijuk dan tali ijuk. Demikan juga masakan berupa empat puluh satu macam kue, gangan asam, gangan balamak, gangan haliling, soto Banjar dan lain – lain. Batik Banjar berupa kain sasirangan, dinding airguci, tapih (sarung) wanita. Sasirangan adalah batik khas Kalimantan Selatan yang pada jaman dahulu digunakan untuk mengusir roh jahat dan hanya dipakai oleh kalangan orang-orang terdahulu seperti keturunan raja dan bangsawan. Proses pembuatan masih dikerjakan secara tradisional.&lt;br /&gt;Masyarakat  Banjar  seperti  masyarakat  Banjarmasin, Nagara  dan Martapura yang juga sebagai  pengrajin  kamasan ( tukang perhiasan ) bahan emas, suasa dan perak. Hasil kerajinan itu berupa : Giwang (anying-anting)  seperti bonel ros barumbai, bonel air tetes, bonel air tetes barumbai dan lain-lain. Galang  ( gelang )  tangan  seperti  galang  baintan, galang rantai, galang rantai sulapit dan lain-lain. Galang batis ( kaki ) seperti  galang batis buntut cacing, galang batis malati, galang wancuh.Utas (cincin) seperti utas balah  paikat, utas mata satu asur wawaluhan, utas mata satu bagimus (polos), utas mata satu tusuk, utas ros parimata intan,  utas rantai, utas  baserong dan lain - lain. Kakalung  seperti  kakalung rantai sulapit, kakalung madaliun  barumbai, madaliun ros,  madaliun  mata  tiga, madalin mata satu dan lain-lain. Cucuk baju  seperti cucuk baju seribu  manis,  cucuk  baju  paniti,  cucuk  baju  daun basontek, cucuk baju  daun  baintan  dan  lain - lain.  Cucuk  konde  seperti  cucuk  konde kulipak katu, cucuk konde daun talu, daun  lima,  cucuk konde daun  seribu  manis, cucuk konde ros, cucuk konde daun baintan dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada  hasil  kerajinan dari bahan kuningan  seperti  pakucuran/peludahan, sasanggan panginangan, celengan dan lain-lain. Ada hasil kerajinan tembikar seperti dapur, kapit, tajau halus dan besar, cocot ( sejenis ciret/teko ) dan lain – lain.&lt;br /&gt;Ukir dan tatah seperti dalam bentuk tatah surut (ukiran berupa relief);  tatah babuku (ukiran dalam bentuk tiga dimensi), tatah baluang (ukiran “bakurawang”) dan lain – lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nilai Sosial Budaya yang menjadi tempat – tempat objek wisata, di Tanah Banjar   banyak jumlahnya  di antaranya Pasar Terapung, pendulangan intan dan keindahan alam seperti Pulau Kambang, Gua Liang Hidangan, tempat keramat  dan lain – lain.&lt;br /&gt;Pasar Terapung adalah pasar tradisional yang sudah ada sejak dulu dan merupakan refleksi sosial budaya sungai orang Banjar. Pasar yang khas lagi unik ini tempat melakukan transaksi  jual beli bahkan ada yang berupa barter di atas air dengan menggunakan jukung ( sampan ) yang berdatangan dari berbagai pelosok, membawa dagangan berupa lalapan ( sayur – sayuran ), buah – buahan, pancarakinan ( rempah masakan dan belah pecah ) juga makanan dan minuman.   Pasar Terapung hanya berlangsung pada pagi hari sekitar jam 05.00 hingga 07.00 setiap hari. Pasar terapung ini ada dua lokasi yaitu di Kuin wilayah Banjarmasin dan Lok Baintan wilayah Kabupaten Banjar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti juga di daerah lain, Kalimantan Selatan memikili tradisi budaya dan seni budaya.&lt;br /&gt;Tradisi Budaya yang kental dalam masyarakat Banjar  seperti  upacara kehamilan, kelahiran, khitanan, perkawinan, kematian, baayun anak, mamalas banua/manyanggar banua, aruh ganal, badudus dan lain – lain.&lt;br /&gt;Di sini akan “ditingau sakilaran “ mengenai tradisi baayun anak dan badudus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Baayun Anak&lt;br /&gt;Yang lebih menarik adalah menidurkan anak ini sang ibu sambil bernyanyi dengan suara merdu berayun-ayun atau mendayu-dayu.&lt;br /&gt;Isi lirik ini, puji-pujian pada anaknya yang ”bungas langkar ” dan doa agar anaknya kelak kuat imannya dalam agama sampai akhir hayatnya.&lt;br /&gt;Kalau tidak berupa syair atau pantun, sang ibu membaca salawat rasul atau ayat – ayat suci Al Qur’an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayun Bapukung adalah menidurkan anak dengan cara sang anak didudukan dalam ayunan dibalut dengan kain tapih sebatas leher.&lt;br /&gt;Ayunan untuk ”guring bapukung” tak bedanya dengan ayunan dengan posisi dibaringkan yaitu terbuat dari tapih bahalai atau kain kuning dengan ujung –ujungnya diikat dengan tali haduk ( ijuk ). Ayunan ini biasanya digantungkan pada palang plapon di ruang tengah rumah. Pada tali tersebut biasanya diikatkan Yasin, daun jariangau, kacang parang, katupat guntur, dengan maksud dan tujuan sebagai penangkal hantu – hantu atau penyakit yang mengganggu bayi. Menidurkan anak dengan bapukung  biasanya lebih cepat tertidur dari pada mengayun posisi berbaring.&lt;br /&gt;Maayun anak ini terkadang diadakan pada acara Mauludan yakni tanggal 12 Rabiul Awwal. Dengan maksud agar mendapat berkah kelahiran Nabi Muhammad SAW&lt;br /&gt;Pada perkembangannya, maayun anak ini menjadi sebuah tradisi budaya yang setiap tahun digelar dengan istilah “ Baayun Maulud” Baayun Maulud ini sungguh berisi pesan-pesan religiusitas, filosofis dan local wisdom ( kearifan local ).&lt;br /&gt;Baayun Maulud ini setiap tanggal 12 Rabiul Awwal yakni menyambut dan memperingati Maulud Rasul, oleh masyarakat Desa Banua Halat Kecamatan Tapin Utara selalu mengadakan upacara Baayun Anak atau Baayun Maulud. Tradisi budaya ini mulai popular sejak tahun 1990-an.&lt;br /&gt;Juga, Baayun Anak ini adalah salah satu agenda tahunan bagi Museum Lambung Mangkurat Banjarbaru Kalimantan Selatan. Yang lebih unik lagi pesta Baayun Anak ini bukan hanya baayun anak tetapi pesertanya juga baayun nenek dan kakek. Mereka sengaja ikut baayun karena nazar. Nazar ini karena sudah tercapai niat atau terkabul hajat seperti sudah naik haji, mendapat rejeki yang banyak atau untuk maksud agar penyakitnya hilang atau juga panjang umur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Badudus&lt;br /&gt;Setiap suku bangsa di Indonesia mempunyai adat budayanya masing- masing, ada yang berbeda dan ada juga hampir sama. Dalam kesempatan ini diperkenalkan adat yang ada di suku Banjar yang mendiami Tanah Borneo bagian selatan yakni  Kalimantan Selatan, yaitu Acara Badudus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Badudus adalah acara mandi – mandi.. Acara ini ada tiga jenis, yaitu Badudus  Tian Mandaring, Badudus Pengantin Banjar, dan Badudus untuk Keselamatan.&lt;br /&gt;a)  Badudus Tian Mandarin&lt;br /&gt;Acara Badudus Tian Mandaring adalah acara Mandi – Mandi perempuan hamil pertama kali yang usia hamilnya Tujuh Bulan. Sesaji yang diadakan berupa kue – kue yang jumlahnya 41 macam. Minyak Likat Buburih adalah sebagai bahan Tapung Tawar. Air yang dimandikan berupa air yang berendam beraneka bunga sehingga air ini beraroma harum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b) Badusus  Selamatan Tahunan&lt;br /&gt;Acara Badudus merupakan tradisi masyarakat Banjar terutama sebagian masyarakat Amuntai Kabupaten Hulu Sungai Utara. Acara ini diadakan dua kali setahun yaitu acara Mandi-Mandi dilaksanakan pada pertengahan tahun Hijrah yaitu sekitar bulan Jamadil Akhir dan Selamatan Tahunan diadakan pada awal tahun Hijrah yaitu bulan Muharram . Masyarakat Amuntai sangat tebal kepercayaannya terhadap Legenda Lambung Mangkurat, bahwa raja-raja Negara Dipa seperti Empu Jalmika, Pangeran Suryanata, Pangeran Suryaganggawangsa dan lain-lainnya itu sampai sekarang masih hidup dan berada di alam gaib dan sewaktu-waktu mereka dapat diundang. Kepercayaan ini dianut secara turun temurun dan jika tidak dilaksanakan maka mengakibatkan malapetaka bagi keluarga mereka misalnya ada yang kurang waras atau kena penyakit.&lt;br /&gt;Sesaji yang harus diadakan adalah 41 macam kue dan yang tidak boleh ketinggalan yaitu “ Bubur Habang Bubur Putih “, “ Kopi Pahit “, Cingkaruk Batu “, “ Rokok Jagung “, dan “ Minyak Likat Buburih “.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serangkaian acara Badudus Selamatan Tahunan ini diadaakan lagu-lagu Badudus yang diiringi tetabuhan yang terdiri dari biola dan Tarbang Besar atau Tarbang Burdah. Ada beberapa repertoire dalam acara ini yang susunannya tidak boleh tertukar, yaitu :&lt;br /&gt;Repertoire pembukaan adalah lagu Kur Sumangat, merupakan lagu mengundang roh – roh dari raja-raja yang gaib di tengah kepulan asap dupa dan kemenyan. Isi lagu adalah undangan dan ucapan maaf jika ada kesalahan dalam menyediakan sajian atau dalam pelaksanaan terdapat kekeliruan dan sebagainya.selesai lagu ini, diadakan acara Tapung&lt;br /&gt;Tawar yang disebut Tatungkal dengan memercikkan minyak Likat Buburih d atas kepala pada yang dimandikan dan pada keluarga.  Repertoire yang kedua Lagu Girang –&lt;br /&gt;Girang, pernyataan kegembiraan. Repertoire yang ketiga adalah lagu Mandung Mas Mirah, lagu untuk menyambut puteri – puteri yang diundang. Repertoire yang keempat Lagu Dundang Sayang, berfungsi sebagai penghibur pada para undangan yang hadir. Repertoire yang kelima adalah Lagu Tarabang  Burung,  lagu  menyambut  atau  menyongsong  para roh  –  roh yang datang. Repertoire yang terakhir yaitu Lagu Burung Mantuk, l;agu untuk menghantarkan pulang para roh – roh yang telah menghadiri upacara tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak jarang dalam upacara Badudus ini banyak orang – orang yang hadir kesurupan. Setelah selesai Lagu Burung Mantuk dinyanyikan yang kesurupan tersebut sadar kembali. Fungsi penyanyi terkadang adalah juga sebagai pawang dan berperan sebagai pemimpin acara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c) Badudus Pengantin Banjar&lt;br /&gt;Acara Badudus Pengantin Banjar adalah suatu acara adat masyarakat Banjar yang sampai sekarang ini masih tumbuh dan hidup dalam masyarakat Banjar. Tempo dulu Badudus merupakan acara penobatan seorang Raja. Acara ini hanya diselenggarakan oleh keturunan raja – raja saja yakni keturunan dari raja – raja Kerajaan Negara Dipa dan Kerajaan Daha, dan yang dapat menghadiri acara tersebut adalah hanya terbatas kepada seluruh keluarga saja. Setelah tidak ada lagi kerajaan di Tanah Banjar (tahun 1860 ) maka acara ini bergeser menjadi acara mandi – mandi Pengantin Banjar. Penyelenggaraan Badudus dilaksanakan oleh kedua pengantin. Dalam acara ini disediakan sesaji 41 macam kue dan minyak likat buburih yaitu bunga – bungaan yang dimasak dengan minyak kelapa dan lilin serta ditambah dengan minyak wangi. Acara badudus ini umumnya dimeriahkan dengan menyuguhkan lagu – lagu Banjar.&lt;br /&gt;Sungguh, nilai – nilai Seni Budaya Nasional sangatlah “ Sugih (kaya) “ karena berakar dan bersumber dari nilai – nilai Seni Budaya Daerah. Salah satunya adalah dari Tanah Banjar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II. Nilai Seni Budaya Tanah Banjar tersebut antara lain adalah musik, tari, sastra dan teater.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1)  Seni Musik&lt;br /&gt;       Seni Musik Tanah Banjar terdiri dari gamelan Banjar dan musik tradisional Banjar.&lt;br /&gt;a) Gamelan Banjar&lt;br /&gt;Gamelan Banjar ini dahulunya hidup dan berkembang di keraton Banjar, namun sekarang ini tidak ada lagi keraton Banjar maka musik ini hidup di kalangan rakyat Banjar.  Gamelan Banjar umumnya sebagai pengiring tarian seperti wayang gong, wayang kulit  dan tarian klasik Banjar.&lt;br /&gt;Perangkat gamelan Banjar yang paling tua adalah sepasang gamelan Banjar yang bernama “ Simanggu Kacil dan Simanggu Basar “. Gamelan Simanggu Kacil berada di Museum Nasional Jakarta sedang Simanggu Basar berada di Museum Lambung Mangkurat Banjarbaru Kalimantan Selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b) Musik Trasional Banjar di antaranya adalah Musik Kentung dan Musik Panting.&lt;br /&gt;Musik Kentung ( instrument bamboo) ini berasal dari daerah Kabupaten Banjar yaitu di desa Sungai Alat Kecamatan Astambul dan kampung Bincau Kecamatan Martapura.  Masa dahulu alat musik ini dipertandingkan. Dalam pertandingan ini bukan saja pada bunyinya, tetapi juga hal-hal yang bersifat magis, seperti kalau dalam pertandingan itu alat musik ini bisa pecah atau tidak dapat berbunyi dari kepunyaan lawan bertanding.&lt;br /&gt;Musik kentung termasuk alat musik pentatonis, boleh dikatakan pula sejenis alat musik perkusi. Karena cara membunyikannya dihentakkan pada sebuah potongan kayu yang bundar. Alat musik kentung ini berjumlah 7 buah dan masing-masing mempunyai nama, yaitu : Hintalu randah, hintalu tinggi, tinti pajak,tinti gorok,pindua randah, pindua tinggi dan gorok tuha.&lt;br /&gt;Musik Panding adalah seperangkat alat musik yang terdiri dari : Babun (gendang), Gong, Biola, suling dan Panting. Panting ini bentuknya seperti gitar atau gambus tapi bentuknya agak kecil. Musik Panting umumnya untuk mengiringi lagu – lagu Banjar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Seni Tari Banjar.&lt;br /&gt;Seni Tari Banjar ada beberapa jenis yakni Tari Kelasik Banjar seperti Tari Baksa Kembang, Baksa Panah, Baksa Lilin, Baksa Dadap, Baksa Tameng, Radap Rahayu, Tari Topeng Panji, Tari Topeng Sekartaji, Tari Topeng Kelana dan lain – lain.  Tari Tradisional (rakyat) seperti Tari Tirik kuala, Tirik Lalan, Tari Japin Kuala, Japin Sisit, Tari Kuda Gepang dan Tari Wayang Gong. Tari  Kreasi Baru seperti Mandulang Intan,&lt;br /&gt;Tari Semangat Ratu Zaleh, Maiwak, Ambung Gunung dan lain – lain.  Tari Pedalaman adalah tarian yang ada di daerah pedalaman Kalimantan Selatan ( suku Bukit ) seperti Tari Giring-Giring, Tari Gelang Bawu, Tari Gintur dan lain – lain&lt;br /&gt;3)  Seni Sastra&lt;br /&gt;Seni Sastra di Tanah Banjar ada dua bagian yaitu Sastra Tutur dan Sastra Non Tutur ( tertulis ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Sastra Tutur seperti Bakisah, Lamut, Madihin dan Mantra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A) Bakisah&lt;br /&gt;Bakisah umumnya tidak memerlukan naskah. Baik pengantar kisah atau pun dialog-dialog dibawakan, mengandalkan keterampilan berimpropisasi. Tema-tema yang diangkat terkadang fiksi tetapi ada juga yang terjadi dalam masyarakat. Pangisahan manakala melakonkan tokoh-tokoh dalam kisah, penonton benar-benar larut dalam arus plot dan karakter sang tokoh. Bilamana adegan sedih, gembira, dendam, humor atau lainnya, penonton larut ke dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak sari toladan dari ”kisah” baik mengenai adat istiadat, etika estetika hidup, pendidikan, keagamaan, patriotisme yang terkandung dalam kisah. Kalau dibandingkan propertis ( hand dan setting ) dan lightingnya antara teater monolog, bakisah sangat sederhana dan bersahaja namun Pangisahan mampu menghidupkan suasana.&lt;br /&gt;Bakisah ada beberapa macam yakni Bapandung, Dundam, Lamut, Andi-Andi, Madihin dan Mantra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a)Bapandung       &lt;br /&gt;Bapandung lahir di Desa Muara Munign kabupaten Tapin. Tokoh-tokoh yang ada di dalam cerita, dimainkan dengan menirukan suara, tingkah laku seseorang, dan sebagainya.&lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;b)Dundam&lt;br /&gt;       Bakisah dengan prosa lirik, berpantun-pantun. Lagunya lebih dekat dengan lagu mantra. Cerita adalah tokoh legenda orang Dayak (Bukit) dalam suatu kelompok. Ada hubungan cerita dengan etnis Banjar atau dengan kerajaan Banjar. Berdundam berada di suatu tempat yang berlampu remang-remang. Media untuk bercerita adalah sebuah gendang atau tarbang.yang dipukul berirama mengiring lagu pendundam bercerita.&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;c)Lamut&lt;br /&gt;     Ada yang mengatakan bahwa lamut diambil dari nama seorang tokoh cerita di dalamnya, yaitu Paman Lamut seorang tokoh yang menjadi panutan, sesepuh, baik dilingkungan kerajaan atau pun masyarakat seperti halnya Semar dalam cerita wayang.Cerita dalam Lamut menurut pakem yang ada walau tak tertulis. Cerita yang dikenal masyarakat Banjar yakni cerita tentang percintaan antara Kasan Mandi dengan Galuh Putri Jung Masari. Kasan Mandi adalah putera dari Maharajua Bungsu dari Kerajaan Palinggam Cahaya, sedangkan Galuh Putri Jung Masari adalah putri dari Indra Bayu, raja dari Mesir Keraton. Kasan Mandi kawin dengan Galuh Putri Jung Masari melahirkan seorang putra bernama Bujang Maluala dengan pengikut setianya  paman Lamut bersama anak – anaknya yaitu Anglung, Anggasina dan Labai Buranta.&lt;br /&gt;Lamut befungsi sebagai upacara pengobatan anak yang sakit, bisa juga berfungsi sebagai tontonan masyarakat. Pelamutan duduk berila dengan memegang sebuah gendang budar yang dikenal dengan nama tarbang. Pelamut berbaju Taluk balanga ( Koko ) memakai sarung palekat, berkopiah hitam. Penonton duduk santai lesehan.&lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;d)Andi-Andi&lt;br /&gt;      Berkisah tentang legenda, dongeng dan sebagainya disaat orang brgotong royong, mengetam padi di sawah. Fungsinya menghibur orang bekerja. Ceritanya dari syair-syair, tutur candi,dan dongengan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e) Madihin&lt;br /&gt;Ada yang berpendapat bahwa madihin berasal dari kata madah, yaitu sejenis puisi lama dalam sastra Indonesia. Madah merupakan syair yang mempunyai rima yang sama pada suku akhir kalimat. Madah mengandung puji - pujian, nasehat atau petuah. Tetapi dalam perkembangannya humor atau lulucuan, sindiran yang sehat, tak ketinggalan&lt;br /&gt;disuguhkan oleh Pamadihinan ( orang yang membawakan madihin ) sebagai bumbu. Hand Proferti yang digunakan adalah tarbang yang bentuknya lebih kecil dari Tarbang Lamut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f) Mantra&lt;br /&gt;Mantra adalah ujar-ujar yang merupakan sumber kekuatan spritual leluhur pusaka Banjar ( Kalimantan ). Pada hakikatnya adalah suatu permohonan kepada yang Maha Kuasa yang disampaikan dengan ujaran yang khas dan dengan gaya bahasa yang khas pula dengan keyakinan yang penuh bagi penggunanya.&lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;2) Sastra Non Tutur ( Tertulis )&lt;br /&gt;Sastra Tertulis ini ada yang dinamakan Syair, Gurindam, Pantun dan Puisi ( Sajak ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A) Syair&lt;br /&gt;Salah satu bentuk Sastra Banjar adalah “ Syair “. Seperti juga syair dikesastraan Indonsia Lama, Sastra Banjar  Syair  mempunyai bentuk empat baris setiap baitnya, persajakannya aa-aa dan isinya mengandung hikayat, sejarah, nasihat, pendidikan, percintaan, keagamaan dan dongeng, dan munculnya syair setelah adanya pengaruh agama Islam.  Tetapi bedanya media yang digunakan Syair Kesastraan Indonesia Lama, Bahasa Indonesia  sedangkan Sastra Banjar Syair, Bahasa Banjar. Disamping itu banyak syair – syair dalam Sastra Banjar ditulis oleh pengarangnya dengan menggunakan tulisan Arab. Sayangnya syair- syair yang ditulis dengan tulisan Arab ini sampai sekarang belum banyak ditulis dengan tulisan Latin. Akibatnya syair – syair Sastra Banjar ini hanya merupakan Koleksi Filologika Museum Negeri Kalsel di Banjarbaru.&lt;br /&gt;Beberapa syair Banjar : Syair Sipatul Golam, Syair Ganda Kasuma, Syair Ringgit, Syair Tajul Muluk, Syair Surat Tarasul, Syair Siti Jabidah, Syair Indra Bumaya, Syair Khabar Kiamat, Syair Panji Kasmaran, Syair Brahma Sahdan, Syair Ratu Kuripan “ dan lain – lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B) Gurindam&lt;br /&gt;       Gurindam adalah syair yang terdiri dari seuntai yang isinya nasihat, petuah dan lain – lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C) Pantun&lt;br /&gt;         Masyarakat Banjar tempo dulu (bahari) sangat gemar berpantun sampai sekarang ini. Yang lebih menggembirakan bukan saja orang – orang  tua tetapi juga kaula muda Tanah Banjar masih tetap menggemari pantun bahkan akan tetap melestarikannya.&lt;br /&gt;Struktur pantun Banjar seperti halnya pantun Indonesia lama atau pantun Melayu yang bersetruktur : baris pertama dan kedua adalah sampiran, baris ketiga dan keempat adalah isi. Jumlah suku katanya baris pertama sama dengan baris ketiga dan baris kedua sama dengan baris keempat. Atau jika terjadi selisih suku katanya tidak lebih dari satu suku kata saja.  Atau dari baris pertama, kedua, ketiga dan keempat sama jumlah suku katanya. Rima sajaknya  (a),(a),(b),(b).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang pantun Banjar ada yang unik, mirip dengan syair yakni baris – barisnya hampir tidak dapat dibedakan sampiran dan isi dan rima sajaknya  (a),(a),(a),(a). Yang lebih unik lagi apabila pantun ini merupakan lirik dari lagu atau nyanyian yakni terjadi pengulangan baris sehingga menimbulkan bunyi dan irama yang harmonis.&lt;br /&gt;Pantun Banjar ada lima ragam : 1) Ragam Pantun Banjar Biasa :  Seperti Pantun Agama, Pantun Adat Istiadat, Pantun Badatang, Baturai Pantun, Panglipur, Papujian, Balolocoan, Marista, Pantun Insyaf,  Pantun Bacucupatian,  Pantun Urang Anum. 2) Ragam Pantun Banjar Pantun Tarasul 3) Ragam Pantun Banjar Sebagai Lirik Lagu atau Nyanyian 4) Ragam Pantun Banjar Sebagai Pengiring Tarian 5) Ragam Pantun Wayahini.&lt;br /&gt;D) Puisi ( Sajak )&lt;br /&gt;Puisi ( Sajak ) termasuk kesastraan baru dan kesastraan modern.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4) Teater&lt;br /&gt;Teater ada dua  : Teater Modern dan Teater Tradisional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Teater Modern : Teater dari daerah/negeri lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Teater Tradisional Banjar yaitu Teater yang khas daerah Banjar yakni :&lt;br /&gt;Salah satu teater tradisional Kalsel yang masih bisa bertahan hidupnya adalah “ Mamanda “. Mengapa demikian ? Sebab cerita dari Mamanda memang mengasyikkan tak kalah dengan cerita sinetron atau film. Walau pun tokoh-tokoh dalam Mamanda “ baku “ namun dapat ditambah tokoh-tokoh lain dengan cerita yang lain, artinya cerita&lt;br /&gt;mamanda dapat diciptakan sesuai dengan perkembangan jaman. Apa lagi durasi pertunjukkan mamanda jang semula semalam suntuk sekarang disesuaikan dengan permintaan, maksudnya bisa durasinya 3 jam atau 5 jam. Istemewanyanya Mamanda, bisa dimainkan dengan sebuah naskah yang utuh seperti terater modern atau hanya dengan mengatur cerita seperti garis besar cerita, babakan dan plot, sedangkan dialog dikenal dengan istilah impropisasi. Pemain – pemain Mamanda memang dikenal keahliannya berimpropisasi. Tokoh-tokoh mamanda yang baku itu adalah Raja, Mangkubumi, Wazir, Perdana Menteri,Panglima Perang, Harapan Pertama, Harapan kedua, Khadam, Permaisuri, Anak Raja ( bisa putri atau Pangeran ). Tokoh-tokoh lain sesuai cerita misalnya Raja dari Negeri lain, Anak Muda, Perampok,Jin, Belanda, atau nama dari daerah lain ( Jawa, Cina, Batak, Madura atau lainnya ). Seperti juga di teater modern, sebelum pertunjukkan dimulai akan dibacakan sinopsisnya, di mamanda dipaparkan lewat “ Baladon “. Baladon adalah tutur cerita dengan dibawakan berlagu dan gerak tari. Cerita mamanda bisa berkolaburasi dengan seni tari atau musik. Yakni setelah kerajaan selesai bersidang maka akan ditampilkan pertunjukkan tari dengan maksud menghibur raja dengan segenap aparat kerajaan atau ketika kerajaan menang perang diadakan pertunjukkan hiburan tari atau musik panting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asal mula Mamanda adalah Badamuluk ketika rombongan bangsawan Malaka ( Abdoel Moeloek atau Indra Bangsawan, 1897 M ) yang dipimpin oleh Encik Ibrahim dan isterinya Cik Hawa, menetap di Tanah Banjar beberapa bulan mengadakan pertunjukkan. Teater ini begitu cepat populer di tengah masyarakat Banjar. Setelah beradaptasi, teater ini melahirkan sebuah teater baru bernama “ Mamanda “. Mamanda mempunyai pengertian “sapaan” kepada orang yang dihormati dalam sistem kekerabatan atau kekeluargaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mamanda mempunyai dua aliran. Pertama : Aliran Batang Banyu. Yang hidup di pesisir sungai daerah Hulu Sungai yaitu di Margasari. Sering juga disebut Mamanda Periuk. Kedua : Aliran Tubau bermula tahun 1937 M. Aliran ini hidup di daerah Tubau Rantau. Sering dipentaskan di daerah daratan. Aliran ini disebut juga Mamanda Batubau. Aliran ini yang berkembang di Tanah Banjar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertunjukkan Mamanda mempunyai nilai budaya Yaitu pertunjukkan Mamanda disamping merupakan sebagai media hiburan juga berfungsi sebagai media pendidikan bagi masyarakat Banjar. Cerita yang disajikan baik tentang sejarah kehidupan, contoh toladan yang baik, kritik sosial atau sindiran yang bersifat membangun, demokratis, dan nilai-nilai budaya masyarakat Banjar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bermula, Mamanda mempunyai pengiring musik yaitu orkes melayu dengan mendendangkan lagu-lagu berirama melayu, sekarang beralih dengan iringan musik panting dengan mendendangkan Lagu Dua Harapan, Lagu Dua Raja, Lagu Tarima Kasih, Lagu Baladon, Lagu Mambujuk, Lagu Tirik, Lagu Japin, Lagu Gandut , Lagu Mandung-Mandng, dan Lagu Nasib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari uraian singkat di atas, ada beberapa peninggalan leluhur ini satu per satu sudah mulai terlupakan dan tenggelam.  Masyarakat Banjar banyak yang tidak mengenal atau tidak tahu lagi pusaka leluhurnya  yang seharusnya  perlu dijaga, dilestarikan bahkan dikembangkan. Seperti upacara Badudus, baturai pantun dalam upacara perkawinan ( Badatang ), Manyanggar Banua, Bakisah,Tari – tarian terutama tari – tari kelasik seperti tari topeng atau tarian - tarian yang kental dengan akar budayanya. dan lain – lain,&lt;br /&gt;Meskipun peninggalan leluhur itu masih ada, namun hidupnya sangat memperihatinkan dan sangat dikhawatirkan bahwa derasnya arus Era globalisasi dan modernisasi  akan mengikis habis pusaka leluhur ini maka perlu upaya – upaya agar pusaka leluhur itu dapat terus dipertahankan.&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;Tidak saja seminar, diskusi, kongres budaya, Aruh Sastra, pelatihan yang terus diselenggarakan tetapi juga  Pemerintah daerah, seniman budayawan, Lembaga Budaya Banjar, Dewan Kesenian dan pihak – pihak yang terkait lainnya setiap tahun  mengadakan festival dan pergelaran seperti atraksi adat Banjar, festival Pasar Terapung,  musik tradisional, teater tradisional, tari – tarian Banjar,  pameran bersejarah, pusaka bertuah, benda budaya serta berbagai kerajinan Banjar.&lt;br /&gt;       Upaya – upaya ini diharapkan dapat menumbuhkan suatu gerakan masyarakat Banjar pendukung pusaka leluhurnya agar gigih dalam menjaga, mengembangkan dan melestarikannya secara bertanggung jawab di Tanah Banjar. Semoga ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4648747481528843-158035366311527675?l=ansepadang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ansepadang.blogspot.com/feeds/158035366311527675/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4648747481528843&amp;postID=158035366311527675' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4648747481528843/posts/default/158035366311527675'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4648747481528843/posts/default/158035366311527675'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ansepadang.blogspot.com/2011/12/maningau-nilai-sosial-budaya-dan-nilai.html' title='MANINGAU NILAI SOSIAL BUDAYA DAN NILAI SENI BUDAYA BANJAR Oleh : Arsyad Indradi'/><author><name>Arsyad Indradi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03282526078807458772</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/SQsSbmw_naI/AAAAAAAABwA/pVTsWzbU-Gc/S220/aku+5.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4648747481528843.post-3414047430331020979</id><published>2011-05-29T12:38:00.000-07:00</published><updated>2011-05-30T22:11:22.829-07:00</updated><title type='text'>Bawa Tari Ke Belanda Tanpa Izin</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-_AQJP1a2Yj8/TeR4a5x8ozI/AAAAAAAADoY/wkLVXkWOIs0/s1600/Rajul.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 176px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-_AQJP1a2Yj8/TeR4a5x8ozI/AAAAAAAADoY/wkLVXkWOIs0/s200/Rajul.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5612743439192728370" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;* Drs. Sirajul Huda MH. Menurut Sirajul Huda, pihah Kesultanan Banjar tidak pernah meminta izin terlebih dahulu kepada dirinya selaku penata Tari Japin Rantauan. “ Disatu sisi aku bangga karena tari hasil tataanku mendapat kehormatan digelarkan di luar negeri, namun di sisi lain aku kecewa karena tidak pernah dihubungi dan diminta izin sebelumnya,” ucap pria yang kerap disapa Sirajul ini kepada Media Kalimantan Jumat (27/5) kemarin.&lt;br /&gt;Sirajul menduga, pihak Kesultanan Banjar enggan meminta izin kepadanya kemungkinan disebabkan takut kalau-kalau dirinya sebagai pencipta karya Tari Japin Rantauan mendesak agar diikutsertakan dalam rombongan. Padaha,akunya, tidak ada sedikitpun terbesit niat untuk diikutsertakan dalam rombongan perjalanan Raja Muda Khairul Saleh ke negeri Kincir Angin. “ Bukan aku ingin diikut sertakan dalam tim, tapi wajar dari segi etika sangat wajar kan kalau timminta izin. Karena aku sebagai penata tari Japin Rantauan masih ada di dunia ini,”ujarnya.&lt;br /&gt;Sirajul juga tak hendak dihormati, namun setidaknya ia ingin melihat hasil tataannya dibawakan oleh tim tari Kesultanan Banjar. “ Aku ingin melihat apakah tari tersebut sudah sempurna, karena ini menyangkut nama penata tari. Dan biasanya sebelum pentas tarian yang akan dipentaskan diberitahukan siapa penatanya. Nah,apakah saat pentas di Belanda itu juga disebutkan ?” ujar pria kelahiran Banjarmasin, 5 Januari 1952 itu.&lt;br /&gt;Disinggung soal perjalanan kolosal sang Pangeran ke negeri Kincir Angin, seniman yang berdomisili di Banjarbaru ini tidak mau berkomentar. “Urusan perjalanan, urusan kesultanan. Baik buruknya perjalanan tersebut kita serahkan kepada masyarakat, biar mereka yang menilainya seperti apa,” pungkasnya.&lt;br /&gt;Sementara itu, saat dimintai informasi seputar kegiatan Kesultanan Banjar ke Belanda, baik Raja Muda Kesultanan Banjar Pangeran Khairul Saleh maupun datu cendikiawan lainnya, tidak bisa memberi info kegiatan mereka disana.(Ediansyah)&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Sumber : Media Kalimantan,Sabtu, 28 Mei 2011&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4648747481528843-3414047430331020979?l=ansepadang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ansepadang.blogspot.com/feeds/3414047430331020979/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4648747481528843&amp;postID=3414047430331020979' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4648747481528843/posts/default/3414047430331020979'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4648747481528843/posts/default/3414047430331020979'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ansepadang.blogspot.com/2011/05/bawa-tari-ke-belanda-tanpa-izin.html' title='&lt;center&gt;Bawa Tari Ke Belanda Tanpa Izin&lt;/center&gt;'/><author><name>Arsyad Indradi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03282526078807458772</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/SQsSbmw_naI/AAAAAAAABwA/pVTsWzbU-Gc/S220/aku+5.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-_AQJP1a2Yj8/TeR4a5x8ozI/AAAAAAAADoY/wkLVXkWOIs0/s72-c/Rajul.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4648747481528843.post-6458485006621519953</id><published>2011-05-03T07:35:00.000-07:00</published><updated>2011-05-03T07:40:13.779-07:00</updated><title type='text'>Membaca tulisan :  Selamat Hari Kartini</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ketika aku mengunjungi http://dakwahit.blogspot.com sungguh blog ini aku suka sekali, penampilannya sederhana namun menarik. Ada beberapa tulisan juga meraik. Tidak ketinggalan aku membaca sebuah tulisan yang berisi kegiatan BEM Fakultas Dakwah IAIN Antasari Banjarmasin  memperingati“Hari Kartini” 21 April 2011.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan itu  seperti ini :&lt;br /&gt;Tepat pada tanggal 21 April 2011 kita menjalani lagi hari kartini, tentunya kalian semua juga sudah tahu dengan siapa itu Kartini atau biasa kita panggil dengan Raden Ajeng Kartini, beliau adalah salah seorang pencetus perjuangan pendidikan di Indonesia, terutama untuk kamu wanita pada zamannya, beliau berhasil menyetarakan pendidikan untuk kaum wanita yang awalnya tidak di ijinkan untuk mendapatkan pendidikan yang cukup layak seperti halnya kaum pria pada zaman tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk memperingati dan sekaligus menghargai hari tersebut kawan-kawan dari BEM Fakultas Dakwah IAIN Antasari Banjarmasin mengadakan acara bagi 1000 bunga kepada ibu-ibu di sekitar lingkungan IAIN Antasari dan selebaran + permen kepada kawan-kawan mahasiswa pada pagi hari, kemudian bagi bunga tersebut di lanjutkan pada sore hari di simpang tiga Gatot Subroto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun acara ini adalah program kerja BEM Fakultas Dakwah dari Departemen Kewanitaan yang di pegang oleh Rahmaniah sebagai Mentri. Menurutnya acara ini perlu dilaksanakan agar kita tidak lupa dengan perjuangan R.A Kartini yang sudah mengusahakan pendidikan hingga bisa seperti sekarang ini, selain itu juga menurutnya dengan acara ini dapat lebih mengenalkan BEM Fakultas Dakwah dan Fakultas Dakwah itu sendiri kepada dunia luar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bawah tulisan ini ada ruang komentar. lalu aku menulis komentar . Seperti ini :&lt;br /&gt;Sesungguhnya generasi muda Indonesia termasuk mahasiswa berpikiran kritis. Dia tidak akan merasa puas dan tidak begitu saja menerima sejarah yang terlanjur terpublikasikan itu. Mereka akan kembali membalik-balik lembaran fakta sejarah, apakah benar sejarah itu atau faktanya direkayasa oleh suatu kepentingan lain ? Sekarang kita berhadapan dengan apa yang dinamakan "Hari Kartini". Tentu kita bertanya siapa sesungguhnya RA Kartini itu ? Kemudian kita menelusuri fakta-fakta  pahlawan perempuan lain sebelum RA Kartini dan sezaman dengan RA Kartini. Maka kita akan menemukan perempuan-perempuan pahlawan selain RA Kartini.Seperti nama-nama : Sultanah Seri Ratu Tajul Alam Safiatuddin Johan Berdaulat dari Aceh, Siti Aisyah We Tenriolle dari Sulawesi Selatan, Marta Christina tahun 1817 di Maluku,  Nyi Ageng Serang (1752-1828) Jawa Tengah, Cut Nyak Dien (1850-1908) dan Cut Meutia (1870-1910) di Aceh., Dewi Sartika (1884-1947) di Bandung Jabar, Rohana Kudus (1884-1972) di Padang,Ratu Zaleha (1880-1953)di Kalimantan dan nama-nama pahlawan perempuan lainnya. Setelah melihat dan mempelajari fakta-fakta ini secara seksama, maka timbul pertanyaan,mengapa hari bersejarah perempuan itu "Hari  Kartini"? Demikianlah,generasi muda Indonesia tidak akan bersikap pasif tetapi selalu berpikir dan bersikap dinamis dan kritis. Salam.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4648747481528843-6458485006621519953?l=ansepadang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ansepadang.blogspot.com/feeds/6458485006621519953/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4648747481528843&amp;postID=6458485006621519953' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4648747481528843/posts/default/6458485006621519953'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4648747481528843/posts/default/6458485006621519953'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ansepadang.blogspot.com/2011/05/membaca-tulisan-selamat-hari-kartini.html' title='&lt;center&gt;Membaca tulisan :  Selamat Hari Kartini&lt;/center&gt;'/><author><name>Arsyad Indradi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03282526078807458772</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/SQsSbmw_naI/AAAAAAAABwA/pVTsWzbU-Gc/S220/aku+5.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4648747481528843.post-8783631359683041400</id><published>2011-04-26T11:54:00.000-07:00</published><updated>2011-04-26T11:56:38.835-07:00</updated><title type='text'>SENI DORONG KESADARAN BERMAKNA</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-xvlGVpUj4t4/TbcVWR0wd4I/AAAAAAAADng/ZDHdIpsj3BA/s1600/he%2Bb.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 52px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-xvlGVpUj4t4/TbcVWR0wd4I/AAAAAAAADng/ZDHdIpsj3BA/s200/he%2Bb.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5599968134144489346" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Oleh: HE. Benyamine&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Diam, kata yang seakan menjadi penuntun sekaligus ekspresi utama pada pergelaran malam seni (23/4/11) yang diselenggarakan Sanggar Ar-Rumi Martapura dan KNPI Kabupaten Banjar yang didukung oleh STAI Darussalam Martapura, Kelompok Halilintar Banjarmasin, dan Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pendidikan dan Olahraga Kabupaten Banjar di Gedung Balai Pemuda Barakat. Diam dengan berbagai ungkapan bentuknya yang terungkap dalam dramatisasi puisi, tari, dan teater monolog secara tersirat menjadi tema pergelaran tersebut. Diam bukan berarti tidak bergerak, atau kehilangan mimpi-mimpi yang menjalar dalam pikiran dan hati,  yang mampu terus mendorong untuk mempertahankan daya hidup meskipun terus mengalami hegemoni dan pembungkaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada penampilan dramatisasi puisi, tari, dan teater monolog tersebut terangkai gerak perlawanan terhadap arus utama budaya yang bersandar pada hasrat dan kerakusan.  Perlawanan yang cenderung diam, bagai suara pinggiran yang sayup-sayup terdengar sebagaimana yang tercetus di warung-warung; mawarung style, namun tetap terlihat adanya kesadaran atas kondisi dan hiruk pikuknya budaya instan dan artifisial yang terus gencar dan intens secara halus merasuki kecenderungan gaya hidup masyarakat. Diam bukan berarti bisu dan tuli, karena para penggiat seni masih menunjukkan bahwa mereka tidak gampang ditundukkan apalagi dibungkam yang terlihat dari penampilan-penampilan yang dipentaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui puisi dan penampilan dramatisasi puisi jelas terlihat bahwa kesadaran tentang kerusakan alam yang disebabkan kerakusan yang serakah harus dilawan, sekalipun tidak terdengar secara lantang di arus media dan corong-corong pencitraan. Jelas terungkap kegetiran dan kepiluan atas bencana dan malapetaka yang disebabkan kerakusan yang serakah, sebagai sesuatu yang disadari dan membangkitkan kepedulian mereka untuk mengingatkan kepada pengambil keputusan lebih berhati-hati dalam menentukan kebijakan yang berhubungan dengan terganggunya keseimbangan alam. Mungkin, dikarenakan kesadaran yang masih bersemai dalam bentuk seni atas fenomena kerusakan alam dan kerusakan sosial akibat kerakusan yang serakah tersebut yang membuat para elit politik dan elit kekuasaan tidak begitu berminat dalam pergelaran seni. Sehingga, meskipun lantang terucap, kesadaran itu lebih cenderung bagian dari diam dan dibiarkan bergerak dalam lingkarannya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga dengan tari Banjar, tari tradisi,  pada penampilannya yang mengalir seperti aliran sungai-sungai, yang terus bergerak dalam diam, yang begitu kesulitan dalam menemukan panggung pertunjukkannya layaknya sungai-sungai yang terus menanggung beban dari kerakusan yang serakah. Kerusakan dan pencemaran sungai-sungai  di tanah Banjar seperti dibiarkan saja seakan tidak terjadi hal yang serius, begitu juga dengan tari tradisi Banjar yang juga ditelantarkan layaknya sungai-sungai tersebut. Panggung yang tertutup bagi tari sejajar dengan sungai yang mendangkal dan tercemar, sama dalam kehilangan aliran dan daya hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlawanan diam juga dipertunjukkan dalam teater monolog Kelompok Halilintar Banjarmasin pada Pergelaran Malam Seni ini, dengan naskah “Shiiittt Diam”, yang secara tersirat menyatakan ketidakpedulian  terhadap seni merupakan bagian dari pembungkaman berekspresi,  bahkan dalam mimpi dan angan-angan sekalipun dapat dinyatakan sebagai tindakan subversif dan mengganggu keamanan dan ketertiban.  Memang, saat ini tidak lagi popular tuduhan tindakan subversif, karena sudah berubah secara lembut dengan cukup hanya mengabaikan aktivitas seni itu sendiri dan membiarkannya bergerak di wilayah tanpa panggung dan keberpihakan sebagaimana bidang lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada pergelaran seni yang diselenggarakan Sanggar Ar-Rumi Martapura ini, memperlihatkan ada semangat yang tidak terseret arus utama budaya instan dan artifisial, meskipun tergambar keterbatasan dan masih lemahnya keberpihakan dan kepedulian elit kekuasaan. Aktivitas berkesenian seperti ini sudah seharusnya mendapatkan perhatian dan dukungan elit kekuasaan daerah, walaupun beberapa pandangan dari ekspresinya merupakan kritik terhadap perilaku dan kebijakan elit kekuasaan yang bersangkutan. Dukungan dan perhatian berbagai kalangan, khususnya pemerintah daerah, dapat lebih meningkatkan kreativitas dan kualitas pertunjukkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, aktivitas seni sebagaimana pergelaran malam seni Sanggar Ar-Rumi, merupakan pertunjukkan yang mengalirkan pandangan yang tidak terseret arus utama budaya yang terpasung pencitraan. Ada perlawanan terhadap ketidakadilan dan kerakusan yang serakah, yang tetap menjaga kesadaran kritis terhadap berbagai tindakan yang merusak, seperti kerusakan dan pencemaran alam serta beban yang dipaksakan harus ditanggung daripadanya bagi semua. Aktivitas seni bagai mengalami pembungkaman bila begitu dibatasi ruang geraknya dengan penghilangan panggung-panggung pertunjukkannya, padahal melalui aktivitas seni inilah mengajak bagi semua untuk tetap menjaga kesadaran yang bermakna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Radar Banjarmasin, 25 April 2011: 3)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4648747481528843-8783631359683041400?l=ansepadang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ansepadang.blogspot.com/feeds/8783631359683041400/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4648747481528843&amp;postID=8783631359683041400' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4648747481528843/posts/default/8783631359683041400'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4648747481528843/posts/default/8783631359683041400'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ansepadang.blogspot.com/2011/04/seni-dorong-kesadaran-bermakna.html' title='&lt;center&gt;SENI DORONG KESADARAN BERMAKNA&lt;/center&gt;'/><author><name>Arsyad Indradi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03282526078807458772</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/SQsSbmw_naI/AAAAAAAABwA/pVTsWzbU-Gc/S220/aku+5.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-xvlGVpUj4t4/TbcVWR0wd4I/AAAAAAAADng/ZDHdIpsj3BA/s72-c/he%2Bb.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4648747481528843.post-29152448464990929</id><published>2011-03-21T04:15:00.000-07:00</published><updated>2011-05-30T22:31:59.845-07:00</updated><title type='text'>BANJAR BUKAN KESATUAN ETNIS TETAPI KESATUAN POLITIK</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-RR1-yIOsHTw/TeR9N39tXdI/AAAAAAAADog/3ZkdDBw_T9M/s1600/28310_104068032973969_100001123198323_38433_1117959_n.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 150px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-RR1-yIOsHTw/TeR9N39tXdI/AAAAAAAADog/3ZkdDBw_T9M/s200/28310_104068032973969_100001123198323_38433_1117959_n.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5612748712925027794" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Oleh Mudjahidin S&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENGANTAR:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pernah terjadi dalam percaturan politik di Nusantara ini, masalah perbedaan agama dan etnik dijadikan sebagai kendaraan politik oleh kalangan elite politik untuk menguasai daerah. Contohnya di KalTeng bahkan sebelumnya di Kalimantan Barat dan Pada tahun 2002 menyusul konflik berdarah antar etnik-etnik oleh kalangan tertentu telah dicoba mencetuskan konflik antar agama,di kobar2kan atas nama Agama terutama antara penganut agama Islam dan penganut agama Kristen di samping antara etnik Banjar yang disebut di Kalimantan sebagai Urang Banjar dan etnik Dayak.dan bahkan soal sepele akhir2 yg lalu di Tarakan/Kaltim di bawa-bawa soal suku-untungnya tidak separah tragedi Sampit Alhamdulilah, kita hal-hal seperti itu jangan lagi terulang di Bumi Kalimantan ini, jangan sampai kita cepat terpengaruh oleh isu-isu yang menyeret kita perpecahan, zaman sekarang ini kita semua Waspada karena Budaya Dajjal sudah turun di bumi ini. Tapi baiklah diluar kontek percaturan politik saya mencoba Untuk memahami apa siapa Urang Banjar itu, guna melengkapi tulisan ini saya mencoba memahami saat menjadi peserta aktif Apa yang di paparkan dalam forum2 Aruh Banua Banjar &amp;amp; baik Pra/forum Maangkat batang tarandam 2010 maaf forum ini dari beberapa makalah Pemakalah saja yg saya dapatkan(karena saya tidak hadir sesuatu lain hal) kemudian saya analis dengan metode Komvesional Simitis pemahaman kejadian kejadian sekarang ini ternyata makalah- tersebut hanyalah sorotan dari satu segi saja,kenapa sya katakan begitu karena masih terasa ungkapan2 "Banjar" masih berdasar pendapat Leteral simitis referensi2 Group Liden/orang2 Belanda) untuk itu masih ada untuk saya rasakan bisa membantu saya dalam menjelaskan keadaan hubungan antar agama dan etnik, terutama antara Urang Banjar dan Dayak serta antara Islam dan Kristen di kalsel juga di kateng &amp;amp; kaltim sekarang.&lt;br /&gt;Seperti Di kalteng juga seperti saudari Nila Tjilik Riwut Stadi sejarah dan budaya Dayak, sekarang sedang digalakkan oleh kalangan akademisi muda Dayak Kalteng dalam rangka memahami diri sendiri (Personality Etnis-Agama &amp;amp; kepercayaan )serta untuk melangkah maju ke hari depan dengan pandangan yang jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1.Kenapa dayak Islam Menjadi Orang melayu?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa Banjar intensitasnya agamanya pemeluk Islam ?&lt;br /&gt;Tulisan ini telah mengajak kita berpikir ke masa awal berdirinya kerajaan Banjar yang oleh para ahli diperkirakan pada dekade kedua abad-16, kemudian peristiwa pada zaman Pangeran Marhum, dan melihat sejenak pada perjumpaan Banjar-Islam dan Dayak-Katolik pada akhir abad 17. Tak dapat disanggah tulisan ini belum lengkap, dan hanyalah tulisan awal atau pembuka, karena ada banyak 1.bagian-bagian penting yang masih belum dibahas dan masih banyak acuan2 yg belum saya dapat yg sehubungan dengan Etnis, Budaya, agama Urang Banjar atau munculnya kelompok etnik Banjar sebagai satu kekuatan sosial, politik dan agama di Kalimantan Selatan, misalnya 2.peranan pemerintah kolonial Belanda dalam menciptakan kelompok suku Dayak Kristen sebagai kelompok antagonis untuk menggembosi kekuatan Banjar Islam (Idwar Saleh 1986: 11),&lt;br /&gt;peranan kelompok etnis Bakumpai yang menurut Helius Sjamsuddin (1988) adalah Dayak Islam yang gencar melawan Belanda dan menurut Schawaner (1853) telah menjadi Islam sebelum ada Kesultanan Islam Banjar. Begitu juga dengan peranan Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari, ulama besar Banjar. Walaupun demikian ada beberapa hal yang dapat dikatakan melalui tulisan ini: bahwa sebelum terbentuk Kesultanan Islam Banjar, menurut Hikajat Bandjar belum ada etnis atau kelompok etnis Bandjar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Hikajat Bandjar yang ada pada waktu itu adalah orang-orang Jawa, Melayu dan Biaju, serta suku-suku lain. Pengamatan jeli terhadap proses awal berdirinya kesultanan Islam Banjar, bila dikaitkan dengan kelompok etnis yang terlibat pada waktu itu, akan menghasilkan kesimpulan bahwa empat orang Patih Biaju (bukan Islam) dan satu orang patih Melayu (Islam) mengangkat satu orang Jawa-Kaling (bukan Islam) untuk menjadi raja. Di sini kelompok Melayu adalah kelompok minoritas, karena itu sangatlah tidak mungkin dapat dikatakan sebagai inti nenek moyang suku Banjar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idward Saleh (1991: 2) menolak pendapat ini, dengan tegas dinyatakan:&lt;br /&gt;Ketika Pangeran Samudera mendirikan kerajaan Banjar ia dibantu oleh orang Ngaju, dibantu patih-patihnya seperti patih Belandian, Patih Belitung, Patih Kuwin (Yg sebelumnya suku dayak ngaju bukan Islam) dan sebagainya serta orang Bakumpai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula penduduk Daha yang dikalahkan sebagian besar orang Bukit dan Maanyan. Kelompok ini diberi agama baru yaitu Agama Islam, kemudian mengangkat sumpah setia kepada raja, dan sebagai tanda setia memakai bahasa ibu baru dan meninggalkan bahasa ibu lama. (menurut tutur dari mulut kemulut kisah sultan suriansyah berpitua saat meresmikan masjid kuin pada suatu hari raya berkata : barang siapa satia wan diaku baik nang masuk agamaku atawa kahada jua,asal inya satia wan diaku inya adalah bajaranku(Kelompokku) wargaku baik nang baandah di pinggir sungai atawa nang di hilir dihulu/pedalaman Wan jangan bacakut apalagi bakalahi sapananggungan Wan jua baulah kadiaman kasan saparundutan baandah dipinggir tabing, balalu batatanaman wan bahuma di balakang kadiaman, maulah baju jangan nang babalang (warna warni)banyu di sungai di barasihi kasan ba'udu wan manginum(konon dahulunya berbahasa dayak ngaju, jawi dan tulisannya arabi-malayu) sayang pitua ini cuma (Hikayat) dr mulut kemulut ini sengaja di hapus oleh orang2 /Peneliti Belada karena Pitua ini akan melemahkan strategi politisir mereka (yaitu pada abad ini)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2.BANJAR BUKAN KESATUAN ETNIS TETAPI KESATUAN POLITIK&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi orang Banjar itu bukan kesatuan etnis tetapi kesatuan Politik, seperti bangsa Indonesia.nkri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ataukah telah terjadi kesalahan membaca Hikajat Bandjar yang ditulis oleh J.J. Ras, yaitu pada kalimat Tanjung Pura as a name for the oldest Bandjarese kraton ? (Ras 1968: 191), sehingga muncul kesimpulan "masyarakat Banjar telah terbentuk bersamaan dengan terbentuknya kerajaan Tanjungpura". Di sinilah imajinasi kolonial kaum indologist terbentang bagaikan jaring laba-laba halus yang menjerat tetapi politisnya adalah kelelawar (simbol Dracula) dengan tanpa disadari. Johannes Jacobus Ras, orang Belanda kelahiran Rotterdam tahun 1926, tentunya menulis ini pertama-tama adalah untuk para pembacanya yang adalah untuk guru besarnya orang Belanda,Karena itu,ia mesti memakai bahasa, istilah atau idiom-idiom atau imaji-imaji yang dimengerti oleh orang Belanda. Salah satu imajinasi populer kolonial terhadap penduduk pulau Kalimantan adalah seperti yang dikatakan oleh Niewenhuis seorang guru besar di Universitas Leiden Belanda (orang Belanda lagi) bahwa: "Orang Dayak adalah penduduk asli pulau Borneo yang bukan orang Melayu. Orang Melayu ialah penduduk asli pulau Borneo yang beragama Islam dan bukan orang Dayak" (Niewenhuis 1894: 16).&lt;br /&gt;Atau seperti yang dipaparkan oleh Mallinckrodt (lagi-lagi orang Belanda, Leiden group) bahwa "Suku Banjar adalah suatu nama yang diberikan untuk menyebut suku-suku Melayu" (Mallinckrodt 1928: 48).&lt;br /&gt;Jadi dalam imaji orang-orang Belanda, Banjar adalah salah satu bagian dari suku Melayu.ataukah sengaja Orang Banjar di Identitaskan orang pendatang Bukan penduduk Borneo Karena itu orang Melayu diaspora dari Sriwijaya pun digeneralisasi sebagai Banjar atau sebagai the oldest Bandjarese.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat bahwa Banjar adalah salah satu suku Melayu juga didasarkan pada bahasa yang dipergunakan yang menurut Prof. J.J. Ras, ahli sastra Melayu Fakultas&lt;br /&gt;Sastra Universitas Leiden, sebagai the Bandjarese colloquial is a dialect of Malay rather than a separate language (Ras 1968: 8).&lt;br /&gt;Namun pendapat ini disanggah oleh para ahli Melayu moderen, misalnya James T. Collins, Profesor&lt;br /&gt;Alam dan Tamadun Melayu di Universiti Kebangsaan Melayu, karena kenyataannya bahasa Melayu tidak harus dituturkan oleh orang Melayu tetapi juga oleh orang-orang di kampung Kristen di Pulau Ambon (Collins 2003: v).&lt;br /&gt;Jerat halus "Leiden Group" ini juga menggiring ke pemikiran bahwa penutur bahasa Melayu atau orang Melayu haruslah beragama Islam. Dalam tulisan-tulisan mengenai Banjar, kesimpulan yang sempit dan sederhana ini diderivasi dengan mengatakan&lt;br /&gt;"Banjar bukan hanya konsep untuk menunjukkan perbedaan suku, tapi juga agama" atau "Banjar menjadi identitas agama sekaligus suku"(contohnya lih. Salim 1996:227).&lt;br /&gt;Sehingga muncul kesan yang kuat bahwa "Banjar adalah Islam dan Islam adalah Banjar".&lt;br /&gt;Namun adalah bijak untuk mendengar apa dikatakan oleh Collins:Konsep Alam Melayu adalah konsep kultural yang berasaskan peranan bahasa Melayu dalam batas geografi Asia Tenggara. Alam Melayu tidak identik dengan dunia Islam-Melayu, karena banyak penutur bahasa Melayu tidak beragama Islam. Alam Melayu bukan konsep etnis karena banyak pengguna bahasa Melayu bukan orang Melayu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya Alam Melayu lebih luas daripada wilayah masyarakat Melayu yang hanya sebagian dari Alam Melayu. Alam Melayu yang yang sangat kompleks itu memperlihatkan kadar diversitas yang sangat tinggi dalam hubungan bahasa dan masyarakat. Sayangnya, banyak ahli "sejarah Melayu" dan pakar "Nusantara" seakan-akan tidak menyadari diversitas itu. Biasanya mereka hanya mengungkapkan observasi dan mengulangi kesimpulan yang sempit dan sederhana. menurut saya: Intensitas budaya (Budi-Daya) Melayu adalah sarung dan senjata Parang serta Laung kepala.serta Ornament rumah adat (Lihat aceh,riau Padang -Banjar dll)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini tampak bahwa ada kesenjangan yang mencolok antara dunia wacana dan fakta empirik di lapangan. Seperti yang terjadi diKalimantan Tengah, ada banyak keluarga Dayak Kristen memakai bahasa Banjar sebagai bahasa sehari-hari mereka di dalam rumah, tetapi mereka tetap Dayak dan beragama Kristen. Sebaliknya ada banyak keluarga Dayak Islam yang memakai bahasa Ngaju-katingan dan ada suku dayak kalteng yg Islam satu rumah dengan saudaranya yg masih Kaharingan dan Kristen berbahasa sehari-sehari mereka, tetapi mereka tetap Dayak dan tetap Islam, juga tetap kriten.&lt;br /&gt;Contoh lain juga terdapat di Kalimatan Barat di mana ada kelompok-kelompok non-muslim yang berbicara menggunakan bahasa Melayu yang berasal dari Sumatera Selatan asalnya bahasa Melayu (Sandin 1956: 54-81). Atau seperti contoh lain masyarakat Bali menganut agama Islam tetapi tidak pernah meninggalkan bahasa Bali mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.Kajian mengenai Banjar telah mencapai puncak status quo ketika adigium "Banjar adalah Islam dan Islam adalah Banjar" dikerek tinggi kepuncak hingga menjadi tirai suci yang memberi rasa aman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika berbicara mengenai studi Islam Banjar, mengindikasikan status quo itu sebagai kemandekan serius yang muncul karena Islam Banjar hidup sendiri tanpa dialog dengan pemikiran-pemikiran Islam di luarnya (Salim 1996:242-43).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.Kenapa kita tidak menghargai idiom-idiom orang kita sendiri pada saat di forum2 tentang apa itu“Banjar”&lt;br /&gt;Kenapa kita selalu pemakalah2 tentang Banjar dan Culturalnya selalu orang luar?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.kenapa selalu hanya orang2 Akademis saja yg menjadi panutan jika membicarakan Budaya-Etnis- dan Agama Kayanya masih ada gaya lieden group versi modern.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut saya untuk mengkaji Banjar pertama-tama kita harus menetralkan karakter status quo itu, yaitu dengan meneliti teks-teks yang dibuat oleh orang Banjar sendiri, sebelum mereka bertemu dengan teks-teks Barat yang sarat dengan ide-ide kolonial dari para indolog bergaya orientalist.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini tentu saja sejalan dengan pikiran postkolonial Edward W. Said dalam bukunya Orientalisme yang memaparkan bagaimana Barat mendominasi, mendaur-ulang Timur untuk kemudian menguasainya. Barat, tidak hanya menulis mengenai Timur, tetapi juga&lt;br /&gt;mencipta Timur. Dalam kalimat Edward Said "bahwa budaya Barat mampu mengatur -bahkan menciptakan dunia Timur secara politis, sosiologis, militer, ideologis, saintifik, dan imajinatif" (Said 2001: 4).&lt;br /&gt;Dengan kata lain, harus ada kesadaran bahwa teks-teks Barat yang selama ini sering dipakai menjadi rujukan untuk mengatakan inilah Urang Banjar sesungguhnya kental dengan nuansa kolonial, produk para peneliti Barat yang telah membicarakan, meneliti,&lt;br /&gt;merepresentasikan Urang Banjar secara sewenang-sewenang,&lt;br /&gt;Jadi memang harus ada keberanian untuk menelusuri kembali asal-pangkal dari imaji-imaji yang sudah terlanjur tercipta mengenai siapa Urang Banjar itu.&lt;br /&gt;Memang harus ada kesungguhan untuk mempertanyakan, bahkan mencurigai teks-teks Barat itu sebab seperti yang dikatakan oleh Benedict Anderson "bahwa pertindihan kapitalisme dan teknologi cetak-mencetak dengan keragaman fatal bahasa manusia telah menciptakan kemungkinan lahirnya bentuk baru komunitas imajiner" (Anderson 1999: 84).&lt;br /&gt;Karena itulah maka "komunitas imajiner" yang bernama Urang Banjar , minimal dalam kasus diatas, memanglah berlawanan, paling sedikit beda, dengan dunia empirik.Maupun secara komfensional (yg mendasar &amp;amp; yg ada)&lt;br /&gt;Sepertinya pendapat yg di ketengahkan Lieden group memperlihatkan bagaimana sejarah memang selalu tampil berwajah ganda, positif sekaligus negatif. Demikian juga dengan sejarah Banjar ketika terjadi kontrak politik atau tunduk dengan Demak.&lt;br /&gt;Selain menganut Islam dan menang perang, ternyata ada sisi lain yang juga terjadi, yaitu hancur, lenyap dan runtuhnya satu fase berkebudayaan di Kalimantan Selatan. Tim dalam Sejarah Banjar memaparkan sisi lain dari "ketertundukkan" itu dengan kalimat "Agama Hindu runtuh dan agama Islam menggantikannya. Candi Agung dan Candi Laras dihancurkan, kebudayaan Hindu lenyap sebagai tak pernah ada kebudayaan itu di Kalimantan Selatan sebelumnya".(2003: 68, bandingkan Usman 1994: 33).&lt;br /&gt;Hancurnya candi2 di Kalimantan selatan dan hilangnya benda2 peninggalan ketika masuknya orang Pertugis di Kalimantan selatan (pernah membangun Pertahanan/Beteng di Tabonio), bukan karena hancurnya Sultan Suriansyah menjadi Islam, Berbeda dengan istana Kerajaan Kutai(sayang hancur karena Usia &amp;amp; zaman) tetapi benda2 bersejarah masih utuh sampai sekarang, kenapa? Karena Kerajaan kutai adalah kerajaan yg di lindungi oleh Belanda.&lt;br /&gt;Tetapi ungkapkan oleh Idward Saleh dengan mengatakan "bahwa pada saat Islam masuk telah terjadi penghancuran dan perusakan atas benda-benda keagamaan (iconclasm) umat Hindu sehingga rakyat tidak memiliki sedikit pun pengertian tentang apa sebenarnya bentuk candi dan fungsinya" (1983/1984: 24).&lt;br /&gt;Saya tdk sependapat idiom Idwar Saleh ini kita tahu pendapat itu sama dengan JJ RASS /Lieden Group.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga politisier educatifnya bahwa Ajaran Islam selalu salah,sebagai perbandingan ketidak majuan Raja di Spanyol (kriten Spanyol)kemudian masuk Islam disana pembangunan Budaya ,ekonomi Kota2 di bangun okeh Orang Islam sampai 300 th setelah Islam kalah dengan dengan Perang salibnya, banyak Bangunan2 berbudaya Islam di Hancur- begitu juga Irak di abad ini alasan karena senjata Nuklir –senjata Kuman yg mematikan , dan sampai sekarang tdk dapat membuktikan oleh Amarika &amp;amp; Ingeris cs- orang barat bangunan berbudaya Islam kuno dihancurkannya, tetapi benda2 sejarah Islam di bawa ke Negri2Barat&lt;br /&gt;Di sini sejarah memang selalu memperlihatkan jejak-jejak penaklukan atau penghancuran tatanan lama oleh tatanan baru yang datang dari luar.&lt;br /&gt;Sisi lain lagi dari kontrak politik Pangeran Samudera adalah Banjarmasin dilibatkan untuk melawan musuh Demak yaitu Portugis. Karena itu Banjarmasin dituntut untuk membangun komunitas etno-religi yang berdasarkan Islam sebagai oposisi dari Portugis yang Katolik. Di sini borok Perang Salib dipentaskan dengan membangun tapal batas agama yang dilumeri wacana kafir dan tidak kafir, insider dan outsider, ingroup dan outgroup. Namun sangat tidak disadari bahwa ketika kesultanan Banjar mencoba membangun komunitas etno-religi yang berdasarkan Islam maka pada saat yang sama, secara tidak langsung, ia juga sedang membangun etno-religi yang lain, yaitu Katolik Dayak di daerah pedalaman. Di sini bisa dikatakan bahwa pergulatan antara Muslim Banjar dan Portugis Katolik mepertegas pola yang sudah ada sebelumnya pada kerajaan-kerajaan Melayu yaitu Islam tidak lebih daripada sekadar simbol persekutuan politik yang berhadapan dengan simbol persekutuan politik yang lain yaitu Katolik.&lt;br /&gt;Dalam pertarungan dua kekuatan besar inilah muncul Banjar dan non-Banjar serta Dayak dan non-Dayak Maka tampaklah motif betapa pentingnya konsep bahwa Banjar itu Islam dan Islam itu Banjar. Dengan demikian, kelompok etnis Banjar muncul bukanlah sebagai hasil jalan-jalan para Melayu diaspora yang konon datang dari Sriwijaya, tetapi lebih merupakan produk dari sebuah proses sosial-politis beberapa kelompok masyarakat, yang kehidupan ekonominya didasarkan pada eksploitasi daerah pedalaman dan kemudian menjadikan Islam sebagai "spirit" pemersatu sekaligus pembeda dengan orang Portugis atau etnis yang seagama dengan orang Portugis. Namun kesimpulan ini bukan barang baru. Secara sayup-sayup kurang lebih 30 tahun yang telah liwat, Idwar Saleh menulis:&lt;br /&gt;Untuk proses perkembangan selanjutnya agama Islam berfungsi mempersatukan kelompok atau memisahkan dan menjadi kriteria antara beradab dan belum beradab, antara orang Banjar dan bukan Banjar. Jadi waktu masih belum ada agama Islam dan Kristen masuk, belum ada yang memisahkan suku-suku ini. Waktu agama Islam masuk mulailah pemisahan itu.di sebabkan propaganda Penjajah (Non Islam masa lalu)&lt;br /&gt;Dengan demikian, maka bisa dikatakan bahwa Urang Banjar bukanlah sebuah komunitas kultural tetapi lebih kepada komunitas politik, di mana di dalamnya bisa ada banyak kultur dan etnis.bahwa diteropong dari kekayaan spiritual suku Dayak Ngaju yang menempatkan Marhum Panembahan, atau saat anak putrid sultan suriansyah menduduki kepemimpinan di tamiang laying sampai barito waktu dulu atau Sultan Islam Banjar ke-4, sebagai salah satu pantheon di Alam Atas, ternyata istilah Islam Banjar bukanlah satu istilah yang monokultur. Di dalamnya ada Islam Ngaju (dan juga Islam Bakumpai), karena memang ada banyak orang Ngaju memeluk agama Islam. Kembali diperlihatkan satu kenyataan lain, ternyata baik Islam maupun Banjar tidak menjadi melting pot budi-daya yang bertujuan meyeragamkan semua pengalaman agama dan budaya seseorang tetapi lebih tepat menjadi segelas Es campur saat udara panas. Karena sesungguhnya orang tidak betul-betul melebur menjadi satu meninggalkan identitas asalnya untuk kemudian luluh dalam Melayu yang katanya adalah kultur dominan pada masyarakat Banjar. Minimal pada saat periode sutan Banjar pertama sampai ke Rmpat wajah Ngaju atau Biaju mendominasi istana kesultanan Banjar. Hal ini memang menjadi fakta yang mendekonstruksi ide warisan kolonial yang mengatakan bahwa Dayak itu non-Muslim dan Banjar itu Muslim. Ternyata bahwa, sejak abad ke-16 di istana Kesultananan Banjar, Dayak tidak hanya non Muslim tetapi juga Muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehubungan dengan adanya warisan kolonial itu, sebagai orang yang hidup pada era post kolonial, rasanya sulit untuk menerima adigium atau jargon "Banjar itu Islam, Islam itu Banjar atau orang bukit yg setia dengan sultan Banjar dayak Banjar" yang bukan hanya sulit dimengerti secara historis, melainkan juga sukar dipahami secara sosiologis. Sebab, dari berbagai catatan sejarah diperlihatkan bahwa jauh-jauh hari sebelum para tentara Demak datang ke Banjarmasin dan memperkaribkan nilai-nilai Islam kepada masyarakat dan raja-raja di Banjar, sudah ada penduduk Islam di masyarakat pesisir juga sudah ada melembaga rupa-rupa keyakinan dan bermacam-macam ritus yang bukan Islam. Demikian pula secara sosiologis kita dapat merasakan bahwa jargon tersebut seperti memendam kecenderungan untuk tidak toleran terhadap keberagaman Banjar. Kita tahu, bagaimanapun, hingga kini Banjar itu tidak satu warna, melainkan serupa pelangi. Dan tiap-tiap warna ke-Banjaran tentu memiliki hak hidupnya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada sisi lain, fakta ini juga memperlihatkan bahwa di antara yang bertentangan itu terdapat ambiguitas atau ruang celah yang menjadi wilayah terlarang sehingga tabu diperbincangkan. Di celah yang sempit itu, yang adalah penjara kenangan masa lalu, Akhirnya dapat dimengerti kenapa orang bingung ketika ditanya "Kenapa menjadi urang Banjar?".tidak seperti orang Bali sejak nenek moyangnya memang etnis bali, wilayah atau tempat kota daerah kelahiran bukan sebagai dasar pengakuan sebagai Orang/Urang banua,Seperti saya kakek -nenek saya orang beberapa Kabupaten hulu sungai, tetapi bukan menjadi dasar suku etnis/ Urang , tetapi saya tetap mengaku sebagai Urang Banjar suku Banjar atau juga agama bukan harus ada perubahan etnisnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banjarmasin 10 Oktober 2007&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4648747481528843-29152448464990929?l=ansepadang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ansepadang.blogspot.com/feeds/29152448464990929/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4648747481528843&amp;postID=29152448464990929' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4648747481528843/posts/default/29152448464990929'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4648747481528843/posts/default/29152448464990929'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ansepadang.blogspot.com/2011/03/banjar-bukan-kesatuan-etnis-tetapi.html' title='BANJAR BUKAN KESATUAN ETNIS TETAPI KESATUAN POLITIK'/><author><name>Arsyad Indradi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03282526078807458772</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/SQsSbmw_naI/AAAAAAAABwA/pVTsWzbU-Gc/S220/aku+5.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-RR1-yIOsHTw/TeR9N39tXdI/AAAAAAAADog/3ZkdDBw_T9M/s72-c/28310_104068032973969_100001123198323_38433_1117959_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4648747481528843.post-7669388810796208705</id><published>2011-02-15T09:34:00.000-08:00</published><updated>2011-02-15T09:45:26.451-08:00</updated><title type='text'>BEKANTAN DIRUNDUNG BIMBANG (Tanggapan Tulisan Syarifuddin R)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-OZLy1T2q0Fs/TVq5zryyshI/AAAAAAAADkE/D6-ihf4cWxA/s1600/Bekantan%2B%2528Nasalis%2Blarvatus%2529.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 190px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-OZLy1T2q0Fs/TVq5zryyshI/AAAAAAAADkE/D6-ihf4cWxA/s200/Bekantan%2B%2528Nasalis%2Blarvatus%2529.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5573971786404639250" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: HE. Benyamine&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bekantan dirundung bimbang, sepertinya memang begitu keadaannya, karena betapa masih kurangnya alasan dalam pembangunan (rencana) patung tetapi juga pandangan terhadap keberadaan bekantan itu sendiri yang seakan dapat digantikan dengan patung saja sebagai bukti bahwa hewan jenis ini pernah dinyatakan paling banyak populasinya di Kalimantan Selatan sehingga menjadi pijakan menjadikannya sebagai maskot fauna daerah, yang meskipun punah nantinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat berbeda terhadap rencana pembangunan patung bekantan tidaklah sama dengan meremehkan dan tidak menganggap maskot fauna daerah serta jika dianggap banyak yang tidak membelanya (Media Kalimantan, 18 November 2010: C3), karena yang dipermasalahkan bukan maskot Kalimantan Selatan tapi rencana patungnya sebagai ikon kota Banjarmasin.  Apalagi gagasan awal pendirian patung bekantan tersebut berasal dari pejabat publik (wawali Alwi Sahlan) yang terpesona dengan patung Singa (Marlion) saat yang bersangkutan berkunjung, dan menyaksikan banyak sekali pengunjungnya termasuk dirinya sendiri sehingga terpikir seolah-olah dengan berdirinya patung (bekantan) di kota Banjarmasin juga banyak pengunjungnya tanpa melihat budaya yang mendukungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budaya yang mendukungnya inilah yang seharusnya dan penting untuk ditanggapi oleh para seniman dan budayawan (khususnya LBB Kalsel), sebagaimana yang dikemukakan Hajriansyah (Media Kalimantan, 6 November 2010: C3; Patung, Kota dan Masyarakat yang Mencari Identitas), sehingga gagasan yang muncul dari suatu kunjungan (pejabat publik) pada suatu tempat dapat lebih diperhatikan berdasarkan budaya yang hidup di daerah sendiri. Dukungan sebagai wujud penghargaan memang penting, tetapi lebih penting adalah dukungan yang menghadirkan nilai budaya dalam gagasan seperti rencana pembangunan patung bekantan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana Syarifuddin R yang mengingatkan dalam tulisan, Beginilah Jika Bekantan Dirundung Bimbang (MK, 18/11/10),  bahwa penetapan maskot fauna dan flora sebagai kesepakatan bersama dan diketahui oleh daerah (khususnya daerah yang memiliki kesamaan) lainnya di Indonesia, karena ketika itu populasi bekantan cukup banyak sebagai alasan disepakatinya menjadi maskot daerah Kalimantan Selatan, sebenarnya sangat jelas untuk mengatakan bahwa keberadaan bekantan saat ini perlu diperhatikan dengan sungguh-sungguh. Karena populasi bekantan yang lebih banyak tersebutlah yang menjadi dasar ditetapkannya sebagai maskot daerah Kalimantan Selatan, yang tentunya sangat menyedihkan jika populasi itu terus menyusut menuju kepunahannya. Semakin berkurangnya populasi bekantan merupakan petunjuk tidak adanya pembelaan, meremehkan dan tidak menganggap maskot fauna daerah --  karena alasan populasi yang menjadi dasar penetapan maskot tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan apa yang dikemukakan Siti Fatimah Ahmad seharusnya dapat dipandang bahwa pengelolaan Taman Negara yang menjaga habitat bekantan yang menjadikan daya tarik bagi wisatawan, bukan karena disana ada berdiri patung bekantan, hal ini sebenarnya secara implisit dinyatakan Syarifuddin R bahwa para wisatawan lebih tertarik ke tempat aslinya (habitat bekantan) yang mudah dijangkau. Jadi, pembangunan patung bekantan memang tidak ada yang salah, sebanyak apapun patung dibangun tetap saja sebagai patung, namun demikian orang-orang tentu tetap lebih tertarik dengan yang aslinya (habitat bekantan). Sehingga, terlalu berlebihan  jika sampai dinyatakan bahwa keberadaan patung bekantan sebagai penanda pernah memilikinya kalau (suatu saat nanti) bekantan itu punah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga dengan keberadaan bekantan yang menghuni Taman Safari dengan dilengkapi rumah Banjar, sebagai sebagian usaha untuk menghidupkan bekantan, yang sebenarnya sangat jauh berbeda dengan usaha di daerah di mana habitatnya terdapat. Di sini perlu diperhatikan, keberadaan bekantan di Taman Safari yang berasal dari Kalimantan Selatan harus menjadi semangat daerah untuk memperhatikan dan menjaga habitat aslinya, apalagi beberapa pulau telah dijadikan cagar alam, seperti Pulau Kaget (Barito Kuala),  karena jangan sampai orang tetap menyebut bekantan berasal dari Kalimantan Selatan tetapi di daerah sendiri terus mengalami penyusutan populasi yang pada akhirnya hilang. Orang akan mengingat Kalimantan Selatan tidak mampu menjaga maskotnya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bekantan dirundung bimbang, ungkapan yang tepat, karena disamping dibanggakan sebagai maskot daerah Kalimantan Selatan hingga akan dijadikan patung ikon Kota Banjarmasin namun juga seolah dibiarkan saja mengalami penyusutan populasinya. Bahkan keberadaan patung nantinya sudah dianggap cukup mewakili keberadaannya yang pernah ada. Memang lebih mudah membangun patung dibandingkan menjaga habitatnya. Membangun patung cukup sekali, sedangkan menjaga habitat bekantan mengharuskan dilakukan secara terus menerus. Pembangunan patung bekantan sebagai ikon kota Banjarmasin tidak ada yang salah, hanya saja alasan pembangunannya tidak mencukupi dan kurang pendalaman filosofis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Media Kalimantan, 19 November 2010: C3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Komentar :&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banjarmasin sesungguhnya tak layak lagi mendapat julukan ”Kota Seribu Sungai”. Sebab sekarang ini sungainya banyak yang sudah mati dan sisanya dapat.dihitung dengan jari. Apa lagi yang dapat dibanggakan ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian muncul polemik tentang patung bakantan. Kok repot-repot memikirkan perkara pelestarian "bekantan". Yang gampang-gampang ajalah. Bikin patungnya aja kan gampang. Kok repot-repot “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, kalau mau bikin patung, perlu ada pertimbangan yang matang agar tidak.terjadi benturan dengan.kuatnya relegiusitas di tanah Banjar ini,. Bagi aku pribadi, bikin patung itu setuju-setuju saja, karena aku melihat dari sisi seni, sisi keindahan, bukan untuk disembah-sembah seperti berhala. Kalau patung bekantan itu jadi berhala jelas bukan aku saja yang tidak setuju tetapi juga masyarakat Banjar umumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang adanya intansi yang mengurusi pelestarian bekantan ini memang sangat diharapkan upaya yang serius dan lebih baik lagi jika ada kerja sama dengan pihak2 yang menghendaki adanya pelestariannya. Sebab kita menyadari, semua ini adalah upaya yang sangat sulit dan pekerjaan yang sangat berat seperti, harus berhadapan dengan para kapitalis dan orang-orang yang hanya mencari keuntungan, yang tidak memperhatikan dampak kerusakan alam yang sekaligus merusak habitat bekantan dan satwa lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buruknya kondisi lingkungan habitat ini karena semakin berkurangnya pepohonan sebagai sumber makanan bekatan, perlu pendanaan yang cukup besar dan juga gencarnya menyosialisasikan pelestariannya pada masyarakat baik secara langsung maupun melalui media cetak dan elektronik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permasyalahannya, "belum" perlu “bikin” patung bekantan, tetapi yang lebih perlu “pelestariannya” dulu karena bekantan semakin ”punah”. Oleh karena itu motor penggeraknya ini tentu saja selaku kepala "ahuinya" intansi yg bersangkutan dan perlu dukungan dari semua pihak. Semoga*** (Arsyad Indradi)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4648747481528843-7669388810796208705?l=ansepadang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ansepadang.blogspot.com/feeds/7669388810796208705/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4648747481528843&amp;postID=7669388810796208705' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4648747481528843/posts/default/7669388810796208705'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4648747481528843/posts/default/7669388810796208705'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ansepadang.blogspot.com/2011/02/bekantan-dirundung-bimbang-tanggapan.html' title='BEKANTAN DIRUNDUNG BIMBANG (Tanggapan Tulisan Syarifuddin R)'/><author><name>Arsyad Indradi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03282526078807458772</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/SQsSbmw_naI/AAAAAAAABwA/pVTsWzbU-Gc/S220/aku+5.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-OZLy1T2q0Fs/TVq5zryyshI/AAAAAAAADkE/D6-ihf4cWxA/s72-c/Bekantan%2B%2528Nasalis%2Blarvatus%2529.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4648747481528843.post-5260009389890256177</id><published>2011-01-04T23:05:00.000-08:00</published><updated>2011-03-22T08:41:58.976-07:00</updated><title type='text'>Nalam Buat Yessika</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/TSQlXg0Ml0I/AAAAAAAADYI/dkr8EJGM3JM/s1600/Fotoku%2B%2Blatar%2Bjelita.jpg"&gt;&lt;img style="float: right; margin: 0pt 0pt 10px 10px; cursor: pointer; width: 111px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/TSQlXg0Ml0I/AAAAAAAADYI/dkr8EJGM3JM/s200/Fotoku%2B%2Blatar%2Bjelita.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5558608925958117186" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Arsyad Indradi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:130%;" &gt;Nalam Buat Yessika&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adakah lebih sanggama dari putik bunga&lt;br /&gt;Dari kupukupu beribu warna&lt;br /&gt;Kelopak romansa aroma semarainya&lt;br /&gt;Tapi tibatiba jadi terbang  kepak melayanglayang&lt;br /&gt;Taman sukma jadi bayangbayang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak kita di beranda itu Yessika&lt;br /&gt;Kita pun tak pernah mampu menutup rawi kita&lt;br /&gt;Yang tak habis ditulis dendamnya rindu&lt;br /&gt;Saat berkaca pada jatuhnya tetes airmata&lt;br /&gt;Yang selalu luput menafsir bahasa cinta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sui Lan bisikmu lalu menatap cakrawala&lt;br /&gt;Siapa meniti awangemawan yang berarak&lt;br /&gt;Hatiku berkacakaca :&lt;br /&gt;Duhai dua jiwa satu raga, satu jiwa dua raga&lt;br /&gt;Tangan kita erat bergenggaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu kita pun melabuh sampan&lt;br /&gt;Dari Barito dari Batanghari&lt;br /&gt;Lalu kita dendangkan nalam kita :&lt;br /&gt;( Sui Lan ) : Tebing mana menyimpan selaksa duka&lt;br /&gt;                                             Seloka luka&lt;br /&gt;                                             Kayuh bersimpuh&lt;br /&gt;                                             Mencari kemana riak arus pupus&lt;br /&gt;( Yessika ) :  Karang mana menyimpan selaksa duka&lt;br /&gt;                                             Seloka lara&lt;br /&gt;                                             Rindu yang luruh&lt;br /&gt;                                             Mencari kemana tempat berteduh&lt;br /&gt;( Sui Lan ) :   Barito mengalirkan dalamnya anganangan&lt;br /&gt;                                              Sungai tak ada lagi persinggahan&lt;br /&gt;                  Putri junjung buih bermandi buih&lt;br /&gt;( Yessika ) :   Batanghari mengalirkan dalamnya impian&lt;br /&gt;                           Sungai tak ada lagi  tepian&lt;br /&gt;                                              Putri mayang bermandi mayang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konon sampan itu Yessika masih juga berlabuh&lt;br /&gt;Seperti tiada pernah sangsi  mencapai muara ”DAMAI”&lt;br /&gt;Aku masih ingat sayang kau menarik napas panjang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kssb,2 Jan 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(”DAMAI” = DAM-AI =Dimas Arika Mihardja –Arsyad Indradi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Monique Wien'z, Sari Weh Djayanti, Ramayani Riance dan 9 lainnya menyukai ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dz&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/TSQYz8sT6tI/AAAAAAAADVw/JHPUouXx3-s/s1600/Zikri.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 50px; height: 50px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/TSQYz8sT6tI/AAAAAAAADVw/JHPUouXx3-s/s200/Zikri.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5558595120826411730" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;ikri Muhammad : Luar biasa...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kw&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/TSQZLGiCjrI/AAAAAAAADV4/_0DvgOXDVi0/s1600/Kwek.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 50px; height: 50px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/TSQZLGiCjrI/AAAAAAAADV4/_0DvgOXDVi0/s200/Kwek.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5558595518604676786" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;ek Li Na : indah sekali...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ta&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/TSQahZzDN_I/AAAAAAAADWA/LpfCbD--GT4/s1600/Tato.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 50px; height: 50px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/TSQahZzDN_I/AAAAAAAADWA/LpfCbD--GT4/s200/Tato.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5558597001245046770" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;to A Setyawan :&lt;br /&gt;Kolaborasi yang ciamik bah. Luar biasa. Takjub kepada pian berdua..&lt;br /&gt;Begitulah kiranya jika urat sungai menyuakan yessika dan sui lan; mereka pasti berdendang asmara riak sungai (ku).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;T&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/TSQa29e_AxI/AAAAAAAADWI/5G1f-mz4HKg/s1600/Tuditea.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 50px; height: 50px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/TSQa29e_AxI/AAAAAAAADWI/5G1f-mz4HKg/s200/Tuditea.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5558597371601814290" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;uditea Masditok :&lt;br /&gt;Yessika yang indah yessika yang megah yessika yang membuat resah,ah yessika aku masih ingat saat kau merebah :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimas Arika Mihardja&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/TSQbMZp2x7I/AAAAAAAADWQ/5-Qhja8sg8E/s1600/Dimas.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 50px; height: 50px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/TSQbMZp2x7I/AAAAAAAADWQ/5-Qhja8sg8E/s200/Dimas.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5558597739940857778" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; :&lt;br /&gt;DAMAI [DAM-AI] = Dawai Akan Menyuguhkan Aura Itu, keindahanlah yang terasa berdegup didada, getarannya akan merasuki ke seluruh pori dan sendi dan akan memberikan kekuatan abadi. DAMAI [ejaan lama = Djalan Akan Menunjukkan Arah Itu] dan la...ngkah kaki kita kian terarah menuju pelabuhan, mendayung sampan di atas isak riak dan teriak ombak: aku sungguh mencintaimu, duhai Kekasih. Lalu kita bertemu dalam laku dan lakon yang semakin membuahkan haru. Kita berpelukan di gigir pantai, saling mengusap bening air mata keharuan dan mengecup dengan lembut anak rambut di dahi.Lihat Selengkapnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eli&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/TSQbvmVGnyI/AAAAAAAADWg/px4J1nJNYMc/s1600/Elisa%2BOk.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 50px; height: 50px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/TSQbvmVGnyI/AAAAAAAADWg/px4J1nJNYMc/s200/Elisa%2BOk.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5558598344638897954" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;sa Octavia :&lt;br /&gt;Ayah, tandaen dung di catatan ini...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;De Ke&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/TSQcQ0r8g1I/AAAAAAAADWo/b7UjcgDCO7s/s1600/De%2BKemalawati.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 59px; height: 59px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/TSQcQ0r8g1I/AAAAAAAADWo/b7UjcgDCO7s/s200/De%2BKemalawati.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5558598915428483922" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;malawati terharu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oase&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/TSQcmwsMeQI/AAAAAAAADWw/zdyXh2ugjKw/s1600/Oase%2BS.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 50px; height: 50px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/TSQcmwsMeQI/AAAAAAAADWw/zdyXh2ugjKw/s200/Oase%2BS.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5558599292312910082" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Senja :&lt;br /&gt;Ayahku,puisimu selalu jadi yang terindah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lat&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/TSQfFtbU3AI/AAAAAAAADW4/Q-85gCqcB8s/s1600/Latifah.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 50px; height: 50px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/TSQfFtbU3AI/AAAAAAAADW4/Q-85gCqcB8s/s200/Latifah.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5558602023036050434" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;hifah Edib :&lt;br /&gt;Amazing!! Liwar bagusx!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;S&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/TSQfTHVXoKI/AAAAAAAADXA/8B5LPN_QrO0/s1600/Sari%2BWeh.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 50px; height: 50px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/TSQfTHVXoKI/AAAAAAAADXA/8B5LPN_QrO0/s200/Sari%2BWeh.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5558602253328687266" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;ari Weh Djayanti :&lt;br /&gt;indah dan damai,, sungguh luar biasa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mon&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/TSQgqkrq1OI/AAAAAAAADXg/qN7rp0m_iQo/s1600/Monique.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 50px; height: 50px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/TSQgqkrq1OI/AAAAAAAADXg/qN7rp0m_iQo/s200/Monique.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5558603755855467746" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;ique Wien'z :&lt;br /&gt;terpesona aku dibuatnya...begitu apik juga indah sekali,aku suka sekali,terima kasih bang sudah di tag,sungguh sampai tidak tau harus berkata apa,yang jelas,benar-benar mempesona ,sang yessica mas DAM yang selalu menggetarkan sukma. salam hormatku selalu..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ra&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/TSQgVAg76LI/AAAAAAAADXQ/G4loXZGXujc/s1600/Rama%2BPrab.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 50px; height: 50px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/TSQgVAg76LI/AAAAAAAADXQ/G4loXZGXujc/s200/Rama%2BPrab.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5558603385369520306" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;ma Prabu :&lt;br /&gt;istilah DAM_AI itu indah.....benar...ini serius...ini keyakinan dua hati yang memelihara adab persaudaraan....putri mayang bermandi mayang! tabik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Su&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/TSQhe-O0IPI/AAAAAAAADXo/Ow3RFHUxYV0/s1600/Surjemi%2BTj.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 50px; height: 50px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/TSQhe-O0IPI/AAAAAAAADXo/Ow3RFHUxYV0/s200/Surjemi%2BTj.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5558604656066961650" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;rjemi Tjakrawerdaya :&lt;br /&gt;Menyentuh. Catatan hebat *_*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ha&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/TSQh_EqPFTI/AAAAAAAADYA/gSLuWvaZWQA/s1600/Hambran.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 59px; height: 59px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/TSQh_EqPFTI/AAAAAAAADYA/gSLuWvaZWQA/s200/Hambran.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5558605207548400946" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;mberan Syahbana :&lt;br /&gt;Aku suka yg ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ka&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/TSQh1O2ivUI/AAAAAAAADX4/oIbW9kG4kDA/s1600/Kayla.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 50px; height: 50px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/TSQh1O2ivUI/AAAAAAAADX4/oIbW9kG4kDA/s200/Kayla.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5558605038485683522" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;yla Untara :&lt;br /&gt;manatp nah...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4648747481528843-5260009389890256177?l=ansepadang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ansepadang.blogspot.com/feeds/5260009389890256177/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4648747481528843&amp;postID=5260009389890256177' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4648747481528843/posts/default/5260009389890256177'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4648747481528843/posts/default/5260009389890256177'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ansepadang.blogspot.com/2011/01/nalam-buat-yessika.html' title='Nalam Buat Yessika'/><author><name>Arsyad Indradi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03282526078807458772</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/SQsSbmw_naI/AAAAAAAABwA/pVTsWzbU-Gc/S220/aku+5.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/TSQlXg0Ml0I/AAAAAAAADYI/dkr8EJGM3JM/s72-c/Fotoku%2B%2Blatar%2Bjelita.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4648747481528843.post-1784659300821881668</id><published>2011-01-04T03:26:00.006-08:00</published><updated>2011-01-04T05:01:46.379-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/TSMIK7m0w3I/AAAAAAAADSw/-EItKv0wHII/s1600/Rama%2BPrabu.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 125px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/TSMIK7m0w3I/AAAAAAAADSw/-EItKv0wHII/s200/Rama%2BPrabu.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5558295348997571442" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:130%;" &gt;Sekuntu&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:130%;" &gt;m P&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:130%;" &gt;agi Untuk Arsyad Indradi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;oleh Rama Prabu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;: arsyad indradi  [kado ulang tahun]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;malam mana yang tak melunaskan perjalanan panjangmu*)&lt;br /&gt;sedang fajar pagi menghitung jumlah sajakmu&lt;br /&gt;lewat jendela kamar dan hamparan kebun bunga&lt;br /&gt;sebelah rumah riwayat kata-kata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;nun ditimur&lt;br /&gt;dibalik sutra halimun*)&lt;br /&gt;gugusan bintang gemintang turun dirambutmu&lt;br /&gt;membasuh tetes risau dari rindu&lt;br /&gt;menyemayamkan jejak putih di uban wangimu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;wajah senjamu selalu bilang bagaimana esok hari&lt;br /&gt;aku mesti merangkai tubuhmu**)&lt;br /&gt;menjahit kelopak sunyi lewat isyarat seribu burung terbang&lt;br /&gt;lewat kalalatu yang mayang dipunggung kenang&lt;br /&gt;bunga kertas yang disulam jadi romansa&lt;br /&gt;dan berharap aku simpan di jambangan cinta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kini, tapak kaki dijalan puisi telah mendulang kasih abadi&lt;br /&gt;ritus-ritus putaran menetap dibebatu sunyi&lt;br /&gt;karena wajah senjamu telah berkata:&lt;br /&gt;dibalik rangkaian bahasa yang berlimpah maka disitulah dusta cinta ***)&lt;br /&gt;dimana kita menatah tebingnya jadi tiang tebu merah&lt;br /&gt;rahasia birahi seorang majnun ditaman kasih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;note:&lt;br /&gt;*) puisi sekuntum pagi, arsyad indradi, 1981&lt;br /&gt;**) puisi bunga kertas, aryad indradi, 1973&lt;br /&gt;***) puisi mendulang cinta, arsyad indradi, 1993&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bandung, 30 Desember 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Abdul Kohar Ibrahim, Dwi Klik Santosa, Yonathan Rahardjo dan 17 lainnya menyukai ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lemb&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/TSMJV7P4yKI/AAAAAAAADTA/W1pGAmjQO50/s1600/lembayung.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 50px; height: 50px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/TSMJV7P4yKI/AAAAAAAADTA/W1pGAmjQO50/s200/lembayung.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5558296637391554722" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;ayung Senja :&lt;br /&gt;Met pagi .... puisinya bagus ... jd ingat SEsuatu .... SYukron Mas Rama ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/TSMIurLH95I/AAAAAAAADS4/jorAB-l7HtY/s1600/Dimas.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 50px; height: 50px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/TSMIurLH95I/AAAAAAAADS4/jorAB-l7HtY/s200/Dimas.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5558295963061712786" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;mas Arika Mihardja :&lt;br /&gt;Rama Prabu aku terharu baca puisimu untuk sahabat batinku ini. Lantaran FB-ku bermasalah (tak bisa menulis note) aku numpang ngucapin selamat buat Abah ya? Jika berkenan, boleh kok disandingkan di pelaminan dengan puisimu yang indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ra&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/TSMKreOTi1I/AAAAAAAADTI/ME0eTrfo41U/s1600/Rama%2BPrab.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 50px; height: 50px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/TSMKreOTi1I/AAAAAAAADTI/ME0eTrfo41U/s200/Rama%2BPrab.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5558298107069041490" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;ma Prabu ‎#lembayung:&lt;br /&gt;selamat pagi..sejahtera pagi hingga siangmu..!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/TSMKreOTi1I/AAAAAAAADTI/ME0eTrfo41U/s1600/Rama%2BPrab.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 50px; height: 50px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/TSMKreOTi1I/AAAAAAAADTI/ME0eTrfo41U/s200/Rama%2BPrab.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5558298107069041490" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Rama Prabu ‎#ram DAM:&lt;br /&gt;duh kepanapa ya, tunggu saja beberapa saat...nanti juga akan pulih...sahaya akan pajang agar berdampingan cinta kita untuk abah..! sahabat batin...tabik....sehat sejahtera selalu..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/TSMIurLH95I/AAAAAAAADS4/jorAB-l7HtY/s1600/Dimas.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 50px; height: 50px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/TSMIurLH95I/AAAAAAAADS4/jorAB-l7HtY/s200/Dimas.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5558295963061712786" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;imas Arika Mihardja&lt;br /&gt;Duh kian haru, hanya judulnya tuh jadi Y...ESSIKA, edit dong hehehehehe makasig telah merepotkan. Aku kesal sejak kemarin tak bisa nulis....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/TSMJV7P4yKI/AAAAAAAADTA/W1pGAmjQO50/s1600/lembayung.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 50px; height: 50px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/TSMJV7P4yKI/AAAAAAAADTA/W1pGAmjQO50/s200/lembayung.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5558296637391554722" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Lembayung Senja :&lt;br /&gt;Amiiin ..... Allahumma ..... Amiiin YRA * met aktifitas .... semoga sukses sll untuk Mas Rama .... Amin *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ri&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/TSMMApW-NII/AAAAAAAADTY/VGchXxf8MlY/s1600/Rini%2BSanyoto.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 50px; height: 50px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/TSMMApW-NII/AAAAAAAADTY/VGchXxf8MlY/s200/Rini%2BSanyoto.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5558299570347062402" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;ni Sanyoto :&lt;br /&gt;selamat pagi kan Rama, menjelang akhir tahun dengan sajian yang indah......aku suka, menata tebing dan tenggelam disela gunung.... sungguh menginspirasi ...salam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;M&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/TSMLoO6FQeI/AAAAAAAADTQ/rUHcXBbvcMg/s1600/Mariska.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 50px; height: 50px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/TSMLoO6FQeI/AAAAAAAADTQ/rUHcXBbvcMg/s200/Mariska.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5558299150929707490" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;ariska Lubis :&lt;br /&gt;pagi yang cerah dan senyum di bibir merah... sejuta rasa bahagia... dalam pelukan... terima kasih cinta atas segala keindahan di pagi hari... heheheh...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/TSMKreOTi1I/AAAAAAAADTI/ME0eTrfo41U/s1600/Rama%2BPrab.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 50px; height: 50px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/TSMKreOTi1I/AAAAAAAADTI/ME0eTrfo41U/s200/Rama%2BPrab.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5558298107069041490" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Rama Prabu ‎#mas DAM: :&lt;br /&gt;dengan senang hati....! duh ada cinta lewat beragam cara...via inbox asik...tetap sampai di jantung sahabat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/TSMKreOTi1I/AAAAAAAADTI/ME0eTrfo41U/s1600/Rama%2BPrab.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 50px; height: 50px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/TSMKreOTi1I/AAAAAAAADTI/ME0eTrfo41U/s200/Rama%2BPrab.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5558298107069041490" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Rama Prabu ‎#lembayung: amin...!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/TSMKreOTi1I/AAAAAAAADTI/ME0eTrfo41U/s1600/Rama%2BPrab.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 50px; height: 50px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/TSMKreOTi1I/AAAAAAAADTI/ME0eTrfo41U/s200/Rama%2BPrab.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5558298107069041490" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Rama Prabu ‎#mb rini:&lt;br /&gt;tataan teging itu untuk sahabat...sekaligus pendahulu dalam jejak sajak...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/TSMKreOTi1I/AAAAAAAADTI/ME0eTrfo41U/s1600/Rama%2BPrab.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 50px; height: 50px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/TSMKreOTi1I/AAAAAAAADTI/ME0eTrfo41U/s200/Rama%2BPrab.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5558298107069041490" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Rama Prabu ‎#mb ML:&lt;br /&gt;senyum di bibir merah...ah...seperti biasa selamat pagi semua...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Her&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/TSMQWChVMXI/AAAAAAAADUY/ijt0cKF0XZo/s1600/heru.png"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 59px; height: 59px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/TSMQWChVMXI/AAAAAAAADUY/ijt0cKF0XZo/s200/heru.png" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5558304335925162354" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;u Marwata :&lt;br /&gt;Hm, benarkah di "... sebelah rumah riwayat kata-kata (RP) dan "... dibalik rangkaian bahasa yang berlimpah maka disitulah dusta cinta ***) (AI) "... kemarin, hari ini,dan esok" (Om DAM)?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wah ini benar-benar SINDIRAN yang sangat dahsyat Mas R...ama. Paduan 3 komposisi yang asyik. Ai laik dis.Lihat Selengkapnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurn&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/TSMNUWfyN6I/AAAAAAAADTw/RgrRHi2Jikk/s1600/kurniawan.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 50px; height: 50px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/TSMNUWfyN6I/AAAAAAAADTw/RgrRHi2Jikk/s200/kurniawan.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5558301008392763298" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;iawan Yunianto&lt;br /&gt;sebuah kepedulian .. kasih sayang seorang rama prabu kepada penulis pendahulu ... saluuut .. maturnuwun mas .. berkah rahayu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/TSMKreOTi1I/AAAAAAAADTI/ME0eTrfo41U/s1600/Rama%2BPrab.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 50px; height: 50px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/TSMKreOTi1I/AAAAAAAADTI/ME0eTrfo41U/s200/Rama%2BPrab.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5558298107069041490" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Rama Prabu ‎#mas heru:&lt;br /&gt;ya begitulah cinta kita pada seorang penyair yang telah mendedikasikan dirinya untuk jalan puisi...perpaduan hati sahaya dan Mas DAM yang sekarang fbnya sedang dalam problem....komposisi untuk saling menjaga hati..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rama Prab&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/TSMKreOTi1I/AAAAAAAADTI/ME0eTrfo41U/s1600/Rama%2BPrab.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 50px; height: 50px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/TSMKreOTi1I/AAAAAAAADTI/ME0eTrfo41U/s200/Rama%2BPrab.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5558298107069041490" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;u ‎#bung KY:&lt;br /&gt;ya, sebuah kepedulian cinta antara sesama pribadi yang mendedikasikan diri di jalur puisi...seperti kita..!rahayu juga!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yvonne De Fre&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/TSMOZ0GsNxI/AAAAAAAADUI/5beyD-y6O3A/s1600/yvonne.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 50px; height: 50px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/TSMOZ0GsNxI/AAAAAAAADUI/5beyD-y6O3A/s200/yvonne.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5558302201751549714" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;tes :&lt;br /&gt;puisi2 cantik dua sahabat...sy menikmatinya...selamat ya untuk abah sayang...selamat tahun baru mas rama ,mas dam, n semua teman...salam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/TSMKreOTi1I/AAAAAAAADTI/ME0eTrfo41U/s1600/Rama%2BPrab.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 50px; height: 50px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/TSMKreOTi1I/AAAAAAAADTI/ME0eTrfo41U/s200/Rama%2BPrab.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5558298107069041490" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Rama Prabu ‎#mb yvone:&lt;br /&gt;ya..bukti cinta kita pada semua...selamat tahun baru juga ya...!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dwi &lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/TSMRYkzPlaI/AAAAAAAADUo/_I3NQLzPmsA/s1600/dwi%2Bklik%2Bsantoso.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 50px; height: 50px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/TSMRYkzPlaI/AAAAAAAADUo/_I3NQLzPmsA/s200/dwi%2Bklik%2Bsantoso.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5558305478998463906" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Klik Santosa :&lt;br /&gt;sajak persembahan yang romantis ....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/TSMKreOTi1I/AAAAAAAADTI/ME0eTrfo41U/s1600/Rama%2BPrab.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 50px; height: 50px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/TSMKreOTi1I/AAAAAAAADTI/ME0eTrfo41U/s200/Rama%2BPrab.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5558298107069041490" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Rama Prabu DKS:&lt;br /&gt;begitulah kita saling mencintai dan manjaga harmoni....heee&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/TSMIurLH95I/AAAAAAAADS4/jorAB-l7HtY/s1600/Dimas.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 50px; height: 50px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/TSMIurLH95I/AAAAAAAADS4/jorAB-l7HtY/s200/Dimas.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5558295963061712786" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Dimas Arika Mihardja :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SAJAK YESSIKA UNTUK SUI LAN (Dimas Arika Mihardja)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sui lan berdiri di pelabuhan, melabuhkan kejora&lt;br /&gt;di dada Cinta. rambutnya tergelai sepanjang riak dan ombak&lt;br /&gt;menjilati pantai, meruak di cakrawala senja&lt;br /&gt;kabarkan padaku sui lan, jangan katakan "sialan"&lt;br /&gt;sebab aku meindukan bincang semalaman di pelataran&lt;br /&gt;di lobi hotel alia bersama diha, membaca puisi&lt;br /&gt;menatap lekat nyi gondosuli&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sui lan, lihatlah camar gemetar di tiang layar&lt;br /&gt;mendebur d keidalaman debar&lt;br /&gt;mekar di taman keindahan&lt;br /&gt;katakan padaku sui lan, pelabuhan itu&lt;br /&gt;tanah perkebunan sayur itu&lt;br /&gt;dan kerjap matamu&lt;br /&gt;terbit di ufuk timur,tak mau tenggelam di sela gunung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sui lan, ayo teus berjalan menyisir semenanjung&lt;br /&gt;atau jadi bunga bakung yang sederhana saja&lt;br /&gt;sebab usia kita sama, menyukai tiga rupa:&lt;br /&gt;kemarin, hari ini,dan esok&lt;br /&gt;larut dalam sajak yang penuh isak&lt;br /&gt;dan menyebutmu Bapak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bengkel puisi swadaya mandiri,30 desember 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;De &lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/TSMVf2rgWkI/AAAAAAAADUw/A-0H6B1r2lE/s1600/De%2BKemalawati.png"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 59px; height: 59px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/TSMVf2rgWkI/AAAAAAAADUw/A-0H6B1r2lE/s200/De%2BKemalawati.png" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5558310002103441986" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Kemalawati :&lt;br /&gt;Sui lan. . . Kepada siapa kusebut bapak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/TSMIurLH95I/AAAAAAAADS4/jorAB-l7HtY/s1600/Dimas.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 50px; height: 50px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/TSMIurLH95I/AAAAAAAADS4/jorAB-l7HtY/s200/Dimas.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5558295963061712786" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Dimas Arika Mihardja :&lt;br /&gt;Sui Lan adalah "kekasih abadi" Bapak Arsyad Indradi (Banjarbaru, Kalimantan Selatan) yang hari ini berulang tahun. Lantaran FB bermasalah tak bisa nulis catatan, puisi ini kukirim lewat inbox Arsyad Indradi sahabat batinku, ya dia itu Si Penyair Gila. Begitulah Deknong Kemalawati adikku. Persahabatanku dengan beliau tak lekang oleh panas dan tak lapuk oleh hujan. Abah Arsyad Indradi ini adalah juga "pacar" mbak Diha. Salam DAM, damai di hati ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/TSMVf2rgWkI/AAAAAAAADUw/A-0H6B1r2lE/s1600/De%2BKemalawati.png"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 59px; height: 59px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/TSMVf2rgWkI/AAAAAAAADUw/A-0H6B1r2lE/s200/De%2BKemalawati.png" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5558310002103441986" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;De Kemalawati&lt;br /&gt;Wah, selamat ultah pak Irsyad, dikirimi puisi begitu indah. Beruntung nian mengenal orang2 hebat seperti mbak Diha, mas Dimas dan kini pak Arsyad, semoga aku ketularan 'gila' kalian. Salam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/TSMIurLH95I/AAAAAAAADS4/jorAB-l7HtY/s1600/Dimas.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 50px; height: 50px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/TSMIurLH95I/AAAAAAAADS4/jorAB-l7HtY/s200/Dimas.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5558295963061712786" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Dimas Arika Mihardja :&lt;br /&gt;De Kemalawati, adikku yang akan "gila", abah Arsyad Indradi inilah yang menerbitkan buku 148 Penyair Menuju Bulan, buku setebal 728 halaman dibidani sendiri, dibiayai sendiri (dengan menjual sebidang tanah) hanya untuk memberi Kado Hari Jadi ke-7 Kota Banjarbaru dan Hari Ulang tahun beliau ke 57 (31 Desember 1949). Dengan buku itu lantas aku menyebutnya dengan "Penyair Gila", penyair Gaek yang tak mati-mati juga kreativitasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ham&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/TSMWG0FEc0I/AAAAAAAADVA/Qa1Cxxu93Bw/s1600/Hambran.png"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 59px; height: 59px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/TSMWG0FEc0I/AAAAAAAADVA/Qa1Cxxu93Bw/s200/Hambran.png" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5558310671420257090" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;beran Syahbana :&lt;br /&gt;O giti ya? Hehehe, aku baru tahu tu: kalau Sui Lan itu si Penyair Gila yang dari Banjarbaru itu. Burung camar di tiang layar itu tentunya Mas DAM ya?&lt;br /&gt;Kalau begitu:&lt;br /&gt;Kuucapkan selamat panjang umur buat sui lan dan&lt;br /&gt;berjuta selamat pagi aku ucapkan&lt;br /&gt;buat burung camar yang gemetar di tiang layar di pelabuhan&lt;br /&gt;sambil menunggu datangnya angin yang tak pernah bosan mengantarkan biduk kasmaran&lt;br /&gt;yang gemar mengarungi lautan demi lautan&lt;br /&gt;yang tak gentar menerjang ombak badai dan taupan&lt;br /&gt;yang pantang surut sebelum tiba di daratan&lt;br /&gt;pantai harapan yang didambakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/TSMIurLH95I/AAAAAAAADS4/jorAB-l7HtY/s1600/Dimas.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 50px; height: 50px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/TSMIurLH95I/AAAAAAAADS4/jorAB-l7HtY/s200/Dimas.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5558295963061712786" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Dimas Arika Mihardja :&lt;br /&gt;Pak Hamberan, apakah yang kita punya selain cinta dan setia pada makna kata dan tegur sapa? angin senja telah merisalahkan pengalaman berdekapan dan Pak Hamberan terus saja duduk di emperan menuliskan kata cinta itu. Duh,indahnya silaturahmi hati buat orang-orang terkasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/TSMVf2rgWkI/AAAAAAAADUw/A-0H6B1r2lE/s1600/De%2BKemalawati.png"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 59px; height: 59px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/TSMVf2rgWkI/AAAAAAAADUw/A-0H6B1r2lE/s200/De%2BKemalawati.png" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5558310002103441986" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;De Kemalawati&lt;br /&gt;aku terharu, apa yang aku dan teman2 Lapena buat hari ini belum apa2 dibandingkan abah Arsyad. Ternyata cermin di hadapanku makin lebar dan makin bening, aku melihat makin banyak orang2 di depanku berpeluh dan berotot terus menggali, menanam dan memupuk. . . Duh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ga&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/TSMXJFihMTI/AAAAAAAADVI/peQLd96Qiao/s1600/Galih.png"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 59px; height: 59px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/TSMXJFihMTI/AAAAAAAADVI/peQLd96Qiao/s200/Galih.png" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5558311809978544434" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;lih Sundari :&lt;br /&gt;Sui Lan,digerai rambutnya berjuntai desau rebana dengan pepujian syahdu,sebagaimana Putri Junjung Buih 'beterbangan' saat hendak meneguk tetes siraman jiwa dari Pancaran Arrasy.&lt;br /&gt;Didermaga Bandar Masih sang Suryanata memaknai tentang tiga rupa,usia yang sama dan trisakti.engkaukah itu duhai Sui Lan,Dam,Arsyad Indradi?&lt;br /&gt;Salam salimku pada yg 'GILA',&lt;br /&gt;Selamat Ulang tahun,semoga dalam berkahNYA slalu.Amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/TSMIurLH95I/AAAAAAAADS4/jorAB-l7HtY/s1600/Dimas.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 50px; height: 50px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/TSMIurLH95I/AAAAAAAADS4/jorAB-l7HtY/s200/Dimas.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5558295963061712786" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Dimas Arika Mihardja :&lt;br /&gt;Mbak Galih Sundari, untaian kata-katamu pagi ini menunjukkan betapa ada potensi kreatif di dirimu. Hayo jadilah kegilaan menulis untuk mengabadikan cinta,mengabarkan sikap bersetia pada kehidupan. Terima kasih ya? Salam 123 sayang semuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/TSMXJFihMTI/AAAAAAAADVI/peQLd96Qiao/s1600/Galih.png"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 59px; height: 59px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/TSMXJFihMTI/AAAAAAAADVI/peQLd96Qiao/s200/Galih.png" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5558311809978544434" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Galih Sundari :&lt;br /&gt;Oh Pak Dam,betapa hasrat bagai merapi namun harus me-lawu,terpasung dalam toleran cinta dari yang tercinta sbagai belahan jiwa.bekunya mega di gunung kota baru,memenjarakan liarnya imaji.maka hanya meliuk dikomen dan seadanya,sbagai penawar dahaga akan kegilaan.&lt;br /&gt;He.he.he,kusuka salam mesra njenengan,pak Dam.123 sayang semuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahmud&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/TSMYdThEVHI/AAAAAAAADVY/IlYhQsO09mM/s1600/mahmud.png"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 59px; height: 59px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/TSMYdThEVHI/AAAAAAAADVY/IlYhQsO09mM/s200/mahmud.png" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5558313256839566450" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Jauhari Ali Full :&lt;br /&gt;benar-benar persahabatan yang memesona. walau beda kota, jarak tak menjadi penghalang. mantap .... selamat ultah duhai Abah Arsyad Indradi ....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/TSMIurLH95I/AAAAAAAADS4/jorAB-l7HtY/s1600/Dimas.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 50px; height: 50px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/TSMIurLH95I/AAAAAAAADS4/jorAB-l7HtY/s200/Dimas.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5558295963061712786" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Dimas Arika Mihardja :&lt;br /&gt;Abah Arsyad, hapuskan air matamu, bersama Sui Lan engkau bisa kembali berlayar bermilyard jarak tempuh, jangan kuwatirkan kaki lepuh, kepulkan lagi sayap harap menyergap kekuatan dan semangatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ar&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/TSMY3HWtxkI/AAAAAAAADVg/bUl-UoEottE/s1600/Arsyad.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 50px; height: 50px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/TSMY3HWtxkI/AAAAAAAADVg/bUl-UoEottE/s200/Arsyad.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5558313700251518530" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;syad Indradi :&lt;br /&gt;Terima kasih Mas Dimas terima kasih kawan2 semua semoga kita selalu dalam lindungannya. Ditahun baru ini (2011) terus kita kibarkan semangat berkarya. Biarkan kita "gila" mengejar cahaya akanan itu tiada kan goyah tiada kan luntur. Yessika - Sui Lan dua jiwa satu raga,dua raga satu jiwa. 123 salam sastra semuanya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4648747481528843-1784659300821881668?l=ansepadang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ansepadang.blogspot.com/feeds/1784659300821881668/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4648747481528843&amp;postID=1784659300821881668' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4648747481528843/posts/default/1784659300821881668'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4648747481528843/posts/default/1784659300821881668'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ansepadang.blogspot.com/2011/01/sekuntu-m-p-agi-untuk-arsyad-indradi.html' title=''/><author><name>Arsyad Indradi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03282526078807458772</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/SQsSbmw_naI/AAAAAAAABwA/pVTsWzbU-Gc/S220/aku+5.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/TSMIK7m0w3I/AAAAAAAADSw/-EItKv0wHII/s72-c/Rama%2BPrabu.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4648747481528843.post-6427024082701462100</id><published>2010-11-25T08:31:00.000-08:00</published><updated>2010-11-27T23:55:06.353-08:00</updated><title type='text'>PELAJARAN SENIBUDAYA  SEKOLAH MENENGAH DI KALSEL MEMPERIHATINKAN.</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sejak dulu sampai sekarang sekolah menengah di Kalsel sangat sedikit  memiliki guru mata pelajaran seni budaya, sehingga mata pelajaran Seni Budaya banyak diberikan kepada guru yang bukan faknya.  Jadi wajar jika guru tersebut  sering  mendapat  kesulitan untuk membimbing, memberi contoh dalam praktik mata pelajaran tersebut.  Apa lagi  jarang sekali ada penataran, workshop atau pelatihan.. Tetapi ada juga sekolah yang maju seni budayanya  walau pun mata pelajarannya dipegang oleh guru mata pelajaran lainnya, karena guru tersebut.menyenangi seni dan selalu bergaul dengan pakar seni atau seniman, rajin mengikuti setiap perubahan k&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;urikulum,&lt;/span&gt; aktif menyusun RPP. Kepala sekolah dan orang tua murid ikut membantu  dan menunjang keperluan kemajuan seni budaya di sekolahnya.&lt;br /&gt;Yang ironis sekali banyak sekolah yang  mengabaikan dan berpandangan bahwa mata pelajaran seni budaya itu tidak penting. Tetapi yang dipentingkan adalah mata pelajaran yang ada  di Ujian Nasional. Disamping itu    masih banyak orang-orang yang belum mengikuti perubahan perkembangan kurukulum,  yang tahunya hanya  kurikulum 1994 yang komponen mata pelajaran Kerajinan Tangan dan Kesenian, yang sering disebut KTK atau Kertakes. Padahal  sekarang ini digunakan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;kurikulum KTSP&lt;/span&gt; komponen mata &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;pelajaran Seni Budaya (Seni Rupa, Seni Musik, Seni Tari dan Seni Drama). &lt;/span&gt;Untuk mengatasi kekurangan guru mata pelajaran Seni Budaya ini, setidak-tidaknya memadai, diharapkan pemerintah setiap tahun mengangkat  guru mata pelajaran seni budaya. seperti dalam Perda Prov.Kalsel No.6 Th.2009 Tentang Pemeliharaan Kesenian Daerah.BAB IV pasal (1) ayat (a),(b) dan (c).&lt;br /&gt;Pada tahun 2010 ini, formasi guru mata pelajaran untuk penerimaan CPNS sangat sedikit sekali. Dari 13 Kabupaten/Kota di Kalsel hanya HSU; 4 formasi S1 Pend. Kesenian Jur.Seni Musik/S1 Kesenian Jur.Seni Musik dan A-IV,  2 formasi untuk S1 Pend.Jur.Seni Tari/S1 Kesenian Jur.Seni Tari dan A-IV. HSS; 8 formasi untuk S1 Pend.Seni, BJB;12 formasi untuk S1 Pend.Seni Kerajinan dan BJM ; 9 formasi untuk  S1 Pend.Seni/S1 Seni dan A-IV (B.Post,6/11/2010).&lt;br /&gt;Disini akan kami kemukakan tentang kurikulum dan KTSP dengan harapan bahwa kita semua mengetahui dan memahami kurikulum yang digunakan di sekolah menengah. sekarang ini.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Apakah Kurikulum dan KTSP itu ?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kurikulum&lt;/span&gt; adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan  kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu (UU No. 20 Th. 2003 tentang Sisdiknas). KTSP (kurikulum tingkat satuan pendidikan) adalah kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidinkan. KTSP terdiri dari tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan, struktur dan muatan kurikulum tingkat satuan pendidikan, kalender pendidikan, dan silabus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kebijakan KTSP &lt;/span&gt;berlandaskan UU RI No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional yang mengatur KTSP, pasal 1,18,32, 35, 36 ,37,38 dan PPRI No.19 Tahun 2005 pasal 1,5,6,7,8,10,11,13,14,16,17,18 dan 20. Kebijakan Pengembangan Kurikulum ini berkaitan dengan Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan dalam Permen 22, Permen 23 dan Permen 24.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Komponen KTSP &lt;/span&gt;: &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(A) Tujuan &lt;/span&gt;Pendidikan Tingkat Satuan Pendidikan adalah meletakkan dasar kecerdasan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut,&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; (B)&lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Struktur dan Muatan KTSP &lt;/span&gt;: Mata pelajaran, Muatan lokal,Kegiatan Pengembangan Diri, Pengaturan Beban Belajar, Kenaikan Kelas, Penjurusan dan Kelulusan, Pendidikan Kecakapan Hidup, Pendidikan Berbasis Keunggulan Lokal dan Global, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(C) Kalender Pendidikan Satuan pendidikan&lt;/span&gt; : dapat menyusun kalender pendidikan sesuai dengan kebutuhan daerah, karakteristik sekolah, kebutuhan peserta didik dan masyarakat, dengan memperhatikan kalender pendidikan sebagaimana tercantum dalam Standar Isi, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(D)&lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Silabus&lt;/span&gt; : adalah rencana pembelajaran pada suatu dan/atau kelompok mata pelajaran/tema tertentu yang mencakup standar kompetensi, kompetensi dasar, materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator, penilaian, alokasi waktu, dan sumber/bahan/alat belajar. Silabus merupakan penjabaran standar kompetensi dan kompetensi dasar ke dalam materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian. Sebagai Landasan Pengembangan  Silabus ini pada PPRI No.19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan pasal 17 ayat (2) dan pasal 20. Di dalam silabus Mata Pelajaran Seni Budaya terdiri dari : Seni Rupa, Seni Musik, Seni Tari dan Seni Teater/Drama, dan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(E)  &lt;/span&gt;RPP ( Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ) : adalah rencana yang disusun menggambarkan prosedur dan pengorganisasian pembelajaran untuk mencapai satu kompetensi dasar yang ditetapkan dalam Standar Isi dan dijabarkan dalam silabus. Lingkup Rencana Pembelajaran paling luas mencakup 1 (satu) kompetensi dasar yang terdiri atas 1 (satu) indikator atau beberapa indikator untuk 1 (satu) kali  pertemuan atau lebih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Standar Isi (SI) Permendiknas No.22 Th.2006 yakni Struktur Kurikulum adalah sbb.:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Struktur Kurikulum SMP/MTs&lt;br /&gt;Komponen : Mata Pelajaran Seni Budaya&lt;br /&gt;Kelas dan Alokasi Waktu : VII, VIII  dan IX, masing-masing 2 jam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Struktur Kurikulum SMA/MA Kelas X  IPA&lt;br /&gt;Komponen : Mata Pelajaran Seni budaya&lt;br /&gt;Alokasi Waktu : SMT 1 dan SMT 2, masing-masing 2 jam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Struktur Kurikulum SMA/MA Kelas XI &amp;amp; XII IPS&lt;br /&gt;Komponen : Mata Pelajaran Seni budaya&lt;br /&gt;Kelas dan Alokasi Waktu : XI  (Smt.1 dan 2), XII (Smt.1 dan 2), masing-masing Smt : 2 jam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Struktur Kurikulum SMA/MA Kelas XI &amp;amp; XII IPS BAHASA&lt;br /&gt;Komponen : Mata Pelajaran Seni budaya&lt;br /&gt;Kelas dan Alokasi Waktu : XI  (Smt.1 dan 2), XII (Smt.1 dan 2), masing-masing Smt : 2 jam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Struktur Kurikulum SMA/MA Kelas XI &amp;amp; XII IPS AGAMA&lt;br /&gt;Komponen : Mata Pelajaran Seni budaya&lt;br /&gt;Kelas dan Alokasi Waktu : XI  (Smt.1 dan 2), XII (Smt.1 dan 2), masing-masing Smt : 2 jam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Struktur Kurikulum SMA/MA Kelas XI &amp;amp; XII SMK/MAK&lt;br /&gt;Komponen : Mata Pelajaran Seni budaya&lt;br /&gt;Kelas : X, XI, dan XII&lt;br /&gt;Alokasi Waktu : Jam Pelajaran Per Minggu  : 2 jam&lt;br /&gt;Durasi Waktu : 192 jam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERBANDINGAN STRUKTUR KURIKULUM SMP/MTs  :&lt;br /&gt;Kurikulum 1994 : Mata Pelajaran Kerajinan Tangan dan Kesenian : 2 jam&lt;br /&gt;Kurikulum 2004 (KBK) : Mata Pelajaran Kesenian : 2 jam&lt;br /&gt;Standar Isi (SI) : Mata Pelajaran Seni Budaya : 2 jam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERBANDINGAN STRUKTUR KURIKULUM SMA :&lt;br /&gt;Mata Pelajaran : Pendidikan Seni/ Seni Budaya&lt;br /&gt;Kur 1994 : Kls 1 : 2 jam. Kur 1994 : Kls 2 : 0 jam. Kur 2004 : Kls X : 2 jam&lt;br /&gt;Kur SNP : Kls X : 2 jam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah daerah (kabupaten/kota) selayaknya memperhatikan formasi yang tepat dan sesuai dengan kebutuhan kurikulum terbaru dalam menentukan penerimaan guru mata pelajaran. Dalam hal ini, untuk tingkat sekolah menengah, yang dibutuhkan adalah formasi guru mata pelajaran seni budaya, yang sebenarnya sesuai dengan kurikulum terbaru. Seperti kabupaten HSU, HSS, dan BJM yang telah menentukan formasi seni budaya dalam penerimaan CPNS tahun ini. Sedangkan, mata pelajaran kerajinan tangan dan kesenian untuk sekolah menengah adalah berdasarkan kurikulum 1994, yang saat ini sudah tidak berlaku lagi sebagaimana perbandingan kurikulum di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh, Mata Pelajaran Seni Budaya itu sama  pentingnya dengan pelajaran akademis, eksakta atau  pelajaran lainnya. Sebab Pendidikan seni budaya di sekolah bertujuan agar siswa mendapatkan pengalaman baik dalam berkarya, menciptakan konsep karya, berestetika,  membentuk karakter menjadi manusia yang berbudi luhur, memiliki apresiasi dan rasa seni di dalam kehidupannya. Oleh karena itu, guru mata pelajaran seni budaya seharusnya adalah orang yang sesuai dengan jurusannya, dalam hal ini sarjana seni budaya (seni musik, seni tari, seni rupa, dan seni drama).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedepannya diharapkan Kalsel memiliki perguruan tinggi baik jurusan Seni Rupa,Seni Musik, Seni Tari, Drama, dan  juga jurusan Seni Pedalangan/Karawitan Banjar, sehingga putra daerah yang minatnya besar terhadap seni tidak lagi  bersusah-susah  kuliahnya ke Jawa. Semoga ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banjarbaru,26 Nop.2010&lt;br /&gt;Arsyad Indradi&lt;br /&gt;(Mantan Pengawas Pelajaran Seni Budaya Disdik Kab.Banjar/Tim Pengembang Kurikulum Prov/nas, pengamat Seni dan Budaya,penyair.)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4648747481528843-6427024082701462100?l=ansepadang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ansepadang.blogspot.com/feeds/6427024082701462100/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4648747481528843&amp;postID=6427024082701462100' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4648747481528843/posts/default/6427024082701462100'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4648747481528843/posts/default/6427024082701462100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ansepadang.blogspot.com/2010/11/pelajaran-senibudaya-sekolah-menengah.html' title='PELAJARAN SENIBUDAYA  SEKOLAH MENENGAH DI KALSEL MEMPERIHATINKAN.'/><author><name>Arsyad Indradi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03282526078807458772</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/SQsSbmw_naI/AAAAAAAABwA/pVTsWzbU-Gc/S220/aku+5.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4648747481528843.post-6985801006676934482</id><published>2010-04-30T12:14:00.000-07:00</published><updated>2010-04-30T12:16:18.435-07:00</updated><title type='text'>Penerbitan Buku : Arsyad Indradi Melakoni Tradisi Ribuan Tahun</title><content type='html'>Esai:  A.Kohar Ibrahim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;FACE Book. Medio Oktober 2009, Batam,  aku terima kiriman buku dari  Banjarbaru Kalsel. Kongkretnya 5 buku hasil aktivitas-kreativitas seniman penulis penyair Arsyad Indradi, kelahiran Barabai 31 Desember 1949 dan yang  mendapat julukan:  Penyair Gila.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gila memang,” kesanku begitu, dalam makna memaknai ke-luar-biasa-annya.  Aku amat terkesankan oleh fakta fenomenal. Bahwa dalam millennium ketiga ini, di Nusantara, ada seorang penulis yang sedemikian rupa idealismenya demi melestarikan bukti kepenulisan diri sendiri maupun orang lain. Demi membuktikan sumbangannya bagi kekayaan kesusastraan Indonesia dan Dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukti pembuktian Arsyad Indradi dengan selain hasil tuliasan juga hasil pencetakannya berupa buku-buku. Hanya untuk menambah bukti kuat lagi akan kebenaran pepatah Perancis yang sering aku ulang bilang, bahwa ”la parole s’envole, l’ecrit reste”. Omongan mabur, tulisan tinggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukti pembuktian idealisme Arsyad Indradi yang melestari tradisi luhur kaum pembina peradaban manusiawiah sudah sejak beribu-ribu tahun lalu. Sejak zaman pahat-patrian-tulisan hieroglip, papirus dan lontar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukti pembuktiannya yang kongkrit, istimewa sekali berwujud Sepuluh Buku  dalam waktu satu tahun dua bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana? Salah seorang penulis, Harie Insani Putra, melukiskan kesaksiannya betapa Sang Penyair Gila itu  beraktivitas-kreativitas di rumahnya. Kesaksian akan  ”pemandangan buku-buku yang telah tersusun,  alat pemotongan kertas, bungkusan buku siap kirim, dan lembar-lembar kertas yang belum selesai dilipat. Di rumah sekaligus tempatnya memproduksi buku, AI  seperti sedang menyiapkan masa tua yang berencana.” Seusai masa tugasnya sebagai pegawai negeri, ”kepada bukulah ia akan mengabdi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Harie, sebenarnyalah julukan ’gila’ bagi Arsyad, ”tidak saja mengarah karena telah menerbitkan sepuluh buku, tetapi juga karena semua penerbitan buku  yang sudah ada dibiayai dari isi dompetnya sendiri, termasuk antologi puisi nusantara yang dalam satu bukunya berjumlah 728 halaman.... Selama mengerjakan semua buku, tak sekali dua jari tangannya tersayat pisau cutter. Utamanya pada saat  mata mulai terasa berat karena kurang tidur. Arsyad akan merasa puas jika buku yang diterbitkannya murni hasil kerja tangannya sendiri. Maka tahap demi tahap, mulai dari melayout, menyusun halaman, mencetak, melipat kertas. Sampai menjilid dilakukannya sendiri” jelas Harie, seperti tertera pada halaman 17 buku ”Risalah Penyair Gila”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gila. Memang. ”Dunia kepenyairan punya banyak ’orang gila’. Salah satunya Arsyad Indradi. Salah satu kegilaannya penyair senior Banjarbaru Kalsel ini adalah rela menjual tanahnya untuk membiayai penerbitan buku antologi puisi. Bukan buku sembarangan,” jelas Ahmadun Yosi Herfanda (hlm 23).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnyalah kisah penerbitan naskah tulisan seperti yang dilakoni Arsyad Indradi ini merupakan kisah historis kaum pencinta sekaligus pengabdi kesusastraan dari zaman ke zaman. Kisah perjuangan hidup kaum seniman dan budayawan yang universal. Perjuangan mewujudkan hak azasi untuk berekspresi, untuk eksistensi sekaligus melestari tradisi baik yang senantiasa berkesinambungan. Kesinambungan dari zaman penulisan ala hieroglip, papirus sampai lontar hingga zaman Revolusi teknik canggih komunikasi-publikasi dewasa ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dalam ragam cara dan nuansa perjuanagan yang bervariasi, dalam perjuangan melawan rintangan kekuasaan, bukankah secara hakiki seorang pujangga macam Pramoedya Ananta Toer pun melakoni upaya penerbitan hasil kreasinya sendiri? Pun di mancanegara, dalam periode yang relatip panjang dari dulu hinggaq sekarang, terbukti adanya penerbitan hasil karya tulis-menulis yang dilakoni dengan cara mandiri yang serupa. Seperti, antara lain, hasil terbitan 100 judul berupa majalah Kreasi, Arena dan Mimbar serta buku dan brosur lainnya. Semuanya diproduksi dalam jangka waktu 1989-1999. Dengan biaya pada pokoknya oleh pengelola atau para penulis sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar. Iya benarlah demikian adanya. Medio Oktober lalu saya langsung menerima kiriman 5 dari sekian banyak buku-buku Arsyad  Indradi. Yakni, masing-masing berjudul: Nyanyian Seribu Burung (Antologi Puisi, terbitan Kelompok Studi Sastra Banjarbaru, April 2006), Romansa Setangkai Bunga (Idem, Mei 2006), Narasi Musyafir Gila (Idem, Juni 2006), Puisi Bahasa Banjar dan Terjemahan Bahasa Indonesia (Idem, September 2006) dan Risalah Penyair Gila (Kumpulan Esai, idem, Agustus 2009).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih yang tak terhingga, Arsyad! Hasil aktivitas-kreativitaslah yang menjadi ukuran utama orang seseorang, istimewa sekali seniman, budayawan, sastrawan atau penyair. Aku yakin ini. Dikaupun tak terkecualikan.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anggreksari, Batam Oktober 2009.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan: Naskah disiar Facebook: Abdul Kohar Ibrahim.&lt;br /&gt;www.sumbaranew.com&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4648747481528843-6985801006676934482?l=ansepadang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ansepadang.blogspot.com/feeds/6985801006676934482/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4648747481528843&amp;postID=6985801006676934482' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4648747481528843/posts/default/6985801006676934482'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4648747481528843/posts/default/6985801006676934482'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ansepadang.blogspot.com/2010/04/penerbitan-buku-arsyad-indradi-melakoni.html' title='Penerbitan Buku : Arsyad Indradi Melakoni Tradisi Ribuan Tahun'/><author><name>Arsyad Indradi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03282526078807458772</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/SQsSbmw_naI/AAAAAAAABwA/pVTsWzbU-Gc/S220/aku+5.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4648747481528843.post-3244402636937149764</id><published>2010-04-30T12:09:00.000-07:00</published><updated>2010-04-30T12:12:58.523-07:00</updated><title type='text'>PUISI, ESTETIKA DAN MASYARAKAT</title><content type='html'>Abdul Hadi W. M.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saya minta maaf sebesar-besarnya kepada panitia oleh karena tidak dapat menumpukan pembicaraan kepada antologi yang dikirim kepada saya untuk dibahas dalam pertemuan ini. Alasannya sederhana, antologi tersebut baru saya terima seminggu sebelum saya berangkat ke Banjarmasin. Sungguh tidak mungkin saya dapat membaca antologi yang berisi lebih dari 100 sajak itu dalam waktu singkat. Kesibukan mengajar yang padat dalam hari-hari menjelang akhir semester juga  merupakan halangan tersendiri untuk membaca antologi tersebut dengan penuh perhatian. Sebagai gantinya saya pilih topik yang ligkup pembicaraannya lebih luas dan umum.Kendati demikian saya akan berusaha tidak melepaskan tanggung jawab  saya meyinggung sajak-sajak dalam antologi yang diterbitkan panitia.&lt;br /&gt;Estetika adalah satu hal, masyarakat pembaca puisi adalah lain hal. Tetapi keduanya bukannya tanpa kaitan dan tak saling berpengaruh.  Perkembangan sastra sendiri pada umumnya, dan perpuisian pada umumnya, banyak dipengaruhi corak-corak wawasan estetik yang dominan pada suatu masa dan juga oleh tinggi rendahnya apresiasi masyarakat serta selera sastranya. Dalam masyarakat yang apresiasi sastranya tinggi, dan tradisi puitiknya mantap serta terpelihara, dunia penulisannya akan cenderung subur. Darinya tidak sukar mengharapkan lahirnya karya-karya yang bermutu dan berbobot. Contohnya bisa dilihat di beberapa negeri Asia yang tradisi sastranya sudah lama berkembang dan tetap terpelihara di dunia modern, ditambah lagi apresiasi masyarakatnya yang tinggi seperti Jepang, India, dan Iran, sebagaimana juga Jerman, Inggeris, Perancis, dan Mesir.&lt;br /&gt;Dalam lingkait (konteks) pembicaraan ini, perlu saya jelaskan saya maksud dengan estetika.  Ia tidak saya maksudkan sebagai falsafah keindahan atau teori keindahan, melainkan wawasan cipta atau wawasan yang mendasari lahirnya sebuah puisi dengan corak dan semangatnya tersendiri bila dibanding dengan puisi lain yang kelahirannya didasari wawasan cipta berbeda. Dalam sebuah puisi ia dapat ditelusuri melalui ciri estetik ungkapannya, serta untuk fungsi apa penyair menggunakan bahasa atau kata-kata. Sebagai suatu yang sifatnya intuitif, ia tidak dapat kita ketahui secara jelas kecuali membaca puisi seorang penyair dan membandingkannya dengan puisi penyair lain.  Tetapi bagaimana pun juga ia selalu melatari penciptaan puisi, dan merupakan unsur utama dari apa yang disebut oleh Hagiwara sebagai shisheisin atau semangat puitik.&lt;br /&gt;Agar tidak bertele-tele marilah saya beri contoh berupa perbandingan sajak Amir Hamzah “Berdiri Aku” dan Chairil Anwar “Senja Di Pelabuhan Kecil”. Saya bandingkan sajak dua penyair ini oleh karena sebenarnya mereka berangkat dari prinsip yang sama. Bagi mereka menulis puisi bukanlah sekadar menyampaikan nasehat atau kritik, juga bukan sekadar bermain dengan kata-kata indah, dan juga lebih dari sekadar mengekspresikan diri, yaitu pikiran dan perasaan. Puisi bagi mereka adalah juga merupakan sejenis renungan terhadap pengalaman batin dan obyek-obyek yang membangkitkan intuisi mereka sehingga terdorong untuk memberi tanggapan. Puisi, dengan demikian, adalah juga merupakan renungan dan sekaligus tanggapan terhadap kondisi eksistensial yang dialami penyair. Keduanya juga meyakini bahwa kekuatan sebuah puisi yang genuine terletak pada bangunan citra (image), baik citra lihatan maupun citra simboliknya, dan metafora. Yang membedakan dua penyair ini ialah pandangan hidup, gambaran dunia, dan erlebnis (pengalaman hidup) masing-masing. Dengan kata lain yang membedakan ialah shiseishin atau semangat puitiknya.&lt;br /&gt;Dalam “Berdiri Aku” Amir Hamzah menulis, “Berdiri aku di senja senyap/Camar melayang menepis buih/Melayah bakau mengurai puncak/Berjulang datang ubur terkembang” (Bait 1) dan pada bait terakhir, “Dalam rupa maha sempurna/Rindu sendu mengharu kalbu/Ingin datang merasa sentosa/Mencecap hidup bertentu tuju”. Semangat puitik yang melatari puisi ini adalah religiusitas. Penyair merasa rumahnya yang sejati bukan di dunia ini, tetapi di alam metafisik. Inilah cirri penyair romantic atau neo-romantik, perasaannya melambung jauh ke  lam  tanzih (transcendental).&lt;br /&gt;Shiseishin Chairil Anwar berbeda. Dalam “Senja Di Pelabuhan Kecil” setidak-tidaknya ia tidak memiliki kerinduan seperti Amir Hamzah. Ia bertahan di rumah eksistensialnya walaupun harus berhadapan dengan sepi dan hampa: “Ini kali tidak ada yang mencari cinta/ di antara gudang, rumah tua, pada cerita/ tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut/ menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut/” (bait 1) dan pada bait terakhir” “Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan…”&lt;br /&gt;Contoh tersebut diberikan untuk menjelaskan bahwa wawasan estetik berbeda dengan semangat puitik atau kepenyairan. Secara sederhana apa yang disebut wawasan estetik di sini ialah  cara-cara penyair memperlakukan bahasa atau kata-kata dan untuk fungsi apa ia memperlakukan menurut caranya. Kita tahu bahwa pengucapan puitik adalah pengucapan tidak langsung menggunakan apa yang disebut bahasa figurative. Uunsur utama bahasa figurative (majaz)  ialah metafora, citra (image), simbol atau tamsil. Dengan itu puisi menjadi multi-tafsir, sebab ia adalah “makna yang menurunkan makna-makna”.&lt;br /&gt;Oleh karena itu fungsi kata dalam puisi tidak hanya mengandung makna referensial atau denotative, tetapi lebih jauh memiliki makna konotatif dan sugestif. Dikaitkan dengan wawasan estetik yang berkembang dalam tradisi sastra di mana pun, pandangan yang berbeda tentang bahasa/kata dalam pengucapan puitik lantas muncul tiga pandangan, atau katakanlah teori, tentang sastra/puisi. Pertama, pandangan bahwa sastra merupakan tiruan kenyataan. Pandangan ini dianut oleh kaum naturalis.  Kata-kata dalam pengucapan puitik ditafsirkan secara harfiah mengikut makna denotative atau referensialnya. Kedua, pandangan bahwa sastra/puisi adalah representasi dari obyek atau kenyataan dilihat dan dialami penulis. Kata-kata mulai dilihat mengandung makna knotatif. Ketiga, pandangan yang menyatakan bahwa sastra/puisi merupakan kias (sibolisasi) atas idea atau pengalaman estetik penyair. Dari pandangan ini lahir keyakinan bahwa kata-kata mengandung makna simbolik dan sugestif. Maka seperti itu berkaitan dengan pengalaman spiritual atau kenyataan transendental yang dialami penyair.&lt;br /&gt;Pandangan yang dominan dalam masyarakat ialah pandangan pertama. Pada umumnya masyarakat kita melihat  bahwa karya sastra merupakan tiruan atau representasi dari kenyataan. Karena itu dapat dimaklumi apabila mereka lebih mengapresiasi karya-karya yang tidak menuntut perenungan seperti sajak-sajak sosial. Kecenderungan ini tidak kecil pengaruhnya pada perkembangan puisi di Indonesia. Karena sajak-sajak sosial, baik yang mengandung pengajaran maupun yang mengandung kritik sosial lebih mudah dicerna dan memenuhi cita rasa estetik mereka, maka perkembangan sajak-sajak seperti sangat subur. Padahal untuk melahirkan sajak sosial yang bagus seperti sajk-sajak Rendra dan Taufiq Ismail, bukanlah suatu yang mudah.&lt;br /&gt;Agar mudah dicerna marilah saya jelaskan sebagai berikut.  Apabila dilihat dari sudut pandang wawasan estetik ada empat kecenderungan umum dalam melihat tujuan penulisan sastra atau puisi.&lt;br /&gt;Pertama, kecenderungan yang memandang bahwa fungsi puisi memberikan pengajaran atau menyajikan tanggapan terhadap kenyataan, khususnya kenyataan sosial. Sajak-sajak yang sarat kritik sosial termasuk dalam klasifikasi ini. Penyair yang memandang fungsi puisi seperti cenderung menjadikan kata-kata sebagai sarana pengungkapan keadaan yang ada dalam masyarakat atau menjadikan kata-kata untuk menyampaikan pengajaran. Tetapi yang berhasil melahirkan karya-karya yang bermutu seperti Rendra, Taufiq Ismail, Emha Ainunnadjib, pada akhirnya  berhasil disebabkan penguasaannya atas bahasa puitik, bukan oleh wawasan estetiknya. Hanya saja kebanyakan orang memandang bahwa menulis sajak seperti itu mudah disebabkan caranya memandang fungsi sastra seperto itu.&lt;br /&gt;Kedua, kecenderungan yang memandang bahwa sastra meruakan ekspresi diri, baik ekspresi diri kolektif maupun diri individual. Penyair yang memilih cara pandang seperti itu akan memperlakukan kenyataan dan obyek-obyek dalam kehidupan dan alam sebagai sarana pernyataan pikiran dan perasaan pribadinya. Sastra tidak lagi dipandang sebagai tiruan (imatasi) atau representasi dari kenyataan, melainkan sebagai pernyataan pengalaman, gagasan dan pikiran subyektif penyair dalam menanggapi kehidupan dan kondisi kemanusiaan. Pada tahap yang tinggi seperti terlihat pada sajak-sajak Amir Hamzah, Chairil Anwar, Sitor Situmorang, Subagio Sasrowardojo, Goenawan Mohamad, Sapardi Djoko Damono dan Sutardji Calzoum Bachri, yang dicapai bukan semata-mata ekspresi diri melainkan juga renungan yang mengandung nilai universal. Saya kutip sajak pendek Sutardji Calzoum Bachri:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Hari ke hari&lt;br /&gt;  Bunuh diri perlahan-lahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Hari ke hari&lt;br /&gt;  Luka bertimbun di badan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Maut menabungKu&lt;br /&gt;  Segobang segobang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, pandangan yang menyatakan bahwa puisi sebenarnya hanya permainan kata-kata atau cara membuat indah pengucapan. Pandangan ini tampak dalam puisi yang mengandalkan kekuatannya pada ornamentasi (alamkara Sanskerta) atau kemahiran memainkan kata-kata, termasuk menguir kata-kata. Sajak-sajak panjang Taufiq Ismail banyak menggunakan prinsip ini. Dalam cara dan dengan semangat puitik lain prinsip ini tampak dalam sajak-sajak Amir Hamzah dan Sutardji Calzoum Bachri. Sajak-sajak dengan gaya seperti ini banyak ditemui di Indonesia.&lt;br /&gt;Keempat, pandangan yang berpendirian bahwa sebenarnya puisi lebih dari sekadar permainan kata dan ekspresi diri. Ia juga adalah hasil renungan penyair terhadap pengalaman batin dan kondisi kemanusiaan yang dihayatinya dalam kehidupan sosialnya. Hampir semua penyair terkemuka di Indonesia melahirkan puisi semacam itu walaupun dalam kadar berbeda-beda. Amir Hamzah, Chairil Anwar, Subagio Sastrowardojo, Goenawan Mohamad, Sapardi Djoko Damono, dan Sutardji Calzoum Bachri, melahirkan banyak puisi seperti itu. Penyair seperti Rendra, Taufiq Ismail, Zawawi Imron, dan lain-lain tak begitu banyak melahirkan puisi seperti itu.&lt;br /&gt;Karena masing-masing memerlukan cara pemahaman yang berbeda-beda, dalam mengapresiasi dan menilainya kita harus menggunakan landasan teori, metode, dan kaedah estetik yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abdul Hadi W. M.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Abdul Hadi W. M. (Wiji Muthari)  adalah gurubesar  Universitas Paramadina Jakarta  dalam bidang Falsafah dan Pewradaban. Lahir di Sumenep,&lt;br /&gt;Madura pada 24 Juni 1946, dia memperoleh pendidikan di Fakultas Sastra dan Kebudayaan, Universitas Gajah Mada dan Fakultas Filsafat di universitas yang sama. Gelar Ph. D. diperoleh di Pusat Pengajian Ilmu Kemanusiaan,  Universiti Sains Malaysia, P. Pinang. Tahun 1973-74 mengikuti International Writing Program di University of Iowa, Iowa City, Amerika Serikat. Selain mempelajari kesusastraan Melayu/Indonesia dan Falsafah Barat, dia juga mempelajari kebudayaan dan kesusastraan Timur.  Sebagai penyair dia telah menhadiri berbagai pertemuan penyair dan sastrawan internasional di Inggeris, Nederland, Jerman, Perancis, Amerika Serikat, Korea Selatan, Jepang, Filipina, Iraq, Iran, Turki, Libya, Malaysia, Thailand dan lain-lain.&lt;br /&gt; Dari tahun 1968 hingga 1990 berturut-turut dia menjadi redaktur tabloid Gema Mahasiwa (UGM) dan Mahasiswa Indonesia (Bandung), kemudian majalah dan jurnal Budaya Jaya, Dagang &amp;amp; Industri dan Ulumul Qur`an. Sejak tahun 1979 hingga 1990 menjadi pengasuh tetap lembaran “Dialog” Berita Buana, sebuah ruang kebudayaan yang sangat terkemuka di tanah air. Tahun 1982-1986 menjadi Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta dan 1987-1990 menjadi Ketua Dewan Kesenian Jakarta. Antara tahun 1991-1997  dia menjadi penulis tamu dan sekaligus pengajar di Universiti Sains Malaysia. Setelah kembali ke Indpnesia dia mernadi Ketua Dewan Kurator Bayt al-Qur’an dan Museum Istiqlal, serta anggota Lembaga Sensor Film. Sejak tahun 1998 dia mengajar di Universitas Paramadina, dan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia. Sejak tahun 2005 diminta mengajar di ICAS (Islamic College for Advanced Study) London cabang Jakarta.&lt;br /&gt;  Puisi dan esai-esainya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggeris, Perancis, Jerman, Belanda, Spanyol, Jepang, Korea, Cina, Arab, Urdu, Turki, Bengali, Thai dan lain-lain. Antologi puisinya yang telah diterbitkan antara lain ialah Riwayat, Laut Belum Pasang, Potret PanjangPengunjung Pantai Sanur, Cermin, Meditasi, Tergantung Pada Angin, Anak Laut Anak Angin,  Pembawa Matahari dan Madura, Luang Prabhang, dan lain-lain. Dia banyak menerjemahkan karya para pengarang dunia seperti Goethe, William Blake, Iqbal, Hafiz, Rumi, Ibn `Arabi, TS Eliot, Octavio Paz, Li Po, dan lain-lain. Karya terjemahannya antara lain Kehancuran dan Kebangunan: Puisi Jepang Sesudah Perang; Ruba’iyat Omar Khayyam; Kumpulan sajak Iqbal: Pesan Kepada Bangsa-bangsa Timur; Faust I karya Goethe; Pesan Dari Timur karya Iqbal, dan lain-lain.&lt;br /&gt; Di antara bukunya tentang sastra sufi dan estetika ialah Rumi, Sufi dan Penyair; Sastra Sufi, Sebuah Antologi; Hamzah Fansuri: Risalah Tasawuf dan Puisi-puisinya; Iqbal, Pemikir Sosial Islam dan Sajak-sajaknya (bersama Djohan Effendy); Islam: Cakrawala Estetik dan Budaya dan, Tasawuf Yang Tertindas: Kajian Hermeneutik terhadap Karya-karya Hamzah Fansuri (disertasi PH. D.); Hermeneutika, Estetika dan Religiusitas (2004); Adab dan Adat: Refleksi Sastra Nusantara (Bersama Edwar Djamaris dan Amran S. Tasai).  Sebagai penyair dan penulis esai terkemuka Abdul Hadi W. M. Telah memperoleh beberapa penghargaan antara lain:  Hadiah Buku Puisi Terbaik Dewan Kesenian Jakarta 1978; Anugerah Seni Pemerintah RI  cq Departemen Pendidikan dan Kebudayaan 1979; SEA Write Award (Hadiah Sastra ASEAN) dari Kerajaan Thailand 1985; Hadiah Buku Terbaik Yayasan Buku Utama 2001; Hadiah MASTERA (Majlis Sastra Asia Tenggara) di Kuala Lumpur, 2003.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4648747481528843-3244402636937149764?l=ansepadang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ansepadang.blogspot.com/feeds/3244402636937149764/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4648747481528843&amp;postID=3244402636937149764' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4648747481528843/posts/default/3244402636937149764'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4648747481528843/posts/default/3244402636937149764'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ansepadang.blogspot.com/2010/04/puisi-estetika-dan-masyarakat.html' title='PUISI, ESTETIKA DAN MASYARAKAT'/><author><name>Arsyad Indradi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03282526078807458772</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/SQsSbmw_naI/AAAAAAAABwA/pVTsWzbU-Gc/S220/aku+5.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4648747481528843.post-7934214903854393218</id><published>2009-01-20T10:20:00.001-08:00</published><updated>2009-01-20T10:22:57.735-08:00</updated><title type='text'>MEMANFAATKAN INTERNET DI DUNIA SASTRA</title><content type='html'>: Arsyad Indradi  ( Maungkai gagasan Sainul Hermawan ketika di Aruh Sastra Kalsel III        &lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;                              di Kotabaru )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama ini sastrawan telah memanfaatkan media cetak untuk menampilkan karya – karyanya seperti buku, koran atau pun majalah. Maka, di era  globalisasi yang melaju pesatnya perkembangan teknologi ini, apa salahnya kalau kita juga ikut serta memanfaatkan teknologi ini sebagai salah satu media alternatif  untuk  menampilkan karya – karya sastra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita dapat memprediksikan kedepannya, bahwa peranan komputer dan teknik multimedia yang saling mendukung ini akan terus meningkat dan akan menjadi alat yang paling dominan dalam kehidupan manusia. Lebih – lebih lagi munculnya  internet yang menjadi alat yang penting dalam era globalisasi. Melalui internet arus informasi menyebar dengan pesat, lengkap dan mudah didapat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat perkembangan kesastraan di tanah air akhir – akhir ini yang memanfaatkan internet atau sering juga disebut dunia maya  sangat menakjubkan. Dari penyair pemula sampai tokoh – tokoh sastrawan Indonesia telah memanfaatkan internet baik dalam bentuk fisik arena situs website, mailing-list mau pun spam emails.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Situs – situs yang bermunculan untuk mewadahi kreativitas para sastrawan, seperti www.cybesastra.net. Situs yang dibentuk oleh yayasan Multimedia mampu menjadi wadah yang memadai. Yayasan ini telah menerbitkan dua buku yang meterinya diambil dari karya – karya yang disumbangkan seniman pada situs tersebut, baik berupa cerita pendek, puisi maupun esai. Dan telah meluncurkan Graffiti Imaji kumpulan cerita pendek yang memuat 83 karya yang dipilih oleh Sapadi Djoko Damono, Yanusa Nugroho, dan Anna Siti Herdiyanti.  Juga situs www.bumimanusia.or.id yang bergerak di bidang sastra, telah menghasilkan beberapa karya yang dicetak antara lain antologi cerpen Puthut E.A yang berjudul Sebuah Kitab yang Tak Suci, dan Beatniks, puisi – puisi Nurudin Asyhadie, dan Bumi Manusia 1: Ini …Siskus Senyum. Belum terhitung dengan terbitnya beberapa jurnal yang sebelumnya telah melewati sistem penyeleksian melalui editorial situs tersebut. Para sastrawan yang cukup dikenal dan setia di dalam berprosespun, banyak yang sudah terlibat di dalam pengukuhan karya – karya para sastrawan di dunia&lt;br /&gt;internet. Tak kurang beberapa nama seniman yang cukup lama dikenal ikut mendukung fenomena sastra internet di media masa. Para penulis itu antara lain Eka Darma Putra, F.Rahardi, Sobron Aidit dan Medy Loekito.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Medy Loekito, penyair dan Ketua Yayasan Multimedia Sastra di situs www.cybersastra.net memaparkan bahwa manusia telah menciptakan dunia yang berlimpah informasi dibandingkan degan masa-masa sebelumnya. Filosofi baru, baik filosofi secara umum, maupun mengenai sastra dan nilai estetika, diperlukan untuk menyiasati perkembangan yang terus terjadi. Dalam hal ini, computer dan media internet memegang peran penting dalam membentuk opini global. Definisi suatu filosofi baru tidak perlu dikarang dan ditetapkan oleh seseorang atau kelompok orang saja, tetapi semua manusia dapat berperan menyusun filosofi bersama. Dengan menggunakan email atau hypertext program dalam internet, dan tentunya perangkat komputer, setiap manusia dapat menyumbangkan buah pikirannya. Buah - buah pikiran  ini dapat diolah menjadi suatu keputusan yang sahih dan berlaku universal, tetapi dapat juga dibiarkan sebagaimana adanya dan boleh dibaca atau dihayati oleh pembaca lain sesuai dengan situasinya masing – masing. Penyumbang saran memiliki kebebasan untuk berpendapat. Pembaca memiliki kebebasan untuk memilih informasi atau opini sesuai kebutuhan. Dan semua pergerakan ini tidak lagi membutuhkan legalisasi usia, pendidikan, jabatan, domisili, maupun gender.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Evolusi teknologi dapat menjadi pendamping hidup yangt nyaman apabila manusia dapat mengerti sifat dan karakter teknologi tersebut. Komputer, multimedia,cyber serta internet, diciptakan untuk membantu manusia, bukan hanya dalam hal entertainment, tetaqpi juga dalam hal sastra. Insan sastra seyogyanya dapat mendayagunakan benda – benda tersebut untuk melestarikan sejarah masa lalu, tanpa perlu menutup diri bagi masa depan yang bagaimanapun juga tetap akan tiba. Segala kemudahan dan kemungkinan yang disediakan oleh teknologi, sebaiknya dapat diterima dengan sederhana tanpa menyederhanakan fungsi dan pemakaiannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Media internet dapat memberi ruang yang cukup leluasa bagi  karya-karya sastra, baik puisi, esai maupun cerpen dari cerpen yang berbentuk sangat mini atau sangat panjang. Dapat menjadi wadah berekspresi dan wadah pendokumentasian karya sekaligus mempublikasikannya.  Di media internet dapat ditambahkan berupa gambar – gambar ilustrasi, latar suara atau musik, gambar bergerak atau  animasi, kreasi header atau banner dan lain – lain sehingga memberi daya tarik bagi pengunjungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Promosi sastrawan lewat dunia maya ini sangatlah efektif dan murah, karena siapa saja bisa mengunjungi situs  tersebut tanpa dikenai biaya. Para sastrawan tentu saja dapat lebih leluasa untuk  mempublikasikan dan mensosialisasikan  karya - karyanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai ilustrasi saya kemukakan pemanfaatan internet lainnya adalah kita ingin minta informasi ambil saja contoh ingin mengetahui biodata saya, kita tinggal menyelusuri www.google.com dengan menuliskan Biodata Arsyad Indradi  maka tersedialah permintaan itu. Ini pernah dilakukan oleh sekelompok siswa SMA Telkom Banjarbaru sehubungan tugas yang diberikan sekolahnya untuk membuat makalah tentang penyair Banjarbaru. Juga ada beberapa teman saya yang kebetulan berada di luar negeri ingin mengetahui alamat saya bahkan nomor hp saya, tinggal menuliskan nama saya di www.google.com. Saya sering dihubungi baik langsung mau pun sms oleh guru – guru mata pelajaran Bahasa Indonesia  untuk meminta informasi Penyair Indosesia dan Penyair Kalimantan Selatan, saya beritahukan klik saja http://penyairnusantara dan http://penyair-kalsel.blogspot.com Dan juga ada beberapa guru muatan local ingin mengetahi sastra daerah Banjar seperti Lamut, madihin dan mamanda, saya sarankan klik http://sastrabanjar.blogspot.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disamping sastra media cetak, sastra internet pun melejit dalam perkembangan kesastraan Indonesia. Beberapa karya Sapardi Djoko Damono, Goenawan Muhammad, Eka Budianta, Sutardji Calzoum Bachri, Rendra, Emha Ainun Nadjib, Dorothea Rosa Herlina, D.Zawawi Ibron, Agus R Sarjono, Jamal D Rahman, Sobron Aidit, Saut Situmorang, Afrizal Malna, Sitor Situmorang, Ahmadun Yosie Herfanda , Medy Loekito&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;serta banyak nama lagi dapat kita temui di sana. Karya – karya mereka tidak hanya dimuat oleh situs lembaga kesenenian tetapi juga seperti http://www.lontar.org, http://lallement.com, http://www.poetry.com, http://www.geocities.com, www.tripod.com, www.angelfire.com,  www.theglobe.com, http://penyairnusantara.blogspot.com, www.bumimanusia.or.id pada mailinglist seperti penyair@groups.com, puisikita@egroups.com serta banyak lagi yang dapat kita temui situs – situs pribadi. Pembuatan situs individu ini banyak berkembang di tengah kemudahan yang ditawarkan oleh para industrialis internet, antara lain dengan memberikan penyimpanan gratis content situs – situs, seperti  blogspot, wordpress, multiply dan lain – lain. Di mailinglist banyak menyajikan diskusi sastra dan penampilan karya sastra yang berlangsung duapuluhempat jam sehari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecenderungan pengguna internet ini tentu saja karena kemudahan, kenyamanan dan  hemat biaya. Kecenderungan para pengguna internet untuk mencari informasi dengan mudah dan biaya murah ini bersambut dengan kecenderungan para “ sastrawan internet “ yang tidak mengharapkan honor dari tulisannya di internet. Banyak penulis di internet yang menyuguhkan esai serta karya – karya sastra yang tak kalah bagus dengan artikel di media cetak. Seperti Maman S Mahayana, Deo Et Patria, Saut Situmorang, Sobron Aidit, Hersri Setiawan dan lain – lain. Banyak penulis Indonesia  yang kebetulan berada di luar negeri dapat menjalin silaturahmi, saling berbagi karya melalui mailinglist dan situs dengan penulis di tanah air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat perkembangan sastra yang memanfaatkan internet terutama sastrawan di Pulau Jawa, Sumatera, Sulawesi, Bali dan pulau lainnya begitu pesat, sastrawan Kalimantan Selatan juga tak ketinggalan  memanfaatkan media internet. Kita sebut saja  Harie Insani Putra – http://hariesaja.wordpress.com, Sandi Firly-http://sfirly.wordpress.com, Hudan&lt;br /&gt;Nur – http://hudannur.blogspot.com, Isuur Loeweng – http://loweng08.worpress.com,  Fahruraji Asmuni – http://wwwkaryaraji.blogspot.com, Farah Hidayat – http://farah.multiply.com, Zulfaisal Putera – http://zulfaisalputera.wordpress.com,&lt;br /&gt;, Aliansyah Jumbawuya – http://padepokanpena.wordprees.com, Hasbi Salim – http://hasbisalim.wodpress.com, Ratih Ayuningrum –  http://ratihayuningrum.wordpress.com,  Sainul Hermawan – http://blogsainulh.wordprees.com Lebih jauh Sainul memanfaatkan blognya untuk keperluan perkuliahan. Dan saya mempunyai situs http://penyairnusantara.blogspot.com, http://penyair-kalsel.blogspot.com, http://sastrabanjar.blogspot.com, dan http://arsyadindradi.blogspot.com. Pada situs penyair nusantara, saya buatkan blog untuk penyair tiap provinsi se Indonesia berjumlah 36 blog dan 400 penyair yang tergabung dan tiap minggu masih masuk ke email saya. Pada penyair Kalsel saya buatkan blog tiap kota dan kabupaten berjumlah 13 blog dan 75 penyair.  Tetapi ada beberapa blog seperti Tanah Bumbu, Tanah Laut, HST dan Balangan masih kosong. Saya masih menunggu penyair – penyair kabupaten yang belum mengisi blog-blog yang kosong tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita menyadari kendala di daerah kemungkinan sulitnya masuk jaringan internet dan  minimnya warnet. Dan disamping itu memasuki dunia maya ini memang diperlukan pengetahuan penguasaan teknis internet. Tetapi saya yakin ini ada solusinya yang pertama  adalah memiliki minat dan kemauan keras. Yang kedua mengadakan work shop atau pelatihan internet yang bekerjasama dengan Speedy Telkom dan Blogger Kalsel “Kayuh Baimbai”. Sebaiknya Aruh Sastra Kalsel V di Balangan ini merekomendasikan yang kedua ini untuk tahun 2009. Mudah – mudahan kendala ini dapat diatasi. Sementara ini  saya menawarkan kirimkan saja karya puisi - puisinya ke email saya merayusukma49@yahoo.co.id atau lewat post kealamat saya Jalan Pramuka No.16 RT 03 RW 07 Banjarbaru 70711 dan akan saya muat diblog dimasing – masing blog Kabupaten/Kota yang sudah saya sediakan yaitu pada http://penyair-kalsel.blogspot.com&lt;br /&gt;Demikian tulisan singkat ini yang dapat saya sampaikan semoga ada manfaatnya. Salam Sastra. ( Tautan : http://infoperpus.8m.com, http://beritaseni.wordpress.com, http://www.cybersastra.net,http://nanangsuryadi.blogspot.com,http://pewarta.kabarindonesia.blogspot.com, http://yaya.com, http://www.mail.archive.com, http://www.titiknot.com )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4648747481528843-7934214903854393218?l=ansepadang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ansepadang.blogspot.com/feeds/7934214903854393218/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4648747481528843&amp;postID=7934214903854393218' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4648747481528843/posts/default/7934214903854393218'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4648747481528843/posts/default/7934214903854393218'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ansepadang.blogspot.com/2009/01/memanfaatkan-internet-di-dunia-sastra.html' title='MEMANFAATKAN INTERNET DI DUNIA SASTRA'/><author><name>Arsyad Indradi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03282526078807458772</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/SQsSbmw_naI/AAAAAAAABwA/pVTsWzbU-Gc/S220/aku+5.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4648747481528843.post-1430449492522132448</id><published>2009-01-20T10:15:00.000-08:00</published><updated>2009-01-20T10:19:29.113-08:00</updated><title type='text'>Menghayati Peran Komunitas Sastra</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Akhirnya pesta itu usai. Sebuah pesta sastra yang melibatkan sekitar 500 orang peserta. Mereka adalah sastrawan (penyair, esais, cerpenis, dan kritikus) bersama para penggemar sastra dan guru bahasa Indonesia. “Meningkatkan Peran Komunitas Sastra Sebagai Basis Perkembangan Sastra Indonesia”, demikian tema yang digelar. Sepanjang tiga hari kegiatan berlangsung demikian padat di gedung DPD Kudus. Sungguh sayang bila dilewatkan begitu saja.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Kongres yang diselenggarakan oleh Komunitas Sastra Indonesia (KSI) di hari pertama, 19 Januari 2008, memang untuk kepentingan internal. Acara itu merupakan suksesi tiga tahunan, namun baru kali ini diadakan secara besar-besaran. Terpilih sebagai Ketua KSI periode 2008-2011 adalah Ahmadun Yosi Herfanda yang sehari-hari bekerja sebagai redaksi budaya harian Republika di Jakarta. Ia menggantikan Iwan Gunadi, ketua yang telah memberikan sedikit warna pada model organisasi. Selanjutnya, KSI akan menyiapkan struktur yang terlepas dari yayasan agar dapat bergerak lebih leluasa dan berkembang secara profesional. Kongres telah menghasilkan rekomendasi yang berisi sikap kritis dan kreatif terhadap kondisi politik, sosial, dan budaya akhir-akhir ini. Rekomendasi tersebut dibacakan oleh Diah Hadaning pada malam berikutnya seusai serah terima jabatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada malam pertama, panggung diisi dengan penampilan Sujiwo Tejo, Sutardji Calzoum Bachri, dan Mustofa Bisri (Gus Mus). Peserta dari lokal begitu bahagia mendapatkan kesempatan menonton seniman yang selama ini mereka kagumi. Penampilan Fatin Hamama, anggota KSI yang membuka cabang di Kairo, sangat memukau Thomas Budi Santoso, penyair sekaligus pejabat di PT. Djarum. Perusahaan rokok itulah, melalui program Djarum Bakti Pendidikan, yang menjadi sponsor kegiatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari kedua, 20 Januari 2008, sejak pagi hingga menjelang maghrib, digelar 4 sesi seminar dengan tema yang berbeda. Kesempatan pertama digunakan untuk melirik sastra lokal yang berkembang di Indonesia. Dengan tema “{Perayaan Komunitas Sastra di Daerah”. menampilkan pembicara Idris Pasaribu untuk menyampaikan sastra yang tumbuh di Sumatera. Mukti Sutarman SP, sastrawan dari Kudus, membahas pertumbuhan sastra di Jawa Tengah. Untuk daerah Kalimantan, diwakili oleh Micky Hidayat. Seperti yang pernah dibahas dalam kongres cerpen di Pekanbaru tiga tahun silam,  potensi sastra daerah patut dijaga dan dikembangkan sebagai aset budaya yang memperkaya khazanah  kesastraan tradisional Indonesia.    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesi kedua menyoroti komunitas sastra sebagai basis ideologi kesusastraan. Sebagai pembicara, Dendy Sugono dari Pusat Bahasa, Aji Suyitno dari Lemhanas, Ahmadun Yosi Herfanda, dan Shiho Sawai sebagai pengamat sastra komunitas. Shiho adalah mahasiswa dari Jepang yang sedang melakukan riset dan kuliah di tingkat doktoral Sastra Indonesia Universitas Gajah Mada Yogyakarta. Menurut Dendy, saat ini, sastrawan harus memiliki kemampuan yang kompetitif, selain cerdas dan kreatif. Ahmadun berpendapat, bahwa dalam sebuah komunitas, anggotanya tidak selalu berkarya dengan ideologi yang sama. Sangat menarik kesimpulan Shiho Sawai tentang komunitas. “Komunitas yang anggotanya menganut satu ideologi dan berkarya secara seragam hanyalah mitos.” Kenyataannnya memang demikian, bahwa para penyair ataupun cerpenis yang tergabung dalam satu komunitas tidak serta-merta memiliki pandangan yang sama dalam menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Korrie Layun Rampan dan Maman Mahayana (semestinya bersama dengan Budi Darma, namun berhalangan) membicarakan tentang estetika dalam sastra komunitas. Masing-masing menyampaikan semacam kritik terhadap beberapa penghargaan sastra yang dianggap tidak mewakili kualitas. Dalam kesempatan itu, Maman Mahayana menyayangkan praktik pemilihan buku terbaik dalam anugerah sastra Khatulistiwa Literary Award karena proses penjuriannya sangat aneh. Korrie menyampaikan menyampaikan keprihatian adanya sejumlah sastrawan lokal dengan pencapaian karya yang baik secara makna maupun estetika, tapi tidak mendapat kesempatan untuk menonjol misalnya melalui kegiatan sastra yang berskala nasional. Mereka adalah mutiara tersembunyi yang harus dilibatkan agar potensinya muncul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada sesi terakhir, bertema “Sastra sebagai Kebutuhan Pembaca”, menampilkan pembicara Habibirrahman El-Shirazy dan Saut Situmorang (sementara Arswendo Atmowiloto tak dapat hadir). Keduanya berangkat dari titik tolak yang berbeda. Kang Abik (panggilan Habiburrahman) menulis novel Ayat-Ayat Cinta dengan membayangkan dirinya sebagai pembaca yang harus menyukai bacaannya. Mungkin resep itulah yang membuat buku itu sampai naik cetak 29 kali dan kini telah beredar sebanyak 400.000 eksemplar. Best seller untuk Asia Tengga !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saut Situmorang menganggap seseorang yang baru menulis sekali dan dimuat di media massa, tidak layak disebut sebagai penyair atau cerpenis. Tidak semudah itu menjadi sastrawan, apalagi jika tidak mendalami atau memahami teori sastra. Menanggapi pertanyaan peserta tentang masyarakat Indonesia yang malas membaca, Saut berpendapat bahwa ada perbedaan kultur yang melatarbelakangi hal itu. Perbandingan,menurutnya harus sesuai dengan konteks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam kedua, sejumlah penyair membacakan puisi mereka. Fikar W. Eda, Wijang Warek, Arsyad Indradi, Gunoto Saparie, dan Jose Rizal Manua. Penyair Solo, Sosiawan Leak, memukau dengan puisi “Dunia Bogam Bola”. Malam itu Thomas Budi Santoso juga naik ke panggung. Para peserta acara mendapatkan 3 buku yang diluncurkan pada pesta sastra itu: (1) Tesaurus Bahasa Indonesia susunan Eko Endarmoko, (2) Komunitas Sastra Indonesia, Catatan Perjalanan, dan antologi puisi yang berbagi dua penyair:(3) Nyanyian Sepasang Daun Waru dan DuniaBogam Bola.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di pengujung acara, pada hari ketiga, seluruh peserta diajak wisata budaya oleh panitia. Mula-mula seluruh rombongan dibawa ke pabrik rokok Djarum Kudus. Di sana, di depan buruh pabrik, beberapa penyair di antaranya Chavchay Syaifullah dan Saut Situmorang, membaca puisi. Setelah itu, rombongan dibawa ke Menara Kudus dan Museum Kretek. Menjelang tengah hari, rombongan mampir ke pusat jenang Kudus untuk memberi kesempatan membeli oleh – oleh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, akhirnya pesta sastra itu selesai. Pertemuan yang telah memberi kesempatan silaturahmi para sastrawan dari berbagai daerah. Acara yang dihadiri oleh para wartawan, penerbit, dan para wakil komunitas itu memberi kesan mendalam. Dalam pesta itu pula para peserta disuguhi menu khas Kudus, misalnya lenthok (sejenis kupat tahu dengan kuah bersantan ), asem – asem daging, juga soto Kudus tentu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tunggu kegiatan kami berikutnya,” kata Wowok Hesti Prabowo sebagai Ketua Panitia. “Kami akan menyelenggarakan pertemuan penulis internasional dan KSI Award.” Sebagai komunitas yang telah berusia 11 tahun (sejak September 1996), sudah waktunya untuk memberikan sumbangan terhadap kemajuan sastra Indonesia juga dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Kurnia Effendi) --- Parle Online www.tabloid Parle.com&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4648747481528843-1430449492522132448?l=ansepadang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ansepadang.blogspot.com/feeds/1430449492522132448/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4648747481528843&amp;postID=1430449492522132448' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4648747481528843/posts/default/1430449492522132448'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4648747481528843/posts/default/1430449492522132448'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ansepadang.blogspot.com/2009/01/menghayati-peran-komunitas-sastra.html' title='Menghayati Peran Komunitas Sastra'/><author><name>Arsyad Indradi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03282526078807458772</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/SQsSbmw_naI/AAAAAAAABwA/pVTsWzbU-Gc/S220/aku+5.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4648747481528843.post-679114589194262222</id><published>2008-06-14T11:35:00.000-07:00</published><updated>2008-06-14T11:36:56.222-07:00</updated><title type='text'>Mengapa  Wayag Orang Banjar  dinamakan Wayang Gung ?</title><content type='html'>Oleh : Arsyad Indradi&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kalau kita runut dari beberapa arti yang berkembang kata wayang berarti bayang – bayang.. Wayang Kulit, yang kita saksikan adalah bayang – bayang dari wayang itu dari balik kelir yang dihidupkan oleh blincong ( lampu ). Namun dalam perkembangannya lahir sebuah bentuk kesenian baru yaitu Wayang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Orang. Wayang dilakonkan oleh orang. Di Jawa dikenal dengan Wayang Wong.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Mengapa wayang orang di Tanah Banjar dinamakan “ Wayang Gung “&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;? Secara analogi mungkin Wayang Gung itu sebagai bentuk lain dari Wayang Gong&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;di Jawa atau terjadi perubahan bunyi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;“ W “ ke “ G “ pada kata “ Wong “ dan “ Gung “.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tetapi berubahan bunyi tersebut kecil kemungkinannya sebab tidak ada peristiwa bahasa yang mirip seperti itu. Dan kedua kata “ Wong “ ( Jawa )&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan “ Gung “ ( Banjar ) tidak memiliki hubungan makna.sama sekali. Kata “ Gung “&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dalam bahasa Banjar&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;adalah salah satu instrumen gamelan Banjar yakni “ Agung “. Bunyi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;agung ini&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;adalah sebagai penutup irama dari bunyi – bunyian instrumen gamelan tersebut. Ada kemungkinan, gerak igal ( tari ) dalam Wayang Gung &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;sangat ditentukan oleh satuan bunyi pukulan agung, sehingga ada kecenderungan penyebutan Wayang Gung ini sebagai pengaruh gerakan pelakonnya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang mendasarkan gerakannya pada bunyi “ Gung “. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Gung ( Agung )&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dalam&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;budaya Banjar, dianggap keramat. Konon,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Lambung Mangkurat pergi ke Kerajaan Majapahit meminta Putra Majapahit yang bernama Raden Putera, yang sebenarnya tidak berwujud manusia, yang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;akan dijadikan suami Putri Junjuung Buih di Kerajaan Negara Dipa. Sesampainya di Kerajaan Dipa, Raden Putera memasuki istana dengan “ bajajak “ ( berpijak )&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;di atas agung. Seketika itu Raden Putera berubah wujud menjadi manusia yang sempurna berwajah tampan, yang kemudian berganti nama yaitu Pangeran Surianata. Sejak saat itu “ Gung&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;“ dipandang memiliki &lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;mitos sebagai alat menjelmakan Raden Putera yang tidak berwujud manusia hingga menjadi manusia yang sempurna. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Jadi kemungkinan besar sebutan Wayang Gung ini ada kaitan erat dengan pengaruh gerakan pelakon Wayang Gung yang berdasarkan gerarakannya pada bunyi “ Gung “&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan juga ada hubungan makna “ Gung “ pada peristiwa &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Raden Putera menjadi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;orang ( manusia ).di samping ada kemungkinan lain bahwa adanya pengejawantahan tokoh – tokoh dengan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;karakter yang “ Agung “ { besar ) pada Wayang Gung. Tokoh Agung ini sebagai simbol kebaikan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang dapat mengalahkan keangkaramurkaan. Dengan tiga tesa ini sebutan &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;“ Wayang Gung “ populer di dalam masyarakat Banjar. *******&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4648747481528843-679114589194262222?l=ansepadang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ansepadang.blogspot.com/feeds/679114589194262222/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4648747481528843&amp;postID=679114589194262222' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4648747481528843/posts/default/679114589194262222'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4648747481528843/posts/default/679114589194262222'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ansepadang.blogspot.com/2008/06/mengapa-wayag-orang-banjar-dinamakan.html' title='Mengapa  Wayag Orang Banjar  dinamakan Wayang Gung ?'/><author><name>Arsyad Indradi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03282526078807458772</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/SQsSbmw_naI/AAAAAAAABwA/pVTsWzbU-Gc/S220/aku+5.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4648747481528843.post-4089403512599563079</id><published>2008-06-14T11:31:00.000-07:00</published><updated>2008-06-14T11:52:39.801-07:00</updated><title type='text'>Sekilas Menjenguki Wayang Gung</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Oleh : Arsyad Indradi&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Diperkirakan munculnya kesenian Wayang Gung di Tanah Banjar pada&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;abad ke XVIII atau sekitar tahun 1760 M. Raja Banjar mempunyai hubungan erat dengan raja – raja di Pulau Jawa terutama Demak dan Mataram, sekitar abad ke XV. Hubungan inilah&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kesenian dan kebudayaan Jawa masuk ke Kalimantan. Kesenian ini antara lain adalah Wayang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Orang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt; Wayang Orang ( Wayang Wong – Jawa ) sangat berkenan di hati suku – suku Kalimantan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;khususnya masyarakat Banjar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Bermula, kesenian wayang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;hidup hanya di Keraton Banjar saja, namun lama kelamaan wayang ini menyebar ke luar keraton yaitu ke masyarakat Banjar secara meluas. Menyebarnya Wayang Orang ini karena masyarakat Banjar&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;memandang Wayang sebagai lambang hidup dan kehidupan manusia. Wayang mempunyai unsur – unsur filosofis hidup dan kehidupan, memiliki bahasa simbol yang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;bersifat kerohanian. Apalagi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Wayang Purwa yang berkembang itu adalah memiliki mitos Sunan Kalijaga yang bermuatan ajaran filsafat Islam. Masyarakat Banjar umumnya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;masyarakat Melayu Banjar yang beragama Islam tak heran&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kesenian Wayang cepat berkembang di masyakarat Banjar ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Wayang Orang yang dikenal dalam masyarakat Banjar adalah Wayang Gung. Wayang Gung merupakan kreativitas kreator “ Dalang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Banjar “ dari adaptasi Wayang Wong. Wayang Gung pada akhirnya &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;mempunyai ciri khas&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;atau versi Banjar, dari segi teknik garapan ,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;gamelan, kostum, propertis, gerak&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;igal ( tari ), bahasa pengantar dan struktur pergelaran, walapun masih ada idiom – idiom&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dari Wayang Wong ( Jawa ).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 0, 0);"&gt;Wayang Gung mempunyai lima fungsi yaitu :&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Pertama&lt;/span&gt;, &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;sebagai hiburan. Wayang Gung&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dipergelarkan manakala acara hiburan peringatan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;hari – hari besar&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;baik nasional maupun daerah, acara perkawinan dan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;paska panen padi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;Kedua&lt;/span&gt;, &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;fungsi Didaktis. Wayang Gung merupakan media strategis&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;untuk menyampaikan pesan – pesan yang bersifat edukatif&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pada masyarakat Banjar. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;Ketiga&lt;/span&gt;, &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;berfungsi Filosofis. Wayang Gung banyak memiliki ajaran-ajaran mistis dalam kehidupan manusia. Mistis ini bersifat filosofis yakni berhubungan keduniaan ( lahiriah ) dan mental spritual ( batiniah ). Orang menyaksikan pertunjukan Lakon&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Wayang Gung&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sebagai refleksi diri. Banyak falsafah &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;dan bahasa simbol hidup dan kehidupan yang dapat dipetik untuk kesadaran batin. Mitos ini diejawantahkan dalam hidup dan kehidupan sehari – hari.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;Keempat&lt;/span&gt;, berfungsi Nazar. Pertunjukan Wayang Gung&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;atas permintaan seseorang &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;atas terkabulnya maksud atau rencana seseorang itu. Nazar ini harus dipenuhi, menurut kepercayaan masyakarat Banjar kalau tidak dipenuhi akan terjadi malapetaka bagi penazarnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;Kelima,&lt;/span&gt; berfungsi ritual ( magis ). Wayang Gung diselenggarakan untuk maksud mengusir penyakit atau pun&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;bencana. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);"&gt;Dalam pergelaran Wayang Gung mempunyai bentuk empat struktur babakan. Babakan ini merupan inti struktur alur. Struktur babakan ini yaitu :&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt;Pertama&lt;/span&gt;, Mamucukani. Yaitu babakan tuturan permulaan kisah dalam bentuk sindin. dan dialog. Ada tiga dalang yang terdiri dari Dalang Sejati, Dalang Pangambar dan Dalang Utusan. Fungsi Dalang Pangambar dan Dalang Utusan adalah melengkapi tutur dari Dalang Sejati.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt;Kedua&lt;/span&gt;, Sidang Jajar. Adalah babakan sidang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kerajaan dari para satria kerajaan membahas suatu peristiwa yang berhubungan dengan masalah – masalah yang dihadapi kerajaan tersebut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt;Ketiga&lt;/span&gt;, Konflik. Dalam babakan ketiga ini perang atau pertempuran antara tokoh baik dengan tokoh jahat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt;Keempat,&lt;/span&gt; Bapacah. Adalah babakan antiklimak dari konflik. Biasanya dalam Wayang Gung&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;selalu disajikan happy Ending atau kemenangan dipihat kebaikan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Wayang Gung umumnya mengangkat cerita dari epos Ramayana tetapi ada juga menyajikan seperti tarian daerah atau dialog – dialog yang bersipat humor, dan memasukkan unsur&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pesan – pesan lain yang bersifat carangan yang disesuaikan dengan suasana penonton.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Umumnya pelakon dari Wayang Gung merupakan pelakon yang khusus artinya setiap tokoh dilakonkan oleh pelakon tertentu. Misalnya tokoh Hanoman dilakonkan oleh seseorang yang benar – benar menggeluti dan menghayati perilaku atau karakter tokoh Hanoman. Begitu juga tokoh Dasamuka ( Rahwana )&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dilakonkan oleh pelakon tertentu dan seterusnya. Tak jarang kelompok Wayang Gung mengambil pelakon dari&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kelompok Wayang Gung yang lain karena pelakonnya berhalangan. Oleh karena itu&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kelompok Wayang Gung yang terkenal karena kelompok ini banyak mempunyai pelakon yang khusus atau pelakon yang profisional.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kalau kita amati sejarah perjalanan Wayang Gung Banjar di&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kalimantan khususnya Kalimantan Selatan, sudah dua abad umurnya. Dengan usia yang panjang ini Wayang Gung telah memperkaya khasanah seni tradisional&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;di Kalimantan khususnya masyarakat Banjar Kalimantan Selatan. Maka Wayang Gung perlu diwariskan dengan generasi masa kini agar mereka tidak terserabut dari akar budaya nenek moyangnya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tampaknya, di era globalisasi ini nasibnya tak berbeda dengan Wayang Kulit Banjar yang kian hari kian dilupakan orang, pada gilirannya tak mustahil akan musnah ditelan zaman. Siapa yang bertanggung jawab ? ***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4648747481528843-4089403512599563079?l=ansepadang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ansepadang.blogspot.com/feeds/4089403512599563079/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4648747481528843&amp;postID=4089403512599563079' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4648747481528843/posts/default/4089403512599563079'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4648747481528843/posts/default/4089403512599563079'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ansepadang.blogspot.com/2008/06/sekilas-menjenguki-wayang-gung.html' title='Sekilas Menjenguki Wayang Gung'/><author><name>Arsyad Indradi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03282526078807458772</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/SQsSbmw_naI/AAAAAAAABwA/pVTsWzbU-Gc/S220/aku+5.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4648747481528843.post-8394242302169732899</id><published>2008-05-31T06:16:00.000-07:00</published><updated>2008-05-31T06:21:48.224-07:00</updated><title type='text'>SEKILAS MENGENAL TEATER TRADISIONAL KALSEL “MAMANDA”</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 75.5pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 75.5pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;Oleh : Arsyad indradi&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 75.5pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 57.5pt; text-align: justify; color: rgb(102, 0, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Salah satu teater tradisional Kalsel yang masih bisa bertahan hidupnya adalah&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;“ Mamanda “. Mengapa demikian ? Sebab cerita dari Mamanda&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;memang mengasyikkan tak kalah dengan cerita sinetron atau film.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Walau pun tokoh-tokoh dalam Mamanda “ baku “ namun dapat ditambah tokoh-tokoh lain dengan cerita yang lain, artinya cerita mamanda dapat diciptakan sesuai dengan perkembangan jaman. Apa lagi durasi pertunjukkan mamanda jang semula semalam suntuk sekarang disesuaikan dengan permintaan, maksudnya bisa durasinya 3 jam&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;atau 5 jam. Istemewanyanya Mamanda, bisa dimainkan dengan sebuah naskah yang utuh seperti terater modern atau hanya dengan mengatur cerita seperti garis besar cerita, babakan dan plot, sedangkan dialog dikenal dengan istilah impropisasi. Pemain – pemain Mamanda memang dikenal keahliannya berimpropisasi. Tokoh-tokoh mamanda yang baku itu adalah Raja, Mangkubumi, Wazir, Perdana Menteri,Panglima Perang, Harapan Pertama, Harapan kedua, Khadam, Permaisuri, Anak Raja ( bisa putri atau Pangeran ). Tokoh-tokoh lain sesuai cerita misalnya Raja dari Negeri lain, Anak Muda, Perampok,Jin, Belanda, atau nama dari daerah lain ( Jawa, Cina, Batak, Madura atau lainnya ). Seperti juga di teater modern, sebelum pertunjukkan dimulai akan dibacakan sinopsisnya, di mamanda dipaparkan lewat “ Baladon “. Baladon adalah tutur cerita dengan dibawakan berlagu dan gerak tari. Cerita mamanda bisa berkolaburasi dengan seni tari atau musik. Yakni setelah kerajaan selesai bersidang maka akan ditampilkan pertunjukkan tari dengan maksud menghibur raja dengan segenap aparat kerajaan atau ketika &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;kerajaan menang perang diadakan pertunjukkan hiburan tari atau&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;musik panting. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 57.5pt; text-align: justify; color: rgb(102, 0, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 57.5pt; text-align: justify; color: rgb(102, 0, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Asal mula Mamanda&lt;/span&gt; adalah Badamuluk ketika rombongan bangsawan Malaka ( Abdoel Moeloek atau Indra Bangsawan, 1897 M ) yang dipimpin oleh Encik Ibrahim dan isterinya Cik Hawa, menetap di Tanah Banjar beberapa bulan mengadakan pertunjukkan. Teater ini begitu cepat populer di tengah masyarakat Banjar. Setelah beradaptasi, teater ini melahirkan sebuah teater baru bernama “ Mamanda “.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Mamanda mempunyai pengertian “sapaan”&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kepada orang yang dihormati dalam sistem kekerabatan atau kekjluargaan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 57.5pt; text-align: justify; color: rgb(102, 0, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 57.5pt; text-align: justify; color: rgb(102, 0, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Mamanda mempunyai dua aliran.&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;Pertama&lt;/span&gt; : Aliran Batang Banyu. Yang hidup di pesisir sungai daerah Hulu Sungai yaitu di Margasari. Sering juga disebut Mamanda Periuk. &lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt;Kedua &lt;/span&gt;: Aliran Tubau bermula tahun 1937 M. Aliran ini hidup di daerah Tubau Rantau. Sering dipentaskan di daerah daratan. Aliran ini disebut juga Mamanda Batubau. Aliran ini yang berkembang di Tanah Banjar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 57.5pt; text-align: justify; color: rgb(102, 0, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 57.5pt; text-align: justify; color: rgb(102, 0, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Pertunjukkan Mamanda mempunyai nilai budaya &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Yaitu pertunjukkan Mamanda disamping merupakan sebagai media hiburan juga berfungsi sebagai media pendidikan bagi masyarakat Banjar. Cerita yang disajikan baik tentang sejarah kehidupan, contoh toladan yang baik, kritik sosial atau sindiran yang bersifat membangun, demokratis, dan nilai-nilai budaya masyarakat Banjar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 57.5pt; text-align: justify; color: rgb(102, 0, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 57.5pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 0, 0);"&gt;Bermula, Mamanda mempunyai pengiring musik yaitu orkes melayu dengan mendendangkan lagu-lagu berirama melayu, sekarang beralih dengan &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;iringan musik&lt;/span&gt; &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;panting &lt;/span&gt;dengan mendendangkan &lt;span style="color: rgb(102, 51, 255);"&gt;Lagu Dua Harapan, Lagu Dua Raja, Lagu Tarima Kasih, Lagu Baladon, Lagu Mambujuk, Lagu Tirik, Lagu Japin, Lagu Gandut ,  Lagu Mandung-Mandng, dan Lagu Nasib.&lt;/span&gt; ********&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4648747481528843-8394242302169732899?l=ansepadang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ansepadang.blogspot.com/feeds/8394242302169732899/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4648747481528843&amp;postID=8394242302169732899' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4648747481528843/posts/default/8394242302169732899'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4648747481528843/posts/default/8394242302169732899'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ansepadang.blogspot.com/2008/05/sekilas-mengenal-teater-tradisional.html' title='SEKILAS MENGENAL TEATER TRADISIONAL KALSEL “MAMANDA”'/><author><name>Arsyad Indradi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03282526078807458772</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/SQsSbmw_naI/AAAAAAAABwA/pVTsWzbU-Gc/S220/aku+5.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4648747481528843.post-5932398921486404395</id><published>2008-05-25T00:28:00.000-07:00</published><updated>2008-05-25T00:42:37.192-07:00</updated><title type='text'>TARI TIRIK KUALA</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: -9pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;              &lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 204, 204);" lang="IN"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 37.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 204, 204);" lang="IN"&gt;Gerak – gerak tari tirik sebenarnya bersumber pada tari Gandut yang berasal &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;dari daerah Pandahan Kabupaten Tapin, seperti Tirik Kuala, Tirik Lalan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 204, 204);" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;lain – lain. Lambat laun gerak tirik ini mengalami perubahan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pariasi gerak &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;atau kreasi baru yang disesuaikan dengan perkembangan zaman dan kondisi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt; setempat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 37.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 204, 204);" lang="IN"&gt;Tari Tirik Kuala ini bermula bernama Tari Tirik DF ( Djakarta Fair ). Mengapa dinamakan Tirik DF ?&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Pada akhir tahun&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;1971, kesenian tari Kalimantan Selatan diundang untuk mengikuti Festival atau Parade tari daerah&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dalam acara Open Ceremony Djakarta Fair 1971. Pada waktu itu ada tiga Provinsi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang hadir yaitu Provinsi Kalimantan Selatan, Provinsi Aceh dan Provinsi Sulawesi Utara. Untuk menampilkan tarian daerah Kalimantan Selatan, maka berkumpullah pelatih – pelatih tari Banjarmasin seperti Rustam AA, Bachtiar Sanderta, Ismail Effendi, Norman Sirat, Arsyad indradi, Ibramsyah Barbary, Nirmala, Dewi, Aisyah&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;dan beberapa pelatih lainnya untuk mengolah sebuah tarian berjenis tari tirik.. Setelah tarian ini rampung maka sementara waktu dinamakan Tirik DF. Peserta tari ini berjumlah 125 penari dari utusan daerah Kabupaten se Kalimantan Selatan berkumpul di Banjarmasin dengan mengadakan latihan selama satu bulan.dengan mengambil tempat di Aula Pemda Provinsi Kalsel. Dan perancang musik oleh Anang Ardiansyah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 37.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 204, 204);" lang="IN"&gt;Sekembali dari festival, Tari Tirik DF ini berganti nama dengan Tari Tirik Kuala karena tari ini sangat pesat perkembangannya di daerah kuala.Tari Tirik Kuala, merupakan sebuah tarian pergaulan muda-mudi masyarakat Kalimantan Selatan dan bersifat romantis. Seperti juga tarian pergaulan lainnya, Tari Tirik Kuala disamping sebagai tari pergaulan dan hiburan, sekaligus pula dimanfaatkan sebagai media mencari jodoh.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 37.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 204, 204);" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 37.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 204, 204);" lang="IN"&gt;Arsyad Indradi _________________________________*****&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 204, 204);" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 37.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 204, 204);" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 37.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 204, 204);" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 37.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 204, 204);" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 37.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 204, 204);" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 37.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 204, 204);" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4648747481528843-5932398921486404395?l=ansepadang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ansepadang.blogspot.com/feeds/5932398921486404395/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4648747481528843&amp;postID=5932398921486404395' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4648747481528843/posts/default/5932398921486404395'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4648747481528843/posts/default/5932398921486404395'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ansepadang.blogspot.com/2008/05/tari-tirik-kuala.html' title='TARI TIRIK KUALA'/><author><name>Arsyad Indradi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03282526078807458772</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/SQsSbmw_naI/AAAAAAAABwA/pVTsWzbU-Gc/S220/aku+5.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4648747481528843.post-6110407434663824591</id><published>2008-05-25T00:26:00.000-07:00</published><updated>2008-05-25T00:28:22.935-07:00</updated><title type='text'>TARI JEPEN ( JAPIN ) KUALA</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 204, 255);" lang="IN"&gt;Seiring masuknya agama Islam ke Tanah Banjar&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pada abad XV yakni Kerajaan Banjar masuk Islam, berkembang pula kesenian Islam seperti tari Japin. Tari Japin ini begitu digemari oleh masyarakat Banjar terutama daerah pesisir Sungai Martapura. Lambat laun menyebar ke daerah Banjar Hulu yaitu daerah Hulu Sungai. Japin mengalami perkembangan menjadi beberapa macam Japin seperti Japin Kuala, Japin Sisit, Japin Anak Delapan, Japin Rantawan dan sebagainya. Walaupun Japin bermacam – macam namun ciri khas Japin tidak hilang seperti gerak dasar step 4, tahtul, sisit dan lain – lain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 204, 255);" lang="IN"&gt;Mengapa Tarian ini dinamakan Tari Japin Kuala ? Sebab Tari Japin ini berasal atau tumbuh dan berkembang di daerah pesisir Sungai Martapura atau sering dinamakan daerah kuala. Tari Japin Kuala merupakan tari pergaulan muda – mudi di daerah Banjar, yang melukiskan rasa eratnya tali silaturrahmi dan persaudaraan. Tarian ini sangat disukai oleh muda-mudi Tanah Banjar karena disamping untuk mengekspresikan kegembiraan dalam suatu acara, tak jarang pula Tari Japin merupakan media untuk mencari jodoh. Walaupun tarian ini adalah tarian pergaulan namun masih memegang &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;norma - norma agama Islam. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4648747481528843-6110407434663824591?l=ansepadang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ansepadang.blogspot.com/feeds/6110407434663824591/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4648747481528843&amp;postID=6110407434663824591' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4648747481528843/posts/default/6110407434663824591'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4648747481528843/posts/default/6110407434663824591'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ansepadang.blogspot.com/2008/05/tari-jepen-japin-kuala.html' title='TARI JEPEN ( JAPIN ) KUALA'/><author><name>Arsyad Indradi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03282526078807458772</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/SQsSbmw_naI/AAAAAAAABwA/pVTsWzbU-Gc/S220/aku+5.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4648747481528843.post-5731509782043082091</id><published>2008-05-24T10:28:00.000-07:00</published><updated>2008-05-24T10:31:05.163-07:00</updated><title type='text'>TARI RADAP RAHAYU</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Asal muasal Tari Radap Rahayu adalah ketika &lt;b style=""&gt;Kapal Perabu Yaksa&lt;/b&gt; yang ditumpangi &lt;b style=""&gt;Patih Lambung Mangkurat &lt;/b&gt;yang pulang lawatan dari Kerajaan Majapahit, ketika sampai di Muara Mantuil dan akan memasuki Sungai Barito, kapal Perabu Yaksa kandas di tengah jalan. Perahu menjadi oleng dan nyaris terbalik. Melihat ini, Patih Lambung Mangkurat lalu memuja “ &lt;b style=""&gt;Bantam&lt;/b&gt;” yakni meminta pertolongan pada Yang Maha kuasa agar kapal dapat diselamatkan. Tak lama dari angkasa turunlah &lt;b style=""&gt;tujuh bidadari&lt;/b&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ke atas kapal kemudian mengadakan upacara &lt;b style=""&gt;beradap-radap&lt;/b&gt;. Akhirnya kapal tersebut kembali normal dan tujuh bidadari tersebut kembali ke Kayangan. Kapal melanjutkan pulang ke Kerajaan Dwipa. Dari cerita ini&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;lahirlah Tari &lt;b style=""&gt;“ Radap Rahayu&lt;/b&gt; “ ( anonim ). Tarian ini sangat terkenal di Kerajaan Banjar karena dipentaskan setiap acara penobatan raja serta pembesar-pembesar&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kerajaan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan juga sebagai tarian penyambut tamu kehormatan yang datang ke Banua Banjar, upacara perkawinan, dan upacara memalas banua sebagai tapung tawar untuk keselamatan. Tarian ini termasuk jenis tari klasik Banjar dan bersifat sakral.Dalam tarian ini diperlihatkan para bidadari dari kayangan turun ke bumi untuk memberikan doa restu serta keselamatan . Gerak ini diperlihatkan pada gerakan awal serta akhir tari dengan gerak “&lt;b style=""&gt;terbang layang&lt;/b&gt;”. Sayair lagu Tari Radap Rahayu diselingi dengan sebuah nyanyian yang isi syairnya mengundang makhluk-makhluk halus ( bidadari ) ketika ragam gerak “&lt;b style=""&gt;Tapung Tawar&lt;/b&gt;”, untuk turun ke bumi. Jumlah penari Radap Rahayu selalu menunjukkan bilangan ganjil, yaitu : 1,3,5,7 dan seterusnya. Tata Busana telah baku yaitu &lt;b style=""&gt;baju layang&lt;/b&gt;. Hiasan rambut mengggunakan untaian &lt;b style=""&gt;kembang bogam&lt;/b&gt;. Selendang berperan untuk melukiskan seorang bidadari, disertai cupu sebagai tempat beras kuning dan bunga rampai untuk doa restu dibawa para penari di tangan kiri. Seiring lenyapnya Kerajaan Dwipa, lenyap juga Tari Radap Rahayu. Tarian tersebut kembali digubah oleh seniman Kerajaan Banjar bernama Pangeran Hidayatullah. Namun kembali terlupakan ketika berkecamuknya perang Banjar mengusir penjajah Belanda. Pada tahun 1955 oleh seorang Budayawan bernama Kiayi Amir Hasan Bondan membangkitkan kembali melalui Kelompok Tari yang didirikannya bernama PERPEKINDO ( Perintis Peradaban dan Kebudayaan Indonesia) yang berkedudukan di Banjarmasin. Sampai saat ini PERPEKINDO masih aktif &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;mengembangkan dan melestarikan Tari Radap Rahayu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Arsyad Indradi _____________________________________________****&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4648747481528843-5731509782043082091?l=ansepadang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ansepadang.blogspot.com/feeds/5731509782043082091/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4648747481528843&amp;postID=5731509782043082091' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4648747481528843/posts/default/5731509782043082091'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4648747481528843/posts/default/5731509782043082091'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ansepadang.blogspot.com/2008/05/tari-radap-rahayu.html' title='TARI RADAP RAHAYU'/><author><name>Arsyad Indradi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03282526078807458772</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/SQsSbmw_naI/AAAAAAAABwA/pVTsWzbU-Gc/S220/aku+5.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4648747481528843.post-5164024187581690550</id><published>2008-05-23T09:42:00.000-07:00</published><updated>2008-05-23T10:05:54.285-07:00</updated><title type='text'>Tari Tirik Lalan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(153, 51, 0); font-weight: bold;"&gt;Jenis tari hiburan. Tarian ini digali dari sebuah tari Bagandut pada tahun 1970-an yang berasal dari daerah Pandahan Kabupaten Tapin. Sebuah tarian yang romantik, yang menggambarkan seorang suami yang ingin merantau ke Tanah Jawa untuk mencari penghidupan yang layak, namun sang isteri rupanya tidak mengijinkan, sebab sang suami pergi tidak tentu entah berapa lamanya. Sang isteri begitu sedih. Sang suami dengan bujuk rayu dan memberikan pengertian pada sang isteri. Pada akhirnya sang isteri  mengijinkan juga  keberangkatan sang suami. Tarian ini  ditampilkan pada acara hiburan dalam memperingati hari-hari besar baik lokal maupun nasional atau perayaan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_Rz_jGLP9ulM/SDb10AGXblI/AAAAAAAABDM/bpIZ9NnDY8A/s1600-h/tirik+lalan+2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://bp3.blogger.com/_Rz_jGLP9ulM/SDb10AGXblI/AAAAAAAABDM/bpIZ9NnDY8A/s320/tirik+lalan+2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5203616693201890898" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_Rz_jGLP9ulM/SDb1i8usclI/AAAAAAAABDE/cCNUr48d2vc/s1600-h/tirik+lalan+3.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://bp3.blogger.com/_Rz_jGLP9ulM/SDb1i8usclI/AAAAAAAABDE/cCNUr48d2vc/s320/tirik+lalan+3.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5203616400239522386" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_Rz_jGLP9ulM/SDb1Sh8ldxI/AAAAAAAABC8/0O8hvb17Ers/s1600-h/tirik+lalan+4.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://bp3.blogger.com/_Rz_jGLP9ulM/SDb1Sh8ldxI/AAAAAAAABC8/0O8hvb17Ers/s320/tirik+lalan+4.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5203616118172120850" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_Rz_jGLP9ulM/SDb046Xb0SI/AAAAAAAABC0/iHf1GyXrtfg/s1600-h/tirik+lalan+6.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://bp2.blogger.com/_Rz_jGLP9ulM/SDb046Xb0SI/AAAAAAAABC0/iHf1GyXrtfg/s320/tirik+lalan+6.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5203615678050586914" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4648747481528843-5164024187581690550?l=ansepadang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ansepadang.blogspot.com/feeds/5164024187581690550/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4648747481528843&amp;postID=5164024187581690550' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4648747481528843/posts/default/5164024187581690550'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4648747481528843/posts/default/5164024187581690550'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ansepadang.blogspot.com/2008/05/tari-tirik-lalan.html' title='Tari Tirik Lalan'/><author><name>Arsyad Indradi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03282526078807458772</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/SQsSbmw_naI/AAAAAAAABwA/pVTsWzbU-Gc/S220/aku+5.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_Rz_jGLP9ulM/SDb10AGXblI/AAAAAAAABDM/bpIZ9NnDY8A/s72-c/tirik+lalan+2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4648747481528843.post-7611971915798068159</id><published>2008-05-20T09:24:00.000-07:00</published><updated>2008-05-20T10:33:13.901-07:00</updated><title type='text'>Tari Baksa Kembang</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify; font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 153);"&gt;Tari Baksa Kembang termasuk jenis tari klasik, yang hidup dan berkembang di keraton Banjar, yang ditarikan oleh putri-putri keraton. Lambat laun tarian ini menyebar ke rakyat Banjar dengan penarinya galuh-galuh Banjar. Tarian ini dipertunjukkan untuk menghibur keluarga keraton dan menyambut tamu agung seperti raja atau pangeran . Setelah tarian ini memasyarakat di Tanah Banjar, berfungsi untuk menyambut tamu pejabat-pejabat negara dalam perayaan hari-hari besar daerah atau nasional. Disamping itu pula tarian Baksa Kembang dipertunjukkan pada perayaan pengantin Banjar atau hajatan misalnya tuan rumah mengadakan selamatan. Tarian ini memakai hand propertis sepasang kembang Bogam yaitu rangkaian kembang mawar, melati, kantil dan kenanga. Kembang bogan ini akan dihadiahkan kepada tamu pejabat dan isteri, setelah taraian ini selesai ditarikan. Sebagai gambaran ringkas, tarian ini menggambarkan putri-putri remaja yang cantik sedang bermain-main di taman bunga. Mereka memetik beberapa bunga kemudian dirangkai menjadi kembang bogam kemudian kembang bogam ini mereka bawa bergembira ria sambil menari dengan gemulai. Tari Baksa Kembang memakai Mahkota bernama Gajah Gemuling yang ditatah oleh kembang goyang, sepasang kembang bogam ukuran kecil yang diletakkan pada mahkota dan seuntai anyaman dari daun kelapa muda bernama halilipan. Tari Baksa Kembang biasanya ditarikan oleh sejumlah hitungan ganjil misalnya  satu orang, tiga orang, lima orang dan seterusnya. Dan tarian ini diiringi seperangkat tetabuhan atau gamelan dengan irama lagu yang sudah baku yaitu lagu Ayakan dan Janklong atau  Kambang Muni. Tarian Baksa Kembang ini di dalam masyarakat Banjar ada beberapa versi , ini terjadi setiap keturunan mempunya gaya tersendiri namun masih satu ciri khas sebagai tarian Baksa Kembang, seperti Lagureh, Tapung Tali, Kijik, Jumanang. Pada tahun 1990-an, Taman Budaya Kalimantan Selatan berinisiaf mengumpul pelatih-pelatih tari Baksa Kembang dari segala versi untuk menjadikan satu Tari Baksa Kembang yang baku. Setelah ada kesepakatan, maka diadakanlah workshoup Tari Baksa Kembanag dengan pesertanya perwakilan dari daerah Kabupaten dan Kota se Kalimantan Selatan. Walau pun masih ada yang menarikan Tari Baksa Kembang versi yang ada namun hanya berkisar pada keluarga atau lokal, tetapi dalam lomba, festival atau misi kesenian keluar dari Kalimantan Selatan harus menarikan tarian yang sudah dibakukan.******&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*** Arsyad Indradi&lt;br /&gt;Ketua/Pelatih "Galuh Marikit Dance Gruop " Banjarbaru&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_Rz_jGLP9ulM/SDL9RyNxP9I/AAAAAAAABB0/JkA4FNPfBYY/s1600-h/lagoreh.bmp.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://bp0.blogger.com/_Rz_jGLP9ulM/SDL9RyNxP9I/AAAAAAAABB0/JkA4FNPfBYY/s320/lagoreh.bmp.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5202499001545474002" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_Rz_jGLP9ulM/SDL86coOWYI/AAAAAAAABBs/TpBrUcv9jC8/s1600-h/kijik+memainkan+bung.bmp.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://bp3.blogger.com/_Rz_jGLP9ulM/SDL86coOWYI/AAAAAAAABBs/TpBrUcv9jC8/s320/kijik+memainkan+bung.bmp.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5202498600613861762" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_Rz_jGLP9ulM/SDL8cThaZgI/AAAAAAAABBk/U1E0qRO3CKk/s1600-h/geser+kiri+kanan.bmp.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://bp3.blogger.com/_Rz_jGLP9ulM/SDL8cThaZgI/AAAAAAAABBk/U1E0qRO3CKk/s320/geser+kiri+kanan.bmp.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5202498082773296642" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_Rz_jGLP9ulM/SDL8ITIZwWI/AAAAAAAABBc/m0Bg6rMzrA8/s1600-h/bintang+alih.bmp.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://bp2.blogger.com/_Rz_jGLP9ulM/SDL8ITIZwWI/AAAAAAAABBc/m0Bg6rMzrA8/s320/bintang+alih.bmp.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5202497739071013218" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_Rz_jGLP9ulM/SDL74LNG5NI/AAAAAAAABBU/BIrzqPMguUk/s1600-h/Baksa+Kemabang,duduk+sembah.bmp.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://bp2.blogger.com/_Rz_jGLP9ulM/SDL74LNG5NI/AAAAAAAABBU/BIrzqPMguUk/s320/Baksa+Kemabang,duduk+sembah.bmp.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5202497462065358034" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4648747481528843-7611971915798068159?l=ansepadang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ansepadang.blogspot.com/feeds/7611971915798068159/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4648747481528843&amp;postID=7611971915798068159' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4648747481528843/posts/default/7611971915798068159'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4648747481528843/posts/default/7611971915798068159'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ansepadang.blogspot.com/2008/05/tari-baksa-kembang.html' title='Tari Baksa Kembang'/><author><name>Arsyad Indradi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03282526078807458772</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/SQsSbmw_naI/AAAAAAAABwA/pVTsWzbU-Gc/S220/aku+5.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_Rz_jGLP9ulM/SDL9RyNxP9I/AAAAAAAABB0/JkA4FNPfBYY/s72-c/lagoreh.bmp.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4648747481528843.post-4698285733375475840</id><published>2008-05-20T09:08:00.001-07:00</published><updated>2008-05-20T09:18:59.733-07:00</updated><title type='text'>Tari Galuh Marikit</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 10.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0); font-weight: bold;"&gt;Sebuah tarian yang berjenis tari kreasi baru yang digarap bersumber dari gerak-gerak klasik dan dipadu dengan gerak tari rakyat setempat. Tarian ini hidup dan berkembang di daerah Kota Banjarbaru. Tarian ini menggambarkan bagaimana masyarakat Cempaka keserahariannya sebagai pendulang intan. Cempaka memang sebuah daerah yang banyak menghasilkan intan yang sangat terkenal baik di Indonesia maupun Manca Negara. Tarian&lt;/span&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 153, 0); font-weight: bold;"&gt;Galuh Marikit ini menggambarkan suasana bagaimana Galuh Marikit yang menjadi idaman para pendulang, dengan gigih dan dengan segenap upaya agar dapat “mamicik” (memperoleh) Galuh Marikit tersebut. Kata “ Galuh Marikit “ adalah sebutan pengganti kata “intan”. Sebab, siapapun apa lagi bagi pendulang intan sangatlah tabu bila langsung menyebut kata “intan “ bila berada di daerah pendulangan terlebih lagi sewaktu sedang mendulang. Menurut kepercayaan, pendulang jika langsung menyebut kata intan maka intan tersebut akan menjauh atau menghilang.   Dalam tarian ini ada beberapa pelaku yaitu : Galuh Marikit sebagai tokoh utama, Aamasan, titimahan, dan bebatuan lainnya sebagai pendukung ( babantalan ). Arsyad Indradi sebagai kreograper, menitik beratkan pada penokohan “Galuh Marikit”. Jadi gambaran pekerja pendulang adalah sebagai backgroundnya saja.  Pelaku tarian ini adalah : Galuh Marikit, Aamasan, Titimahan, dan bebatuan lainnya sebagai pendukung (babantalan) sekaligus berperan sebagai pendulang. &lt;/span&gt;&lt;o:p style="color: rgb(0, 153, 0); font-weight: bold;"&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_Rz_jGLP9ulM/SDL5BJ-oM-I/AAAAAAAABBM/a3xypIbIQtg/s1600-h/marikit+10.bmp.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://bp0.blogger.com/_Rz_jGLP9ulM/SDL5BJ-oM-I/AAAAAAAABBM/a3xypIbIQtg/s320/marikit+10.bmp.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5202494317820130274" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_Rz_jGLP9ulM/SDL4rZV8J7I/AAAAAAAABBE/z4oRmz3pxKs/s1600-h/marikit+6.bmp.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://bp1.blogger.com/_Rz_jGLP9ulM/SDL4rZV8J7I/AAAAAAAABBE/z4oRmz3pxKs/s320/marikit+6.bmp.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5202493943987316658" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_Rz_jGLP9ulM/SDL4ZuAUFxI/AAAAAAAABA8/hBcBkRe5nPg/s1600-h/marikit+8.bmp.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://bp2.blogger.com/_Rz_jGLP9ulM/SDL4ZuAUFxI/AAAAAAAABA8/hBcBkRe5nPg/s320/marikit+8.bmp.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5202493640296109842" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_Rz_jGLP9ulM/SDL4BYmIOgI/AAAAAAAABA0/tCQ5e2x-vgk/s1600-h/marikit+4.bmp.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://bp1.blogger.com/_Rz_jGLP9ulM/SDL4BYmIOgI/AAAAAAAABA0/tCQ5e2x-vgk/s320/marikit+4.bmp.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5202493222232275458" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_Rz_jGLP9ulM/SDL3z1bIvyI/AAAAAAAABAs/w1aDU5-Yx3M/s1600-h/marikit+1.bmp.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://bp3.blogger.com/_Rz_jGLP9ulM/SDL3z1bIvyI/AAAAAAAABAs/w1aDU5-Yx3M/s320/marikit+1.bmp.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5202492989452631842" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4648747481528843-4698285733375475840?l=ansepadang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ansepadang.blogspot.com/feeds/4698285733375475840/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4648747481528843&amp;postID=4698285733375475840' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4648747481528843/posts/default/4698285733375475840'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4648747481528843/posts/default/4698285733375475840'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ansepadang.blogspot.com/2008/05/tari-galuh-marikit.html' title='Tari Galuh Marikit'/><author><name>Arsyad Indradi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03282526078807458772</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/SQsSbmw_naI/AAAAAAAABwA/pVTsWzbU-Gc/S220/aku+5.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_Rz_jGLP9ulM/SDL5BJ-oM-I/AAAAAAAABBM/a3xypIbIQtg/s72-c/marikit+10.bmp.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4648747481528843.post-7313324117577561281</id><published>2008-05-20T08:59:00.000-07:00</published><updated>2008-05-20T09:24:04.313-07:00</updated><title type='text'>Tari Baksa Kipas</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 10.3pt; text-align: justify; color: rgb(0, 153, 0); font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Tari Baksa Kipas adalah sebuah tarian klasik yang hidup di masyarakat Banjar yaitu di daerah Sungai Asam Kecamatan Karang Intan Kabupaten banjar. Namun beberapa tahun silam tarian ini terlupakan dan akhirnya tenggelam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 10.3pt; text-align: justify; color: rgb(0, 153, 0); font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Pada tahun 1985 Arsyad Indradi bersama seniman tari Kota Banjarbaru mengadakan riset dan menghidupkan kembali Tari Baksa Kipas ini. Tarian ini dikemas kembali karena yang mewarisi tarian ini sudah manula. Tarian ini menggambarkan gadis-gadis Banjar sedang bermain-main dan bergembira ria disuatu pertamanan. Hand propertis yang digunakan adalah kipas. Kipas ini merupakan hasil kerajinan masyarakat Banjar yang menjadi cendra mata bagi wisatawan yang datang ke Tanah Banjar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 10.3pt; text-align: justify; color: rgb(0, 153, 0); font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_Rz_jGLP9ulM/SDL2wBBy8NI/AAAAAAAABAk/1L7FffJpC6E/s1600-h/kipas+6.bmp.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://bp2.blogger.com/_Rz_jGLP9ulM/SDL2wBBy8NI/AAAAAAAABAk/1L7FffJpC6E/s320/kipas+6.bmp.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5202491824336466130" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_Rz_jGLP9ulM/SDL2iFAz0jI/AAAAAAAABAc/jWCjHT6O4H0/s1600-h/kipas+5.bmp.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://bp3.blogger.com/_Rz_jGLP9ulM/SDL2iFAz0jI/AAAAAAAABAc/jWCjHT6O4H0/s320/kipas+5.bmp.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5202491584887902770" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_Rz_jGLP9ulM/SDL2KJPwzuI/AAAAAAAABAU/_COYap1nHHU/s1600-h/kipas+3.bmp.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://bp0.blogger.com/_Rz_jGLP9ulM/SDL2KJPwzuI/AAAAAAAABAU/_COYap1nHHU/s320/kipas+3.bmp.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5202491173707501282" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_Rz_jGLP9ulM/SDL18c-uRVI/AAAAAAAABAM/Iae310AeNx0/s1600-h/kipas+2.bmp.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://bp3.blogger.com/_Rz_jGLP9ulM/SDL18c-uRVI/AAAAAAAABAM/Iae310AeNx0/s320/kipas+2.bmp.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5202490938486572370" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4648747481528843-7313324117577561281?l=ansepadang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ansepadang.blogspot.com/feeds/7313324117577561281/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4648747481528843&amp;postID=7313324117577561281' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4648747481528843/posts/default/7313324117577561281'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4648747481528843/posts/default/7313324117577561281'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ansepadang.blogspot.com/2008/05/tari-baksa-kipas.html' title='Tari Baksa Kipas'/><author><name>Arsyad Indradi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03282526078807458772</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/SQsSbmw_naI/AAAAAAAABwA/pVTsWzbU-Gc/S220/aku+5.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_Rz_jGLP9ulM/SDL2wBBy8NI/AAAAAAAABAk/1L7FffJpC6E/s72-c/kipas+6.bmp.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4648747481528843.post-1925646015143133129</id><published>2008-05-20T08:46:00.000-07:00</published><updated>2008-05-20T08:59:30.876-07:00</updated><title type='text'>Tari Kuda Alas</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 10.3pt; text-align: justify; color: rgb(102, 102, 102); font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Sebuah tarian yang menggambarkan bagaimana binal dan liarnya kuda-kuda yang hidup di padang rumput terbuka atau di hutan – hutan yang lebat pepohonannya. mereka satu sama lain&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;saling bersaing untuk mengusai padang rumput dan tak jarang terjadi perkelahian. Namun akhirnya kelompok – kelompok yang bertikai itu rukun bersatu. Karena mereka adalah satu jenis bernama kuda. Tarian ini adalah sebuah tarian kreasi baru yang diolah bersumber dari gerak-gerak tari rakyat atau tarian tradisional, seperti pada tarian wayang gong (wayang oarang) dan kuda gepang. Tarian ini kental sekali di dalam masyarakat Banjar. Tarian ini dipertunjukkan saat perayaan hari-hari besar baik daerah, nasional atau p[un acara hiburan lainnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 10.3pt; text-align: justify; color: rgb(102, 102, 102); font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_Rz_jGLP9ulM/SDL0ot-5XNI/AAAAAAAABAE/98bircZMFj4/s1600-h/kudaa+alas+4.bmp.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://bp3.blogger.com/_Rz_jGLP9ulM/SDL0ot-5XNI/AAAAAAAABAE/98bircZMFj4/s320/kudaa+alas+4.bmp.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5202489499941690578" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_Rz_jGLP9ulM/SDL0IwttEhI/AAAAAAAAA_8/VB2CYgO9ElI/s1600-h/kuda+alas+1.bmp.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://bp0.blogger.com/_Rz_jGLP9ulM/SDL0IwttEhI/AAAAAAAAA_8/VB2CYgO9ElI/s320/kuda+alas+1.bmp.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5202488950919074322" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_Rz_jGLP9ulM/SDLzTfiJcmI/AAAAAAAAA_s/4oTr0W1d5DI/s1600-h/kuda+alas+2.bmp.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://bp2.blogger.com/_Rz_jGLP9ulM/SDLzTfiJcmI/AAAAAAAAA_s/4oTr0W1d5DI/s320/kuda+alas+2.bmp.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5202488035774132834" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4648747481528843-1925646015143133129?l=ansepadang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ansepadang.blogspot.com/feeds/1925646015143133129/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4648747481528843&amp;postID=1925646015143133129' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4648747481528843/posts/default/1925646015143133129'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4648747481528843/posts/default/1925646015143133129'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ansepadang.blogspot.com/2008/05/tari-kuda-alas.html' title='Tari Kuda Alas'/><author><name>Arsyad Indradi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03282526078807458772</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/SQsSbmw_naI/AAAAAAAABwA/pVTsWzbU-Gc/S220/aku+5.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_Rz_jGLP9ulM/SDL0ot-5XNI/AAAAAAAABAE/98bircZMFj4/s72-c/kudaa+alas+4.bmp.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4648747481528843.post-5141796719635071929</id><published>2008-05-19T09:40:00.000-07:00</published><updated>2008-05-19T09:49:57.779-07:00</updated><title type='text'>MACAN PANJADIAN</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;*** Arsyad Indradi&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Banyak cerita rakyat Banjar yang sudah musnah. Ini karena tidak ada yang peduli untuk menghimpun cerita rakyat Banjar tersebut. Walau ada pula yang terhimpun, tetapi oleh sebuah lembaga yang tergantung adanya proyek. Pun sangat terbatas publikasinya di masyarakat Banjar. Ada sebuah cerita rakyat Banjar yang menarik yang sudah musnah, yaitu Macan Panjadian. ( Macan jadi-jadian ). Menceritakan 5 bersaudara, semuanya laki-laki, Lamboi, Adan, Akhmad, Selamat, dan yang bungsu Isbat. Mereka pergi kesebuah hutan mencari rotan. Hutan tersebut terletak di gunung Gumpa yang banyak rotannya dan terkenal angker. Waktu mereka asyik bekerja hujan turun rintik-rintik, padahal hari dalam keadaan panas, kebetulan hari itu hari jumat. Mereka pun beristirahat di bawah pohon rindang. Limboi berkata pada adik-adiknya : “ Seandainya ada perempuan cantik menemani kita makan-makan alangkah senangnya”. Tiba-tiba angin berembus dan seiring dengan itu terlihat oleh Isbat lima orang perempuan cantik-cantik dari balik semak-semak. Kakak-kakaknya seakan-akan tak percaya perkataan adiknya. Benar ada lima perempuan mendekati mereka sambil membawa nasi ketan. Tampaknya perempuan-perempuan itu sudah tahu pilihannya masing-masing. Mereka pun bergembira ria sambil memakani nasi ketan. Di antara mereka itu hanya Isbat tak ikut makan. Ia selalu di bujuk rayu oleh perempuan bungsu yang paling cantik. Karena takut “ kepuhunan” ( mendapat bahaya karena makanan, karena tidak mencicipi makanan ) Isbat akhirnya mencicipi nasi ketan itu dengan ujung jarinya. Isbat curiga terhadap perempuan-perempuan itu lalu menjauh. Merasa tak enak, ia menengok kebelakang, apa yang terjadi kakaknya sudah tak bernyawa lagi. Macan-macan itu sedang memakan daging dan menghirup darah kakak-kakaknya. Isbat kemudian lari, tapi kemana pun ia lari dan bersembunyi selalu saja ketahuan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;macan bungsu itu. Manakala Isbat tak terlihat macan itu berseru,” U...” Tiba-tiba jari Isbat yang tadi diletakkan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;di ketan menyahut,”U...”&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dalan hati Isbat, kalau begini terus aku tak mungkin lepas dari&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;macan itu, lalu ia mengambil mandau dan memotong jarinya. Dan perempuan macan panjadian itu kehilangan jejak Isbat. Ia meratap, sedih karena tak sempat memakan daging Isbat hanya jarinya saja.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Selesai memakan jari Isbat, macan itu berkata,” Isbat, selamatlah engkau. Apabila engkau mengetahui tentang diriku engkau tahu akan namaku, maka aku akan musnah dan hancur olehmu”. Kemudian ia menyebutkan namanya Sangatak, Sangitik nama ibunya dan nama ayahnya Maharajapati. Kebetulan persembunyian Isbat tak jauh dari macan itu dan mendengar jelas kata-kata macan itu. Isbat keluar dari persembunyiannya dan membaca mantra itu. Seketika, macan panjadian itu pun hancur musnah. Sesampainya di rumah, ia ceritakan kejadian itu pada orang tuanya. Orang tuanya pun bersedih, lalu berkata, “ Makanya jangan sembarangan berkata-kata yang tak keruan di tengah hutan atau di mana pun tempat yang angker “pamali” (pantangan).********&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;/p&gt;Dikutip dari : Cerita Rakyat Daerah Kalsel, Depdikbud Prov.Kalsel,Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah,1980/1981,hlm 95.&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4648747481528843-5141796719635071929?l=ansepadang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ansepadang.blogspot.com/feeds/5141796719635071929/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4648747481528843&amp;postID=5141796719635071929' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4648747481528843/posts/default/5141796719635071929'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4648747481528843/posts/default/5141796719635071929'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ansepadang.blogspot.com/2008/05/macan-panjadian.html' title='MACAN PANJADIAN'/><author><name>Arsyad Indradi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03282526078807458772</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/SQsSbmw_naI/AAAAAAAABwA/pVTsWzbU-Gc/S220/aku+5.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4648747481528843.post-8675664601165607347</id><published>2008-05-15T01:07:00.000-07:00</published><updated>2008-05-15T01:29:25.606-07:00</updated><title type='text'>PENUNTUN MENULIS PUISI</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Oleh : Arsyad Indradi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:14;"  lang="IN" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Arial;"&gt;Cermati Ilustrasi berikut :&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:14;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:14;"  lang="IN" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;•&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:14;"  lang="IN" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Puisi .......................................&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:14;"  lang="IN" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Arial;"&gt;Adalah perjalanan ulang - alik budaya. Ia hidup dan menghirup berbagai misteri dalam dunia kreatifitasnya. Dorongan kreatif dan implus – implus sensitive menjadikan penyair selalu larut mengolah misteri yang dihadapinya, baik dalam realitas maupun imajinatif.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;•&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:14;"  lang="IN" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Penyair ....................................&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:14;"  lang="IN" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Arial;"&gt;Adalah masuk kawasan budaya sebab ia sesungguhnya pekerja, pemikir, dan pemburu kata – kata arif. Kerja menyair merupakan minoritas kreatif yang menghasilkan wujud kebudayaan.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;                                   &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;Wujud Kebudayaan :&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;1. Kompleks ide – ide, gagasan, nilai – nilai, norma – norma,&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;peraturan dan sebagainya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;( abstrak ).&lt;br /&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;2. Kompleks aktifitas serta tindakan berpola dari manusia dan&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;lingkungannya ( sosial ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;3. Sebagai benda – benda hasil karya manusia ( fisik , termasuk&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;sajak / puisi ).&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;•&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Arial;"&gt;Jagat Kepenyairan ..........................&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Arial;"&gt;Pengembaraan batin. Melalui selaksa kata yang kaya makna, imajinasi dibawa dalam sebuah kontemplasi yang berisi fenomena manusia dan lingkungannya. Perjalanan seorang penyair ibarat air mengalir, melalui kisah bahagia dan duka. Waktu terjaga menjadi kesadaran bagi mata batin dan mata pena untuk berpaut menelusuri kisah – kisah itu lalu menuliskan bagian – bagian alurnya dalam rajutan kata – kata padat ( diksi : pilihan kata ) yang memiliki kekuatan estetika.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Arial;"&gt;Memasuki dunia puisi, jangan pernah bemimpi seperti berkelana di dunia ilmiah yang penuh oleh hipotesis dan kesimpulan yang diukur dengan teori dan rumus – rumus&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;matematis dan pasti. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Arial;"&gt;Sebaliknya, dunia puisi adalah dunia kata penuh metafor, personifikasi,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;simbol – simbol, tamsil – tamsil kehidupan sekaligus guratan penjelajahan atas ekssistensi dan relasi diri manusia, lelana, yang membutuhkan perasaan untuk mencipta dan membacanya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;          &lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-family:Arial;"&gt;Penyair bermain – main dengan kata sehingga kadang ia dianggap “ gila “. Pikiran – pikirannya melampaui batas – batas kesadaran. Untuk menyelami makna puisi sering kali dibutuhkan lebih dari sekali proses pembacaan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="IN"&gt;Bagaimana setelah menyimak ilustrasi tadi ?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="IN"&gt;Wawww, saya akan bergegas mengambil kertas dan pena&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="IN"&gt;Lalu menulis puisi  !!!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 24pt; font-family: &amp;quot;English111 Vivace BT&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Matur Sembah Nuwun&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 24pt; font-family: &amp;quot;English111 Vivace BT&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div style="text-align: center;"&gt;            &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4648747481528843-8675664601165607347?l=ansepadang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ansepadang.blogspot.com/feeds/8675664601165607347/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4648747481528843&amp;postID=8675664601165607347' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4648747481528843/posts/default/8675664601165607347'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4648747481528843/posts/default/8675664601165607347'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ansepadang.blogspot.com/2008/05/penuntun-menulis-puisi.html' title='PENUNTUN MENULIS PUISI'/><author><name>Arsyad Indradi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03282526078807458772</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/SQsSbmw_naI/AAAAAAAABwA/pVTsWzbU-Gc/S220/aku+5.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4648747481528843.post-8808095932634153207</id><published>2008-05-15T00:45:00.000-07:00</published><updated>2008-05-15T01:20:33.271-07:00</updated><title type='text'>PENUNTUN DEKLAMASI /  BACA PUISI</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt; &lt;/p&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Arial;"&gt;Oleh: Arsyad Indradi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Menjadi seorang deklamator yang baik, ia harus memperhatikan beberapa petunjuk ringkas di bawah ini : &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;                              &lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;                                    &lt;/span&gt;I. VOKAL atau SUARA&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: left;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Arial;"&gt;- &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Arial;"&gt;Sumber suara adalah pita suara yang terletak di dalam rongga mulut.&lt;br /&gt;- Penggeraknya adalah udara dari paru – paru yang melewati pita suara &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;bila dihembuskan keluar.&lt;br /&gt;- Sebagai penguat adalah rongga – rongga di dalam tubuh, khususnya di &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;sekitar rongga mulut.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;                          &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;b&gt;A. Perbedaan Vokal.&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: left;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;- Terjadinya suara sangat dipengaruhi oleh kedaan bagian&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;- bagian  tubuh kita. Sukar diubah.   &lt;br /&gt;  Namun dapat diperbaiki dengan latihan- &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;latihan yang baik.&lt;br /&gt;- Jasmani kita berbeda – beda, maka berbeda pula suara kita, yaitu :&lt;/span&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Arial;"&gt;a.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tinggi Rendah Suara&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Makin banyak jumlah getaran/frekuensinya, makin tinggi&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;pula suara yang dihasilkannya.&lt;span  lang="IN" style="font-family:Arial;"&gt;Dikenal dengan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;wilayah suara&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;: tinggi, sedang dan&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;rendah.&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;b. Luas suara.&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;br /&gt;Jangkauan suara yang sangat tinggi dan sangat rendah. Perbedaan &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;luas suara ini tergantung     keluwesan pita suara seseorang. Dengan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;latihan teknik vokal biasanya masih dapat dikembangkan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;br /&gt;c. Kekuatan Suara&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;br /&gt;Ada suara orang yang sedemikian keras dan ada pula yang sekeras – kerasnya tetapi masih sukar terdengar dengan jelas. Ini tergantung lebar getar dari pita suara dan rongga – rongga resonansi terdapat dalam tubuh kita.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;     &lt;/o:p&gt;d. Panjang Suara&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;        &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Arial;"&gt;Panjang pendeknya suara ditentukan oleh persediaan dan pengaturan&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt; udara dari paru – paru. &lt;br /&gt;   Memperoleh suara yang panjang perlu &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;menarik napas sedalam-dalamnya dan mengeluarkan&lt;br /&gt;   dengan &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;sehemat – hematnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;     &lt;/o:p&gt;e. Volume Suara&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;              &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Arial;"&gt;Terkadang ada suara seperti keluar dari sebuah rongga yang besar.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;Tetapi sering pula ada&lt;br /&gt;     suara yang seakan – akan keluar dari sebuah &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;bidang rongga kecil.&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Disamping perbedaan &lt;br /&gt;    pita suara, sangat &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;ditentukan oleh perbedaan ruang resonansi dalam tubuh kita.Tapi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;perlu&lt;br /&gt;    diketahui bahwa besar - kecilnya ruang resonansi ini bukan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;ditentukan oleh besar kecilnya&lt;br /&gt;    tubuh seseorang. Bertubuh besar &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;belum tentu mempunyai volume yang besar dan sebaliknya.&lt;/span&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Arial;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Arial;"&gt;    f. Warna Suara&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;        &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Arial;"&gt;Adalah perbedaan suara yang menyebabkan adanya ciri khas dari&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;setiap sumber suara. Suara&lt;br /&gt;  Si A berbeda dengan Si B. Ini disebabkan &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;bentuk, ukuran dari pita suara dan bentuk ukuran  &lt;br /&gt;  dari   ruang resonansi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;di dalam tubuh kita.&lt;/span&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Arial;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;  g. Kemampuan artikulasi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;Alat – alat artikulasi adalah bibir, gigi, lidah, langit-langit dan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;hidung.Alat ini perlu dilatih agar&lt;br /&gt;   menghasilkan pengucapan yang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;baik.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Arial;"&gt;                                                       B. Intonasi / Aksen&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Arial;"&gt;Pengucapan keras – lembut, tinggi-rendah, lagu/irama&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;atau  &lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;penekanan huruf, kata maupun baris pada puisi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;                                                      &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;C. Pernapasan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;                    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Arial;"&gt;Pernapasan yang baik dan benar akan menghasilkan vokal yang baik.&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Bernapas yang baik adalah memakai gerak pernapasan diafragma &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;yaitu sekat antara rongga dada dan perut. Teknik pernapasan dapat &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;digunakan untuk menentukan batas perhentian suara dimana&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;menarik napas hingga pokok-pokok pikiran dalam puisi itu jelas &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;dikemukakan. Jadi sebelum mendeklamasikan puisi haruslah ditandai &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;lebih dahulu pada bagian-bagian mana suara harus berhenti, hingga &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;apa yang dimaksud penciptanya tidak menjadi kacau-balau. Tanda itu &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;biasanya digunakan garis miring (/), (//) dan (///).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;                                           II. INTERPRETASI / PENJIWAAN&lt;br /&gt;&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Arial;"&gt;Ada beberapa hal yang harus diperhatikan &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;menafsirkan sebuah puisi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;yakni&lt;b&gt; :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;          &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;1. Pemahaman&lt;br /&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Arial;"&gt;Seorang deklamator tidaklah akan baik bila belum memahami isi atau &lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;maksud sebuah puisi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Untuk memahami&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ini sebaiknya diparafrasekan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;terlebih dahulu yakni &lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;dengan dua cara : &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;Pertama&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Arial;"&gt;, mengikuti&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;puisi itu dari atas ke bawah, kata&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;demi kata, &lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;baris demi baris, bait demi bait. Kemudian maksud puisi itu &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;dinyatakan dengan bahasa sendiri.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Kedua,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Arial;"&gt;membaca puisi itu berulang – ulang kemudian&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;menangkap inti patinya lalu diceritakan kembali &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;maksudnya, &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;tanpa terikat lagi akan susunan baris seperti yang ditulis penyairnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;              &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Arial;"&gt;2. Peresapan &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Arial;"&gt;Deklamator sebagai perantara yang hidup antara si penyair sebagai&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt; pencipta dengan si pendengar/penonton. Sebenarnya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;peresapan ini &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;bukan hanya untuk deklamator namun ia sebagai alat untuk&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;meresapkan hati orang lain. Tapi ingat peresapan ini jangan sampai&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;jadi bombastis yaitu terlalu berlebih-lebihan yang mengakibatkan &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;akan gagal untuk meyakinkan dan menikmatkan hati orang lain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;                &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Arial;"&gt;3. Ekspresi &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Arial;"&gt;Seorang deklamator diuji sampai dimana kemampuannya &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;mengekspresikan sebuah puisi sehingga pendengar dapat menikmatinya &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;dengan baik. Deklamator harus mampu untuk &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;menghidupkan,menghidangkan sehingga menjadi makanan seni yang &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;lezat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;Ada beberapa cara&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;mengekspresikan (membawakan)nya :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;                &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Arial;"&gt;a. Mimik&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;Setelah puisi itu benar – benar meresap ke dalam jiwa&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;(penjiwaan ) &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;deklamator maka akan nampak terlihat dari mimiknya. Harmonisasi antara &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;mimik dengan isi ( maksud ) puisi merupakan puncak keberhasilan sebuah &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;deklamasi. Pada saat inilah sering orang akan terpesona sebab sungguh-&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;sungguh merupakan suatu ektase yang mengharukan. Mimik tidak dapat &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;dibuat-buat. Mimik keluar menurut kewajaran secara spontan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;            &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Arial;"&gt;b. Motorik/ gerak&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;Motorik berfungsi menghidupkan puisi. Manfaatkan gerak anggota tubuh &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;untuk menghidupkan puisi.Manfaatkan stage (panggung) untuk&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;menghidupkan puisi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;Tinggalkan &lt;b style=""&gt;paradigma lama&lt;/b&gt; yang membelenggu kreatifitas deklamator.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;                                                          &lt;/span&gt;III. DAYA HAPAL&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Arial;"&gt;Deklamator mutlak hapal puisi yang dideklamasikannya. Seringkali deklamator tidak hapal, hingga harus&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;mengingat-ingat kembali. Dalam hal seperti ini, usaha untuk menghidupkan puisi dan hendak meresapkan dan menikmatkan orang lain, akan tidak berhasil. Oleh karena itu deklamator haruslah mempunyai daya hapal yang sebaik-baiknya. Lain halnya membaca puisi tidak perlu seluruhnya hapal. Keunggulan deklamasi dapat secara langsung menjiwai puisi tersebut dibandingkan dengan membaca puisi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: -16.7pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;                                                     &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;IV. LATIHAN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Apa pun alasannya, yang penting adalah untuk mencapai hasil yang maksimal perlu latihan yang intensif&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan teratur. Tinggalkan kebiasaan buruk yakni musiman atau bila hanya ada perlu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4648747481528843-8808095932634153207?l=ansepadang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ansepadang.blogspot.com/feeds/8808095932634153207/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4648747481528843&amp;postID=8808095932634153207' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4648747481528843/posts/default/8808095932634153207'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4648747481528843/posts/default/8808095932634153207'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ansepadang.blogspot.com/2008/05/penuntun-deklamasi-baca-puisi.html' title='PENUNTUN DEKLAMASI /  BACA PUISI'/><author><name>Arsyad Indradi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03282526078807458772</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/SQsSbmw_naI/AAAAAAAABwA/pVTsWzbU-Gc/S220/aku+5.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4648747481528843.post-141445387091080824</id><published>2008-05-15T00:43:00.000-07:00</published><updated>2008-07-06T21:59:16.016-07:00</updated><title type='text'>Lamut Sastra Banjarnya  Urang Banjar</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-size:16;color:green;"  lang="EN-US" &gt;&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-size:16;color:blue;"  lang="EN-US" &gt;&lt;span style=""&gt;                                 &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Oleh : Arsyad Indradi&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-size:16;color:blue;"  lang="EN-US" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;color:blue;"   lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;Lamut&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt; &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;adalah salah satu &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;sastra Banjar&lt;/span&gt; atau dikatakan juga cerita bertutur yang dikhawatirkan suatu saat nanti akan punah. Disebabkan hampir tidak ada lagi yang berminat untuk menjadi &lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);"&gt;Palamutan ( orang yang bercerita lamut ),&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);"&gt; &lt;/span&gt;dan tidak ada yang peduli dari masyarakat banjar itu sendiri, lembaga atau instansi senibudaya untuk melestarikian kehidupan Lamut yang semakin langka ini. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Mengapa dikatakan Lamut ? Ada yang mengatakan bahwa lamut diambil dari nama seorang tokoh cerita di dalamnya, yaitu Paman Lamut seorang &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;tokoh yang menjadi panutan, sesepuh, baik dilingkungan kerajaan atau pun masyarakat seperti halnya Semar dalam cerita wayang. Tetapi ada juga yang berpendapat bahwa lamut berasal dari kesenian &lt;i style=""&gt;Dundam&lt;/i&gt; yaitu cerita bertutur dengan menggunakan instrumen perkusi yaitu &lt;i style=""&gt;&lt;span style="color:green;"&gt;tarbang&lt;/span&gt;,&lt;/i&gt; Bercerita sambil membunyikan ( memukul ) alat tersebut. Konon, &lt;i style=""&gt;pendundam&lt;/i&gt; ketika membawakan ceritanya tidak tampak atau samar – samar dalam gelap. Cerita yang dibawakan adalah dongeng kerajaan Antah Berantah. Sedang berlamut, pelamutannya tampak oleh penonton dan ceritanya menurut &lt;i style=""&gt;pakem &lt;/i&gt;yang ada walau tak tertulis. Cerita yang dikenal masyarakat Banjar yakni cerita tentang percintaan antara &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="color:red;"&gt;Kasan Mandi&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;i style=""&gt; &lt;/i&gt;dengan&lt;i style=""&gt; &lt;b style=""&gt;&lt;span style="color:red;"&gt;Galuh Putri Jung Masari&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 51, 102);"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; Kasan Mandi adalah putera dari &lt;i style=""&gt;&lt;span style="color:purple;"&gt;Maharajua Bungsu&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; dari &lt;i style=""&gt;&lt;span style="color:maroon;"&gt;Kerajaan Palinggam Cahaya&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;, sedangkan Galuh Putri Jung Masari adalah putri dari &lt;i style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);"&gt;Indra Bayu,&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; raja dari Mesir Keraton. Kasan Mandi kawin dengan Galuh Putri Jung Masari melahirkan seorang putra bernama &lt;i style=""&gt;&lt;span style="color:red;"&gt;Bujang Maluala.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="color:red;"&gt; &lt;/span&gt;Di dalam cerita ini ada tokoh antagonis bernama &lt;i style=""&gt;&lt;span style="color:fuchsia;"&gt;Sultan Aliudin&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; yang sakti mandraguna dari &lt;i style=""&gt;&lt;span style="color:fuchsia;"&gt;Lautan Gandang Mirung &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;yang jadi penghalang, dan terjadi perang tanding. Kasan Mandi dibantu oleh &lt;i style=""&gt;&lt;span style="color:red;"&gt;paman Lamut &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;bersama anak –&lt;span style="color:red;"&gt; &lt;/span&gt;anaknya yaitu&lt;span style="color:red;"&gt; &lt;i style=""&gt;Anglung, Anggasina dan Labai Buranta&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;, akhirnya Sultan Aliudin kalah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;Berlamut sudah ada pada zaman kuno yaitu tahun 1500 Masehi sampai tahun 1800 Masehi tetapi bercerita tidak menggunakan tarbang. Ketika Agama Islam masuk ke Kalimantan Selatan, setelah Raja Banjar Sultan Suriansyah, barulah berlamut memakai tarbang. Sebab kesenian Islam terkenal dengan Hadrah dan Burdahnya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Seiring dengan pesatnya penyebaran agama Islam, kesenian Islam sangat berpengaruh pada perkembangan kebudayaan dan kesenian Banjar. Syair – syair dan pantun hidup dan berkembang dalam masyarakat. Dan lamut juga mendapat tempat yang strategis dalam&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;penyebaran Islam di masyarakat Banjar. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Ketika Sultan Suriansyah masuk Islam, banyak kebudayaan dan kesenian Jawa yaitu dari Demak ( Jawa Tengah ) berbaur pada kebudayaan dan kesenian Banjar, maka tak heran Lamut mendapat pengaruh juga dari Wayang Kulit yaitu dialognya mirip dialek wayang. Lamut bukan saja berkembang di seluruh pelosok Kalimantan Selatan tetapi juga sampai di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="color:blue;"&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sastra Banjar "Lamut "&lt;/span&gt; ditampilkan pada umumnya pada malam hari sebagai hiburan masyarakat Banjar pada acara perkawinan, &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;manyampir&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; yaitu berkaitan dengan tradisi keluarga, dan perayaan hari – hari besar atau daerah. &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;Durasi penampilan lamut biasanya &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;3 jam sampai 5 jam. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;Palamutan membawakan cerita duduk di sebuah meja kecil bernama &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;cacampan &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;yang berukuran 1,5 x 2 meter.&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);"&gt; &lt;/span&gt;Cacampan ini diberi &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;titilaman&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;( tilam kecil ). Pada waktu dulu, di hadapan palamutan disediakan&lt;i style=""&gt; parapen&lt;/i&gt; ( perapian ) dupa kemenyan yang selalu berasap dan sebiji kelapa muda yang sudah dipangkas untuk minuman palamutan. Penonton lamut biasanya duduk melingkar seperti tapal kuda.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;Lamut termasuk teater tutur yang mempunyai komponen cerita, sutradara atau dalang, penokohan,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;penonton, dan tempat pertunjukan. Pelamutan sekaligus sebagai sutradara atau dalang yang menciptakan karakter meskipun sudah ada pada pakem. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Lamut berfungsi :&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;l. Sebagai media da’wah agama islam dan muatan pesan – pesan pemerintah atau&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;pesan dari pengundang lamut. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;2. Sebagai hiburan &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;3. Manyampir, yaitu tradisi bagi keturunan palamutan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;4. Hajat seperti&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;untuk&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tolak bala atau doa selamat pada acara kelahiran anak,&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;kitanan atau sunatan, mendapat rejeki. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;Menurut kepercayaan, kalau msnyampir dan hajat ini tidak dilaksanakan maka akan &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;membuat &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;mamingit&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; yakni menyebabkan sakit bagi yang bersangkutan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;5. Sebagai pendidikan terutama mengenai tata kerama&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kehidupan masyarakat &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;Banjar. Biasanya petatah petitih berupa nasehat, petuah atau bimbingan moral.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Lamut mempunyai struktur lakon, yaitu :&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;1. Sebelum memulai cerita, Pelamutan terlebih dahulu membunyikan tarbnang&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;dengan nyanyian pembukaan yang terdiri dari syair – syair dan pantun. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;2. Narator dan berdialog dilaksanakan dengan terampil oleh pelamutan sendiri. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;3. Antara babak –babak lakon selalu diselingi dengan lelucon atau dagelan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;4. Ditutup kembali dengan bunyi – bunyian tarbang yang dinamis.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;Cerita pada lamut merupakan cerita terdahulu dari turun temurun, pakem yang tidak tertulis. Sebab tidak ada buku – buku yang merupakan pakem cerita lamut. Oleh karena itu, tidak jarang pelamutan membawakan kisah terjadi ada penambahan dan pengurangan pada cerita semula, bahkan ada yang keluar sama sekali dari &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;carangan&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; ( pakem ).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;Sebenarnya pakem yang ada adalah bermula pada sebuah kerajaan yang diperintah oleh seorang raja bernama &lt;i style=""&gt;&lt;span style="color:red;"&gt;Jaya Sakti&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; yang berputra kembar , bernama &lt;i style=""&gt;&lt;span style="color:red;"&gt;Indra Bungsu &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;dan &lt;i style=""&gt;&lt;span style="color:red;"&gt;Indra Bayu&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;. Indra Bungsu berputra bernama &lt;i style=""&gt;&lt;span style="color:blue;"&gt;Kasan Mandi&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;, sedangkan Indra Bayu berputri &lt;i style=""&gt;&lt;span style="color:blue;"&gt;Galuh Putri Jung Masari&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;. Kasan Mandi kawin dengan Galuh Jung Masari dan melahirkan &lt;span style="color:blue;"&gt;Bujang Maluala. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="color:blue;"&gt;&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="color:blue;"&gt;&lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;Bujang Maluala &lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;kawin dengan putri maharaja Cina bernama &lt;i style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);"&gt;Dandan Amas Salian&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; &lt;i style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);"&gt;Kaca&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; melahirkan seorang putra bernama &lt;span style="color:green;"&gt;Bujang Busur&lt;/span&gt;. Bujang Busur kawin dengan &lt;i style=""&gt;&lt;span style="color:green;"&gt;Hindawan Bulan&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; melahirkan &lt;i style=""&gt;&lt;span style="color:purple;"&gt;Bujang Jaya&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;. Bujang Jaya kawin dengan putri &lt;i style=""&gt;&lt;span style="color:purple;"&gt;Walayu&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; &lt;span style="color:purple;"&gt;Galuh Mamagar Sari.&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="color:purple;"&gt;&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Setiap dinasti ini mempunyai cerita tentang percintaan, perang dengan adu kesaktian. Dan tokoh – tokoh yang selalu hadir yaitu Paman Lamut, Anglung, Anggasina dan Labai Buranta, sebagai pendamping setia, penasihat dan panglima perang dari putra –putra raja tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;Setelah dinasti Bujang Bungsu, cerita lamut sudah mengalami perkembangan cerita oleh pelamutan yakni menciptakan cerita baru yang lebih menarik, tetapi masih di dalam suatu pakem. Memang kreativitas pelamutan sangat diperlukan agar cerita lebih menarik, baik bumbu dialog maupun &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;gaya&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; ceritanya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;Dalam pengembangan cerita dapat pula mengambil dari cerita Panji, cerita Andi – Andi, tutur candi, dongeng seribu satu malam, atau pun cerita rakyat, tetapi dalam cerita itu ada tokoh utama Lamut berikut anak – anaknya Anglung, Anggasina dan Labai Buranta. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Instrumen sebagai penunjang lakon yang digunakan oleh pelamutan adalah sebuah &lt;span style="color:green;"&gt;tarbang lamut&lt;/span&gt;. Tarbang ini bentuknya seperti rebana namun lebih besar, dengan ukuran berdiameter 45 sampas 60cm, terbuat dari kayu seperti kayu nangka, kayu sepat, kayu kursi atau kayu apa saja yang asal liat ( keras ), diberi kulit kambing kemudian disimpai sedemikian rupadengan rotan. Agar mengencangkan kulit tersebut diberi pasak kayu pada penampang bagian belakang tarbang dan dipasak dengan batangan rotan bagian dalamnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Pelamutan setelah memukul tarbang dengan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;beberapa irama, sebagai tradisi maka ia menghaturkan &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;salam kepada penonton dengan berpantun sebagai pembuka. Pantun tersebut antara lain :&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="color:green;"&gt;Tabusa salah sarai sarapun&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="color:green;"&gt;Bawa balayar kuliling nargi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="color:green;"&gt;Lamun tasalah banyak-banyak maminta ampun&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="color:green;"&gt;Kisah Banjar dibawa kamari&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="color:green;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="color:green;"&gt;Pinang&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="color:green;"&gt; anum barangkap – rangkap&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="color:green;"&gt;Pinang&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="color:green;"&gt; tuha barundun – rundun&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="color:green;"&gt;Lawan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;nang anum maminta maaf&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="color:green;"&gt;Lawan nang tuha maminta ampun&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="color:green;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Kemudian dilanjutkan dengan bersyair, merupakan ungkapan bermacam peristiwa, dengan berlagu. Antara lain :&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);" lang="EN-US"&gt;Bismillah itu mula pang ku bilang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);" lang="EN-US"&gt;Kartas pang dawat jualan dagang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);" lang="EN-US"&gt;Kartasnya putih salain lapang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);" lang="EN-US"&gt;Pena manulis di kartas lapang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);" lang="EN-US"&gt;Bukan badanku pandai mangarang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);" lang="EN-US"&gt;Hanya taingat di dalam badan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);" lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Syair tidak sembarang ucap, tetapi berplot, seperti berikut ini :&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="color:red;"&gt;Hanyarkurait pulang kaya bilaran&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="color:blue;"&gt;Satu&lt;/span&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="color:red;"&gt; pang tali, &lt;/span&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="color:blue;"&gt;dua&lt;/span&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="color:red;"&gt; pang lalaran&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="color:blue;"&gt;Katiga&lt;/span&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="color:red;"&gt; tungkat&lt;/span&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="color:blue;"&gt;, ampat&lt;/span&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="color:red;"&gt; pang ukuran&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="color:blue;"&gt;Kalima&lt;/span&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="color:red;"&gt; jarum&lt;/span&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="color:blue;"&gt;, anam&lt;/span&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="color:red;"&gt; kulindan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="color:blue;"&gt;Tujuh&lt;/span&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="color:red;"&gt; kompas&lt;/span&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="color:blue;"&gt;, lapan&lt;/span&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="color:red;"&gt; padoman&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="color:blue;"&gt;Kasambilan&lt;/span&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="color:red;"&gt; teori politik&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="color:blue;"&gt;Kasapuluh&lt;/span&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="color:red;"&gt; lawan aturan &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="color:red;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);" lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Syair yang mengungkapkan sebuah negeri atau kerajaan yang kaya raya, makmur sejahtera. Antara lain :&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="color:green;"&gt;Nargi Palinggam Cahaya mimang sugih&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="color:green;"&gt;Handak malunta ada hundang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="color:green;"&gt;Bajanggut amas, sisiknya pirak, matanya intan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="color:green;"&gt;Lah jua baisi jukung bapangayuh bagiwas&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="color:green;"&gt;Ulin manggis, bapananjak buluh parindu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="color:green;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Ada&lt;/span&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt; beberapa prosa lirik merupakan monolog dalam mengungkapkan jalam cerita, maupun keindahan atau kecantikan seseorang. Misalnya :&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);" lang="EN-US"&gt;Bengkengnya Galuh Putri&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Jung Masari dalam mahligai. Sabagaimana kambang nang sadang harum – harumnya. Rupa bungas, rupa&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;nang langkar, manisnya. Bakambang goyang, bagalang di batis. Anak rambutnya malantang wilis. Putih kuning kuku panjang nipis nang kaya gambar ditulis.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);" lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Kemudian penuturan cerita biasanya dengan prosa lirik, seperti :&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="color:blue;"&gt;Kasan Mandi maluncat ka atas kuda, lamut ka atas kuda Kasan Mandi. Mamukul kuda, lamut jua, tarur Kasan Mandi mambalap ka hujung kampung &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;nargi Palinggam Cahaya.Lamut mambontel di balakang malalui Pasiban Basar. Jauh tatinggal, maka ujar Kasan Mandi : “ Paman Lamut lakasi paman , malam pacangan kadap, subuh tatarang upih, kita mudahan sampai ka rimba rimbangun.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="color:blue;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);"&gt;Salah satu pakem Lamut :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);" lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);font-family:Arial;"  lang="EN-US"&gt;BUJANG MALUALA&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);font-family:Arial;"  lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);font-family:Arial;"  lang="EN-US"&gt;Setelah dewasa pergi berlayar tanpa tujuan, ditengah lautan tidak disangka – sangka kapalnya dilanda topan sehingga kapalnya hancur., dan kapalnya terapung hanyut sesat ke banua Cina. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);font-family:Arial;"  lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);font-family:Arial;"  lang="EN-US"&gt;Bujang Maluala beserta ponakawannya Lamut, Anglung, Anggasina, dan Labai Buranta menyamar seperti orang Cina, dan masing – masing merubah nama yang disesuaikan dengan nama orang cina.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);font-family:Arial;"  lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);font-family:Arial;"  lang="EN-US"&gt;Kerajaan Cina sangat besar, rajanya bernama Tiung Dermawan mempunyai putri bernama Dandan Amas Salian Kaca serta amban. Benua Cina ini bernama Siming Dermaya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);font-family:Arial;"  lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);font-family:Arial;"  lang="EN-US"&gt;Bujang Maluala merindukan putri raja meskipun dia belum pernah bertemu Cuma mendengar namanya saja. Kemudian dia minta agar dirinya dijual pada orang Cina itu. Lalu Lamut menjual pada raja Cina itu. Dan bertuigas sebagai pesuruh mengerjakan perintah putri di rumah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);font-family:Arial;"  lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);font-family:Arial;"  lang="EN-US"&gt;Tak lama kemudian Bujang Maluala jatuh sakit lalu dipukul oleh putri karena dianggap malas bekerja. Bujang Maluala melarikan diri dan melaporkan hal ihwal yang dialamainya kepada Lamut. Kemudian Lamut memberikan minyak guna – guna, maka minyak itu disapukan kepada putri, akhirnya putri jatuh cinta., kemudian Bujang Maluala kawin dengan putri, dan memperoleh putra diberi nama Bujang Busur. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);font-family:Arial;"  lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);font-family:Arial;"  lang="EN-US"&gt;Banjarbaru, 2006&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4648747481528843-141445387091080824?l=ansepadang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ansepadang.blogspot.com/feeds/141445387091080824/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4648747481528843&amp;postID=141445387091080824' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4648747481528843/posts/default/141445387091080824'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4648747481528843/posts/default/141445387091080824'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ansepadang.blogspot.com/2008/05/lamut-sastra-tutur-orang-banjar.html' title='Lamut Sastra Banjarnya  Urang Banjar'/><author><name>Arsyad Indradi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03282526078807458772</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/SQsSbmw_naI/AAAAAAAABwA/pVTsWzbU-Gc/S220/aku+5.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4648747481528843.post-8289880440933668695</id><published>2008-05-15T00:41:00.000-07:00</published><updated>2008-07-06T22:05:45.197-07:00</updated><title type='text'>MADIHIN, SASTRA BANJARNYA URANG BANJAR</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);font-size:16;" lang="EN-US" &gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-size:16;color:green;"  lang="EN-US" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Oleh : Arsyad Indradi&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-size:16;color:green;"  lang="EN-US" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="color:red;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Ada&lt;/st1:city&gt; yang berpendapat bahwa &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;madihi&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;i style=""&gt;n&lt;/i&gt; berasal dari kata &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;madah&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;, yaitu sejenis puisi lama dalam sastra &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;. Madah merupakan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;syair yang mempunyai rima yang sama&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pada suku akhir kalimat. Madah mengandung puji - pujian, nasehat atau petuah. Tetapi dalam perkembangannya humor atau&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt; lulucuan&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;, sindiran yang sehat, tak ketinggalan disuguhkan oleh &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;Pamadihinan ( orang yang membawakan madihin )&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; sebagai bumbu. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;Kehidupan Madihin seperti juga balamut, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sastra Banjar&lt;/span&gt; yang hampir tipis, bahkan mengalami kerisis kemusnahannya. Sastra Banjar Madihin jarang ditampilkan dalam acara – acara hiburan hari – hari besar atau acara perayaan daerah misalnya pada hari jadi &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;kota&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;, kabupaten atau pun pada hari jadi provinsi. Setelah di tahun 1970 – an tak pernah ada lagi perlombaan atau pertandingan Madihin.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;Jarang atau dapat dihitung dengan jari&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;orang yang berminat menjadi Pamadihinan. Agar menjadi Pamadihinan yang mengarah kepada pemain profisional,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ia harus memiliki keterampilan dalam bamadihin. Keterampilan itu antara lain : Menguasai lagu khas madihin, terampil memukul tarbang dengan irama sebagai pukulan pembuka atau membunga, pukulan memecah bunga, pukulan menyampaikan isi pesan, dan pukulan penutup. Seorang Pamadihinan juga harus mempunyai suara atau vokal yang lantang dan merdu. Disamping hapal naskah&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;syair, ia juga terampil berimpropisasi yaitu secara spontan menciptakan syair tanpa dipersiapkan terlebih dahulu. Memang seorang pamadihinan perlu&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;latihan yang terus – menerus agar dapat menjadi Pamadihinan yang profisional.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;Banyak pendapat mengenai asal mula &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sastra Banjar Madihin.&lt;/span&gt; &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Ada&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; yang mengatakan berasal dari Kecamatan Angkinan yaitu di kampung Tawia, Hulu Sungai Selatan Kalimantan Selatan. Pendapat ini berpijak pada bahwa Pamadihinan banyak tersebar di pelosok Kalimantan Selatan berasal dari kampung Tawia bernama &lt;b style=""&gt;Dulah Nyangnyang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;Ada juga yang berpendapat&lt;span style=""&gt;  &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sastra Banjar &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Madihin &lt;/span&gt;berasal dari Kecamatan Paringin, Kabupaten Hulu Sungai Utara Kalimantan Selatan, sebab dahulu Dulah Nyanyang lama bermukim di ingin dan mengembangkan madihin di sana.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;Tetapi ada juga yang berpendapat &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sastra Banjar Madihin &lt;/span&gt;berasal dari utara Kalimantan yang berbatasan dengan negara &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Malaysia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; ( Malaka ), sebab madihin banyak dipengaruhi oleh syair melayu dan gendang tradisional semenanjung Malaka. Tarbang ( gendang ) yang dipakai bamadihin ada persamaan dengan gendang yang dipakai oleh orang – orang Malaka dalam mengiringi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;syair atau pantun melayu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;Apa pun pendapat ini. Namun yang jelas bahwa madihin menggunakan bahasa Banjar, Pamadihinannya etnik Banjar. Madihin adalah kesenian tradisional Banjar yang khas Banjar yang tidak ada pada etnik lain di Nusantara. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Madihin sudah ada diperkirakan tahun 1800 yaitu setelah Islam masuk dan berkembang di &lt;st1:place st="on"&gt;Kalimantan&lt;/st1:place&gt;. Lahirnya madihin banyak dipengaruhi oleh kesenian Islam yaitu kasidah dan syair – syair bercerita yang dibaca oleh masyarakat Banjar.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;Madihin pada umumnya dipergelarkan pada malam hari, tetapi sekarang pada siang hari. Durasi pagelaran sekitar 1 sampai 2 jam sesuai permintaan penyelenggara. Pagelaran madihin umumnya di lapangan terbuka yang dapat menampung penonton yang banyak. Panggung yang diperlukan ukuran 4 x3 meter. &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Ada&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; juga di halaman rumah, di muka kantor atau balai. Sekarang sering pula dipergelarkan di dalam gedung.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;Membawakan madihin ada yang hanya satu Pamadihinan yakni pemain tunggal.Pemain tunggal ini membawakan syair dan pantunnya harus pandai membawa timber atau warna suara yang agak berbeda seperti orator. Ia harus pandai menarik perhatian penonton dengan humor segar tetapi sesuai dengan batas etika. Ia harus benar – benar sanggup dengan memukau dengan irama dinamis pukulan terbangnya.&lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tetapi umumnya dibawakan 2 Pamadihinan, malah sampai 4 Pamadihinan. Jika 2 Pamadihinan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;berduet maka pemain ini biasanya beradu atau saling bertanyajawab, saling sindir, saling kalah mengalahkan melalui syair yang dibawakan. Aturannya adalah Pamadihinan yang satu membuka hadiyan, kemudian disambut oleh Pamadihinan yang kedua, dan seterusnya saling bersahuta. Andaikan ada 4 Pamadihinan maka terbagi dua kelompok, masing – masing 2 Pamadihinan., penampilannya seperti halnya yang dua Pamadihinan, tapi kelompok yang satu bisa membantu anggota kelompoknya melawan kelompok yang dihadapinya. Biasanya kelompok ini &lt;b style=""&gt;berpasangan pria dan wanita&lt;/b&gt; yaitu &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;duel meet&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;. Duel meet ini merupakan beradu &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;kaharata&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;n ( kehebatan ). Dalam duel ini, &lt;b style=""&gt;kelompok 1&lt;/b&gt; memberi umpan dengan syair tertentu. &lt;b style=""&gt;Kelompok 2&lt;/b&gt; harus dapat mengulangi atau menjawab, selanjutnya harus memberi umpan balik, yang harus diulang oleh kelompok I. Mereka saling bertanya jawab, saling menyindir, saling kalah mengalahkan. Demikian seterusnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Ada&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; pun kelompok yang kalah apabila tidak bisa atau tidak dapat mengulang atau menjawab kelompok lawannya. &lt;b style=""&gt;Kelompok yang kalah akan mengangkat bendera putih.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;Pamadihinan duduk di kursi dengan memakai baju Banjar yaitu taluk balanga dan memakai kopiah serta sarung. Tetapi sekarang sudah berpakaian bebas dan sopan, kecuali pada acara – acara penting, misalnya menghibur tamu pejabat atau menghibur acara pisah sambur pejabat, dan lain – lain.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;Madihin umumnya berfungsi :&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;1. Dahulunya menghibur raja atau pejabat istana. Syair yang dibawakan bersifat pujian.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;2. Sebagai hiburan masyarakat acara tertentu, misalnya hiburan habis panen,&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;memeriahkan pengantin, peringatan hari besar nasional dan daerah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;3. Sebagai nadar atau hajat misalnya bagi orang tua yang anaknya baru sembuh dari sakit,&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;upacara &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;meayun&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; anak yaitu upacara daur hidup etnik Banjar dan juga pada acara&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;sunatan&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; ( kitanan ).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;4. Sebagai media informasi, penyampaian pesan pembangunan yang dilakukan oleh&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;pemerintah misalnya keluarga berencana, Pertanian, pendidikan, kesehatan,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;pemeliharaan nilai dan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;moral, wahana memperkokoh persatuan kesatuan , dan lain–&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;lain. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Struktur pergelaran sudah &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;baku&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;, yaitu terdiri atas :&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;1&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color:blue;"&gt;. &lt;/span&gt;&lt;span style="color:teal;"&gt;Pembukaan,&lt;/span&gt;&lt;/b&gt; yaitu melagukan sampiran sebuah pantun yang diawali dengan pukulan&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt; tarbang&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; yang disebur pukulan pembuka. Pembuka ini merupakan informasi tema yang akan dibawakan.&lt;span style="color:teal;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Contoh :&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);" lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="color:maroon;"&gt;Ilahi …..&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="color:maroon;"&gt;lah riang … lah riangt riut&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="color:maroon;"&gt;punduk …. Di hutan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="color:maroon;"&gt;riang riut punduk di hutan …&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="color:maroon;"&gt;kaguguran ….&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="color:maroon;"&gt;kaguguran buah timbatu …. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="color:maroon;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;2. &lt;b style=""&gt;&lt;span style="color:teal;"&gt;Batabi&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="color:teal;"&gt;, &lt;/span&gt;yaitu syairnya atau pantun yang isinya penghormatan pada penonton, pengantar, ucapan terima kasih, dan permohonan maaf dan ampun jika ada terdapat kesasahan atau kekeliruan dalam pergelaran.&lt;span style="color:teal;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Contoh :&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="color:purple;"&gt;maaf ampun hadirin barataan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="color:purple;"&gt;baik nang di kiri atawa di kanan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="color:purple;"&gt;baik di balakang atawa di hadapan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="color:purple;"&gt;baik lai – laki atawa parampuan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="color:purple;"&gt;baik urang tuha atawa kakanakan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="color:purple;"&gt;baik nang badiri atawa nang dudukab&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="color:purple;"&gt;ulun madihin sahibar bacucubaan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="color:purple;"&gt;tarima kasih ulun sampaiakan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="color:purple;"&gt;kapada panitia mambari kasampatan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="color:purple;"&gt;kalu tasalah harap dimaafakan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="color:purple;"&gt;tapi kalu rami baampik barataan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="color:purple;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;3. &lt;b style=""&gt;&lt;span style="color:teal;"&gt;Mamacah bunga , &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;yaitu menyampaikan syair atau pantun sesuai dengan isi tema yang dibawakan. &lt;b style=""&gt;&lt;span style="color:teal;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Contoh :&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="color:fuchsia;"&gt;baampik …. barataan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="color:fuchsia;"&gt;babulik kaawal papantunan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="color:fuchsia;"&gt;handak dipacahy makna sasampiran&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="color:fuchsia;"&gt;supaya panuntun nyaman mandangarakan &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="color:fuchsia;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="color:fuchsia;"&gt;riang riut punduk di hutan &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="color:fuchsia;"&gt;kaguguran kanapa buah timbatu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="color:fuchsia;"&gt;irang irut muntung kuitan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="color:fuchsia;"&gt;mamadahi kaina anak minantu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="color:fuchsia;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="color:fuchsia;"&gt;minantu mayah ini lain banar bahari&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="color:fuchsia;"&gt;guring malandau lacit katangah hari&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="color:fuchsia;"&gt;kada bamasak sabigi nasi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="color:fuchsia;"&gt;dipadahi mintuha kada maasi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="color:fuchsia;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="color:fuchsia;"&gt;kalu malam tulak pamainan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="color:fuchsia;"&gt;padahal pamainan dilarang tuhan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="color:fuchsia;"&gt;urang macamitu bungul babanaran&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="color:fuchsia;"&gt;bisa – bisa mati karabahan jambatan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="color:fuchsia;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="color:fuchsia;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;4. &lt;b style=""&gt;&lt;span style="color:teal;"&gt;Penutup, &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;yaitu kesimpulan dari apa yang baru disampaikan, sambil menghormati penonton, dan mohon famit, serta ditutup dengan berupa pantun – pantun.&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color:teal;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Contoh :&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="color:blue;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="color:blue;"&gt;tarima kasih ulun sampaiakan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="color:blue;"&gt;kadapa hadirin sabarataan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="color:blue;"&gt;mudahan sampian kalu ingat kaganangan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="color:blue;"&gt;kapada diri ulun pamadihinan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="color:blue;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="color:blue;"&gt;ulun madihin sahibar mamadahakan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="color:blue;"&gt;handak manurut tasarah pian barataan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="color:blue;"&gt;sampai di sini dahulu sakian&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="color:blue;"&gt;mohon pamit ulun handak batahan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="color:blue;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="color:blue;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="color:blue;"&gt;rama – rama batali banang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="color:blue;"&gt;kutaliakan ka puhun kupang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="color:blue;"&gt;sama – sama kita mangganang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="color:blue;"&gt;mudahan kita batamuan pulang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="color:blue;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="color:blue;"&gt;ilahi ….&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="color:blue;"&gt;sadang bataha, sadang barhanti …&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="color:blue;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 204, 255);" lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="color:red;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Diharapkan kepada semua pihak yang terkait terutama lembaga kesenian seperti Dewan Kesenian, Pariwisata, atau lembaga pendidikan lainnya agar peduli kepada keberadaan madihin yang semakin langka.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Semoga &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sastra  Banjar&lt;/span&gt; yang dimasukkan ke dalam mata pelajaran muatan lokal di sekolah – sekolah menjadikan siswa minimal mengetahui kekayaan khasanak senibudaya daerahnya dan begitu indahnya kesenian daerah yang tak kalah dengan kesenian modern lainnya dalam zaman globalisasi ini. Semoga.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4648747481528843-8289880440933668695?l=ansepadang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ansepadang.blogspot.com/feeds/8289880440933668695/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4648747481528843&amp;postID=8289880440933668695' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4648747481528843/posts/default/8289880440933668695'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4648747481528843/posts/default/8289880440933668695'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ansepadang.blogspot.com/2008/05/madihin-kesenian-tradisional-banjar.html' title='MADIHIN, SASTRA BANJARNYA URANG BANJAR'/><author><name>Arsyad Indradi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03282526078807458772</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/SQsSbmw_naI/AAAAAAAABwA/pVTsWzbU-Gc/S220/aku+5.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4648747481528843.post-3166279005575516229</id><published>2008-05-14T23:14:00.000-07:00</published><updated>2008-05-14T23:15:34.639-07:00</updated><title type='text'>AKANKAH WAYANG  KULIT BANJAR BISA BERTAHAN HIDUP DI ERA GLOBALISASI INI ?</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Oleh : Arsyad Indradi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;Pertunjukkan lakon wayang kulit telah menjalani proses hidup dari zaman ke zaman. &lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;Pada masa kejayaan Agama Hindu dan Budha, wayang kulit adalah santapan rohani bagi penganutnya yang dibawakan oleh para biku atau pun biksu yang berpusat di Candi Penataran di Jawa Timur. Cerita yang dibawakan adalah cerita Ramayana yang disusun oleh Walmiki dan Mahabharata yang disusun oleh Wiyasa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;Pada abad XVI , wayang kulit mengalami perubahan dan pembaharuan dalam segi makna dan sifatnya setelah Kesultanan Demak mengembangkan Agama Islam di tanah Jawa. Seorang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dari Wali Sanga yang bernama Sunan Kalijaga menghapus sifat magis wayang, karena wayang bukanlah gambaran wajah roh nenek moyang yang memiliki kekuatan magis, tetapi hanya merupakan gambaran wajah tokoh cerita. &lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;Sunan Kalijaga tidak hanya mempergelarkan lakon – lakon Ramayana ataupun Mahabharata tetapi juga mempergelarkan cerita – cerita rakyat Jawa. Dan wayang yang berupa upacara keagamaan dan pemujaan Dewa dengan cara yang rapi ditinggalkan dan menciptakan wayang Punakawan ( Semar, Petruk, Gareng dan Bagong ) dengan dagelannya sehingga para penganut agama Hindu dan Budha yang menonton wayang Triwali itu merasa lebih tertarik dari pada wayang Hindu yang membawa cerita, monoton dan membosankan. Disamping itu, tokoh Darmakasuma mempunyai ajimat Kalimasada yang pada wayang Hindu tidak ada. Yang lebih menarik lagi, dalang Triwali menggubah cerita carangan, yaitu cerita di luar ‘pakem’.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;Bagaimana wayang kulit di tanah Banjar ?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;Seiring masuknya agama Islam dan senibudaya dari Kerajaan Demak, setelah Raja Banjar Pangeran Suriansyah mengucapkan Duakalimahsahadat, di abad XVI itu, kesenian wayang kulit mulai diperkenalkan dan berkembang hidup di tanah Banjar. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;Para dalang Banjar masih tetap sebagai pewaris Triwali, wayang kulit sebagai media da’wah agama Islam&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan dimana pagelaran wayang kulit merupakan penuntun berbuat kebaikan, kebenaran, keadilan, kejujuran, dan patriotisme.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;Dalam perkembangan wayang kulit di tanah Banjar, ada pagelaran wayang kulit berupa ‘manyampir’ namun ‘sampir’ ini oleh dalang yang beragama Islam bukanlah ’haul’ atau memperingati para arwah nenek moyang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dengan segala sesajennya melainkan upacara selamatan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yakni menghaul nenek moyang dan ‘tulak bala’, dengan doa selamat dan doa arwah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Pertunjukkan wayang kulit sangat digemari oleh rakyat ( masyarakat ) Banjar. Jika ada acara hari besar baik nasional maupun daerah, acara perkawinan atau pun acara lainnya, pertunjukan wayang tak luput dari penonton yang berlimpah ruah. Penontonnya tentu saja beragam, orang – tua, dewasa, remaja bahkan anak – anak. Apalagi jika dalangnya ‘Tulur’ ( dari desa Barikin Kabupaten Hulu Sungai Tengah ) seorang dalang senior yang sangat terampil memainkan wayang dan menuturkan cerita. Seorang dalang yang konon dapat mengusir hujan manakala sedang berlangsung pertunjukkan wayang kulit. Setelah dalang Tulur meninggal, dalang ‘Utuh Aini ( dari Banjarmasin ) melanjutkan kehidupan wayang. Dalang Utuh Aini meninggal, dilanjutkan oleh dalang Rundi, Busrajuddin dan Pedalang lainnya.. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Namun tampaknya beberapa tahun ini kehidupan wayang kulit&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Banjar semakin berkurang &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;penontonnya dan kekhawatiran matinya wayang Banjar sangat beralasan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Di era globalosasi ini, peradaban manusia semakin bergeser dari porosnya, ilmu pengetahuan dan teknologi semakin maju. Maka apakah wayang kulit masih bertahan pada paradigma lama ?&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Wayang kulit seyogyanyalah merubah sikap, meninggalkan paradigma lama itu, pandai mengikuti perkembangan zaman dan lebih lagi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;berani bersaing dengan tayangan yang ada di TV atau pun di tempat pertunjukkan lainnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;             &lt;/span&gt;Dalam hal ini, Pedalang itu sendiri harus inovatif. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Merenovasi seluruh keberadaan wayang kulit seperti belincongnya memakai lampu listrik, kelir yang berornamen indah dan selalu diganti kalau sudah kadaluarsa, sound systim yang memadai apalagi kalau bisa&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang canggih, dalang dan seluruh crew penabuh gamelannya berkostum seragam daerah Banjar. Dari sisi irama musik, agar tidak monoton, disamping lagu yang ada seperti lagu lasam sepuluh ( sebagai pembuka dari dalang ), lagu ayakan, lagu paparangan ancap dan paparangan alun, dan lagu liong&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;perlu mengaransir lagu lain sebagai pemerkaya irama musik&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;untuk&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;plot&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;atau suasana cerita. Perangkat gamelan selalu distim agar menghasilkan paduan musik yang harmonis. Perletakkan jejer wayang di atas gadang ( gedebuk ) benar – benar artistik. Dan tak kalah pentingnya selalu menciptakan cerita sesuai dengan tuntutan zaman namun tidak lepas dari pakemnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;             &lt;/span&gt;Umumnya pertunjukkan wayang adalah semalam suntuk. Tetapi ini perlu juga&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kita petimbangkan. Seperti halnya pertunjukan teater teradisional “ Mamanda “. Pertunjukkan Mamanda &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;dapat menuntaskan cerita dalam durasi dua atau &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;tiga jam. Alhasil, setiap pertunjukkan Mamanda selalu berjobel penontonnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;              &lt;/span&gt;Nah, bagaimana pertunjukkan wayang ? &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;              &lt;/span&gt;Ada beberapa solusi lain untuk kembali menggairahkan kehidupan wayang kulit Banjar. Tentu saja ini ada kaitannya dengan PEPADI Komda Tingkat I Kalimantan Selatan. PEPADI &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;perlu merancang program kerja dan melaksanakannya seperti sarasehan, seminar, diskusi tentang wayang Banjar atau bentuk lainnya. PEPADI sedini mungkin menyiapkan kader – kader Pedalang dan penabuh gamelan &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;baik tingkat anak – anak sampai tingkat dewasa seperti mengadakan work shop dalang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;atau khusus&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pelatihan menyindin dan teknik memainkan wayang dan berupaya memproduksi wayang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;Dan adanya kerja sama yang baik ( program terpadu ) antara Disparsenibud, Dewan Kesenian ( andai ada yang masih hidup ) dan PEPADI seperti menyelenggarakan Festival &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;pertunjukkan wayang kulit, lomba mendalang baik tingkat anak – anak sampai tingkat dewasa, lomba menyindin, lomba mengarang cerita wayang, dan mengadakan pagelaran wayang kulit pada acara perayaan misalnya hari besar nasional dan daerah. DPRD, Gubernur, Bupati dan Walikota sebagai fasilitator yang selalu memback up finansialnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;                 &lt;/span&gt;Disamping itu tak ketinggalan masyarakat Banjarnya. Masyarakat Banjar tetap menumbuhkan kepedulian dan kecintaan terhadap wayang sebab seni wayang adalah salah satu khasanah senibudaya daerahnya dan salah satu pusaka peninggalan ‘urang bahari’ nang harus kita partahanakan sampai kamati. Semoga.****** &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4648747481528843-3166279005575516229?l=ansepadang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ansepadang.blogspot.com/feeds/3166279005575516229/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4648747481528843&amp;postID=3166279005575516229' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4648747481528843/posts/default/3166279005575516229'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4648747481528843/posts/default/3166279005575516229'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ansepadang.blogspot.com/2008/05/akankah-wayang-kulit-banjar-bisa.html' title='AKANKAH WAYANG  KULIT BANJAR BISA BERTAHAN HIDUP DI ERA GLOBALISASI INI ?'/><author><name>Arsyad Indradi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03282526078807458772</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/SQsSbmw_naI/AAAAAAAABwA/pVTsWzbU-Gc/S220/aku+5.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4648747481528843.post-7103730281995439210</id><published>2008-05-14T07:03:00.000-07:00</published><updated>2008-05-14T07:04:50.213-07:00</updated><title type='text'>Kisah dari Batu Penyadar Mabuk</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);" lang="IN"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 204, 255);" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; color: rgb(0, 204, 255);" lang="IN"&gt;Kisah seorang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;seorang isteri yang meninggalkan suaminya, seorang sasjana miskin. Wanita ini kawin pula dengan seorang pemilik kedai arak. Sang bekas suami kemudian lulus dalam ujian kesusastraan dengan berhasil dapat merebut tinggkat tertinggi. Ia kembali ke kampung halamannya dengan iring-iringan yang menunjukkan, bagaimana agung kedudukannya sekarang. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; color: rgb(0, 204, 255);" lang="IN"&gt;Ketika melewati kedai arak itu, ia menampak bekas isterinya tengah duduk menantikan tamu-tamu dalam ke dainya bitu. Suami bekas isterinya itu sedang menghitung uang dengan mengenakan baju pendek dan celana pendek.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; color: rgb(0, 204, 255);" lang="IN"&gt;Ia memasuki kedai arak itu dengan dipayungi payung kebesaran oleh orang-orangnya. Jubahnyapun pakaian kebesaran pula yang gilang-gemilang. Melihat datang seorang pembesar negeri, sipemilik kedai arak belalu dengan tergesa-gesa dari ruang itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; color: rgb(0, 204, 255);" lang="IN"&gt;Isterinya telah mengenali bekas suaminya sejak ia turun dari jolikebesarannya. Tetapi wajahnya tidak menunjukkan sesuatu perubahan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; color: rgb(0, 204, 255);" lang="IN"&gt;Sang sarjana menghampiri bekas isterinya dan membungkukkan badannya dengan hormat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; color: rgb(0, 204, 255);" lang="IN"&gt;Tanpa balas menjurah, wanita itu mengatakan kepadea bekas suaminya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; color: rgb(0, 204, 255);" lang="IN"&gt;“Jalankanlah terus kewajibanmusebagai seorang pegawai negeri, sedang aku akan melanjutkan pekerjaan menjual arak.” Sarjana itu meninggalkan kedai arak itu sambil bersenyum.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; color: rgb(0, 204, 255);" lang="IN"&gt;Belakangan, karena tetangga-tetangga mengejeknya, wanita itu menggantung diri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 204, 255);" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);" lang="IN"&gt;Dikutip dari : “Sastra Tiongkok&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sepintas Kilas” oleh Nio Joe Lan, halaman 195-196.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 204, 255);" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 204, 255);" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 204, 255);" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4648747481528843-7103730281995439210?l=ansepadang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ansepadang.blogspot.com/feeds/7103730281995439210/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4648747481528843&amp;postID=7103730281995439210' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4648747481528843/posts/default/7103730281995439210'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4648747481528843/posts/default/7103730281995439210'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ansepadang.blogspot.com/2008/05/kisah-dari-batu-penyadar-mabuk.html' title='Kisah dari Batu Penyadar Mabuk'/><author><name>Arsyad Indradi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03282526078807458772</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/SQsSbmw_naI/AAAAAAAABwA/pVTsWzbU-Gc/S220/aku+5.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4648747481528843.post-5528178101752334510</id><published>2008-05-14T07:02:00.000-07:00</published><updated>2008-05-14T07:03:17.438-07:00</updated><title type='text'>Kisra Persia dan Seorang Perempuan Tua</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; color: teal;" lang="IN"&gt;Bazarjamher, salah seorang bijak di Persia, mengatakan,”Ada seorang nenek yang memiliki seekor ayam betina yang diletakkan di sebuah kandang yang berdekatan dengan istana Kisra. Suatu hari si nenek itu sedang melakukan perjalanan ke desa lain. Sebelum berangkat nenek itu berdoa, “Wahai Rabb-ku, aku titipkan ayam betinaku kepada-Mu.” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; color: teal;" lang="IN"&gt;Pada saat tidak berada di tempat itu, Kisra berlaku lalim dengan menggusur kandang itu untuk perluasan istana dan taman kerajaan. Ayam yang berada di dalam kandang itu disembelih oleh para tentara, dan kandangnya dirusak. Sekembalinya dari perjalanan itu, si nenek menengadah ke langit dan berkata, “Wahai Rabb-ku, aku memang tidak ada saat terjadi kejahatan itu, namun dimana Engkau saat itu ?” Allah pun memperlakukan nenek itu dengan adil dan membalaskan perlakuan Kisra itu. Kisra itu dibunuh oleh anaknya dengan sebilah pisau saat sedang tidur di pembaringan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="IN"&gt;( &lt;i style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 102, 0);"&gt;Bukankah Allah cukup melindungi hamba-hamba-Nya. Dan mereka menakuti kamu dengan (sembahan-sembahan yang selain Allah ? ) ( QS.Az-Zumar:36)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 204, 255);" lang="IN"&gt;*** Dari : La Tahzan ,halaman 255-256 Oleh Dr.Aidh al- Qarni ***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 204, 255);" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4648747481528843-5528178101752334510?l=ansepadang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ansepadang.blogspot.com/feeds/5528178101752334510/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4648747481528843&amp;postID=5528178101752334510' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4648747481528843/posts/default/5528178101752334510'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4648747481528843/posts/default/5528178101752334510'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ansepadang.blogspot.com/2008/05/kisra-persia-dan-seorang-perempuan-tua.html' title='Kisra Persia dan Seorang Perempuan Tua'/><author><name>Arsyad Indradi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03282526078807458772</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/SQsSbmw_naI/AAAAAAAABwA/pVTsWzbU-Gc/S220/aku+5.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
