Selasa, 20 Januari 2009

MEMANFAATKAN INTERNET DI DUNIA SASTRA

: Arsyad Indradi ( Maungkai gagasan Sainul Hermawan ketika di Aruh Sastra Kalsel III
di Kotabaru )

Selama ini sastrawan telah memanfaatkan media cetak untuk menampilkan karya – karyanya seperti buku, koran atau pun majalah. Maka, di era globalisasi yang melaju pesatnya perkembangan teknologi ini, apa salahnya kalau kita juga ikut serta memanfaatkan teknologi ini sebagai salah satu media alternatif untuk menampilkan karya – karya sastra.

Kita dapat memprediksikan kedepannya, bahwa peranan komputer dan teknik multimedia yang saling mendukung ini akan terus meningkat dan akan menjadi alat yang paling dominan dalam kehidupan manusia. Lebih – lebih lagi munculnya internet yang menjadi alat yang penting dalam era globalisasi. Melalui internet arus informasi menyebar dengan pesat, lengkap dan mudah didapat.

Melihat perkembangan kesastraan di tanah air akhir – akhir ini yang memanfaatkan internet atau sering juga disebut dunia maya sangat menakjubkan. Dari penyair pemula sampai tokoh – tokoh sastrawan Indonesia telah memanfaatkan internet baik dalam bentuk fisik arena situs website, mailing-list mau pun spam emails.

Situs – situs yang bermunculan untuk mewadahi kreativitas para sastrawan, seperti www.cybesastra.net. Situs yang dibentuk oleh yayasan Multimedia mampu menjadi wadah yang memadai. Yayasan ini telah menerbitkan dua buku yang meterinya diambil dari karya – karya yang disumbangkan seniman pada situs tersebut, baik berupa cerita pendek, puisi maupun esai. Dan telah meluncurkan Graffiti Imaji kumpulan cerita pendek yang memuat 83 karya yang dipilih oleh Sapadi Djoko Damono, Yanusa Nugroho, dan Anna Siti Herdiyanti. Juga situs www.bumimanusia.or.id yang bergerak di bidang sastra, telah menghasilkan beberapa karya yang dicetak antara lain antologi cerpen Puthut E.A yang berjudul Sebuah Kitab yang Tak Suci, dan Beatniks, puisi – puisi Nurudin Asyhadie, dan Bumi Manusia 1: Ini …Siskus Senyum. Belum terhitung dengan terbitnya beberapa jurnal yang sebelumnya telah melewati sistem penyeleksian melalui editorial situs tersebut. Para sastrawan yang cukup dikenal dan setia di dalam berprosespun, banyak yang sudah terlibat di dalam pengukuhan karya – karya para sastrawan di dunia
internet. Tak kurang beberapa nama seniman yang cukup lama dikenal ikut mendukung fenomena sastra internet di media masa. Para penulis itu antara lain Eka Darma Putra, F.Rahardi, Sobron Aidit dan Medy Loekito.

Medy Loekito, penyair dan Ketua Yayasan Multimedia Sastra di situs www.cybersastra.net memaparkan bahwa manusia telah menciptakan dunia yang berlimpah informasi dibandingkan degan masa-masa sebelumnya. Filosofi baru, baik filosofi secara umum, maupun mengenai sastra dan nilai estetika, diperlukan untuk menyiasati perkembangan yang terus terjadi. Dalam hal ini, computer dan media internet memegang peran penting dalam membentuk opini global. Definisi suatu filosofi baru tidak perlu dikarang dan ditetapkan oleh seseorang atau kelompok orang saja, tetapi semua manusia dapat berperan menyusun filosofi bersama. Dengan menggunakan email atau hypertext program dalam internet, dan tentunya perangkat komputer, setiap manusia dapat menyumbangkan buah pikirannya. Buah - buah pikiran ini dapat diolah menjadi suatu keputusan yang sahih dan berlaku universal, tetapi dapat juga dibiarkan sebagaimana adanya dan boleh dibaca atau dihayati oleh pembaca lain sesuai dengan situasinya masing – masing. Penyumbang saran memiliki kebebasan untuk berpendapat. Pembaca memiliki kebebasan untuk memilih informasi atau opini sesuai kebutuhan. Dan semua pergerakan ini tidak lagi membutuhkan legalisasi usia, pendidikan, jabatan, domisili, maupun gender.

Evolusi teknologi dapat menjadi pendamping hidup yangt nyaman apabila manusia dapat mengerti sifat dan karakter teknologi tersebut. Komputer, multimedia,cyber serta internet, diciptakan untuk membantu manusia, bukan hanya dalam hal entertainment, tetaqpi juga dalam hal sastra. Insan sastra seyogyanya dapat mendayagunakan benda – benda tersebut untuk melestarikan sejarah masa lalu, tanpa perlu menutup diri bagi masa depan yang bagaimanapun juga tetap akan tiba. Segala kemudahan dan kemungkinan yang disediakan oleh teknologi, sebaiknya dapat diterima dengan sederhana tanpa menyederhanakan fungsi dan pemakaiannya.

Media internet dapat memberi ruang yang cukup leluasa bagi karya-karya sastra, baik puisi, esai maupun cerpen dari cerpen yang berbentuk sangat mini atau sangat panjang. Dapat menjadi wadah berekspresi dan wadah pendokumentasian karya sekaligus mempublikasikannya. Di media internet dapat ditambahkan berupa gambar – gambar ilustrasi, latar suara atau musik, gambar bergerak atau animasi, kreasi header atau banner dan lain – lain sehingga memberi daya tarik bagi pengunjungnya.

Promosi sastrawan lewat dunia maya ini sangatlah efektif dan murah, karena siapa saja bisa mengunjungi situs tersebut tanpa dikenai biaya. Para sastrawan tentu saja dapat lebih leluasa untuk mempublikasikan dan mensosialisasikan karya - karyanya.

Sebagai ilustrasi saya kemukakan pemanfaatan internet lainnya adalah kita ingin minta informasi ambil saja contoh ingin mengetahui biodata saya, kita tinggal menyelusuri www.google.com dengan menuliskan Biodata Arsyad Indradi maka tersedialah permintaan itu. Ini pernah dilakukan oleh sekelompok siswa SMA Telkom Banjarbaru sehubungan tugas yang diberikan sekolahnya untuk membuat makalah tentang penyair Banjarbaru. Juga ada beberapa teman saya yang kebetulan berada di luar negeri ingin mengetahui alamat saya bahkan nomor hp saya, tinggal menuliskan nama saya di www.google.com. Saya sering dihubungi baik langsung mau pun sms oleh guru – guru mata pelajaran Bahasa Indonesia untuk meminta informasi Penyair Indosesia dan Penyair Kalimantan Selatan, saya beritahukan klik saja http://penyairnusantara dan http://penyair-kalsel.blogspot.com Dan juga ada beberapa guru muatan local ingin mengetahi sastra daerah Banjar seperti Lamut, madihin dan mamanda, saya sarankan klik http://sastrabanjar.blogspot.com

Disamping sastra media cetak, sastra internet pun melejit dalam perkembangan kesastraan Indonesia. Beberapa karya Sapardi Djoko Damono, Goenawan Muhammad, Eka Budianta, Sutardji Calzoum Bachri, Rendra, Emha Ainun Nadjib, Dorothea Rosa Herlina, D.Zawawi Ibron, Agus R Sarjono, Jamal D Rahman, Sobron Aidit, Saut Situmorang, Afrizal Malna, Sitor Situmorang, Ahmadun Yosie Herfanda , Medy Loekito


serta banyak nama lagi dapat kita temui di sana. Karya – karya mereka tidak hanya dimuat oleh situs lembaga kesenenian tetapi juga seperti http://www.lontar.org, http://lallement.com, http://www.poetry.com, http://www.geocities.com, www.tripod.com, www.angelfire.com, www.theglobe.com, http://penyairnusantara.blogspot.com, www.bumimanusia.or.id pada mailinglist seperti penyair@groups.com, puisikita@egroups.com serta banyak lagi yang dapat kita temui situs – situs pribadi. Pembuatan situs individu ini banyak berkembang di tengah kemudahan yang ditawarkan oleh para industrialis internet, antara lain dengan memberikan penyimpanan gratis content situs – situs, seperti blogspot, wordpress, multiply dan lain – lain. Di mailinglist banyak menyajikan diskusi sastra dan penampilan karya sastra yang berlangsung duapuluhempat jam sehari.

Kecenderungan pengguna internet ini tentu saja karena kemudahan, kenyamanan dan hemat biaya. Kecenderungan para pengguna internet untuk mencari informasi dengan mudah dan biaya murah ini bersambut dengan kecenderungan para “ sastrawan internet “ yang tidak mengharapkan honor dari tulisannya di internet. Banyak penulis di internet yang menyuguhkan esai serta karya – karya sastra yang tak kalah bagus dengan artikel di media cetak. Seperti Maman S Mahayana, Deo Et Patria, Saut Situmorang, Sobron Aidit, Hersri Setiawan dan lain – lain. Banyak penulis Indonesia yang kebetulan berada di luar negeri dapat menjalin silaturahmi, saling berbagi karya melalui mailinglist dan situs dengan penulis di tanah air.

Melihat perkembangan sastra yang memanfaatkan internet terutama sastrawan di Pulau Jawa, Sumatera, Sulawesi, Bali dan pulau lainnya begitu pesat, sastrawan Kalimantan Selatan juga tak ketinggalan memanfaatkan media internet. Kita sebut saja Harie Insani Putra – http://hariesaja.wordpress.com, Sandi Firly-http://sfirly.wordpress.com, Hudan
Nur – http://hudannur.blogspot.com, Isuur Loeweng – http://loweng08.worpress.com, Fahruraji Asmuni – http://wwwkaryaraji.blogspot.com, Farah Hidayat – http://farah.multiply.com, Zulfaisal Putera – http://zulfaisalputera.wordpress.com,
, Aliansyah Jumbawuya – http://padepokanpena.wordprees.com, Hasbi Salim – http://hasbisalim.wodpress.com, Ratih Ayuningrum – http://ratihayuningrum.wordpress.com, Sainul Hermawan – http://blogsainulh.wordprees.com Lebih jauh Sainul memanfaatkan blognya untuk keperluan perkuliahan. Dan saya mempunyai situs http://penyairnusantara.blogspot.com, http://penyair-kalsel.blogspot.com, http://sastrabanjar.blogspot.com, dan http://arsyadindradi.blogspot.com. Pada situs penyair nusantara, saya buatkan blog untuk penyair tiap provinsi se Indonesia berjumlah 36 blog dan 400 penyair yang tergabung dan tiap minggu masih masuk ke email saya. Pada penyair Kalsel saya buatkan blog tiap kota dan kabupaten berjumlah 13 blog dan 75 penyair. Tetapi ada beberapa blog seperti Tanah Bumbu, Tanah Laut, HST dan Balangan masih kosong. Saya masih menunggu penyair – penyair kabupaten yang belum mengisi blog-blog yang kosong tersebut.

Kita menyadari kendala di daerah kemungkinan sulitnya masuk jaringan internet dan minimnya warnet. Dan disamping itu memasuki dunia maya ini memang diperlukan pengetahuan penguasaan teknis internet. Tetapi saya yakin ini ada solusinya yang pertama adalah memiliki minat dan kemauan keras. Yang kedua mengadakan work shop atau pelatihan internet yang bekerjasama dengan Speedy Telkom dan Blogger Kalsel “Kayuh Baimbai”. Sebaiknya Aruh Sastra Kalsel V di Balangan ini merekomendasikan yang kedua ini untuk tahun 2009. Mudah – mudahan kendala ini dapat diatasi. Sementara ini saya menawarkan kirimkan saja karya puisi - puisinya ke email saya merayusukma49@yahoo.co.id atau lewat post kealamat saya Jalan Pramuka No.16 RT 03 RW 07 Banjarbaru 70711 dan akan saya muat diblog dimasing – masing blog Kabupaten/Kota yang sudah saya sediakan yaitu pada http://penyair-kalsel.blogspot.com
Demikian tulisan singkat ini yang dapat saya sampaikan semoga ada manfaatnya. Salam Sastra. ( Tautan : http://infoperpus.8m.com, http://beritaseni.wordpress.com, http://www.cybersastra.net,http://nanangsuryadi.blogspot.com,http://pewarta.kabarindonesia.blogspot.com, http://yaya.com, http://www.mail.archive.com, http://www.titiknot.com )





Menghayati Peran Komunitas Sastra

Akhirnya pesta itu usai. Sebuah pesta sastra yang melibatkan sekitar 500 orang peserta. Mereka adalah sastrawan (penyair, esais, cerpenis, dan kritikus) bersama para penggemar sastra dan guru bahasa Indonesia. “Meningkatkan Peran Komunitas Sastra Sebagai Basis Perkembangan Sastra Indonesia”, demikian tema yang digelar. Sepanjang tiga hari kegiatan berlangsung demikian padat di gedung DPD Kudus. Sungguh sayang bila dilewatkan begitu saja.

Kongres yang diselenggarakan oleh Komunitas Sastra Indonesia (KSI) di hari pertama, 19 Januari 2008, memang untuk kepentingan internal. Acara itu merupakan suksesi tiga tahunan, namun baru kali ini diadakan secara besar-besaran. Terpilih sebagai Ketua KSI periode 2008-2011 adalah Ahmadun Yosi Herfanda yang sehari-hari bekerja sebagai redaksi budaya harian Republika di Jakarta. Ia menggantikan Iwan Gunadi, ketua yang telah memberikan sedikit warna pada model organisasi. Selanjutnya, KSI akan menyiapkan struktur yang terlepas dari yayasan agar dapat bergerak lebih leluasa dan berkembang secara profesional. Kongres telah menghasilkan rekomendasi yang berisi sikap kritis dan kreatif terhadap kondisi politik, sosial, dan budaya akhir-akhir ini. Rekomendasi tersebut dibacakan oleh Diah Hadaning pada malam berikutnya seusai serah terima jabatan.

Pada malam pertama, panggung diisi dengan penampilan Sujiwo Tejo, Sutardji Calzoum Bachri, dan Mustofa Bisri (Gus Mus). Peserta dari lokal begitu bahagia mendapatkan kesempatan menonton seniman yang selama ini mereka kagumi. Penampilan Fatin Hamama, anggota KSI yang membuka cabang di Kairo, sangat memukau Thomas Budi Santoso, penyair sekaligus pejabat di PT. Djarum. Perusahaan rokok itulah, melalui program Djarum Bakti Pendidikan, yang menjadi sponsor kegiatan.

Pada hari kedua, 20 Januari 2008, sejak pagi hingga menjelang maghrib, digelar 4 sesi seminar dengan tema yang berbeda. Kesempatan pertama digunakan untuk melirik sastra lokal yang berkembang di Indonesia. Dengan tema “{Perayaan Komunitas Sastra di Daerah”. menampilkan pembicara Idris Pasaribu untuk menyampaikan sastra yang tumbuh di Sumatera. Mukti Sutarman SP, sastrawan dari Kudus, membahas pertumbuhan sastra di Jawa Tengah. Untuk daerah Kalimantan, diwakili oleh Micky Hidayat. Seperti yang pernah dibahas dalam kongres cerpen di Pekanbaru tiga tahun silam, potensi sastra daerah patut dijaga dan dikembangkan sebagai aset budaya yang memperkaya khazanah kesastraan tradisional Indonesia.

Sesi kedua menyoroti komunitas sastra sebagai basis ideologi kesusastraan. Sebagai pembicara, Dendy Sugono dari Pusat Bahasa, Aji Suyitno dari Lemhanas, Ahmadun Yosi Herfanda, dan Shiho Sawai sebagai pengamat sastra komunitas. Shiho adalah mahasiswa dari Jepang yang sedang melakukan riset dan kuliah di tingkat doktoral Sastra Indonesia Universitas Gajah Mada Yogyakarta. Menurut Dendy, saat ini, sastrawan harus memiliki kemampuan yang kompetitif, selain cerdas dan kreatif. Ahmadun berpendapat, bahwa dalam sebuah komunitas, anggotanya tidak selalu berkarya dengan ideologi yang sama. Sangat menarik kesimpulan Shiho Sawai tentang komunitas. “Komunitas yang anggotanya menganut satu ideologi dan berkarya secara seragam hanyalah mitos.” Kenyataannnya memang demikian, bahwa para penyair ataupun cerpenis yang tergabung dalam satu komunitas tidak serta-merta memiliki pandangan yang sama dalam menulis.

Korrie Layun Rampan dan Maman Mahayana (semestinya bersama dengan Budi Darma, namun berhalangan) membicarakan tentang estetika dalam sastra komunitas. Masing-masing menyampaikan semacam kritik terhadap beberapa penghargaan sastra yang dianggap tidak mewakili kualitas. Dalam kesempatan itu, Maman Mahayana menyayangkan praktik pemilihan buku terbaik dalam anugerah sastra Khatulistiwa Literary Award karena proses penjuriannya sangat aneh. Korrie menyampaikan menyampaikan keprihatian adanya sejumlah sastrawan lokal dengan pencapaian karya yang baik secara makna maupun estetika, tapi tidak mendapat kesempatan untuk menonjol misalnya melalui kegiatan sastra yang berskala nasional. Mereka adalah mutiara tersembunyi yang harus dilibatkan agar potensinya muncul.

Pada sesi terakhir, bertema “Sastra sebagai Kebutuhan Pembaca”, menampilkan pembicara Habibirrahman El-Shirazy dan Saut Situmorang (sementara Arswendo Atmowiloto tak dapat hadir). Keduanya berangkat dari titik tolak yang berbeda. Kang Abik (panggilan Habiburrahman) menulis novel Ayat-Ayat Cinta dengan membayangkan dirinya sebagai pembaca yang harus menyukai bacaannya. Mungkin resep itulah yang membuat buku itu sampai naik cetak 29 kali dan kini telah beredar sebanyak 400.000 eksemplar. Best seller untuk Asia Tengga !

Saut Situmorang menganggap seseorang yang baru menulis sekali dan dimuat di media massa, tidak layak disebut sebagai penyair atau cerpenis. Tidak semudah itu menjadi sastrawan, apalagi jika tidak mendalami atau memahami teori sastra. Menanggapi pertanyaan peserta tentang masyarakat Indonesia yang malas membaca, Saut berpendapat bahwa ada perbedaan kultur yang melatarbelakangi hal itu. Perbandingan,menurutnya harus sesuai dengan konteks.

Malam kedua, sejumlah penyair membacakan puisi mereka. Fikar W. Eda, Wijang Warek, Arsyad Indradi, Gunoto Saparie, dan Jose Rizal Manua. Penyair Solo, Sosiawan Leak, memukau dengan puisi “Dunia Bogam Bola”. Malam itu Thomas Budi Santoso juga naik ke panggung. Para peserta acara mendapatkan 3 buku yang diluncurkan pada pesta sastra itu: (1) Tesaurus Bahasa Indonesia susunan Eko Endarmoko, (2) Komunitas Sastra Indonesia, Catatan Perjalanan, dan antologi puisi yang berbagi dua penyair:(3) Nyanyian Sepasang Daun Waru dan DuniaBogam Bola.

Di pengujung acara, pada hari ketiga, seluruh peserta diajak wisata budaya oleh panitia. Mula-mula seluruh rombongan dibawa ke pabrik rokok Djarum Kudus. Di sana, di depan buruh pabrik, beberapa penyair di antaranya Chavchay Syaifullah dan Saut Situmorang, membaca puisi. Setelah itu, rombongan dibawa ke Menara Kudus dan Museum Kretek. Menjelang tengah hari, rombongan mampir ke pusat jenang Kudus untuk memberi kesempatan membeli oleh – oleh.

Ya, akhirnya pesta sastra itu selesai. Pertemuan yang telah memberi kesempatan silaturahmi para sastrawan dari berbagai daerah. Acara yang dihadiri oleh para wartawan, penerbit, dan para wakil komunitas itu memberi kesan mendalam. Dalam pesta itu pula para peserta disuguhi menu khas Kudus, misalnya lenthok (sejenis kupat tahu dengan kuah bersantan ), asem – asem daging, juga soto Kudus tentu saja.

“Tunggu kegiatan kami berikutnya,” kata Wowok Hesti Prabowo sebagai Ketua Panitia. “Kami akan menyelenggarakan pertemuan penulis internasional dan KSI Award.” Sebagai komunitas yang telah berusia 11 tahun (sejak September 1996), sudah waktunya untuk memberikan sumbangan terhadap kemajuan sastra Indonesia juga dunia.

(Kurnia Effendi) --- Parle Online www.tabloid Parle.com

Sabtu, 14 Juni 2008

Mengapa Wayag Orang Banjar dinamakan Wayang Gung ?

Oleh : Arsyad Indradi

Kalau kita runut dari beberapa arti yang berkembang kata wayang berarti bayang – bayang.. Wayang Kulit, yang kita saksikan adalah bayang – bayang dari wayang itu dari balik kelir yang dihidupkan oleh blincong ( lampu ). Namun dalam perkembangannya lahir sebuah bentuk kesenian baru yaitu Wayang Orang. Wayang dilakonkan oleh orang. Di Jawa dikenal dengan Wayang Wong.

Mengapa wayang orang di Tanah Banjar dinamakan “ Wayang Gung “ ? Secara analogi mungkin Wayang Gung itu sebagai bentuk lain dari Wayang Gong di Jawa atau terjadi perubahan bunyi “ W “ ke “ G “ pada kata “ Wong “ dan “ Gung “. Tetapi berubahan bunyi tersebut kecil kemungkinannya sebab tidak ada peristiwa bahasa yang mirip seperti itu. Dan kedua kata “ Wong “ ( Jawa ) dan “ Gung “ ( Banjar ) tidak memiliki hubungan makna.sama sekali. Kata “ Gung “ dalam bahasa Banjar adalah salah satu instrumen gamelan Banjar yakni “ Agung “. Bunyi agung ini adalah sebagai penutup irama dari bunyi – bunyian instrumen gamelan tersebut. Ada kemungkinan, gerak igal ( tari ) dalam Wayang Gung sangat ditentukan oleh satuan bunyi pukulan agung, sehingga ada kecenderungan penyebutan Wayang Gung ini sebagai pengaruh gerakan pelakonnya yang mendasarkan gerakannya pada bunyi “ Gung “.

Gung ( Agung ) dalam budaya Banjar, dianggap keramat. Konon, Lambung Mangkurat pergi ke Kerajaan Majapahit meminta Putra Majapahit yang bernama Raden Putera, yang sebenarnya tidak berwujud manusia, yang akan dijadikan suami Putri Junjuung Buih di Kerajaan Negara Dipa. Sesampainya di Kerajaan Dipa, Raden Putera memasuki istana dengan “ bajajak “ ( berpijak ) di atas agung. Seketika itu Raden Putera berubah wujud menjadi manusia yang sempurna berwajah tampan, yang kemudian berganti nama yaitu Pangeran Surianata. Sejak saat itu “ Gung “ dipandang memiliki mitos sebagai alat menjelmakan Raden Putera yang tidak berwujud manusia hingga menjadi manusia yang sempurna.

Jadi kemungkinan besar sebutan Wayang Gung ini ada kaitan erat dengan pengaruh gerakan pelakon Wayang Gung yang berdasarkan gerarakannya pada bunyi “ Gung “ dan juga ada hubungan makna “ Gung “ pada peristiwa Raden Putera menjadi orang ( manusia ).di samping ada kemungkinan lain bahwa adanya pengejawantahan tokoh – tokoh dengan karakter yang “ Agung “ { besar ) pada Wayang Gung. Tokoh Agung ini sebagai simbol kebaikan yang dapat mengalahkan keangkaramurkaan. Dengan tiga tesa ini sebutan “ Wayang Gung “ populer di dalam masyarakat Banjar. *******

Sekilas Menjenguki Wayang Gung

Oleh : Arsyad Indradi

Diperkirakan munculnya kesenian Wayang Gung di Tanah Banjar pada abad ke XVIII atau sekitar tahun 1760 M. Raja Banjar mempunyai hubungan erat dengan raja – raja di Pulau Jawa terutama Demak dan Mataram, sekitar abad ke XV. Hubungan inilah kesenian dan kebudayaan Jawa masuk ke Kalimantan. Kesenian ini antara lain adalah Wayang Orang. Wayang Orang ( Wayang Wong – Jawa ) sangat berkenan di hati suku – suku Kalimantan khususnya masyarakat Banjar.

Bermula, kesenian wayang hidup hanya di Keraton Banjar saja, namun lama kelamaan wayang ini menyebar ke luar keraton yaitu ke masyarakat Banjar secara meluas. Menyebarnya Wayang Orang ini karena masyarakat Banjar memandang Wayang sebagai lambang hidup dan kehidupan manusia. Wayang mempunyai unsur – unsur filosofis hidup dan kehidupan, memiliki bahasa simbol yang bersifat kerohanian. Apalagi Wayang Purwa yang berkembang itu adalah memiliki mitos Sunan Kalijaga yang bermuatan ajaran filsafat Islam. Masyarakat Banjar umumnya masyarakat Melayu Banjar yang beragama Islam tak heran kesenian Wayang cepat berkembang di masyakarat Banjar ini.

Wayang Orang yang dikenal dalam masyarakat Banjar adalah Wayang Gung. Wayang Gung merupakan kreativitas kreator “ Dalang Banjar “ dari adaptasi Wayang Wong. Wayang Gung pada akhirnya mempunyai ciri khas atau versi Banjar, dari segi teknik garapan , gamelan, kostum, propertis, gerak igal ( tari ), bahasa pengantar dan struktur pergelaran, walapun masih ada idiom – idiom dari Wayang Wong ( Jawa ).

Wayang Gung mempunyai lima fungsi yaitu :

Pertama, sebagai hiburan. Wayang Gung dipergelarkan manakala acara hiburan peringatan
hari – hari besar baik nasional maupun daerah, acara perkawinan dan paska panen padi.

Kedua, fungsi Didaktis. Wayang Gung merupakan media strategis untuk menyampaikan pesan – pesan yang bersifat edukatif pada masyarakat Banjar.

Ketiga, berfungsi Filosofis. Wayang Gung banyak memiliki ajaran-ajaran mistis dalam kehidupan manusia. Mistis ini bersifat filosofis yakni berhubungan keduniaan ( lahiriah ) dan mental spritual ( batiniah ). Orang menyaksikan pertunjukan Lakon Wayang Gung sebagai refleksi diri. Banyak falsafah dan bahasa simbol hidup dan kehidupan yang dapat dipetik untuk kesadaran batin. Mitos ini diejawantahkan dalam hidup dan kehidupan sehari – hari.

Keempat, berfungsi Nazar. Pertunjukan Wayang Gung atas permintaan seseorang atas terkabulnya maksud atau rencana seseorang itu. Nazar ini harus dipenuhi, menurut kepercayaan masyakarat Banjar kalau tidak dipenuhi akan terjadi malapetaka bagi penazarnya.

Kelima, berfungsi ritual ( magis ). Wayang Gung diselenggarakan untuk maksud mengusir penyakit atau pun bencana.

Dalam pergelaran Wayang Gung mempunyai bentuk empat struktur babakan. Babakan ini merupan inti struktur alur. Struktur babakan ini yaitu :

Pertama, Mamucukani. Yaitu babakan tuturan permulaan kisah dalam bentuk sindin. dan dialog. Ada tiga dalang yang terdiri dari Dalang Sejati, Dalang Pangambar dan Dalang Utusan. Fungsi Dalang Pangambar dan Dalang Utusan adalah melengkapi tutur dari Dalang Sejati.

Kedua, Sidang Jajar. Adalah babakan sidang Kerajaan dari para satria kerajaan membahas suatu peristiwa yang berhubungan dengan masalah – masalah yang dihadapi kerajaan tersebut.

Ketiga, Konflik. Dalam babakan ketiga ini perang atau pertempuran antara tokoh baik dengan tokoh jahat.

Keempat, Bapacah. Adalah babakan antiklimak dari konflik. Biasanya dalam Wayang Gung selalu disajikan happy Ending atau kemenangan dipihat kebaikan.

Wayang Gung umumnya mengangkat cerita dari epos Ramayana tetapi ada juga menyajikan seperti tarian daerah atau dialog – dialog yang bersipat humor, dan memasukkan unsur pesan – pesan lain yang bersifat carangan yang disesuaikan dengan suasana penonton.

Umumnya pelakon dari Wayang Gung merupakan pelakon yang khusus artinya setiap tokoh dilakonkan oleh pelakon tertentu. Misalnya tokoh Hanoman dilakonkan oleh seseorang yang benar – benar menggeluti dan menghayati perilaku atau karakter tokoh Hanoman. Begitu juga tokoh Dasamuka ( Rahwana ) dilakonkan oleh pelakon tertentu dan seterusnya. Tak jarang kelompok Wayang Gung mengambil pelakon dari kelompok Wayang Gung yang lain karena pelakonnya berhalangan. Oleh karena itu kelompok Wayang Gung yang terkenal karena kelompok ini banyak mempunyai pelakon yang khusus atau pelakon yang profisional.

Kalau kita amati sejarah perjalanan Wayang Gung Banjar di Kalimantan khususnya Kalimantan Selatan, sudah dua abad umurnya. Dengan usia yang panjang ini Wayang Gung telah memperkaya khasanah seni tradisional di Kalimantan khususnya masyarakat Banjar Kalimantan Selatan. Maka Wayang Gung perlu diwariskan dengan generasi masa kini agar mereka tidak terserabut dari akar budaya nenek moyangnya. Tampaknya, di era globalisasi ini nasibnya tak berbeda dengan Wayang Kulit Banjar yang kian hari kian dilupakan orang, pada gilirannya tak mustahil akan musnah ditelan zaman. Siapa yang bertanggung jawab ? ***

Sabtu, 31 Mei 2008

SEKILAS MENGENAL TEATER TRADISIONAL KALSEL “MAMANDA”

Oleh : Arsyad indradi

Salah satu teater tradisional Kalsel yang masih bisa bertahan hidupnya adalah “ Mamanda “. Mengapa demikian ? Sebab cerita dari Mamanda memang mengasyikkan tak kalah dengan cerita sinetron atau film. Walau pun tokoh-tokoh dalam Mamanda “ baku “ namun dapat ditambah tokoh-tokoh lain dengan cerita yang lain, artinya cerita mamanda dapat diciptakan sesuai dengan perkembangan jaman. Apa lagi durasi pertunjukkan mamanda jang semula semalam suntuk sekarang disesuaikan dengan permintaan, maksudnya bisa durasinya 3 jam atau 5 jam. Istemewanyanya Mamanda, bisa dimainkan dengan sebuah naskah yang utuh seperti terater modern atau hanya dengan mengatur cerita seperti garis besar cerita, babakan dan plot, sedangkan dialog dikenal dengan istilah impropisasi. Pemain – pemain Mamanda memang dikenal keahliannya berimpropisasi. Tokoh-tokoh mamanda yang baku itu adalah Raja, Mangkubumi, Wazir, Perdana Menteri,Panglima Perang, Harapan Pertama, Harapan kedua, Khadam, Permaisuri, Anak Raja ( bisa putri atau Pangeran ). Tokoh-tokoh lain sesuai cerita misalnya Raja dari Negeri lain, Anak Muda, Perampok,Jin, Belanda, atau nama dari daerah lain ( Jawa, Cina, Batak, Madura atau lainnya ). Seperti juga di teater modern, sebelum pertunjukkan dimulai akan dibacakan sinopsisnya, di mamanda dipaparkan lewat “ Baladon “. Baladon adalah tutur cerita dengan dibawakan berlagu dan gerak tari. Cerita mamanda bisa berkolaburasi dengan seni tari atau musik. Yakni setelah kerajaan selesai bersidang maka akan ditampilkan pertunjukkan tari dengan maksud menghibur raja dengan segenap aparat kerajaan atau ketika kerajaan menang perang diadakan pertunjukkan hiburan tari atau musik panting.

Asal mula Mamanda adalah Badamuluk ketika rombongan bangsawan Malaka ( Abdoel Moeloek atau Indra Bangsawan, 1897 M ) yang dipimpin oleh Encik Ibrahim dan isterinya Cik Hawa, menetap di Tanah Banjar beberapa bulan mengadakan pertunjukkan. Teater ini begitu cepat populer di tengah masyarakat Banjar. Setelah beradaptasi, teater ini melahirkan sebuah teater baru bernama “ Mamanda “. Mamanda mempunyai pengertian “sapaan” kepada orang yang dihormati dalam sistem kekerabatan atau kekjluargaan.

Mamanda mempunyai dua aliran. Pertama : Aliran Batang Banyu. Yang hidup di pesisir sungai daerah Hulu Sungai yaitu di Margasari. Sering juga disebut Mamanda Periuk. Kedua : Aliran Tubau bermula tahun 1937 M. Aliran ini hidup di daerah Tubau Rantau. Sering dipentaskan di daerah daratan. Aliran ini disebut juga Mamanda Batubau. Aliran ini yang berkembang di Tanah Banjar.

Pertunjukkan Mamanda mempunyai nilai budaya Yaitu pertunjukkan Mamanda disamping merupakan sebagai media hiburan juga berfungsi sebagai media pendidikan bagi masyarakat Banjar. Cerita yang disajikan baik tentang sejarah kehidupan, contoh toladan yang baik, kritik sosial atau sindiran yang bersifat membangun, demokratis, dan nilai-nilai budaya masyarakat Banjar.

Bermula, Mamanda mempunyai pengiring musik yaitu orkes melayu dengan mendendangkan lagu-lagu berirama melayu, sekarang beralih dengan iringan musik panting dengan mendendangkan Lagu Dua Harapan, Lagu Dua Raja, Lagu Tarima Kasih, Lagu Baladon, Lagu Mambujuk, Lagu Tirik, Lagu Japin, Lagu Gandut , Lagu Mandung-Mandng, dan Lagu Nasib. ********

Minggu, 25 Mei 2008

TARI TIRIK KUALA


Gerak – gerak tari tirik sebenarnya bersumber pada tari Gandut yang berasal dari daerah Pandahan Kabupaten Tapin, seperti Tirik Kuala, Tirik Lalan dan lain – lain. Lambat laun gerak tirik ini mengalami perubahan pariasi gerak atau kreasi baru yang disesuaikan dengan perkembangan zaman dan kondisi setempat.

Tari Tirik Kuala ini bermula bernama Tari Tirik DF ( Djakarta Fair ). Mengapa dinamakan Tirik DF ? Pada akhir tahun 1971, kesenian tari Kalimantan Selatan diundang untuk mengikuti Festival atau Parade tari daerah dalam acara Open Ceremony Djakarta Fair 1971. Pada waktu itu ada tiga Provinsi yang hadir yaitu Provinsi Kalimantan Selatan, Provinsi Aceh dan Provinsi Sulawesi Utara. Untuk menampilkan tarian daerah Kalimantan Selatan, maka berkumpullah pelatih – pelatih tari Banjarmasin seperti Rustam AA, Bachtiar Sanderta, Ismail Effendi, Norman Sirat, Arsyad indradi, Ibramsyah Barbary, Nirmala, Dewi, Aisyah dan beberapa pelatih lainnya untuk mengolah sebuah tarian berjenis tari tirik.. Setelah tarian ini rampung maka sementara waktu dinamakan Tirik DF. Peserta tari ini berjumlah 125 penari dari utusan daerah Kabupaten se Kalimantan Selatan berkumpul di Banjarmasin dengan mengadakan latihan selama satu bulan.dengan mengambil tempat di Aula Pemda Provinsi Kalsel. Dan perancang musik oleh Anang Ardiansyah.

Sekembali dari festival, Tari Tirik DF ini berganti nama dengan Tari Tirik Kuala karena tari ini sangat pesat perkembangannya di daerah kuala.Tari Tirik Kuala, merupakan sebuah tarian pergaulan muda-mudi masyarakat Kalimantan Selatan dan bersifat romantis. Seperti juga tarian pergaulan lainnya, Tari Tirik Kuala disamping sebagai tari pergaulan dan hiburan, sekaligus pula dimanfaatkan sebagai media mencari jodoh.

Arsyad Indradi _________________________________*****

TARI JEPEN ( JAPIN ) KUALA

Seiring masuknya agama Islam ke Tanah Banjar pada abad XV yakni Kerajaan Banjar masuk Islam, berkembang pula kesenian Islam seperti tari Japin. Tari Japin ini begitu digemari oleh masyarakat Banjar terutama daerah pesisir Sungai Martapura. Lambat laun menyebar ke daerah Banjar Hulu yaitu daerah Hulu Sungai. Japin mengalami perkembangan menjadi beberapa macam Japin seperti Japin Kuala, Japin Sisit, Japin Anak Delapan, Japin Rantawan dan sebagainya. Walaupun Japin bermacam – macam namun ciri khas Japin tidak hilang seperti gerak dasar step 4, tahtul, sisit dan lain – lain.

Mengapa Tarian ini dinamakan Tari Japin Kuala ? Sebab Tari Japin ini berasal atau tumbuh dan berkembang di daerah pesisir Sungai Martapura atau sering dinamakan daerah kuala. Tari Japin Kuala merupakan tari pergaulan muda – mudi di daerah Banjar, yang melukiskan rasa eratnya tali silaturrahmi dan persaudaraan. Tarian ini sangat disukai oleh muda-mudi Tanah Banjar karena disamping untuk mengekspresikan kegembiraan dalam suatu acara, tak jarang pula Tari Japin merupakan media untuk mencari jodoh. Walaupun tarian ini adalah tarian pergaulan namun masih memegang norma - norma agama Islam.